My Dairy Note's

Life Style & Family Blog Indonesia

    • Home
    • About
    • Disclosure
    • Lifestyle
      • Books & Movie
      • Travel
      • Culinary
      • Fotografi
    • Midlife Series
      • Family
      • Wellness
      • Blogging
      • Techno
    • Career & Project Management
      • Project Management

 


Personal Branding Konsultan Project Management & Mindset Agile


Dari Kaku ke Kunci Branding

Pekerjaan — apalagi kalau dijalani bertahun-tahun — ternyata berdampak sekali pada pola pikir.
Berkecimpung di dunia Project Management untuk salah satu industri yang dianggap "tough" (telco is considered as one of the toughest project due to its complexity), ditambah core character pribadi yang emang serius [juga 😜], ngga heran kalau persona saya ikut kebawa serius. Dunia saya sangat terstruktur dan terprediksi, mirip jadwal ketatnya Gantt Chart Project.  Kesannya kaku dan formil 😬

Dulu saya benar-benar menganggap personal branding itu tidak relevan untuk profesi sebagai konsultan.  Apalagi di dunia Project Management yang menuntut keseriusan dan kredibilitas tinggi.

Bagi saya, media sosial adalah kotak terpisah yang hanya berisi hal-hal personal, hobi, atau hiburan — tidak ada kaitannya dengan profesionalisme.  Dan seperti itulah feed Instagram @ratna17amalia

Padahal, kadang ada dorongan juga untuk menulis tentang project management, entah di blog atau sosmed. Selama ini “ngoceh” soal hal-hal kerjaan sebatas di LinkedIn saja.

Akun-akun tentang project management hasil browsing pun umumnya serius dan teoritis banget.  Berasa baca buku pelajaran sekolah.  I myself found it boring and not joyful 😂.  Ada keinginan untuk deliver the same thing but in different way.  

Cuma ngga tahu bagaimana dan start from where.  Clueless.

A-Ha Moment!

Tapi belakangan, saya mulai memperhatikan munculnya banyak konten edukatif-informatif dari berbagai profesi.  Ada @dr.tirta yang bicara soal kesehatan dengan gaya santai, atau @irwandiferry yang mengulas isu politik dan sosial secara tajam tapi tetap menarik.  Konten mereka jadi acuan banyak orang, bahkan membentuk opini publik.

Dari situ, mindset awal saya mulai “mlintir.”

Tersadarkan bahwa ada pergeseran paradigma di era digital ini.

Sekarang, branding profesional di era digital bukan cuma milik influencer, tapi juga penting untuk siapapun yang ingin membangun kepercayaan dan kredibilitas online.  Harusnya profesi saya sebagai konsultan project management juga bisa.

Terlebih setelah menyelesaikan kuliah pascasarjana, saya merasa punya amunisi baru — dan lebih percaya diri untuk berbagi insight seputar project management.  Buat saya, ini bagian dari perjalanan menuju solopreneurship sebagai Konsultan Project Management mandiri.

On the other hand, viewers sekarang makin kritis.  Akan sangat aneh jika tiba-tiba akun yang biasanya posting soal lifestyle, lalu langsung “jualan.”  Klien hari ini tidak hanya membeli metodologi seperti PMP, Agile, atau Strategic Planning yang saya kuasai.

Mereka membeli solusi, dan yang terpenting — mereka membeli trust.

Mereka percaya pada mindset orang di balik solusi itu.

Di sinilah Personal Branding Konsultan Project Management menjadi kunci pembeda.  Ia bukan lagi pilihan, melainkan keharusan — untuk sustainability dan legacy karier.

Lalu lihat advertorial Rika Dinarjanti di IG yang membuka workshop Content Creator for Personal Branding.  Sudah sejak lama jadi followernya Mamrik -begitu panggilan akrabnya-, dari masa @uploadkompakan dahulu.  Judulnya sudah spesifik "personal branding".  Something tells me "This it is!"

Dan keputusan ikut Workshop Content Creator Rika mengubah segalanya.

Ada banyak hal selain materi yang diberikan di kelas.  Di postingan ini, saya mau membagikan tiga perubahan mindset krusial yang saya dapatkan — dan bagaimana saya mengaplikasikannya, bukan hanya di branding media sosial, tapi applicable juga dipraktikan dalam sesi coaching dan konsultasi profesional yang saya jalani.


Game Changer: 3 Perubahan Mindset Krusial 


Game Changer #1: Dari Technical Expert ke Human Artist (Menciptakan Legacy)

Ada satu hal penting yang saya pelajari: branding itu dimulai dari legacy, bukan dari daftar tugas di job description.  Legacy berarti apa yang ingin kamu tinggalkan, bukan hanya apa yang kamu selesaikan.

Karena personal branding profesional di era digital ternyata bukan cuma tentang “pengen dikenal”, tapi tentang “apa yang mau kamu bantu orang lain temukan lewat kamu.”

Karenanya, viral bukan lagi tujuan.

Menurut kacamata konsep project management konvensional yang saya pelajari di awal saya memulai profesi ini, ukuran “proyek sukses” adalah semua task selesai, budget aman, dan deadline tepat waktu. Dengan jam terbang tinggi mengelola proyek (> 20 years with across industries), saya bisa klaim sebagai technical expert yang rapi, presisi, dan bisa diandalkan.

Tapi seiring waktu, saya mulai melihat proyek dari sudut pandang yang berbeda — sejalan dengan pendekatan proyek yang Agile, lebih lentur dan adaptif terhadap perubahan yang masif.  Pendekatan ini membuat saya lebih terbuka pada ide bahwa setiap proyek tidak sekadar butuh kontrol, tapi juga kreativitas dan rasa.

Saya pernah posting quotes Greg Cimmarrusti di feed,

“Being a Project Manager is like being an artist — you have different colored process streams combining into a work of art.”

Dan saya menuliskannya karena benar-benar merasakannya.  As with a cake, project management requires a LOT of ingredients to make, which you have to juggle with.  Dari hal teknis hingga hal non-teknis.

Terlebih di era AI dan transformasi digital seperti sekarang, Project Management harus punya value dan makna yang jelas.  Tanpa itu, semua proses hanya jadi aktivitas mahal tanpa arah — mubazir, buang biaya saja.

