My Dairy Note's

Life Style & Family Blog Indonesia

    • Home
    • About
    • Disclosure
    • Lifestyle
      • Books & Movie
      • Travel
      • Culinary
      • Fotografi
    • Midlife Series
      • Family
      • Wellness
      • Blogging
      • Techno
    • Career & Project Management
      • Project Management


Assalamu alaikum semuanya.  Semoga dalam kondisi baik-baik, ya.

Ngomongin soal traveling, punyakah cerita perjalanan yang paling berkesan?  Saya punya!
Yaitu liburan ke Bali berdua Mama sebagai hadiah kelulusan SMP.  Ceritanya di masa itu, dari kami berlima, cuma saya yang belum pernah ke Bali.  Kedua kakak saya sudah ke Bali bersama kawan-kawannya.  Sebagai anak cowok mereka nggak punya exit permit issue.  Lain ceritanya dengan saya, Si Bontot perempuan.  Mau kemana-mana perlu surat ijin keluar dan pengawalan khusus jika diperlukan, hahaha.  Begitulah nasib anak perempuan satu-satunya di keluarga.  Untuk Mama, ke Bali diajak Apak saat beliau dinas ke Pulau Dewata.  Tinggallah saya yang belum mengecap Tanah Bali.  Dari dulu, Bali memang nggak ada matinya.  Tujuan liburan fenomenal bahkan untuk orang Indonesia.  Ibaratnya, belum liburan kalau belum pernah ke Bali.

Singkat cerita, akhirnya kami berdua ke Bali.  Bali di pertengahan 1980-an (bisa ngira-ngiralah yaw, berapa umur saya hehe) pastinya beda dengan sekarang.  Semuanya masih serba manual, boro-boro ada aplikasi travel online.  Tempat wisata pun belum semarak.  Destinasinya standar; Tanah Lot, Kintamani, Pura Besakih dan Pantai Kuta.  Ubud masih kampung yang belum dilirik wisatawan.  

Meski hanya berdua kami tidak mengikuti tour.  Alih-alih terikat dengan rombongan, kami pilih paket daily tour sendiri.  Jadi hari ini ikut tour arah Bedugul.  Keesokan hari jika ingin santai, kami off-kan dulu tournya.  Dan arrangement seperti ini berdasarkan hasil diskusi kita berdua.  Iya, selama perjalanan itu, otomatis kami jadi banyak diskusi.  Tidak sedikit pendapat saya yang “didengar” Mama. Sikap Mama yang demikian membuat saya jadi merasa “dewasa”.  Yang biasanya perjalanan liburan dikomandani oleh Apak, kali ini kami berdua yang pegang peranan.  Efeknya ternyata beda sekali lho, jadi lebih terasa unsur adventure-nya.  Selain itu,  Saking berkesannya liburan berdua Mama ke Bali, hingga tertanam keinginan untuk melakukannya lagi di kemudian hari. 

Selain jadi ajang bonding hubungan saya dengan Mama yang kemudian membuat relationship seperti “teman”, liburan berdua Mama ternyata jadi pengalaman yang sangat emosional di kemudian hari.  Karena tidak lama saya lulus SMA, Mama berpulang ke pangkuan Ilahi. 

"Hanya" dikasih waktu sebentar sama Mama, jadi menimbulkan dendam.  Jika punya anak nanti, betul-betul ingin memaksimalkan hubungan ibu dengan anak.  Pengen jadi ortu yang asik seasik kanal berita https://www.ibupedia.com/.  Salah satu ikhtiarnya adalah bercita-cita traveling berdua anak saja!  Saat saya sampaikan keinginan tersebut pada Paksu, alhamdulillah dia memahami dan mengijinkan.

Sama Mama di Bali 
 "What the daughter does, the mother did" 

Maka dari itu manakala Si Sulung punya permintaan untuk “dihadiahi” traveling jika diterima di perguruan tinggi negeri, permintaannya kami setujui.  Itupun dengan syarat tambahan jika masuk PTN melalui jalur undangan.  Qadarullah Si Sulung masuk PTN tanpa tes.  Semua doa dan ikhtiar dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. 

Saat penentuan tujuan, akhirnya diputuskan Singapura.  Pertimbangannya karena harga tiket ke Singapura lebih murah dibanding Bali.  Well, not nice but it’s true.  Selain faktor keamanan di Negara Merlion ini cukup baik, saya juga sudah familiar karena beberapa kali tugas ke sana. 

