-webkit-border-radius: 100px; -moz-border-radius: 100px; border-radius: 100px; #linkwithin_logolink_0 {display:none;}

Pembalut vs Kondom

Credit Pexel
(Another shocking parent experienced I had last week-end).

Ga tahu gimana, tiba-tiba semua anggota keluarga jadi penyuka makanan Jepang.  Setelah sekian lama akhirnya gw bisa "menyetani" Suami Ganteng untuk makan sushi dan sashimi, hehehe....

Suami Ganteng yang tadinya ga doyan sekarang jadi ketagihan and his fave his sashimi salmon.  Jadi begitu ada resto Jepang baru, itu artinya kudu dicoba.  Alhasil, malam minggu  kemarin baru terealisasikan.

Dinner was OK until I went to the rest room bersama Kaka Cantik.  The rest room looks common. Hingga pandangan tertuju ke satu kotak terbuat dari kayu menempel di dinding.  Kotak tertutup dengan sisi samping terbuka sedikit, kalo menurut gw fungsinya sebagai "lubang intip" apakah isinya masih penuh atau tidak.  Yang jadi pertanyaan adalah isinya.  Apa ya ?  Tempat sabun pastinya bukan.  Dryer juga ga mungkin, wong dari kayu kok.  Dari sisi yang terbuka tadi, aku mengira bahwa isi kotak tersebut adalah pembalut wanita.  Kelihatan dari bungkus plastik yang menjorok ke luar.  Beda dengan Kaka Cantik yang emang "nona-mau-tahu-apa-aja".  

"Ini kotak buat apa ya, Ma ?"  sambil bertanya dia buka tutup kotaknya.

"Ga tahu, Kak".   




Penasaran, kami buka bersama.  Surprise ya, baru kali ada fasilitas umum yang menyediakan pembalut.  Resto lagi !   [hellow...this is Indonesia, lho..] 

"Kok, mereka sediain ini.  Buat apa ?"

"Mungkin semacam service tambahan buat pengunjung, Ka. Jadwal menstruasi 'kan kadang suka ga kompak.  Siapa tahu ada tamu yang perlu ketika mereka makan di sini."  Jawaban yang cukup logis 'kan.  

But her further respond was surprising me even more !! 

"Kalo di WC cewe ada pembalut, berarti di tempat cowo ada kondomnya dong, Ma ?"

WWwwHhhaaa.....tttttt ???

Lantai kamar mandinya ngga licin tapi rasanya gw mau kepleset.  Actually, it is not the 1st time she strike me (or her father) out...hehehe...kinda used to it, frankly to say. 

Hati boleh deg-deg-an, tampang kudu tetep "cool".

"Emangnya kondom itu apa, Ka ?"

"Aku juga ga tahu.  Tapi itu buat laki-laki 'kan ?"

"Tahu dari mana ?"

"Aku pernah lihat di rak deket kasir xxxx [dia menyebutkan salah satu mini market dekat sekolahnya].  Bungkusnya kecil-kecil, warna-warni.  Ada rasanya juga lho, Ma.  Stawberry gitu.  Aku pikir itu permen." 

alama..kkk, detail banget eksplanasinya...akurat pula 

"Lalu, how do you know it's not for girl ?"

"Ada tulisannya juga 'kan di bungkusnya itu..."

The innocence of kids.  It was not about right or wrong, correct time or such a thing.  Because as I said, there is no "correct or right time" for kids when they questioning something. 

Yang harusnya dibenahi adalah, kenapa pihak mini market [siapa pun] mendisplay 'benda konsumsi orang dewasa' di tempat yang terjangkau oleh mata dan tangan anak-anak.  Apa tidak sebaiknya disediakan tempat khusus ?

Pihak resto aja sudah mendesain sedemikian rupa kotak penyimpanannya dan gw yakin salah satu alasannya untuk antisipasi pertanyaan-pertanyaan seperti yang dilontarkan oleh Kaka Cantik.

Namanya juga tempat umum, pengunjungnya 'kan datang dari beragam jenis, umur dan tingkat pendidikan.

Setahu saya, di luar negeri saja yang katanya punya norma yang lebih bebas dibanding Indonesia punya aturan main sendiri untuk hal-hal yang seperti ini.  Mereka menjual kondom di toko-toko tertentu seperti drug store dan memasangnya pun di tempat yang khusus.

Lha, terus kita yang di sini ? 



 

4 comments:

  1. Nah! Anak2 saya juga pernah tanya gitu di kasir minimarket. "Ini apa, Bunda?". Mereka tertarik kan karena lihat strawberrynya. Disangkanya permen kali :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak "PR" yang harus dikerjakan. Kalau Pemerintahnya ngga peduli untuk hal yang sederhana ini, bagaimana untuk perkara yang lebih kompleks. Right ?
      Ma kasih udah mampir, mak Chi ^^

      Delete
  2. Ada di dekat kasir dan gampang dijangkau anak-anak, Mak. Bahkan ada yang ditaruh di rak display paling depan, di bawah pula :(((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah mak Sary, kalo menurut saya sih, perlu diterapkan aturan main baku deh.

      Delete

Hai ^_^
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya di blog ini.
Silakan tinggalkan komentar yang baik.
Mohon maaf, komentar anonim maupun yang sifatnya spam, tidak akan dipublikasikan.
Keep reading and Salam !