My Dairy Note's

Life Style & Family Blog Indonesia

    • Home
    • About
    • Disclosure
    • Lifestyle
      • Books & Movie
      • Travel
      • Culinary
      • Fotografi
    • Midlife Series
      • Family
      • Wellness
      • Blogging
      • Techno
    • Career & Project Management
      • Project Management
makanan populer khas jogja


Horeee, Jogjaaa!!  Bisa icip-icip kuliner khas Jogja lagi nih, demikian batin saya saat diberitahu ada tugas yang mesti dihadiri secara offline di sana.

Antara senang dan khawatir saat akhir tahun lalu diinformasikan harus tugas ke Jogja.  Senang karena akhirnya bisa jalan-jalan lagi setelah "dikurung" Covid-19.  Di sisi lain khawatir, mengingat pandemi belum berakhir walau menurut pantauan, kondisinya tidak separah sebelumnya.  

Mengingat tugas merupakan kewajiban artinya the show must go on. Dengan beragam pertimbangan maka saya memilih moda transportasi pribadi dianding transportasi umum. Alhamdulillah Paksu juga available, so Jogja, here we come!


Peta Kuliner Jogja a'la Saya

Rest Area Ungaran 492

Bisa dibilang perjalanan kuliner kami dimulai dari sini. Konon ini rest area dengan pemandangan terbaik di Tol Trans Jawa.  Rest Area KM 429 yang berada di perbukitan Semarang dengan fasilitas lengkap ini didapuk memiliki view sunset yang keren manakala matahari perlahan bersembunyi di balik Gunung Ungaran.

Sayangnya kami tiba ditempat yang berada di dataran tinggi Kabupaten Semarang, Rest Area Kilometer 429 Tol Trans Jawa Ruas Semarang-Salatiga menjelang waktu subuh, setelah berkendara sekitar 6 jam dari Bogor.  Alih-alih sunset, kami disuguhi sunrise yang cerah.  

Mengingat ini kali kedua mampir di sini, maka ini kali kedua kami menunaikan ibadah subuh di mesjid yang terbilang besar dengan tempat wudhu yang bersih.  Kondisi dalam ingatan ternyata masih sama.  Air wudhu yang mengenai tubuh pun masih dingin segar, meluruhkan rasa penat setelah berkendara sekian jam.

Starbuck di Rest Area KM 429 Tol Trans Jawa.Starbucks di rest area km 429 Tol Trans Jawa

Perbedaannya, sekarang Rest Area KM 429 memiliki lebih banyak food stall dan tempat makanan.  Dari yang paling sederhana hingga Starbuck pun ada!  

Untuk sarapan pagi itu, saya memilih penganan roti dan secangkir kopi hangat Starbuck.  Menyesapnya sambil menikmati pemandangan Gunung Ungaran, dilimpahi angin dingin dalam keadaan belum mandi itu ternyata sesuatu sekali 😊

Angkringan Malioboro

Untuk makan malam di hari pertama kami putuskan untuk menikmati angkringan saja.  Kuliner malam khas Jogja yang masih bertahan kepopulerannya hingga ini.  Makanan yang merakyat ini banyak dijumpai di hampir seantero Jogja.  Beruntung tempat penginapan kami hanya selemparan batu dari pusat kota Jogja, Malioboro.  Begitu keluar dari hotel, sudah banyak terlihat jejeran tenda angkringan yang hanya terlihat dari semenjak senja hingga tengah malam atau dini hari.




angkringan makanan populer khas Jogja
kopi areng kuliner khas angkringan joga


Makanan angkringan sebenarnya adalah nasi bungkus berikut lauk-pauknya khas Jogja; ada tempe mendoan; aneka sate, mulai dari sate telur puyuh, sate jamur, sate kerang hingga sate sosis.  Ciri khas nasi angkringan yaitu porsinya yang kecil dan dibungkus oleh daun pisang atau kertas minyak.

Nasi bungkusnya pun beragam; biasanya berupa ramesan cumi oseng pedang, nasi langgi hingga tuna pun ada.

