-webkit-border-radius: 100px; -moz-border-radius: 100px; border-radius: 100px; #linkwithin_logolink_0 {display:none;}

Lupus Oh Lupus

Image from Google
Serial Lupus yang dimuat di majalah Hai booming.  Anak laki-laki SMA Merah Putih yang hobi mengunyah permen karet itu tiba-tiba jadi iconic remaja. Selain belajar gelembungin permen karet, para cowok pun ramai-ramai berpotonganan rambut jambul dengan semi gondrong di bagian belakang.  Kalau pun bagian gondrongnya terpaksa dipotong karena razia di sekolah, minimal bagian jambul masih bisa dipertahankan. 

Ga tahu kenapa, saya ga termasuk kaum yang menggilai si Lupus beken itu.  Namun begitu, saya sempet baca salah satu buku ceritanya, itupun minjem temen, hehehe.

Yang saya tahu, sang pengarang Hilman Hariwijaya begitu pandainya ”menghidupkan” tokoh Lupus sehingga tidak sedikit yang berpendapat bahwa Lupus memang benar adanya atau  Hilman adalah personafikisai Lupus yang sesungguhnya.  Ga sedikit remaja cewek yang saking kesengsemnya sama si Lupus sampai bela-belain cari SMA Merah Putih !  Ketika Lupus tak bisa ditemukan wujudnya, maka Hilman sang pengarang lah yang jadi serbuan para fansnya.

Walau saya gak termasuk Lupus fans club, Tuhan berbaik hati memberikan kesempatan pada saya untuk bertemu langsung dengan Hilman.  Tidak lain karena tugas negara eh, tugas sekolah.  Jadi waktu SMA dulu, saya termasuk cacing blingsatan.  Kalo bisa semua kegiatan sekolah diikutin.  Selain kepengurusan OSIS, saya juga menceburkan diri di redaksi majalah sekolah (tuh ‘kan, bukti kalo saya udah doyan nulis dari dulu, hihi). 

Jadi nih, jelek-jelek begini, ik udah tahu ribetnya ngurusin majalah mulai dari milih tema untuk tiap edisi, cari nara sumber (biasanya wawancarain temen-temen sendiri), ngetik naskahnya pake mesin tik jadul yang gede itu (paling sedih kalo pitanya putus atau pita habis karena alhasil tangan pada item untuk ganti pita. Belon ada laptop bok tahun segitu !), editing, ngatur lay-out majalah, matching-in naskah sama gambar, nguber-nguber temen cowok yang kebagian gambar ilustrasi karena mereka lebih doyan main bola padahal deadline udah deket.  Dan yang terakhir, nganterin naskah siap naik cetak ke percetakan sambil gantian sama temen-temen redaksi yang lain untuk cerewetin si Bapak tukang cetak supaya majalah bisa terbit tepat waktu.  Seringnya sih telat (halah !).  Satu lagi, jualin majalah dan jadi tukang tagih.  Lengkap sudah tugas gandanya; dari reporter, tukang ketik naskah sampe jadi debt collector.  Semua dilakonin.  And I found the experience was priceless !

Balik lagi ke lap...eh Lupus.  Hasil rapat memutuskan tema yang diangkat adalah Lupus.  Eh kok berani-beraninya, anak sekolahan putih abu-abu (bukan judul sinetron ya !) mewawancarai seorang Lupus maksudnya Hilman.  Ini tidak lain karena -Shinta- salah satu teman redaksi bertetangga dan kenal baik dengan Hilman.  Berdasarkan KKN yang positif tersebut maka kami pun memberikan diri untuk mewawancarainya.

Di jadwal yang telah disetujui, maka kami pun berkunjung ke rumah Hilman. Wawancara dilakukan seusai jam sekolah.  Supaya gak malu-maluin, daftar pertanyaan sudah disiapkan.  Kamera poket isi film 24 pun siap beraksi (belum ada kamera digital apalagi ponsel berkamera, hadeeuuh ketahuan jadulnya !).  Biar kelihatan lebih profesional, Shinta yang notabene tetangga Hilman pun tumben-tumbennya bawa recorder.  Pokoknya, everything is ready !

Alhamdulillah wawancara berlangsung seperti yang diharapkan.  Dari wawancara saya baru tahu kalau Hilman itu aslinya pemalu.  Dia ngakunya introvert, ga banyak bicara.  Sekalinya bicara, suaranya halus banget, cenderung pelan.  Kami sampai harus menajamkan telinga untuk mendengarkannya. Beda banget dibandingkan karakter Lupus yang ngocol nan ceria itu.

