-webkit-border-radius: 100px; -moz-border-radius: 100px; border-radius: 100px; #linkwithin_logolink_0 {display:none;}

Lebaran Dan Manajemen Keuangan [Untuk Anak]

Ada yang tahu asal muasal kebiasaan memberikan uang pada anak-anak ketika Hari Raya Idul Fitri ? 

Secara budaya, hal tersebut bertentangan dengan sikap orang Indonesia yang tidak terbiasa mengenalkan konsep uang (atau keuangan) pada anak-anak di usia dini.  Pamali, kata orang-orang tua dulu.  Ga ada konsep baku kapan sebaiknya anak dikenalkan pada uang.  Namun logikanya, ketika anak sudah bisa berhitung maka mereka akan lebih mudah menerimanya.  Umumnya, orang Indonesia baru “mengenalkan” uang ketika anak di usia sekolah dasar.

Padahal kalau dicermati, kita bisa mengedukasi konsep keuangan terhadap anak-anak lewat event Hari Raya ini lho…



Kami mengawalinya ketika Kaka Cantik di kelas 2 SD.  Begitu “sadar” bahwa dengan puasa dia akan “kehilangan” jatah uang jajan hariannya maka dia pun mulai bernegosiasi untuk mendapatkan akumulasinya di Hari Raya nanti.  Namun, ketika Kaka Cantik tidak berpuasa, maka dia tidak akan mendapatkan kompensasi apa-apa.  Kenapa ?  Karena di usianya yang pada saat itu 8 tahun, dia sudah mampu berpuasa sehari penuh. 


Kalo dulu-dulu uangnya selalu ditabung, berhubung sekarang Kaka Cantik sudah teenager maka dari awal bulan Ramadhan dia sudah punya rencana atas uang yang akan diperolehnya.  Namun tidak berarti Kaka Cantik bisa dengan bebas menggunakannya uangnya.  Jika hendak dibelikan sesuatu, Kaka Cantik tetap harus mengajukan proposal atas barang yang akan dibelinya; jenis barang berikut harganya.  Biasanya di tahap ini terjadi lagi negosiasi; karena biasanya barang yang diinginkan lebih didasarkan pada faktor wants bukannya needsKalo udah seperti ini, yang kita lakukan adalah win-win solution, well at least close to win-win solution.  Intinya adalah, memberikan ruang pada anak untuk memilih “kesenangannya” namun tidak meninggalkan value yang dianut oleh keluarga (maksudnya value keluarga kami).  Contohnya ketika Kaka Cantik mengatakan keinginannya untuk membeli smart phone yang tidak bisa dibilang murah, kami berikan pengertian bahwa gadget jenis tersebut tidak sesuai dengan keperluannya sebagai murid sekolah menengah.  Belum lagi faktor harga.  Kalau toh pada akhirnya dia membeli sebuah telepon selular itu adalah hasil diskusi panjang dan survey yang komprehensif antara kami.  Intinya, mengarahkan wants menjadi needs.  Proses yang alot karena anak merasa itu adalah uangnya; jadi boleh donk gue beliin apa aja sesuka hati gue ?  Bentrok sama ego orang tua yang berpikiran; kok belinya barang itu sih, dikasih saran kok ga mau sih, harganya kok mahal sih, dsb dst, hehehe…

Dalam proses itu kedua belah pihak -orang tua & anak- saling belajar; belajar untuk saling mendengar, belajar untuk saling menyampaikan ide, belajar untuk saling menghargai pendapat, belajar untuk menyamakan keinginan, belajar untuk saling menerima.

Finally, anak pun akan bisa memahami bahwa they have to do something to earn money alias ga metik dari pohon.  Mereka juga belajar untuk membelanjakan uangnya sebijaksana mungkin dimulai dari merencanakan apa yang akan dibeli, berapa uang yang akan mereka peroleh (hello…this is budgeting part we’re talking about).  Alhasil mereka akan lebih menghargai uang sekaligus barang-barang yang mereka “beli” sendiri.

Ramadhan memang indah.

No comments:

Post a Comment

Hai ^_^
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya di blog ini.
Silakan tinggalkan komentar yang baik.
Mohon maaf, komentar anonim maupun yang sifatnya spam, tidak akan dipublikasikan.
Keep reading and Salam !