-webkit-border-radius: 100px; -moz-border-radius: 100px; border-radius: 100px; #linkwithin_logolink_0 {display:none;}

Bubur Sumsum Emak

Mak, tadi pagi dan seperti pagi-pagi lainnya aku lewat warung Mpok Edah, penjual makanan yang mangkal di depan gang tempat kosku.  Walau demikian, baru tadi langkahku terhenti.  Bukan Mak, bukan karena ingin membeli nasi uduk buatan Mpok Edah yang kesohor itu karena aku sudah sarapan nasi telor ceplok seperti yang biasa Emak siapkan dahulu.  Tapi karena bubur sumsum yang dipajang di salah satu meja dagangannya.

Bubur sumsumg warna hijau dengan kuah santan dan kucuran air gula.  Ah, sudah berapa lama aku tidak menikmati juadah itu ?  Pastinya semenjak engkau memenuhi panggilan Sang Pemberi Kehidupan, ya Mak ?  Kata Haji Abas yang menjadi imam ketika menyolatkan Emak, itu karena Emak orang baik.  Allah senang dengan orang baik.  Kalau begitu, Abah bukan orang baik, ya Mak ?  Karena semenjak Emak pergi, Abah suka marah-marah dan makin berdiam diri.  Menurut Haji Abas, Abah makin diam semenjak aku menginggalkannya untuk bekerja di kota ini.  Karena Abah tidak mau bicara, aku hanya bertukar kabar saja dengan Haji Abas.

Akhirnya Mak, sepulang bekerja sore tadi, aku beli seporsi bubur sumsum buatan Mpok Edah.  Sudah girang hatiku, Mak, membayangkan lezatnya bubur sumsum seperti yang sering Emak buat untukku dulu. 

Tapi, Mak, betapa kecewa hati ini.  Tidak ada aroma pandan yang menguar ketika kubuka bungkusnya.  Padahal Emak pernah bilang ‘kan, kalau bubur sumsum tanpa wangi pandan, tidaklah afdol.  Kuingat Emak menanam pohon pandan di sudut pekarangan.  Dan selalu menyuruhku untuk mengambilnya manakala kuminta dibuatkan bubur sumsum.  Karena aroma pandan juga ternyata membuat wangi nasi yang berasnya kita beli tigar ribu perak seliter di warung Koh Ocin.  Membuat lahap kita makan karena terhibur oleh aroma pandan yang bisa melibas bau apek beras kekuningan lagi bentuknya tidak bulir sempurna itu. 

Tambah kecewa lagi ketika kurasa santannya tidak segurih buatan Emak.  Santan buatan Emak yang kelapanya hasil pungutan di kebun Haji Abas nan luas itu.  Haji Abas memang baik hati ya, Mak. Karena seperti yang Emak ajarkan, aku selalu minta ijin dahulu Pak Haji atau Nyai Haji istrinya, jika ingin menikmati hasil kebun mereka itu.  Walau begitu, Emak pastinya lebih baik dibanding Haji Abas dan istrinya, karena mereka masih sehat wal afiat hingga kini. 

Oh iya, Mak.  Santan bikinan Mpok Edah, selain tak gurih tak pula mengkilat kental.  Ketika semalam kumakan, sudah ada bau-bau asam, seperti hendak basi.  Mungkin Emak harus mengajari Mpok Edah bagaimana membuat santan seperti yang Emak ajarkan padaku dulu.  Setelah kelapa diparut, siram dengan air panas.  Tanganpun harus dicuci bersih ketika memeras santan.  Semua dilakukan agar santan tidak mudah basi.  Ketika memasak pun, santan harus dikocek perlahan dengan api sedang.  Emak bilang agar santannya tidak pecah. 

Makin tak enak kumakan bubur sumsum itu, Mak.  Setelah cairan gula kincanya meluncur ke dalam mulutku, dia meninggalkan jejak pahit di ujung lidah.  Itu pastinya gula buatan, ya Mak ?  Karena jika kinca dari gula aren asli pastinya tak pahit, wangi pula. 


Duh Mak, makin tak terbendung rindu ini.  Sudah kurugi sepuluh ribu rupiah, rinduku pada Emak makin menjadi.  

17 comments:

  1. sukaa ceritanya.. Keren deh!
    mendadak aku pengen bubur sumsum. Membayangkan aroma pandan yang wangi dan kinca gula yang manis..:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini keingetan bubur sumsum buatan mendiang ibuku yang endeusss, mba Waya

      Delete
  2. waah, bagus kok, sudah ada talenta bikin fiksi nih, tinggal kembangkan ajah, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. matur suwun mba Yanti, hidung aku ampe tambah gede nih, hihi

      Delete
  3. Jadi pengen bubur sum sum...hiks

    ReplyDelete
  4. Jadi membyangkan bubur sumsum yang endeeuusss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ketika nulis cerpen ini, saya juga sampe merem melek ngebayanginnya mba May, hehehe

      Delete
  5. bubur sumsum yang enak plus rindu ama emak...well, well :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. what can even worse than miss your mom's cook ?

      Delete
  6. Wah.. Tiba-tiba pengen makan bubur sumsum nih jadinya.. Uda lama ngga makan.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga ketemu bubur sumsum yang enak, mba Beby ^_^

      Delete
  7. bagus fiksinya, Mak!

    Etapi, saya jaid kepengen bubur sumsum. Dan, bikin sendiri itu susah-susah gampang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama. dakuw juga jarang sukses.
      kebanyakan tepung sagunya, adonan jadi keras.
      kebanyakan santannya, adonan malah lembek, hadeeuuhhh

      Delete
  8. Replies
    1. matur suwun, mak Dedew
      ah, daku jadi tersipu nih dipuji dirimu #ihiy !

      Delete
  9. Bagus sekali mba tulisannya, jadi lebih mensyukuri karena mama ku masih ada jadi masih bisa puas nikmatin masakan mama...

    ReplyDelete

Hai ^_^
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya di blog ini.
Silakan tinggalkan komentar yang baik.
Mohon maaf, komentar anonim maupun yang sifatnya spam, tidak akan dipublikasikan.
Keep reading and Salam !