Ciri khas lain kuliner angkringan Jogja adalah kopi areng (arang), berupa kopi tubruk hitam yang diberi arang panas sebagai upaya si kopi tetap terjaga panasnya.  Unik, ya?


Bakmi Jawa Mbah Gito

Makan malam hari kedua, kami sengaja ke tempat yang lebih jauh dari Malioboro.  Yaitu Bakmi Jawa Mbah Gito.  Bakmi Jawa atau bakmi godog khas kuliner Jogyakarta ini memang terbilang beda karena cara masaknya dengan arang di atas anglo, sehingga disiapkan satu kali masak untuk setiap porsi.  Bisa dipahami mengapa kita mesti sabar menanti untuk dapat menikmatinya.

Ciri khas lain Bakmi Jawa kuliner Jogja ini adalah menggunakan telur bebek.  Tak heran, aromanya yang kuat bisa kita hirup pada saat dihidangkan di atas meja.  Siapkan irisan lombok (cabe) hijau berikut acar ketimun.  Maknyuuuuss!

bakmi jawa mbah gito kuliner khas jogja


Sate Klatak Pak Pong

sate klatak pak pong kuliner khas jogja


Dalam rangka berburu kuliner khas Jogja, di malam terakhir, kami arahkan si roda empat ke arah Bantul.  Tepatnya Jl. Sultan Agung No.18, Jejeran II, Wonokromo, Kec. Pleret, Bantul.

Kuliner malam khas Jogja yang disantroni adalam Sate Klathaknya Pak Pong.

Sama halnya dengan sate lain, daging yang digunakan adalah daging kambing muda.  Yang membuatnya diburu wisatawan adalah cara penyajiannya yang menggunakan jeruji sepeda alih-alih tusuk sate bambu pada umumnya.  

Penggunaan jeruji sepeda membuat panas menyebar merata sehingga daging menjadi lebih empuk sempurna.  

Selain pemakaian jeruji sepeda, cita rasa unik dari sate ini adalah disajikan dengan kuah gulai. Tidak seperti sate lainnya yang umumnya dibakar dengan baluran bumbu kecap dan beberapa rempah-rempah.


Gudeg Mbah Lindu

Jogja tanpa gudeg ibarat air laut tanpa garam.  So, it's a must untuk mencicipi sayur kuliner khas Jogja yang terbuat dari nangka muda ini.  

Umumnya gudeg terbuat dari gori atau nangka muda yang dimasak bersama santan, gula aren, dan bumbu-bumbu hingga benar-benar empuk. Kemudian disajikan bersama nasi putih dan aneka lauk pelengkap seperti sambal krecek, opor ayam, telur pindah, dan siraman areh bertekstur kental.

Walaupun disediakan menu gudeg di hotel tapi rasanya tidak afdol jika tidak mencicipi gudeg di tempat yang lebih orisinil.  

Setelah berkonsultasi dengan Google Maps, ternyata lokasi yang dituju tidak jauh dari tempat kami menginap, yaitu di area Malioboro dan berjarak  sekitar 1 Km.  Kami putuskan untuk berjalan kaki saja, itung-itung olah raga pagi.

Jalan kaki pagi hari sambil mencari sarapan adalah kegiatan yang menyenangkan, bukan?


gudeg kuliner khas jogja


Ternyata, mbak Google Maps memberikan rute yang berkelok.  Melewati gang-gang kecil bak labirin yang posisinya di belakang Malioboro.  Walaupun gang kecil berukuran hanya cukup untuk 1sepeda motor, namun bersih.  Dan banyak kami lihat banyak hostel kelas backpacker.  

Jikalau bukan pandemi, pasti hostel-hostel ini diramaikan oleh backpacker asal wisman.  Mengingat itu, hati saya mencelos.  Semoga pandemi segera berlalu dan kota yang menyenangkan ini menjadi ramai seperti sedia kala.  Walaupun saat kunjungan kami kemarin, Jogja sudah mulai membuka diri dengan kondisi yang tetap waspada, jaga protokol kesehatan.

Akhirnya sampai di tempat tujuan.  Dari jauh sudah terlihat antrian walaupun jam belum lagi menunjukkan pukul 7.