Proyek tidak lagi semata fokus pada task dan output, tapi harus punya impact dan nilai emosional yang dirasakan klien.  Dan di situlah letak value-driven project yang sebenarnya.

Perubahan mindset ini akhirnya melahirkan ide konten “Dari Karier ke Legacy.”

Konsep yang menantang kebiasaan banyak Project Manager yang hanya fokus pada jadwal ke depan.

Padahal, personal branding konsultan project management yang kuat justru berangkat dari visi panjang: membangun makna, bukan sekadar menyelesaikan target.

Dan mungkin di situlah seni sebenarnya dari menjadi Project Manager — bukan hanya menyusun rencana, tapi meninggalkan makna.


Game Changer #2: Dari Kaku (Waterfall) ke Adaptif (Agile in Creativity)

Pelajaran terbesar berikutnya: membuat konten itu seperti mengelola proyek Agile — berani coba, gagal cepat, lalu perbaiki dengan cepat juga.  Responsif terhadap perubahan (alias ide baru yang kadang muncul di jam tak terduga 😅).

Untuk mempraktikkan ilmu dari workshop, kami para peserta diminta turun langsung ke lapangan digital selama 30 hari.  Setiap hari diberikan tema, dan kami bebas menuangkan ide sesuai gaya dan niche masing-masing.

Itulah tantangan #30HariNgontenYuk, program harian yang dibuat oleh Mamrik tujuannya sederhana tapi jitu: memaksa kami membangun muscle memory dalam berkreasi, agar terbiasa membuat konten secara konsisten, responsif, dan terarah sesuai pilar branding kami masing-masing.   

Jujurly, saya seperti “diseret keluar” dari zona nyaman 😅

Menjaring ide untuk niche yang spesifik ternyata tidak semudah kelihatannya, meskipun sudah ada panduan tema harian.

Contohnya di Hari ke-17, temanya adalah “Fun Fact.”
Kebayang nggak sih, betapa mumednya mengaitkan tema itu dengan project management?  Project Team pasti tahu betapa tidak fun-nya project itu.  Namun saya bisa menemukan the hidden-gems.  Ternyata yang dimaksud adalah plot twist.  Sebuah pendekatan yang sering dikenal dalam dunia penulisan.

Justru di situlah letak latihannya.  Saya dipaksa belajar untuk eksplorasi ide tanpa kehilangan benang merah branding yang ingin saya bangun.  Nggak gampang, tapi ternyata saya bisa melakukannya.  Lihat reels ini.

Tanpa saya sadari, ternyata saya sedang menerapkan prinsip Agile in Creativity — mindset agile yang saya praktikkan di dunia project management, tapi kali ini di dunia konten:
  • Beradaptasi dengan tema yang berubah setiap hari.
  • Beradaptasi dengan platform atau aplikasi pembuatan konten.
  • Beradaptasi dengan jenis konten — reels, feed, atau story.
  • Beradaptasi dengan konsep konten yang bergeser sesuai audiens.
  • Beradaptasi dengan mood sendiri (the hardest part 😅).
Dan tentu saja, beradaptasi dengan perubahan itu sendiri — terutama saat mulai membandingkan hasil, “punya orang kok bagus banget, punya gue gini-gini aja…” (the scary ones 👻).

Tapi di situlah saya benar-benar belajar makna Agile mindset yang sesungguhnya.

Karena pada akhirnya, ketakutan akan ketidaksempurnaan justru bisa melumpuhkan inisiatif kita.

Sedangkan mindset Agile bertujuan membuka ruang bagi pertumbuhan, spontanitas, dan joy of learning yang sehat — baik dalam konten maupun kehidupan profesional.

Baru 30 hari, tapi saya sudah bisa membayangkan konten project management macam apa yang bakal bermunculan di feed @ratna17amalia.  Dari perspektif framework enterprise architecture, saya sedang membangun sebuah peta jalan konten (content road map).


Game Changer #3: Dari Menghibur ke Memberi Value (Fokus pada Solusi)

Dulu saya pikir personal branding itu soal menarik perhatian sebanyak mungkin, menjadi viral.

Sekarang saya tahu, yang penting bukan siapa yang menatap, tapi siapa yang merasa terbantu. 

Pelajarannya jelas: branding yang kuat bukan tentang menghibur semua orang, tapi tentang memberi solusi untuk orang yang tepat.

Sebelum ikut Workshop Content Creator, saya masih sering memberi tips umum — semacam generic advice yang bisa dibaca di mana saja.

Tapi sekarang saya belajar memahami pain point audiens saya dengan lebih spesifik.

Saya tidak ingin sekadar jadi akun yang “ramai”, saya ingin jadi akun yang relevan.

Itu sebabnya, bahkan saat saya posting hal-hal ringan seperti kopi pagi atau jalan santai, selalu ada value di baliknya.  Misalnya: bagaimana manajemen waktu ala Project Manager bisa memberi ruang untuk hobi, refleksi, dan me-time.

Saya tidak menjual prosesnya, saya menjual hasilnya — a better life through better planning.

Dan yang paling penting: saya ingin tetap authentic.  Saya tidak berusaha menyenangkan semua orang.

    “I don’t care if people don’t like me…”

Bukan untuk terlihat rebel, tapi untuk menunjukkan bahwa keaslian adalah bentuk otoritas akan hal yang bisa saya kontrol.

Saya ingin menarik audiens yang selaras dengan value saya; mereka yang juga ingin berkembang, bukan hanya terlihat produktif.

Di situ lah personal branding konsultan project management menemukan maknanya: bukan untuk tampil sempurna, tapi untuk terus bertumbuh, berbagi, dan memberi arah bagi orang lain.


III. Branding Adalah Proyek Pribadi Terbaik

Tiga perubahan mindset ini merangkum evolusi saya sebagai profesional: Dari Teknis ke Artist, dari Kaku ke Adaptif, dan dari Entertainer ke Value Provider.

Dan di titik ini saya menyadari satu hal penting — personal branding adalah proyek pribadi terbaik yang pernah saya kelola sebagai seorang Project Manager.  

