-webkit-border-radius: 100px; -moz-border-radius: 100px; border-radius: 100px; #linkwithin_logolink_0 {display:none;}

Belajar Menulis Yuk, Dek !

Sekarang ini kalau punya anak balita yang hendak memasuki jenjang sekolah dasar dijamin para orang tua akan dag-dig-dug ga karuan apalagi kalo si anak belum lancar baca tulis. 

Kondisi ini terjadi karena ada tuntutan ketika masuk SD anak harus sudah bisa membaca dan menulis.  Sudah bisa dipastikan, terjadi kegalauan nasional melanda orang tua jika anaknya belum menunjukkan kemampuan membaca dan menulis padahal tahun ajaran baru sudah semakin dekat.  Saking galaunya, tidak sedikit orang tua yang kemudian mendaftarkan anak-anaknya untuk mengikuti kursus membaca dan menulis.  Halah !!

Ngga seperti jaman saya kecil dulu, Taman Kanak-kanak is heavenly place for kids.  Not a single day pass without play, play and play.  Oh ya, please also count singing and drawing, hehehe.  Belajar pegang pensil pun ketika sudah duduk di SD Kelas 1.
Padahal kemampuan membaca ternyata tidak muncul begitu saja pada diri seseorang,  harus mengikuti suatu proses yang panjang


Mengutip uraian Eva Fauzah, M.Psi., Psikolog, proses tersebut dimulai diusia anak 4-5 tahun dimana mereka mulai dilatih untuk memiliki kesiapan untuk belajar membaca.  Menginjak 5-6 tahun, anak mulai menyadari bunyi-bunyi huruf dan belajar mengenali sebagian besar huruf dari alfabet. Di usia ini pun, anak sudah mampu mengingat cara membaca satu kata hanya dari huruf awal dan akhirnya saja. 


Di usia 6-7 tahun, yaitu saat duduk di kelas satu dan dua Sekolah Dasar (SD), anak-anak mulai mengenal bagaimana cara mengeja.  Kemampuan otomatis membaca kata-kata umum akan terjadi manakala mereka menginjak 7-8 tahun.  Di usia itu pula mereka mulai membaca sedikit demi sedikit, baru kemudian mahir membaca dan membaca dengan tidak bersuara. Tahap selanjutnya, barulah mereka mempelajari hal-hal baru dari apa yang dibacanya.

Pemaksaan pembelajaran malah membuat anak menjadi stress.  Awalnya, hal ini dialami pula oleh Adek Ganteng yang tahun depan sudah masuk usia sekolah dasar.  Rupanya, kami -orang tua- sudah terjangkiti sindrom “kegalauan nasional” tadi, hihihi.  Di sekolah, Adek Ganteng sudah dikenalkan dengan angka dan huruf, bahkan gurunya sudah mengajarkan cara menulis.  Untuk melancarkan kemampuan baca tulisnya maka dari hasil diskusi dengan ayahnya, kami memilih untuk mulai mengintesifkan tulis-menulis dan membaca bagi Adek Ganteng yang tahun ini bakal berusia 6 tahun.  Tidak dengan mengikutsertakannya ke suatu les tapi kami akan melakukannya sendiri di rumah.  Supaya Adek Ganteng tidak bosan, waktu yang dialokasikan untuk 'latihan' ini maksimal 1 jam lamanya.


Itu pun kami harus berproses dan ada trial-error-nya.  Sesi pengajaran dimulai dengan memberikan contoh soal yang harus disalinnya.  Setiap kalimat yang diberikan harus ditulis ulang 10 kali.  Awalnya contoh soal yang diberikan standar; semisal “Ayah pergi ke kantor”, "Ibu pergi ke pasar" dan semacamnya.  Namun Adek Ganteng kelihatan ga semangat belajarnya.  Alih-alih menyalin, dia malah membahas contoh soal yang diberikan.  Akhirnya kami mengalah.  Bukannya kami yang membuat soal, sekarang kami yang balik bertanya pada Adek Ganteng kalimat apa yang hendak dia tulis sebagai contoh soal. 

“Nulis nama Niko, seperti apa, Ma ?”  Tanyanya pada suatu hari menanyakan ejaan nama kawan bermainnya.

Kali lain dia meminta saya untuk menuliskan “Kemal suka menonton Transformer Prime”. 
Pendek kata, contohnya nyata.   Menuliskan nama-nama teman sekolahnya.  Segala sesuatu yang berkaitan dengan kesukaannya sampai kejadian yang berkesan buatnya seperti ketika liburan kemarin.  Dari situ saya menyimpulkan, dengan memberikan the real example maka efeknya lebih 'maknyusss'.  Karena ada keterlibatan emosi dan masih segar dalam ingatannya.  Emang beda ya, kalo segala sesuatunya dikerjakan pake hati, hehehe...

Alhamdulillah, dengan metode seperti ini yang dipraktekan selama 2 bulan terakhir, Adek Ganteng sudah menunjukkan kemajuan yang pesat.  Sekarang dia mulai membaca iklan dan subtitle jika kami sedang menonton TV.  Mengeja judul artikel di majalah dan koran.  Hingga papan nama atau baleho di jalanan.

Ternyata belajar sambil bermain itu memang menyenangkan dan pelajaran bahasa juga perlu disampaikan dalam bentuk permainan. Sebab secara psikologis, anak yang melakukan hal yang sesuai keinginan dan cepat waktunya memiliki emosi yang lebih sehat dan stabil.

Adek Ganteng, tambah lancar menulis dan membacanya ya..hhhh !!

2 comments:

  1. sy termasu yg gak setuju masuk SD ada tes calistung sebetulnya.. Tp karena tuntutan jamannya seperti itu, akhirnya sy mengakalinya juga dg cara tetap mengajarkan mereka sambil bermain.. Tdk dengan paksaan.. KAsian juga ya mbak kl anak2 sp di paksa

    ReplyDelete
  2. Sama kok, mba Nai. Secara pribadi gak setuju juga. Tapi gimana lagi yahh...pada akhirnya kita-kita ini harus "tunduk" sama kondisi yg ada. Dilematis memang.

    Anyway, thanks udah mampir ;)

    ReplyDelete

Hai ^_^
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya di blog ini.
Silakan tinggalkan komentar yang baik.
Mohon maaf, komentar anonim maupun yang sifatnya spam, tidak akan dipublikasikan.
Keep reading and Salam !