Rupanya bukan hanya kami saja yang ingin mencicipi gudeg legendaris Mbah Lindu yang berpulang tahun 2020 lalu.  Saking istimewanya beliau pernah diangkat dalam saluran menonton berbayar Netflix.  Dokumentasi perjalanannya sekian lama sebagai bakul gudeg -sampai-sampai almarhumah sendiri tak ingat persisnya- dapat kita saksikan dalam Original Series Netflix yaitu Street Food: Asia. 

gudeg mbah lindu kuliner khas jogja


Saat ini Mbah Lindu sudah tiada, tetapi cara memasak dan racikannya dilanjutkan oleh generasi kedua tetap sebagaimana dilakukan Simbah dahulu.  Gudeg di atas tungku terbuat dari tanah liat yang memanjang. Dalam satu tungku terdapat dua lubang yang berfungsi untuk memasak.

Termasuk tetap setia menggunakan tungku kayu bakar karena tingkat kepanasan yang dihasilkan oleh kayu bakar berbeda dengan kompor gas. Kayu bakar membuat masakan gudeg menjadi terasa istimewa.

Dari warung kuliner Jogja Gudeg Mbah Lindu, saya baru tahu jika gudeg pun bisa disantap bersama bubur.  Tidak hanya dengan nasi seperti yang selama ini saya ketahui.


Lupis Ketan Mbah Satinem

Selain Gudeg Mbah Lindu, Netflix pun featuring Mbah Satinem, sang legenda lupis ketan yang biasa menggelar kulakannya di selasaran Optik Yogya, tak jauh dari Tugu Selamat Datang. 

Mirip dengan Gudeg Mbah Lindu, di sini pin kita harus mengantri.  Antriannya bahkan lebih panjang.  Agar calon pembeli tertib kita harus mengambil nomor dan akan dilayani sesuai nomor antrian.  Yang membuat suasana lebih kompetitif adalah kita harus sabar diladeni oleh Mbah Satinem yang memotong satu demi satu lupis ketannya menggunakan benang.  Padahal si Mbah harus bebenah sebelum toko optik beroperasi sekitar pukul 9 pagi.

Tak heran jika penikmat lupis ketan Mbah Satinem sudah mulai antri dari jam 5 pagi, selepas subuh!


lupis ketan mbah satinem kuliner khas jogja


Mangut Lele Mbah Marto

Dari semua kuliner khas Jogja yang saya uraikan, this is my favorit!

Kereceknya yang pedasnya top, disandingkan dengan sayur gudeg campur daun singkong plus tahu dan telur areh ditambah mangut lele.  Jangan lupa kerupuk.  Duuh, lidah ini berasa terperangkap dalam kenikmatan rasa yang belum bisa saya temukan di tempat lain!  bombastis, ya? 😄

mangut lele mbah marto kuliner khas jogja

mangut lele mbah marto kuliner khas jogja
Berfoto bersama Mbah Marto
Ada banyak hal yang tidak umum saat makan di warung Mbah Marto.  Dimulai dari perjuangan untuk menemukan kediaman Mbah Marto yang terletak di tengah desa dan cukup sulit lokasi.  Saking berlokasi di tengah desa, penikmat Mangut Lele Mbah Marto mesti berjalan kaki sekitar 10 menit dari tempat mobil diparkir yang di parkirnya pun di sisi sawah! 

Hal tidak umum lainnya, pengunjung dipersilahkan mengambil sendiri masakan dari dapurnya langsung.  Terserah mau mengambil lauk atau sayur yang mana.  Makan di warung makan Mangut Lele Mbah Marto ini seperti makan di kantin kejujuran, sebutkan apa saja yang disantap pada saat pembayaran nanti.  Hal yang tidak umum lainnya, pembeli harus "rela" duduk di dapur jika kursi di meja makan sudah penuh karena memang warung makan Mangut Lele Mbah Marto ini tak sepi pengunjung.  Sangat disarankan untuk tidak ke sini pada jam makan siang!