Layaknya proyek profesional, personal branding juga butuh perencanaan yang matang dan proses yang disiplin;
  • 🗺  Ada planning (visi) yang menjadi arah dan menjadi peta jalan (road map),
  • 🏁Execution (konten) yang menjadi hasil kerja nyata,
  • 👥 Stakeholder management (audiens) yang harus dijaga interaksinya,
  • Dan tentu saja, Mindset Agile untuk terus beradaptasi dengan perubahan digital dan perilaku audiens.
Karena di dunia yang bergerak secepat sekarang, konsistensi tanpa fleksibilitas justru bisa membatasi pertumbuhan.

Sebaliknya, personal branding yang dibangun dengan strategi dan adaptasi berkelanjutan akan membentuk kredibilitas yang kuat dan autentik.

Saya percaya, jika saya bisa mengelola “proyek diri sendiri” dengan mindset yang sama seperti mengelola proyek profesional, maka saya juga bisa membantu klien mengelola proyek mereka menuju keberhasilan yang berkelanjutan dan bermakna.

Dan bonusnya?

Pertemanan baru sesama GenX dari komunitas workshop ini — adalah hadiah yang tak ternilai. 🌿

Jadi, mau belajar konten bareng Mamrik  juga, atau dicoaching langsung soal Project Management oleh saya? 😉


Share
Tweet
Pin
Share
8 comments

 

perempuan Indonesia kuliah S2 usia 50 di Universitas Pradita


Mengapa Belajar Kembali di Usia 50-an?

Salah satu anggapan yang paling sering saya dengar adalah: “Udah umur segini, masih semangat belajar?” atau “Buat apa kuliah lagi kalau karier sudah stabil?”

So, when they asked why am I going back to school.  The answer is WHY NOT?

Karena saya paham, dii banyak budaya, termasuk di Indonesia, ada keyakinan diam-diam bahwa belajar itu hanya untuk anak muda. Bahwa pendidikan formal punya “batas waktu.”  Karena umumnya orang percaya bahwa pendidikan formal hanyalah untuk yang muda. Bahwa setelah usia tertentu, fokus kita harus bergeser: dari belajar menjadi bertahan. Dari berkembang menjadi bertahan di zona nyaman.

Tapi saya nggak setuju.
Dan statistik pun berkata lain.
Di banyak negara, termasuk Indonesia, tren pembelajar dewasa (adult learners) justru meningkat. Banyak profesional yang kembali belajar demi mengembangkan diri, mengejar passion baru, atau sekadar membuktikan bahwa usia bukan halangan untuk bertumbuh.

Saya pribadi tidak kembali kuliah karena ingin naik jabatan. Saya kembali kuliah karena ingin memberi diri saya sendiri kesempatan kedua untuk berkembang.

Belajar bukan tentang umur.
Belajar adalah tentang kemauan dan cara pandang

Kuliah Pascasarjana atau Sertifikasi Profesional? Ini Pertimbangan Saya

Keputusan untuk kuliah lagi di usia paruh baya ini bukan sebuah tindakan yang impulsif.
Bisa dibilang ini adalah keinginan yang tertunda sejak 2017 lalu. Obsesi yang saya pikir akan hilang dibawa waktu, ternyata malah menguat.  

Now and then, saya browsing institusi pendidikan baik negeri maupun swasta mulai dari jurusan dan tentunya biaya termasuk UT, Universitas Terbuka pun masuk dalam opsi pencarian berikut jurusan program pascasarjana yang ditawarkan.

Saya pelajari dan bandingkan dengan seksama. 

Tidak lain karena saya menginginkan kuliah pascasarjana di usia 50-an ini benar-benar sebuah investasi yang bermakna.  Ada banyak peminatan namun saya ingin mempelajari bidang yang sesuai dengan dan menunjang karier kerja sebagai konsultan praktisi ICT (Information, Computer, Technology) project.

Awalnya, sempat mempertimbangkan untuk mengambil sertifikasi profesiona (lagi). Lebih cepat, lebih praktis, dan mungkin terlihat lebih “masuk akal” dari sisi waktu dan biaya. Apalagi di dunia kerja, sertifikasi sering kali dianggap sebagai pembeda yang cukup signifikan.  Terlebih sebagai praktisi project, sertifikasi profesional sebagai reinvestasi karier mempunyai nilai jual tambahan.

perempuan Indonesia kuliah S2 usia 50 di Universitas Pradita
Sesi kuliah offline di Universitas Pradita, paling cantik sendiri 😄

Namun makin saya pikirkan, makin saya merasa bahwas saya butuh lebih dari sekadar validasi teknis.  Mengingat saya sudah memiliki sertifikasi PMP atau Project Management Profesional dari tahun 2005. Sebuah sertifikasi internasional keprofesian yang biasanya dikejar oleh para Project Manager yang dikeluarkan oleh Project Management Institute.

Kegalauan having another international certification or pursuing master degree, mendorong Saya melakukan riset kecil “rekomendasi sertifikasi profesional selain PMP” yang dianjurkan bagi pelaku industri ICT, industri yang saya geluti selama ini.  Muncul sejumlah rekomendasi sertifikasi yang dianjurkan semisal sertifikasi TOGAF, COBIT dan ITIL serta Scrum Master. 

Makin saya selami satu persatu pilihan yang ada di depan mata ini makin mengristalkan bahwa saya tidak sedang mencari tambahan sertifkasi.  Dengan latar belakang non-IT namun qadarullahNya profesi saya full tenggelam mengerjakan proyek-proyek ICT, somehow saya merasa ada knowledge gap.  

Masa proses berpikir ini memberi ruang refleksi, struktur berpikir yang lebih dalam, dan tantangan akademik yang bisa memperkaya perspektif saya.  Secara profesional bisa jadi saya dianggap mampu, can manage project well. Tapi secara pribadi, saya merasa ilmu yang saya peroleh secara otodidak masih belum mumpuni.

Kembali ke kampus walau usia sudah paruh baya adalah ikhtiar saya mengisi “gelas kosong” itu.

Kenapa Saya Memilih Universitas Pradita?

Dari semua opsi, Universitas Pradita terasa paling relevan dengan kebutuhan dan visi karier saya sebagai praktisi ICT.

