-webkit-border-radius: 100px; -moz-border-radius: 100px; border-radius: 100px; #linkwithin_logolink_0 {display:none;}

5 Hal Positif Shophacolic

Apa yang terlintas jika mendengar shophacolic ?   

Yang terbayang adalah si gila belanja yang saking gilanya bisa jebolin limit kartu kredit.  Shophacolic juga orang yang doyan belanja gak kenal waktu apalagi jika ada diskon.  Wahh, bisa jatuh dalam kondisi lebih besar pasak daripada tiang.  Tidak jarang si sophacolic ini membeli barang bukan karena needs melainkan lebih pada faktor wants.  Persis seperti yang digambarkan dalam film Confession of a Sophacolic

Image from here with personal customization


Tapi ternyata tidak selamanya si shophacolic ini negatif.  Seperti dua sisi mata uang, ada hal positif yang bisa kita teladani dari si sophacolic. 


Perlu Stamina Khusus
Jika diperhatikan baik-baik, si sophacolic ini punya energi lebih dan stamina yang OK untuk shopping.  Atau sebaliknya ?  Karena semangat mau belanja, timbullah energi lebih sehingga punya kekuatan untuk menjelajah semua toko di setiap lantai pusat perbelanjaan.  Selayaknya orang jatuh cinta, gak ada rasa capek, lapar pun tak terasa.  Pantang pulang ke rumah kalo toko belum tutup.  

Bayangkan, pertokoan di seputaran Jabotabek sekarang ini mayoritas ukurannya gede-gede.  Tidak hanya luas tapi juga bertingkat bisa lebih dari 3 lantai ke atas, belum termasuk basement.  Seandainya di mall tidak disediakan lift (ada ga ya ?) bisa dipastikan fasilitas yang disediakan adalah elevator atau tangga berjalan.

Tanpa disadari, aktivitas keluar masuk toko ini membuang kalori.  Hasil kutipan di sini, berjalan kaki selama 5 menit bisa membakar kalori sebesar 22 kkal.  Hitung sendiri deh berapa kalori yang dibutuhkan sekian jam untuk keliling mall.  Itu belum termasuk perhitungan kalori yang dibakar untuk bawa tas gembolan hasil belanja. 

Believe it or not, tidak semua orang juga punya kemampuan menjaga mood untuk belanja dalam jangka waktu yang lama. 


Persistence, dilakukan secara konsisten.
Segala sesuatu yang dilakukan secara terus-menerus, menurut para ahli bisa mengasah ketrampilan seseorang.  Termasuk kemampuan belanja si sophacolic.  Kebiasaan belanja seseorang di suatu tempat tertentu dengan kebiasaan si shophacolic berbelanja dalam jumlah yang tidak sedikit, otomatis akan dikenali oleh si pemilik toko.  

Keuntungan mutualisme pun diperoleh.  Pemilik toko senang hati karena mendapatkan pelanggan setia sedangkan si shophacolic mendapatkan perlakuan istimewa sebagai prime customer.  Selain kemungkinan dapat harga khusus, biasanya sebagai prime customer masuk dalam daftar orang-orang yang pertama dihubungi jika ada barang baru.  Nah !


Perseverence yang berujung dengan fokus.
Menurut kamus Webster, perseverance itu kurang lebih artinya “ngotot”.  Maksudnya begini.

Walau terkesan membeli barang secara membabi-buta, namun seorang shophacolic biasanya punya preferred desaigner atau preferred brand atau tipe barang tertentu.  Jadi jika seseorang menyukai barang merek A misalnya, maka ia akan membeli semua barang produksi A.  Kemungkinan lainnya, akan membeli barang yang kualitasnya setara dengan merek A. 

Atau jika dia penyuka barang tertentu, alhasil barang yang dibeli itu-itu saja walau koleksi di rumah sudah menumpuk.  [Yang ini nyindir diri sendiri, hihi].  Shophacolic tipe ini bisa berubah jadi kolektor.  Kebiasaan seorang kolektor adalah memburu barang-barang yang unik dan langka.  Tidak jarang harga barang-barang tersebut punya nilai ekonomi yang tinggi.  Suatu saat diperlukan, barang-barang tersebut bisa menguntungkan. 