Sore itu kami bertiga pulang ke rumah masing-masing dengan puas hati.  Tugas wawancara berlangsung baik.  Rasanya sudah seperti wartawan profesional.  Rencananya, hasil wawancara akan kami olah besok sepulang sekolah.

Manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan.  Siang seusai sekolah, kami bertiga (Shinta-Titi-Saya) terbengong-bengong di ruang OSIS yang merangkap ruang redaksi.  Tak berkedip menatap tape recorder milik Shinta.  Berulang kali diputar ulang tapi yang terdengar Cuma suara Shinta ketika bertanya berdasarkan daftar pertanyaan, sesekali terdengar suara tukang jualan keliling yang kemarin lewat di muka rumah Hilman.  Tapi sama sekali ga kedengeran suara jawaban sang pengarang. Alamak !  Kami jadi teringat wawancara kemarin, bagaimana kami harus memanjangkan telinga untuk mendengar setiap jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.   Woalaaahhhh, saking pelannya suara dia sampe rekamannya pun gak kedengaran  !

Semangat tinggi kami bertiga langsung drop.  Memandang sedih tape recorder dan kertas kosong yang sudah terpasang di mesin tik.  Kerjaan siang itu gak bisa selesai karena kami hanya mengandalkan tape recorder.  Tidak satupun dari kami yang menyalin secara tertulis jawaban-jawaban Hilman. Speechless abis.  Akhirnya diambil keputuskan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.  Wawancara harus diulang, gak ada pilihan lain.  Biar malunya nggak berjamaah, maka hanya Shinta sendiri yang datang lagi ke rumah Hilman soalnya ‘kan tetanggaan, hihihi.  Untungnya sang pengarang tidak keberatan dan majalah sekolah edisi Lupus pun terbit sesuai rencana.

Entah karena faktor itu atau bukan, dari kami bertiga, saat ini hanya Shinta yang benar-benar nyemplung jadi kuli tinta di salah satu majalah wanita terkemuka.  Titi sudah disibukkan oleh klinik khusus anak-anak di Bandung dan saya..

Saya mah jadi blogger yang ikutan Srikandi Blogger 2013 saja aahhhh !  

Makanya begitu baca di media tentang Lupus Reborn, ingatan saya pun kembali ke wawancara memalukan itu sambil wondering, kira-kira sekarang ini Hilman kalo bicara masih pelan atau nggak ya ?

Oh iya, pengen tahu apa itu Srikandi Blogger 2013 ?  Klik yang ini aja ya !

(Teruntuk teman-teman Aksara; Shinta Tetriana & Putri "Titi" Anggun)


8 comments:

  1. Lupuuss..hadeeuuh jadi inget waktu muda ..
    aku pernah punya tas lupus yang di selendang gitu, kalo sekolah tas paporit tuuh, sambil jalan makan permen karet

    inget lupus .. jadi inget Ryan Hidayat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tas yang talinya sepanjang lutut itu ya, mak ?
      Kalo jalan bisa tersandung-sandung sendiri ^_^

      Delete
  2. hehe... sampai nangis ga Mak ? Sedih banget sih, sudah payah-payah eh ternyata malah ga kerekam, jadi pembelajaran jg buat kita ya Mak, kalau nanti wawancara lg bawa kertas buat nulis jg. Etapi saya penasaran, itu jadinya diterbitkan enggak wawancara dg Hilmannya??
    Salam kenal.. ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nangis sih ngga, cuma malu aja. Alhamdulillah hasil wawancara tetap tayang di majalah sekolah.

      Delete
  3. adduuh... story itu... kok kamu yang inget detilnya sih? gw malah lupa tuh. Yg inget cuma terakhir gw wawancara sendirian ke rumah Hilman. Tapi seru sih, sampe sekarang jadi ketagihan wawancara orang deh... btw terakhir sempet ikutan wawancara Hilman setelah merit, dia masih seperti dulu. Ngomongnya pelan, senyum2 kalau ditanya, tapi udah ga terlalu pemalu sih. Thanks ya, story mu bikin gw tersenyum di tengah deadline. Keep on writing ya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks for dropping by, my friend !
      I really miss that old time; siang-siang di ruang OSIS ngerjain deadline Aksara. BTW, msh ada gak ya majalahnya ?

      Delete
  4. Replies
    1. Tak terlupakan deh, pokoknya.
      Selain menambah wawasan jadi tahu bagaimana rempongnya wartawan ngejar narsum, walaupun hanya untuk majalah sekolah ^_^

      Delete

Hai ^_^
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya di blog ini.
Silakan tinggalkan komentar yang baik.
Mohon maaf, komentar anonim maupun yang sifatnya spam, tidak akan dipublikasikan.
Keep reading and Salam !