Selama proses engagement hingga pre on-boarding (pra masa perkuliahan), saya didampingi oleh seorang education counselor.  Conselor ini menghubungi saya setelah melayangkan email lewat website Pradita.

Sistem 1 pintu ini membuat komunikasi lebih lancar. Banyak pertanyaan dan proses administrasi dikawal oleh si agent. Saya bahkan sampai dijadwalkan untuk berdiskusi dengan Dekan Program Pascasarjana Informasi Teknologi Bapak Dr. Eng. Handri Santoso, mungkin karena saya terlalu banyak bertanya 😁

Mengapa banyak bertanya.  

Pertama, menerapkan prinsip teliti sebelum membeli. 

Kedua, I want to learn new thing which give me a highly impactful. Belajar kembali di usia matang, ternyata membuat saya memperhitungkan banyak hal, daftar checklist jadi banyak haha. 

But the most important thing adalah ilmu yang applicable, silabus berdasarkan industrial based.  Buat apa belajar tapi sulit diimplementasikan, right?  Surprisingly, syllabus Universitas Pradita Program dibangun berdasarkan industrial practise based.  Siswa pascasarjana otomatis akan belajar TOGAF, COBIT, ITIL.  Betapa Tuhan Maha Tahu.  Semuanya diberikan sekaligus!

perempuan Indonesia kuliah S2 usia 50 di Universitas Pradita
Ambil toga wisuda di kampus BSD

Jadi pilihan ini bukan tentang “mana yang lebih baik”, tapi mana yang lebih selaras dengan tujuan saya: tumbuh dari dalam ke luar.

So, after review the program and syllabus ditambah dengan diskusi dengan pak Dekan; memantapkan saya untuk kembali belajar di usia matang dengan menjadi siswa Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Informasi dengan peminatan Design Enterprise Architecture.

Tantangan dan Kebanggaan: Kembali ke Bangku Kuliah di Usia Matang

27 tahun jeda dari kampus pendidikan terakhir, wajar kiranya jika ada perasaan exciting campur was-was di awal masa perkuliahan.  Let’s admit that naturally kondisi biologis manusia termasuk performa otak pastinya tidak sama lagi.

Tantangan lainya yaitu menjaga mood dan tetap fokus menyimak perkuliahan selama via virtual applications.  Yep, kuliah diberikan dalam format hybrid.  Mahasiswa bebas memilih; apakah mau online atau hadir ke kampus.  Ini juga yang jadi salah satu check list dalam menjatuhkan pilihan kampus.  Thus, masa perkuliahan dimulai di akhir periode PPKM Covid-19 yang lalu.  So yes, saya menuliskan ini sekaligus sebagai flash back ☺️

Setiap mata kuliah berlangsung selama 2 jam.  During weekday, perkuliahan berlangsung malam hari biasanya dimulai sekitar pukul 19:30 WIB, untuk 1 mata kuliah saja.  Saat weekend yaitu Sabtu, perkuliahan dari pukul 8 pagi hingga menjelang sore untuk 3 mata kuliah.  Untungnya tidak ada kelas di hari Minggu.

Capek? Sudah pasti.

Bosan? Jelas.  Dibalik kemudahan bisa mengikuti pembelajaran secara online dari mana saja termasuk di rumah, kebosanan adalah tantangan yang jelas-jelas harus diatasi. Ngga ada teman bertanya atau diskusi (secara face-to-face).  Maka WAG (Whatsaap Group) pun jadi solusinya.  Ada sesekali ke kampus untuk offline, namun itupun jarang, bisa dihitung jari.

Bagaimana jika ada tugas kelompok?

Pastinya another zoom meeting 🫣

perempuan Indonesia kuliah S2 usia 50 di Universitas Pradita
 Teman-teman seperjuangan program Pascasarjana MTI Batch 7

Alhamdulillah tidak ada kendala yang berarti selama perkuliahan kemarin.  Setiap tugas yang saya selesaikan memberi rasa percaya diri baru, karena dapat ilmu baru. Setiap presentasi yang saya jalani memperkuat kemampuan komunikasi saya.

Dan yang paling berharga — saya menemukan komunitas belajar lintas usia yang suportif dan membuka jejaring saya lebih luas.  Lintas usia tidak hanya pada murid, namun juga para dosen.  Ada dosen  sesama Gen-X seperti saya, atau lebih senior.  Beberapa tenaga pengajar ada yang usianya lebih muda dari saya.  Komposisi yang sama untuk siswa program pasca.  Kami semua bersatu dalam tumpukan tugas dan tugas akhir yang bikin mumedt.  Kita jadi kompak walau hanya bertemu secara daring.  Seru!!

Pembelajaran lainnya?

Tidak hanya tentang disiplin, saya tambah belajar mendengar, dan yang paling penting: belajar bahwa kapasitas untuk berkembang tidak pernah hilang.  Belajar juga mengenyampingkan ego. Di luar kampus; saya seorang profesional, punya team. Tapi di kampus, saya seorang murid.  Selain itu metode berpikir analitik dan kritis pun makin terasah.  

Time management jadi crusial.  Harus pandai mengatur jadwal kuliah, kerja dan quality time dengan keluarga.  Walau ini sudah saya prakirakan jauh-jauh hari sebelumnya, namun pada pelaksanaannya ternyata challenging.  Mengorbankan banyak waktu week-end, skip acara-acara sosial baik dengan keluarga maupun teman terbayarkan saat lihat nilai IPK yang beyond my expectation; 3.9 out of 4!

Apa yang awalnya terasa menantang, perlahan berubah menjadi sumber kebanggaan. Ternyata saya BISA!

Saya tidak hanya lulus. Saya tumbuh.  Belajar di usia matang ternyata memberikan perspektif baru.

Dari Mahasiswa ke Mentor: Langkah Baru Saya sebagai Coach Project Manager

Seiring proses belajar saya berlangsung, saya menyadari satu hal penting:
Saya tidak ingin perjalanan ini berhenti di saya.

Selama bertahun-tahun bekerja di dunia proyek, saya bertemu banyak profesional muda yang punya potensi besar tapi kurang arahan. Mereka rajin, semangat, tapi sering bingung harus mulai dari mana. Dan saya tahu—saya bisa membantu mereka.

Di sinilah pendidikan pascasarjana menjadi lebih dari sekadar gelar.