Perjalanan ke Singapura itu benar-benar dibuat tanpa pretensi apa-apa.  Saya yang acapkali mempersiapkan itinerary dengan matang seperti perjalanan ke Bangkok lalu, kali ini sangat santai.  Urusan pencarian tiket saya serahkan pada Si Sulung.  Kata kuncinya, cari tiket seekonomis mungkin.  And she did her part great.  Saya tinggal urus penginapan.  Dari sekian banyak pilihan akhirnya kami memilih 5Foot Way.Inn.  Hostel ekonomis dengan fasilitas yang lumayan untuk budgetted travel kali ini.


Di hari keberangkatan, begitu PakSu drop off kami di Terminal Bus Damri, artinya petualangan ibu dan anak pun dimulai hingga 3 hari ke depan.  Yup, kami memilih berakhir pekan di Singapura.  The trip was short of like week-end gate away.  Dalam hati, sebetulnya saya sangat excited.  Bepergian adalah pengalaman yang indah; ketika saya pergi solo, rasanya memuaskan; saat bersama teman-teman, itu menyenangkan; tapi dengan anakku saja, rasanya luar biasa!

Dan sejarahpun berulang.  Rasanya de ja vu.  Bedanya, saya jadi si ibu, bukan Ratna si anak remaja.  Dalam perjalanan tersebut, rasanya bukan sekedar anak dan ibu, melainkan teman seperjalanan.  She is my travel buddy.  I have to listen my travel mate to make this trip fun and joyful.  And so she is.  

Wefie alas kaki di MRT

Ikutan lesehan sama orang-orang ini sambil makan es krim potong Uncle


Traveling berdua ke Singapura kita isi dengan hal-hal retjeh.  Pepotoan di Haji Lane, wandering around sekitaran tempat penginapan di China Town, window shopping sepanjang Orchard Road, nongkrong di pertokoan Orchard sambil makan es krim potong, belanja oleh-oleh di Mustafa Centre, keliling kota Singapura pakai MRT, keliteran gak jelas di Marina Bay.  Ngga ada itinerary yang jelas.  Spontaeous aja.  Pokoknya
; girls just want to have fun!  

Mirip seperti perjalanan saya dengan Mama ke Bali, kali ini pun kami banyak bertukar cerita dan diskusi bahkan ide.  Si Sulung ini memang anaknya matematis, punya kecenderungan untuk berhitung.  Begitu pula saat akan bertransaksi, dia yang jadi juru hitung.  Memberikan pandangan agar saya mencari toko lainnya saat dinilainya harga barang yang dimaksud dianggap terlalu tinggi.  Dengan caranya yang demikian saya jadi tahu trik menekan biaya makan di Singapura yang memang sudah terkenal tinggi biaya hidupnya.  

Dalam hati saya sangat bersyukur karena diberi kesempatan oleh Allah untuk merealisasikan keinginan saya: traveling berdua dengan anak.  Lewat perjalanan ini, saya jadi makin memahami pola pikir dan sikapnya.  Karena hanya berdua saja, sikapnya pun jadi lebih independen.  Insya Allah nanti saya bisa melakukan hal yang sama dengan adiknya.  Atau Paksu bepergian berdua saja dengan Anak Lanang, mungkin?

Walaupun sebetulnya semua perjalanan liburan mau kemana pun tujuannya dengan siapapun perginya, selalu menyenangkan dan punya cerita yang tak terlupakan.  Namun pergi berdua saja dengan anak akan menjadi kenangan khusus bagi saya.  Semoga juga untuk dia.

“The greatest legacy we can leave our children is happy memories.”
- Og Mandino - 

***

 Tulisan ini diikutsertakan dalam Ibupedia Blog Competition - Share Your Parenting Story 

Share
Tweet
Pin
Share
16 comments
parenting

Terus-terang, agak bingung cari judul postingan yang mewakili cerita "receh" keseharian kami berempat (Saya-Suami plus 2 anak).

Sengaja saya kumpulkan potongan-potongan percakapan berikut dari Timeline Facebook saya.  Iya, jadi hal-hal seperti inilah yang sering saya jadikan bahan update status di akun sosmed kepunyaan Om Mark Zuckerberg itu.  

Dibanding memasang update yang merusuh dan membuat bikin kening menyerenyit, saya memilih update status dengan berbagi percakapan keseharian yang dapat menaikkan bibir menjadi senyuman manis menjurus ketawa kecil.  Atau bahkan menginspirasi.  Eh, kalo yang terakhir kayaknya malah ngga 😂

Bisa jadi ada yang berpendapat ini adalah percakapan receh, tapi receh yang ngangenin.  Karena saat anak-anak beranjak dewasa, my husband and I will certainly miss this.  