Bisa jadi itu karena kuah mangut lele yang berwarna keoranyean membuat lidah kesetrum dengan rasa yang gurih pedas dengan adanya potongan cabai rawit yang besar-besar. Sensasi pedas ini semakin menambah nikmat. Bagi yang tak suka pedas, bisa tetap mengambil lauk mangut lele tanpa kuahnya ya.  Sayang donk, sudah jauh-jauh ke warung ini namun tidak menikmati si mangut andalan Mbah Marto.  




Itu tadi peta kuliner khas JOgja a'la saya.  Dari kuliner khas Jogja di atas, mana yang juga jadi favorit Anda?

Share
Tweet
Pin
Share
7 comments


#dirumahaja karena Covid-19 memang membosankan, ya?

Jika tak pandai mengelola stress management, akibatnya malah tidak baik untuk kesehatan diri sendiri bahkan ke orang-orang di sekitar kita.  Padahal di tengah situasi pandemic ini, imunitas tubuh jadi faktor krusial.

Akhirnya setelah selesai dengan pekerjaan, di suatu sore saya dan Paksu memutuskan menghirup udara segar sejenak.  Tentunya dengan menerapkan prokes donk.

Tapi bingung juga, mau kemana?  Lalu terlintas Taman Budaya Sentul.  

Mengapa memtuskan ke sana?

Selain tidak jauh dari Bogor, di tempat banyak dijumpai kafe resto bernuansa alam yang sejuk.  Asyik untuk ngopi sore sambil santai.  Selain menjanjikan ambience yang berbeda dengan kafe resto di perkotaan, kafe resto di sana banyak yang mengusung konsep open air di alam terbuka.  Suatu hal yang menjadi pertimbangan dan banyak dicari oleh pengunjung kafe.  Tak heran jika Sentul belakangan jadi sasaran kunjung para pemburu kafe.  

Dari hasil rekam lensa kamera, Taman Budaya Sentul menurut saya ibarat hidden gems Bogor.  Banyak opsi kafe resto yang bisa dipilih pengunjung.  Niat sekedar ngopi-ngopi cantik; ada Kulo, Kopi Oey, Popolo dan baru-baru ini hadir pula Kopi Nako di sana.

Perlu tempat yang menyajikan menu berat bisa langkahkan kaki ke Finch atau Wigeon.  Ingin burger?  Bisa cobain Art Burger.  Bahkan Kedai Kita Bogor pun buka outlet di sana.  Lengkap banget pilihannya.

Atau hanya ingin sekedar sight seeing sambil hunting motret dalam kota seperti yang saya lakukan, juga bisa.  Ada untungnya juga ke sini saat pandemi, nggak banyak orang.  Hasil fotonya jadi 'bersih' orang hehehe. Walau di beberapa tempat masih terlihat orang-orang yang serius di depan laptop, bahkan dari curi dengar sedang meeting.  Tetap dengan prokes ya, duduk berjarak dan masker 'on' di wajah.  Mungkin mereka merasa bosan seperti saya.  

Demikian selayang pandang ke Taman Budaya Sentul sore itu.  Lumayan sebagai pengobat jenuh dan jadi bahan postingan retjeh macam ini 😁


















Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Bluder Gulung Keju

Menyenangkan rasanya week end kemarin bisa foto-foto lagi setelah sekian lama kamera nganggur; kombinasi rasa malas dan gak ada ide motret.  Memanjakan rasa malas memang tidak baik.  

Kembali ke topik awal, bintang utama motret week end (lucuk juga jadi hashtag, ya?) kali ini adalah Bluder Gulung Tallubi.  Udah pada tahu Tallubi?  Ye betul; tepatnya adalah Bika Bogor Tallubi, toko oleh-oleh khas Bogor yang menawarkan beragam varian kue yang unik dan cocok dijadikan buah tangan khas Bogor.  

Tallubi ini memang dikenal inovatif dalam mengolah hasil bumi Bogor yang terkenal akan talas Bogor dan pisang.  Sebut saja kue bika berbahan talas, sejenis umbian-umbian yang melimpah di Bogor, itulah alasan mengapa namanya Bika Bogor Tallubi.  