Ia menjadi pondasi baru bagi misi saya berikutnya:
 "menjadi coach bagi para Project Manager pemula"

Apa yang saya pelajari bukan hanya teori, tapi juga cara menyusun strategi pembelajaran, cara menyampaikan insight dengan runtut, dan cara membangun kepercayaan diri melalui pemahaman yang utuh.

Saya ingin membantu generasi berikutnya tumbuh, tanpa harus menunggu separuh hidup seperti saya untuk merasa layak belajar kembali.

Dengan pengalaman dan pendidikan yang saya miliki sekarang, makin membulatkan keyakinan untuk menjadi project management coach.  

Kenapa?
Karena setiap awal butuh seseorang yang mau memandu.

perempuan Indonesia kuliah S2 usia 50 di Universitas Pradita
Foto bersama wisudawan pascasarjana dan para dosen

Untuk Anda yang Sedang Menimbang Langkah Baru di Usia Paruh Baya

Kalau Anda masih ragu untuk memulai ulang, semoga kisah saya ini jadi sinyal: belum terlambat untuk bertumbuh.

Apa pun yang pilihnya, pastikan itu selaras dengan kita sendiri, bukan sekadar tuntutan luar.

Tanyakan pada diri sendiri:

✅ Apakah saya ingin belajar lagi karena haus pengetahuan?

✅ Apakah saya ingin membuka peluang baru?

✅ Ataukah saya hanya butuh validasi bahwa saya masih bisa?

Apapun jawabannya, itu sah.

Yang penting: bergerak.

Saya bukan superwoman. Saya hanya seseorang yang akhirnya memutuskan untuk mengisi “gelas kosong” dalam dirinya. Dan langkah kecil itu mengubah segalanya.  

Penutup: Usia Bukan Batas, Tapi Titik Awal Baru

Waktu saya memutuskan kuliah lagi, banyak yang heran.
Tapi saya tahu — gelas saya belum penuh.

Masih ada ruang untuk bertumbuh, berbagi, dan belajar.  

Dan sekarang saya tahu:
Usia bukan batas.

Ia hanya angka.  It’s just a number.

Yang menentukan batas adalah kita sendiri.

Kalau Anda merasa sedang di titik “berhenti”, mungkin itu sebenarnya panggilan untuk “mulai ulang.”

💬 Sudahkah Anda memberi diri Anda izin untuk bertumbuh kembali?  listen to your inner voice

Punya rencana untuk perubahan juga? Let’s share.
Siapa tahu, langkah Anda hari ini bisa menginspirasi langkah orang lain besok.

Share
Tweet
Pin
Share
10 comments
Cara Mudah Kelola Proyek dengan Tomps, Aplikasi Manajemen Proyek


Assalamu alaikum semua!
Apa kabarnya?  Semoga sehat senantiasa.  Walaupun PPKM Jawa-Bali baru usai, tetap patuhi prokes demi kemaslahatan bersama ya.

Di postingan kali ini, saya mau bahas topik yang jarang banget disinggung; yaitu pekerjaan.   Setelah sering kali nulis tentang hobi motret dan hobi lainnya, kali ini boleh ya ngomongin kerjaan 😉

Dimulai dengan pertanyaan, apa yang terbersit dalam benak jika mendengar kata "proyek"?   Duluuuu banget, yang terbayang dalam kepala saya adalah truk-truk besar, mesin escavator, kendaraan berat seperti buldozer beserta kawan-kawannya, helm lapangan beserta atributnya.  Tak ketinggalan debu beterbangan di tengah panas terik.

Setelah sekain lama menggeluti bidang project management, akhirnya pemikiran tentang proyek tadi pun terkoreksi.

Walau tidak sepenuhnya salah, sih.  Yang perlu "diluruskan" adalah paradigma tentang proyek.  Ternyata tidak semua proyek adalah proyek infrastruktur yang melibatkan alat-alat berat pembangunan.  Dan ngerjain proyek pun nggak mesti di lapangan penuh debu.  

Jadi, apa proyek itu?

Definisi Proyek

Untuk jelasnya, kita mulai dari definisinya dulu yuk.  Dalam bisnis dan ilmu pengetahuan, proyek diterjemahkan sebagai usaha temporer yang kerjakan secara kolaboratif yang tak jarang melibatkan penelitian atau desain untuk mencapai tujuan tertentu (atau unik, khas).

Gampangnya nih, proyek adalah usaha temporer atau sementara waktu untuk mencapai tujuan tertentu.  Sesuai kata-kata yang dihighlight kuning, tak lain keyword atau kata kunci dari definisi proyek.

Diperjelas lagi secara teorinya -merujuk PMBOK (Project Management Body Of Knowledget) milik Project Management Institute (PMI)® - secara definisi proyek adalah aktivitas yang mempunyai gabungan unsur waktu, ruang lingkup (scope) dan biaya.  So anything contains those three elements is eligible to be categorised as project.  

Project Management Institute adalah organisasi Project Management profesional terkemuka beranggotakan praktisi project management dari seluruh dunia.

Berdasarkan definisi tersebut, jangankan bangun rumah, punya rencana memperbaiki teras rumah saja sudah bisa disebut sebagai proyek.


Pict from Pexels


Project Components

Ada juga kemudian yang menambahkan mutu sebagai komponen proyek.  Dalam membuat atau membangun sesuatu, pastinya ingin output dengan kualitas yang baik 'kan?  Untuk mendapatkan kualitas produk yang bagus itu juga adalah suatu proses, yang bisa jadi sama panjangnya dengan periode proyek itu sendiri.  Memakai ilustrasi proyek renovasi rumah, kualitas bangunan teras seperti apa yang diinginkan?  

Dari jabaran di atas, maka proyek adalah gabungan dari waktu (Time) + ruang lingkup (Project Scope) + biaya (Cost) + kualitas (Quality).

Project Manager

Lalu siapa yang mengelola keempat komponen tersebut?  Tak bukan adalah Manager Proyek atau Project Manager.  

Siapa saja yang bisa jadi project manager?  Pada dasarnya semua orang bisa jadi Project Manager atau lazim disingkat PM.  Tentunya dengan syarat dan ketentuan berlaku.  Pria maupun wanita bisa jadi PM, tidak ada batasan gender.  Seperti saya contohnya hehehe.