At last, semoga tidak bosan dengan obrolan retjeh ini!  😚

++++

👶: "Aku heran deh, Pak, kenapa Kakak sama Mama kalo dandan lama. Padahal hasilnya gitu-gitu aja..."
👩: *yakali gw ma kakaknya berubah jadi Raissa kalo dandan?*

==



👶: " : "Lalat bisa ditangkep, Pak?"
: "Bisa"
:    👶: " : "Lalat bau ya, Pak?"
Lalu Emak kepo mikir; adakah hubungannya antara lalat dengan bau...

Am I lost something here? 😳



==



Anak: "Pak, cicak punya gigi, nggak?"
Bapak: "Nggak"
Anak: "Terus gimana dia ngunyah makanannya?"
Bapaknya lalu bla bla bla nerangin. Untung ngerti.

==

Ritual sebelum tidur; kiss emaknya.
Anak: "Pfttttt, pipi Mamah kok rasanya aneh. Pake apa, sih?" 
Emak: "Ini obat supaya Mama cantik selalu, Dek". (Baca krim malam). And yes I am teasing him.
Anak: "Obat rasa ngga enak kok dipake". Jangan dipake lagi, ah! Aku sun Mamanya jadi gak enak". 
Ada yang misuh-misuh 😂😂

==

Istri: "Say, sekarang hari apa, ya?"
Suami: "Hari libur. Tanggal merah."
Kenapa gw gak nanya anak-anak aja, ya tadi? 
😳

==


"Singset itu apa, Mah?"
Agak susah nih jelasinnya. Emak gercep langsung googling lalu pilih image. Scanning cepet hingga tiba di satu gambar yang sesuai pertanyaan.
"Singset tuh kayak gini, De. Kira-kira."
"Oooh, badannya ketat gitu, ya? Tipis"
Ada ya, tipe badan tipis?

==

Sop sudah selesai, selanjutnya perkedel kentang.
Saat menguleni perkedel, bocah mendekat.
"Mom, can you cook faster? My stomach is like hot wheel."
"What do you mean like hot wheel?"
"I am very hungry."
Aye aye captain!

==

Semalam, saat nunggu kakaknya pulang.
"Kakak itu biar galak tapi kalo gak ada dia teh, aku kangen."
"Kangennya kenapa?"
"Gak ada yang godain aku."

Orang galak emang ngangenin kok, Dek.



==



==🤔

==

Share
Tweet
Pin
Share
4 comments
Efek senang baca buku cerita detektif bermula dari Petulangan Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu sampai Hardy Boys dan Nancy Drew rupanya tidak berhenti sampai di situ.  Gedean sedikit jadi akrab dengan ke Hercule Poirotnya Eyang Agatha Christie.  Dan sesuai usia sekarang yang matang [uhuk!], jadi suka buku karangan Dan Brown yang menurut saya jenius pisan dalam meramu cerita dengan plot twisted di mana endingnya selalu sulit diebak.  As if every words he wrote means something as a clue.


jadi-detektif-di-lockdown-indonesia-alam-sutera


Tidak sebatas buku saja, sensasi misteri pun merambah pada tontonan film.  Selain genre drama, saya juga senang nonton film 'mikir' ala detektif.  Tambah bumbu thriller sedikit, saya masih mau nontonnya.

Share
Tweet
Pin
Share
22 comments
If somebody asked me what I remember the most about my childhood, then the answer is traveling and books.  Two things that still haunted me until my present day as a parent, mom of two.

My travelling experience has began even before I was born.  It started when my Dad assigned from Jakarta to Ujung Pandang, South Sulawesi.  The whole family flew to strange city they never think before, with me still in womb.  My Mom was 8-months pregnant of me back then. Not long after I was born, Mom and me flew again to Jawa to visit my Mom’s father who was ill.  His last wish was to see me, the granddaughter of his first daughter.  Yup, my Mom was the eldest of her sibling.  And that story told to me many times, by my parents when they’re still alive.



Share
Tweet
Pin
Share
6 comments
rumah tanpa art


Jadi fix, sudah setahun ini kami hidup tanpa ART [Asisten Rumah Tangga].  Si Mbak yang sudah kerja hampir 3 tahun itu, mengundurkan diri setelah Lebaran tahun lalu.