Sifat yang satu ini membuat si shophacolic akan mencari informasi sebanyak mungkin terkait merek atau tipe tertentu.  Misalnya saja kita suka model baju merek A karena cocok dengan cuttingnya selain suka dengan pilihan warna berikut jenis bahan.  Begitu tahu bulan depan bakal keluar model yang baru, si shophacolic bisa menahan diri sampai waktu yang disebutkan tadi. 
Ternyata, seorang sophacolic bisa fokus juga ‘kan ?

Image borrow from Movie Poster


Product Knowledge – punya pengetahuan yang mendalam tentang barang yang disukai.
Seperti ‘tukang-tukang’ lainnya, si tukang belanja pun punya pengetahuan tentang belanja yang lebih dibanding orang awam.  Dari si tukang makan kita bisa dapat informasi tempat makan paling enak terkini.  Dari si tukang traveling, kita bisa update wisata paling oke untuk dikunjungi.  Dari shophacolic ini kita bisa gali informasi tentang barang apa yang yang lagi nge-trend atau bakal happening.  Berikut harga dan rekomendasi toko yang menjualnya.  Mereka juga bisa memberikan rekomendasi, mana barang bermutu baik dan mana yang tidak.

Bahkan jika si shophacolic ini adalah fans berat suatu brand, kita bisa jadikan dia sebagai a walking dictionary brand tersebut.  Contohnya seperti salah seorang kawan saya penyuka tas kulit merek ternama buatan negeri pizza yang kondang dengan seri monogram ituh (tahu donk , ya ?).  Hanya dengan meraba bahan kulitnya saja, kawan saya tadi bisa membedakan mana tas yang asli dan bukan.  Padahal buat saya, ga terasa bedanya saking banyaknya barang palsu bermutu premium.  

Gak sampe di situ, dengan mengupdate diri secara terus-menerus akan produk yang disukainya, dia hafal mati serial setiap nama produk beserta modelnya.  Hingga suatu saat dia bisa mengomentari bahwa tas yang dijinjing seorang perempuan yang melenggang pede di sebuah (lagi-lagi) mall itu adalah palsu. 

“Kok, bisa tahu ?” Tanya kawan yang lain heran.
“Soalnya seri tas itu (dia sebutkan namanya), gak ada yang modelnya kayak gitu.” Jawabnya sambil tersenyum penuh arti.
Jiiahhh.


Networking
Tahu tempat-tempat belanja, kenal dengan banyak pemilik toko itu adalah informasi.  Di jaman viral seperti sekarang ini, informasi sangatlah berharga.   Informasi juga artinya jejaring.  Jika tidak dekat dengan sumber informasi bisa dikatakan kita tidak tahu apa-apa karena kudet alias kurang update.  Tanpa disadari, si shophacolic telah membuat networkingnya sendiri.  Networking yang jika diolah dengan cermat malah bisa jadi ladang penghasilan bagi si shophacolic.

Tahu Miss Jinjing ?  Buat saya, dia adalah contoh sempurna dari si shophacolic yang dengan cerdas meramu hal-hal positif di atas menjadi profesi yang beberapa tahun yang lalu tak terbayangkan; yaitu personal shopper.  Dari hobinya belanja barang premium, Miss Jinjing bisa mengubahnya menjadi profesi yang ditekuninya.  Selain membuat blog pribadi dan menerbitkan buku, dia pun sering jadi nara sumber dan diminta mengendorse produk.


Gimana, masih bilang sophacolic itu selalu jelek ?

8 comments:

  1. hohohoho, iya juga ya,
    kalau kita melihat shophacolic dari sudut pandang yang lain, banyak hal positifnya juga ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ambil yang bagus, buang jeleknya. Simpel aja, mba.
      Semoga bermanfaat.

      Delete
  2. iniih mengompori banget buat jadi shopaholic jugaa, hihihi

    ReplyDelete
  3. yeaaayy! shopaholic termyata ada sisi positifnya juga *langsung semangat belanja :D

    ReplyDelete

Hai ^_^
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya di blog ini.
Silakan tinggalkan komentar yang baik.
Mohon maaf, komentar anonim maupun yang sifatnya spam, tidak akan dipublikasikan.
Keep reading and Salam !