Disusul dengan Brownies Ketan Hitam dipadu dengan talas Bogor, masih mengoptimalkan tumbuhan iconic Bogor tersebut.  Hasil bumi Bogor semacam pisang pun dimunculkan dalam New York Style Banana Cheese Cake dan Pillsbury Banana Cake.  

Alhamdulillah, ternyata saya sudah coba semua produk Bika Bogor Tallubi.  #rejeki blogger solehah 😎

Bluder Gulung Abon Mayo

Dan inovasi kekinian dari Bika Tallubi Bogor adalah Bluder Gulung.  Tidak seperti sebelumnya berupa kue, kudapan ini dihadirkan untuk memanjakan lidah para penggemar roti.  Ciri khas lainnya adalah teksturnya yang empuk dan terlihat berserat saat disobek.  

Sepintas terlihat mirip kue, padat montok.  Keempukannya langsung terasa saat memotong si Bluder Gulung yang bentuknya seperti bolu gulung.   Terlihat remah-remah berjatuhan sebagaimana yang ditemukan pada roti umumnya.  Ternyata tidak sepadat penampakannya.  Terlebih saat dikunyah.  So lembuuuut, selembut hatimu #eh

Maka selain jadi opsi baru sebagai oleh-oleh khas Bogor, buat saya Bluder Gulung Tallubi ini dapat dijadikan pilihan sarapan pagi karena ke-roti-annya ini.

Si Bluder Gulung lembut ini bisa diperoleh di gerai-gerai Tallubi.  Malas jalan?  Bisa minta babang kurir (JNE YES/Grab/Gojek) tentunya dengan menghubungi para mimin Bika Talubi Bogor di:

WA: 08884829626 
Line: @bikabogor 

Bluder Gulung Coklat

Maka setelah photo session usai, tiga varian rasa yaitu Bluder Gulung Coklat (Rp 29.000), Bluder Gulung Keju (Rp 32.000) dan Bluder Abon Mayo (Rp 38.000) langsung lumer di lidah saya dan anak-anak. 

Memang selera sih, tapi dari ketiga rasa tersebut, buat saya Bluder Gulung Abon Mayo yang juwarak!  Rasa abonnya dominan dibanding si mayo, plus isian abon yang ngga pelit. 

Berani coba?






Share
Tweet
Pin
Share
6 comments


"Mama kapan mulai bikin kue Lebaran?"

"Selain Kaastengel dan Nastar, Mama bikin kue apalagi?"

___

Apa yang terlintas saat mendengar Skippy Peanut Butter?  Yap, betul!  Roti selai kacang alias sandwich peanut butter.  Seringnya dijadikan teman sarapan bersama segelas susu atau secangkir kopi hangat saat pagi hari.

Herannya, dari jaman kecil hingga sekarang ini, memoles roti dengan Selai Skippy ini, rasanya kok tidak pernah bosan.  Belakangan kreatifitas mengonsumsi selai kacang made in Amerika ini bertambah.  Terutama pada jam-jam kritis saat perut bagian butuh camilan.

Jika tak ada roti saya,  selai kacang yang punya variant chunky (ada sensasi rajangan kacang) saya oles di atas plain crackers ditaburi coklat meses.   Rasanya?   Sama enaknya; bikin nagih 😉

Roti habis, biskuit pun ludes?  Seapes-apesnya, ngelamotin (bahasa opo iki?) sesendok selai kacang sahaja udah bikin bahagia hehehe.  Sesederhana itu.

Kefanatikan saya akan selai kacang yang masuk dalam jajaran produk unggulan Unilever ini ternyata menular pada anak-anak.  Jadi bisa dipastikan, selai Skippy selalu ada di dapur rumah kami.   

(Ki) Chunky Peanut Butter - (Ka) Creamy Peanut Butter
Kenapa Skippy Peanut Butter ?

Rasa
Jika makanan, pasti urusannya adalah rasa.  Flavour Memory saya akan selai ini tidak berubah dari dulu hingga kini.  Bedanya sekarang mereka punya varian chunky yang memberikan sensasi serasa mengunyah kacang, padahal awal mulanya produk ini hanya tersedia dalam bentuk creamy saja.  Yet, overall it taste the same.