Kenapa saya katakan demikian?  Karena mulanya pun saya tidak punya latar belakang proyek, apalagi project management.  Semuanya dipelajari sejalannya proyek alias learning by doing.  Sebagai suatu profesi yang diakui, project management itu ada ilmunya, lho.  Nah, ilmunya ini yang harus dipahami dan diterapkan dalam keseharian pelaksanaan proyek.  

Mengapa?  Karena mengelola sumber daya proyek dengan ruang lingkup yang dibatasi oleh waktu serta anggaran ternyata tidak mudah dan banyak tantangannya.  Keterbatasan ini juga yang membedakan antara “project management” dengan “management” yang lebih merupakan proses berkelanjutan.

Dengan belajar manajemen proyek yang mumpuni, seorang PM punya bekal untuk mengelola keterbatasan tersebut.  Menurut PMBOK [lagi] milik PMI ®, seorang project manager yang baik strongly recommended menguasai tiga hal yaitu Technical Project Management, Leadership serta Strategic and Business Management. 

Paham ‘kan mengapa “ilustrasi” proyek penuh debu itu kemudian berubah?  Karena sebagian besar alokasi waktu seorang PM justru dilakukan untuk menganalisa dan mengkoordinasikan proyek.  Sesekali saja ke lapangan jika diperlukan, misalnya untuk mengetahui situasi terakhir di lapangan.  Inipun sesekali saya lakukan.  Selain validasi apakah laporan yang diterima sesuai dengan lapangan, juga berinteraksi dengan team yang jarang mostly on site.  

Ingat kan, proyek adalah aktivitas kolaboratif.  Pastinya melibatkan banyak orang.  Koordinasi sekian banyak manusia dengan karakter yang berbeda, selain menarik juga jadi tantangan tersendiri.

Lha, memangnya koordinasi team masuk dalam job descriptionnya project manager?  Memangnya apa saja yang dilakukan seorang PM?

Jawabannya: banyak pake banget!  Meminjam istilah anak milenial.

Pekerjaan Project Manager bahkan dimulai jauh sebelum proyek itu dilaksanakan.  Idealnya PM terlibat dalam perencanaan (Planning Phase), selain bertujuan untuk kemudahan pelaksanaan [executing] dan pemantaun atau monitoring.  

Project Manager yang terlibat dalam perencanaan akan lebih memahami “tujuan” proyek.  Menyambung analogi “Proyek Renovasi Teras”, setelah mengetahui bahwa yang akan direnovasi adalah teras rumah, maka project manager tidak akan membicarakan area lain selain teras.   Fokus pada teras dan lahan sekitar yang berada di dekatnya.  Project Manager yang berpengalaman bahkan akan bertanya, teras depan atau teras belakang?  

Makin spesifik, ya?  Lebih lanjut lagi, bagian apa yang mau direnovasi; apakah bosan dengan motif ubin yang sekarang atau malah akan merubah luas teras?  Makin detil informasi yang diberikan, makin memudahkan manager proyek menuangkan perencaan proyek termasuk desain proyek.  

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan tersebut, project manager dibantu timnya akan menyusun membuat rincian proyek yang terdiri dari rencana kerja termasuk jadwal proyek, pembagian tugas, menghitung biaya yang diperlakukan termasuk identifikasi resiko.  

Biaya proyek dihitung berdasarkan sumber daya proyek yang meliputi jumlah orang yang terlibat dalam proyek, makin banyak dan makin lama periode proyek, biasanya ongkosnya juga besar.  Jenis beserta jumlah bahan baku; makin premium bahan yang akan dipakai juga akan meningkatkan biaya proyek, plus biaya peralatan yang diperlukan untuk menunjang jalannya proyek.

Pict from Pexels


Tadi sedikit disinggung resiko.  Masih memakai proyek renovasi teras, apakah jadwal renovasi teras dilakukan di musim penghujan atau tidak.  Tentunya resiko keterlambatan akan lebih besar jika proyek dilakukan selama musim hujan, bukan?  Namun bagaimana jika renovasi harus tetap dijalankan?   Segala sesuatu yang dibutuhkan untuk memitigasi resiko biasanya memerlukan biaya.  Mitigasi di sini adalan tindakan antisipatif bertujuan meminimalisir dampak resiko, lebih bagus lagi jika dapat menghilangkan resiko.  Otomatis hal ini akan menambah komponen biaya.

Inilah yang dimaksud dengan pengelolaan keterbatasan –termasuk risk management- oleh seorang project manager.

Dalam pengelolaan tersebut, banyak melibatkan banyak dokumen dan beragam tabel dengan bantuan aplikasi perkantoran.  Khusus untuk tabel, yang biasa digunakan adalah excel sheet  besutan Mirosoft.  Jika proyeknya sederhana dengan lokasi tunggal, mungkin aplikasi tersebut masih dapat mengakomodir kebutuhan proyek.  

Saya sendiri merasakan MS Excel ini lumayan mumpuni.  Selain bisa untuk teks semacam word, buat grafik, pivot sampai formula dengan program tertentu bisa diakomodir oleh aplikasi ini.  Dan ini rupanya praktek umum.  Banyak perusahaan yang menggunakan spreadsheet excel ini dalam mengelola manajemen proyeknya. 

Padahal pakai excel pun bukan berarti zonder masalah.  Rasa frustasi pakai Excel baru muncul saat melibatkan banyak data dengan multiple formula.  

Bayangkan jika mengelola complex projects atau mengelola proyek di banyak site, di mana nota bene melibatkan banyak data.  Kemungkinannya antara excel akan hang or even crashed! 

Artinya spreadsheet bukan perangkat yang efektif untuk mengelola proyek, terutama proyek yang kompleks dan besar.  Jika masih menggunakan aplikasi excel, bisa dipastikan akan konsumsi waktu yang tidak sedikit dan mengurangi efektivitas.  

Di situasi yang seperti itu diperlukan suatu aplikasi yang dapat menunjang efektivitas pengelolaan manajemen proyek.   Ada banyak project management application di pasaran, umumnya dibuat oleh provider asing.  Modelnya pun macam-macam, namun punya konsep yang sama yaitu menjadi all-in-1 tool applications for managing project to achieve efficiency.

