-webkit-border-radius: 100px; -moz-border-radius: 100px; border-radius: 100px; #linkwithin_logolink_0 {display:none;}

Ibu, Cinta Tanpa Akhir

Inginnya aku 
Menjadi malaikat tanpa sayapmu
Yang selalu melindungimu
Dari semua yang meresahkanmu
Namun ternyata aku tak mampu


Maka kurajut doa
Yang kuuntai semenjak kutahu
Ada kehidupan lain dalam diriku


Doa dan cinta abadiku
Sudah kujadikan selimut kehidupanmu
Yang akan menemanimu 
Bahkan
Jika ku tak disisimu


Kau mungkin tak sempat mengucapkan
Tapi aku sepenuhnya mengerti
Dan Tuhan pun tahu
Betapa cintamu padaku
Satu pintaku
Bawa aku selalu
Dihatimu
Di setiap elah langkah nafasmu


***

tulisan ini diikutsertakan dalam #NgeblogBareng Kelompok Emak-Emak Blogger
dalam rangka memperingati Hari Ibu 2013

Fiksi Mini Lagi

Masih bermain diksi di fiksi mini.


***

#6
Buyung bingung.  Sudah dua malam bapak dijemput om tetangga sebelah.
Bapak pergi memakai baju dan gincu peninggalan ibu.

#7
Setelah dipikir masak-masak, ada yang kurang.
Otaknya tertinggal di atas meja dapur.

#8
Hari ini tidak masak.  
Tinggal sebutir beras tersisa dalam karung.

#9
Makanan berlimpah padahal Emak tidak masak.
Semalam ada kenduri di rumah pak Haji Salim.  Bapak diminta jadi tukang cuci pringnya.

#10
"Jangan MALU !  Nanti kamu mati dalam kemiskinan,"
ceramah sang koruptor pada anaknya.

***

Mencoba Ber-Fiksi Mini

Merangkai kata itu (ternyata !) tidak mudah apalagi membuatnya bermakna.
Maka saya mencobanya.
Jajal kemampuan diri dalam keterbatasan ruang berekspresi.


***

#1
Aroma miras merebak di udara, botol berserakan. 
Mulutnya tertinggal dalam salah satu botol itu.

#2
Nenek moyangku orang pelaut. 
Aku berkaca; kulitku hitam bersisik, kakiku seperti ekor ikan.

#3
Mata kita bersiborok.  Merona merah jengah wajahmu,
tapi tak semerah lingeri mu semalam.

#4
Purnama pertama, aku membeku dalam rumpun bambubisu tak bersuara.  
Liar mereka mencariku, perawan terakhir dusun Ronggeng.

#5
Alhamdulillah Mak, doamu terkabul.  Tiap hari aku pegang duit.
Batin Nuri, kasir swalayan.

***

Fenomena Ibu Jari



Image from here

Menunduk khusuk menatap layar monitor di depan mata.

Kadang ada sebaris senyum terbentuk, kadang pula kerenyit terbentuk di dahi.  Tak jarang pandangan tak berkesan.

Namun si ibu jari sibuk menari di papan ketik.

Itu adalah pemandangan yang lazim ditemui kini.

Dalam antrian menunggu lift, menanti angkot, di dalam bis, di ruang tunggu dokter, di parkiran sekolah.membunuh waktu kala makanan yang dipesan belum datang, di ruang kedatangan di bandara, di ruang boarding atau bahkan ketika rapat sedang berlangsung. 


Sounds familiar ?

What’s In A Name ?

Walaupun Shakespeare bilang, apalah artinya sebuah nama.  Pada kenyataannya memilih nama bagi [calon] anak adalah hal yang tidak mudah.  Tidak sedikit cerita berkaitan dengan pemilihan nama, dari yang sedih sampai yang lucu. 

Menyongsong kelahiran Kaka Cantik sekian belas tahun yang lalu, kami menyiapkan 2 nama; versi perempuan dan laki-laki.  Soalnya kami gak kepengen tahu jenis kelamin hasil USG.  Ceritanya pengen surprise, jadi lihat hasilnya aja waktu persalinan.  Anak ke-2 lain lagi.  Karena dari awal sudah mengharapkan anak laki-laki maka pemilihan nama pun dirancang sesuai dengan jenis kelaminnya.  Diperkuat lagi dengan hasil USG selama kehamilan.  Plus doa-doa, tentunya.  Alhamdulillah, hasilnya sesuai dengan yang harapkan.  



Jadi waktu nemu file ini, jadi inget lagi gimana seriusnya waktu milih nama buat Ade Ganteng.  Dan baru sadar kalo gak satu pun nama di atas yang dijadikan nama Ade Ganteng, hehehehe.