Untuk ukuran selai, rasa manisnya pas -not too sweat- berpadu dengan gurihnya rasa kacang.  It's perfect sesuai selera saya.

Tekstur
Pernah mencoba selai kacang merek lain.  Saat dibuka ada lapisan minyak di bagian atas lalu mengering di bagian bawah.  Well, not for this one.  The peanut butter perfectly blend from the beginning to the last drop!

Ternyata ada cara lain untuk menikmati Skippy Peanut Butter yaitu dengan menjadikannya sebagai bahan membuat kue kering.  Mumpung timingnya pas, menjelang Lebaran, saya akan membuat Cashew Fudge Cookies sebagai salah satu varian kue untuk Hari Raya nanti.  Perpaduan selai Skippy yang gurih dengan choco chips, sudah kebayang rasanya yang juara!



Berikut bahan-bahan yang diperlukan untuk resep kue kering Skippy.

Bahan:
  • 150 gr margarin
  • 150 gr tepung gula
  • 2 butir telur
  • 250 gram tepung terigu protein sedang
  • 1/4 sendok teh baking powder
  • 150 gram cokelat kacang mede (misal, Silverqueen) cincang kasar.   Bagian ini resepnya saya modif sedikit.  Kenapa?  Karena bahan-bahan inilah yang stand-by di lemar dapur saya 😁
    • Cokelat kacang mede (misal, Silverqueen) saya ganti dengan:
      •  150 Skippy Peanut Butter, sesuai selera apakah Creamy atau Chunky.  Di resep ini saya pakai Creamy Skippy Peanut Butter
      • Chocolate chips, jumlahnya sesuai selera.
      • Almond (cincang kasar), jumlah sesuai selera.  Jika menggunakan Chunky Skippy Peanut Butter almond bisa ditiadakan atau dipakai sedikit saja.





Cara Membuat:



  1. Kocok margarin dan gula tepung hingga tercampur.  Tambahkan telur satu per satu dan Skippy Peanut Butter sambil dikocok rata.  
  2. Masukkan tepung terigu dan baking powder sambil diayak dan diaduk rata.
  3. Tambahkan choco chips dan almond.
  4. Sendokkan adonan di loyang yang dioles margarin.  Oven hingga matang dengan suhu 160 derajat Celcius.




Tips:


  • Panaskan oven terlebih dahulu.  Saya biasanya menyalakan oven sebelum mempersiapkan bahan-bahan.  Saat kue selesai dicetak, oven sudah mencapai suhu yang diinginkan.
  • Usahakan jangan terlalu lama mengocok margarin dan gula agar kue tidak melebar ketika dioven.
  • Hati-hati menggunakan cokelat yang mudah meleleh.  Untuk memudahkan pengadukan, dinginkan dulu cokelat yang mudah leleh di lemari pendingin.




Ternyata benar bahwa Skippy Peanut Butter tidak melulu untuk olesan roti.

Teman-teman punya ide membuat olahan makanan dengan selai kacang Skippy juga?  Sharing di kolom komentar ya!!

Selamat berkreasi 😉


Share
Tweet
Pin
Share
14 comments
Stockholm Syndrome Bogor

This is not a sponsor post.  
I received no economical reward in return.  I posted because I impressed.
***

Hari gini, warung kopi kekinian sudah biasa bukan?  Variannya pun beragam; ada yang menjual kopi saja, ada pula yang menyajikan kopi plus snack, pastries serta makanan ringan, dan tidak sedikit kafe menyediakan semuanya berikut makanan berat.

Nah, di Bogor kini ada kafe yang tidak biasa, yaitu Stockholm Syndrome Bogor.  Kedengarannya provokatif ya, sampai mencantumkan "stockholm" segala?

Apa sih keunikan tempat ngopi ini, sampai saya bela-belain datangi padahal lokasinya saja nyempil, bukan di pinggir jalan raya.