                                     
Pict from Pexels


Namun jika dikaitkan dengan Project Cost, sudah bisa dibayangkan harga jual yang tidak murah.  Belum apa-apa, proyek sudah perlu investasi tinggi untuk alokasi alat kerja.  

Bicara efisiensi, proyek itu maunya untung.  Mirip dengan orang jualan, ada spare margin yang umumnya jadi KPI project juga.  Masih ingat korelasi biaya terhadap waktu seperti yang dijelaskan di atas?

Maka dari itu jika ada opsi untuk menekan biaya, para pemangku kepentingan dalam hal ini project steering committee akan dengan senang hati membuat keputusan tersebut.  Oiya, dalam mekanisme kerjanya, project manager mempertanggung-jawabakan pekerjaannya pada komite yang disebut project steering committee. Komite ini bertindak selaku badan pengawas dan pembuat keputusan strategis yang berhubungan dengan proyek.  Dalam hal ini, project manager “hanya” bertindak selaku eksekutor proyek dan membuat keputusan-keputusan yang sifatnya teknis operasional proyek saja.
 

TOMPS

Kembali ke laptop, eh aplikasi manajemen proyek, untungnya sekarang sudah tersedia pilihan aplikasi manajemen proyek buatan anak negeri yaitu Tomps, hasil inkubasi digital PT. Telekomunikasi Indonesia.  Walau baru 4 tahun, Tomps sudah dipakai oleh berbagai pengembang dalam negeri untuk mengelola proyek-proyek mereka.  Hal tersebut makin membuat Tomps makin yakin untuk menjadi impactful project management ecosystem di Indonesia dengan memaksimalkan potensi sumber daya anak negeri.

Memangnya se-powerfull apa sih aplikasi manajemen proyek Tomps ini?

Yuk kita bedah mulai dari fitur-fiturnya dulu.

Fasilitas Fitur yang tersedia di Tomps

Baik mengelola peoyek skala kecil, menengah maupun besar; aplikasi ini menyediakan smart project management feature yang siap mengelola proyek secara end-to-end.  Mulai dari tahap inisiasi hingga project closing yang mencakup diantaranya:

  • Project Scheduling, Planner & Completion

Penjadwalan dari mulai proyek Start hingga Closing berikut alur aktivitas pekerjaan proyek dituangkan dalam fitur ini.  
              

  • Project Tracking

Memantau apakah proyek berjalan sesuai waktu yang sudah ditetapkan.  Ini menjadi salah satu fitur penting dalam setiap aplikasi manajemen proyek termasuk Tomps, tentunya.

  • Project Cost

Fitur untuk memonitor pengeluaran proyek.  Menjaga agar pengeluaran jangan sampai over budget. 


  • Gantt Chart & S-Curve

Ini adalah visualisasi dari upaya yang telah dilakukan dan biaya yang sudah dikeluarkan terhadap periode proyek yang berjalan.  Biasanya dalam bentuk grafik, dapat berupa grafik batang (Gantt Chart) atau Kurva S yang lazim disebut S-Curve.  Karena bentuknya memang menyerupai huruf S.  Grafik-grafik tersebut sangat membantu menganalisa performansi proyek karena membantu grafik tersebut membandingkan antara Plan vs Actual.  

Selisih atau perbedaan antara Plan vs Actual itulah yang akan dianalisa akar permasalahannya (Gap Analysis).  Sudah menjadi tugas project manager adalah membuat kondisi "aktual" sesuai dengan "target" yang ditetapkan di awal.



  • Document & evidence repository
Sebagaimana diutarakan sebelumnya bahwa manajemen proyek melibatkan banyak paperwork.  Mulai dari dokumen desain, laporan maupun dokumen korespondensi yang tak jarang isinya konfidensial.  Sifat proyek yang dinamis berkakibat pada jumlah dokumen yang menumpuk untuk dikelola dengan baik.  Selain membutuhkan tempat yang tidak kecil, isinya yang konfidensial membuat dokumen proyek memerlukan perlakuan khusus.  Ada dokumen yang boleh diakses oleh semua project member, namun ada yang hanya untuk kalangan terbatas, misalnya dokumen kontrak proyek.

Artinya diperlukan mekanisme yang tidak sembarang untuk mengatur dokumentasi. 

Keuntungan dari digitalisasi adalah bentuk dokumen yang tidak lagi mesti berbentuk kertas cetak konvensional.  Berkat kemajuan teknologi, dokumen fisik kini dapat diubah menjadi digital printing.  Dari perspektif ruang, kebutuhan akan tempat untuk menyimpan dokumen menjadi lebih efisien.

  • Unlimited cloud
Masih terkait dokumen.  Walaupun sudah berbentuk dokumen digital,  kebutuhan storage room masih diperlukan.  Hanya saja dalam bentuk yang berbeda.  Dengan bentuknya yang sekarang, diperlukan bukan lagi ruangan arsip melainkan storage capacity yang dapat menampung seluruh dokumen proyek beserta database proyek.

Tomps dalam hal ini menyediakan kapasitas server yang dapat disesuaikan dengan project size yang kita kelola.

  • Geo-map tagging & visualisation


Jika proyek yang dikelola tidak terpusat di satu titik, melainkan tersebar di banyak lokasi, fitur ini sangat bermanfaat dalam memberikan informasi alamat yang tepat dengan mengoptimalkan Google map tagging.  Berkat fitur ini pula kita dapat melihat peta sebaran proyek.

Ada proyek-proyek yang memang membutuhkan informasi lokasi yang presisi sedemikian rupa, misalnya proyek telekomunikasi; bidang industri yang saya geluti selama ini 😉

Sedangkan fitur visualisasi biasanya dibutuhkan sebagai bukit dukung atau evidence.  Sebagai validasi bahwa suatu aktivitas sudah dilakukan.  Ambil contoh lagi untuk proyek telekomunikasi; pembuktian bahwa instalasi perangkat sudah dipasang lengkap akan dilaporkan sebagai finished installation.  Sebagai buktinya, diperkuat dengan potret hasil instalasi yang diuggah dalam sistem.