And surprisingly, we able to manage so far !  We live normal as we used to be.  Bedanya Cuma ngga ada si Mbak aja.  Dan ternyata it wasn’t horrible as we thought before.  Seisi rumah masih makan teratur mengingat cooking is not my thing ^_^.  Masih ada baju bersih di lemari masing-masing dan rumah masih rapi teratur tidak seperti kapal pecah.  Bisa saja kami mencari ART baru, namun berdasarkan berbagai pertimbangan, kami memutuskan untuk tidak melakukannya.

Jadi, apa saja yang sudah kami lakukan hingga survive sampai hari ini ?
Share
Tweet
Pin
Share
11 comments
credit from here

Yang sering terkatakan adalah anak-anak produksi broken family jarang yang berhasil karena mereka tidak punya role model sebagai pegangan.  

Yang sering terceritakan adalah ada si anu bercerai, si itu berpisah; yang semuanya saya tanggapi tak serius.  Dalam artian itu adalah pilihan hidup seseorang.  Jika sudah dipilih maka harus siap dengan konsekuensinya.  

Jika saja karena tidak melihat di depan mata sendiri, maka a broken family yang saya tahu hanya sebatas cerita saja. 

Jika masih banyak yang berpendapat malangnya tumbuh tanpa ibu, ternyata ayah pun punya peran penting dalam masa tumbuh kembang anak.  Makin menyadarkan bahwa fungsi laki-laki dalam keluarga tidak sebatas pemberi nafkah semata.  There a lot more meanings being A father and husband !

Seperti kisah yang dialami oleh seorang kerabat.

Share
Tweet
Pin
Share
8 comments
Older Posts

Follow Me

Email Facebook LinkedIn Pinterest

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  October 2025 (1)
      • Personal Branding Konsultan Project Management: 3 ...
    • ►  August 2025 (1)
    • ►  July 2025 (1)
    • ►  June 2025 (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  June 2022 (2)
  • ►  2021 (12)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (2)
    • ►  May 2021 (1)
    • ►  February 2021 (1)
    • ►  January 2021 (4)
  • ►  2020 (7)
    • ►  December 2020 (2)
    • ►  October 2020 (1)
    • ►  April 2020 (2)
    • ►  March 2020 (1)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (17)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  October 2019 (2)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  May 2019 (2)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (4)
  • ►  2018 (25)
    • ►  December 2018 (4)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  October 2018 (3)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (5)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (1)
    • ►  February 2018 (2)
    • ►  January 2018 (3)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December 2017 (5)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  October 2017 (1)
    • ►  September 2017 (2)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  June 2017 (1)
    • ►  April 2017 (1)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (1)
  • ►  2016 (37)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  July 2016 (3)
    • ►  June 2016 (4)
    • ►  May 2016 (2)
    • ►  April 2016 (9)
    • ►  March 2016 (8)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (6)
  • ►  2015 (75)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  September 2015 (6)
    • ►  August 2015 (5)
    • ►  July 2015 (19)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  April 2015 (7)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (9)
    • ►  January 2015 (5)
  • ►  2014 (39)
    • ►  December 2014 (2)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  October 2014 (2)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  August 2014 (5)
    • ►  July 2014 (2)
    • ►  June 2014 (3)
    • ►  May 2014 (4)
    • ►  April 2014 (2)
    • ►  March 2014 (2)
    • ►  February 2014 (5)
    • ►  January 2014 (7)
  • ►  2013 (36)
    • ►  December 2013 (5)
    • ►  November 2013 (5)
    • ►  October 2013 (2)
    • ►  September 2013 (5)
    • ►  August 2013 (1)
    • ►  June 2013 (1)
    • ►  May 2013 (4)
    • ►  April 2013 (6)
    • ►  March 2013 (3)
    • ►  February 2013 (2)
    • ►  January 2013 (2)
  • ►  2012 (28)
    • ►  December 2012 (2)
    • ►  November 2012 (3)
    • ►  October 2012 (3)
    • ►  September 2012 (4)
    • ►  August 2012 (4)
    • ►  July 2012 (5)
    • ►  May 2012 (1)
    • ►  April 2012 (1)
    • ►  March 2012 (1)
    • ►  February 2012 (1)
    • ►  January 2012 (3)
  • ►  2011 (28)
    • ►  December 2011 (2)
    • ►  November 2011 (3)
    • ►  October 2011 (1)
    • ►  September 2011 (1)
    • ►  August 2011 (4)
    • ►  July 2011 (2)
    • ►  June 2011 (4)
    • ►  May 2011 (1)
    • ►  April 2011 (4)
    • ►  March 2011 (3)
    • ►  January 2011 (3)
  • ►  2010 (2)
    • ►  December 2010 (1)
    • ►  June 2010 (1)

Created with by BeautyTemplates