  • API Integration
Fitur inilah yang menjadikan Tomps sebagai aplikasi manajemen proyek berbasis website yang dapat juga diakses via gawai dan mobile.   API memungkinkan interaksi antara data, aplikasi, dan perangkat.   Selain mengirimkan data, API juga memfasilitasi konektivitas antara perangkat dan program.

  • Reporting
Pada saat eksekusi, main job manager proyek adalah memantau perkembangan proyek.  Kegiatan melacak data tersebut dapat diperoleh melalui laporan.  Ada banyak jenis laporan yang terlibat; laporan kemajuan proyek harian, mingguan hingga bulanan.  Bahkan keuangan proyek.  

Selain dibutuhkan kualitas laporan yang akurat dan detil, laporan juga harus real-time.  Pada prakteknya, tidak mudah mengumpulkan banyak informasi terlebih jika lokasi proyek tersebar di banyak daerah.  Setelah data terkumpul, masih dibutuhkan waktu untuk mengolahnya menjadi laporan.  Dan ini dilakukan tidak hanya sekali atau dua kali saja.  Project Reporting adalah makanan sehari-hari, bayangkan keseluruhan waktu yang dikonsumsi "hanya" untuk reporting. Belum lagi faktor error rate karena dikerjakan manual.

Kajian berdasarkan User Experience Tomps mencatat terjadi efisiensi sampai dengan 75% dalam hal pengumpulan data proyek.  Seandainya secara konvensional perlu waktu 8 jam untuk collect information, maka dengan menggunakan aplikasi manajemen proyek durasinya bisa dipangkas jadi 2 jam saja.  Wow!

Sisa waktu 6 jam dapat dioptimalkan untuk aktivitas project improvement lainnya.

  • Dashboard

Tomps sebagai aplikasi manajemen proyek dapat menyajikan laporan dari hulu ke hilir dalam satu tampilan atau integrated reporting yang memudahkan project controlling.  Benefit lainnya, project dashboard  dapat diakses kapan saja.

Dashboard End-2-end semacam ini sangat berguna dalam membangun project chopper view sebagai dasar bagi keputusan yang sifatnya strategis.

Say "sayonara" to spreadsheet 😉


Memahami kondisi pasar dimana proyek terdiri dari proyek skala kecil hingga komplek, pihak Tomps menyediakan beragam paket, mulai dari Basic Package  hingga kelas premium.  Pihak User tinggal  memilihnya sesuai dengan kebutuhan proyek dan ketersediaan budget.




So, jika Anda berkecimpung di dunia manajemen proyek dan merasa membutuhkan end-to-end information yang real time dengan sistem yang fleksibel serta transparan.  Bisa jadi itu indikasi bahwa cara konvensional yang dilakukan sudah tidak efektif lagi.  Jadikan hal tersebut sebagai momentum untuk beralih menggunakan aplikasi manajemen proyek Tomps dan rasakan manfaatnya.

Infografis Tomps, aplikasi manajemen proyek

*Tulisan ini diikutsertakan dalam TOMPS Blog Competition*



Sumber referensi:
- Wikipedia
- PMI.org
- Tomps.id
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

Follow Me

Email Facebook LinkedIn Pinterest

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  October 2025 (1)
      • Personal Branding Konsultan Project Management: 3 ...
    • ►  August 2025 (1)
    • ►  July 2025 (1)
    • ►  June 2025 (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  June 2022 (2)
  • ►  2021 (12)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (2)
    • ►  May 2021 (1)
    • ►  February 2021 (1)
    • ►  January 2021 (4)
  • ►  2020 (7)
    • ►  December 2020 (2)
    • ►  October 2020 (1)
    • ►  April 2020 (2)
    • ►  March 2020 (1)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (17)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  October 2019 (2)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  May 2019 (2)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (4)
  • ►  2018 (25)
    • ►  December 2018 (4)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  October 2018 (3)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (5)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (1)
    • ►  February 2018 (2)
    • ►  January 2018 (3)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December 2017 (5)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  October 2017 (1)
    • ►  September 2017 (2)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  June 2017 (1)
    • ►  April 2017 (1)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (1)
  • ►  2016 (37)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  July 2016 (3)
    • ►  June 2016 (4)
    • ►  May 2016 (2)
    • ►  April 2016 (9)
    • ►  March 2016 (8)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (6)
  • ►  2015 (75)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  September 2015 (6)
    • ►  August 2015 (5)
    • ►  July 2015 (19)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  April 2015 (7)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (9)
    • ►  January 2015 (5)
  • ►  2014 (39)
    • ►  December 2014 (2)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  October 2014 (2)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  August 2014 (5)
    • ►  July 2014 (2)
    • ►  June 2014 (3)
    • ►  May 2014 (4)
    • ►  April 2014 (2)
    • ►  March 2014 (2)
    • ►  February 2014 (5)
    • ►  January 2014 (7)
  • ►  2013 (36)
    • ►  December 2013 (5)
    • ►  November 2013 (5)
    • ►  October 2013 (2)
    • ►  September 2013 (5)
    • ►  August 2013 (1)
    • ►  June 2013 (1)
    • ►  May 2013 (4)
    • ►  April 2013 (6)
    • ►  March 2013 (3)
    • ►  February 2013 (2)
    • ►  January 2013 (2)
  • ►  2012 (28)
    • ►  December 2012 (2)
    • ►  November 2012 (3)
    • ►  October 2012 (3)
    • ►  September 2012 (4)
    • ►  August 2012 (4)
    • ►  July 2012 (5)
    • ►  May 2012 (1)
    • ►  April 2012 (1)
    • ►  March 2012 (1)
    • ►  February 2012 (1)
    • ►  January 2012 (3)
  • ►  2011 (28)
    • ►  December 2011 (2)
    • ►  November 2011 (3)
    • ►  October 2011 (1)
    • ►  September 2011 (1)
    • ►  August 2011 (4)
    • ►  July 2011 (2)
    • ►  June 2011 (4)
    • ►  May 2011 (1)
    • ►  April 2011 (4)
    • ►  March 2011 (3)
    • ►  January 2011 (3)
  • ►  2010 (2)
    • ►  December 2010 (1)
    • ►  June 2010 (1)

Created with by BeautyTemplates