The Nordic Style

Yang familiar dengan IKEA, pasti paham bagaimana style negara yang terkenal akan Aurora Borealisnya ini; desainnya sederhana, fungsional sekaligus dekoratif.  Palet warna yang digunakan sangat ringan, biasanya bernuansa monokromatik dan terang mencakup nuansa abu-abu dan biru serta banyak menggunakan warna putih.  


Sebagai salah satu negara yang dekat dengan Benua Antartika, Swedia relatif bersuhu rendah.  Di negara asalnya, pemakaian warna putih bertujuan untuk mencerahkan suasana di dalam ruangan mengingat musim dingin sudah memberikan efek gloomy.

Agar suasana dalam ruangan lebih ceria, tak jarang diberi sentuhan warna electric atau pastel yang berani.  

Dekorasi yang sederhana dikompensasi lewat bingkai foto, artwork, elemen texture seperti rug atau babut dengan pola minimalis.  Mereka juga menyukai elemen alami seperti rotan/anyaman dan kayu karena bahan-bahan tersebut memberikan efek hangat dan menambahkan tanaman hidup khusus indoor.

The good news is, you can find them all in Stockholm Syndrome Bogor!

When you enter the room, aura Swedish are welcoming you!

Aksen yang menurut saya cukup eye-catching adalah sentuhan warna biru turqoise pada beberapa sisi dinding dan quite a number of indoor plant.  Tanaman hias dalam ruangan sebetulnya ngga aneh, hanya di Stockholm Syndrome peletakknya relatif cukup banyak dari yang biasanya saya jumpai di kafe shop.  Suatu keputusan yang hasilnya memang berkesan "adem".
 

Tertulis jelas di akun instagramnya, Stockholm Syndrome adalah "home for cactus and succulents".  Aneka jenis tanaman-tanaman hias tersebut bisa kita jumpai di bagian taman dan merupakan area indoor.

Yang mengejutkannya, suasana dan luas taman yang terletak di belakang ini berbeda sekali dibandingkan inner interiornya.  Jika ruangan dalam kental akan desain interior a'la Nordic, maka bagian taman ini dihiasi beragam succulent dan kaktus.  

Walau banyak kursi taman yang disediakan untuk menikmati sesapan kopi, tetap harus siapkan mental untuk mengantri giliran di tempat ini terlebih jika kita berkunjung pada sore hari saat akhir pekan.  Dijamin ramai!

Stockholm Syndrome BogorStockholm Syndrome Bogor


The Swedish Kitchen

Besides coffee, the best part of indulging your appetite is food!  The Swedish dishes to be exact.

Karena memang niat mau icip-icip makanan sambil praktek foto bareng Inna, dari rumah saya sengaja tidak sarapan berat.  Pagi itu saya memesan cappucinno serta sepotong Kanebullar (Cinnamon Rolls), sedangkan Inna lebih suka matcha latte dan Chockladbollar atau Chocolate ball (1 porsi isi 3 potong).

Sebelum semuanya masuk perut, kami potret dulu sebagai bahan latihan.

Tak terasa, nyaris tiga jam kami berada di kafe yang menyenangkan ini.  Sudah banyak foto yang kami buat, dan Inna pun bisa menyelesaikan tulisannya.  Asinan Blogger yang satu ini memang termasuk yang rajin update blognya.  Ngga mageran kayak saya hihi.

Dan untuk menikmati main course, kami memilih menikmatinya di bagian dalam kafe.

Sebaiknya memang datang ke Stockholm Syndrome saat pagi tak lama mereka buka.  Selain masih sepi, kita mudah memilih kursi atau seperti kami yang berpindah dari dalam, ke bagian taman lalu ke dalam lagi.  Udah berasa milik pribadi, untung ngga diomelin sama crew!  Hahaha.







Atas kesepakatan bersama pula, dipilih masing-masing satu menu untuk kami nikmati berdua.  Alasannya agar dapat menikmati lebih beragam menu.  Sharing makanan begini, irit atau pelit? 😆

Saya pesan Aglio Olio, sedangkan Inna memilih Köttbullar.  Pada udah paham donk apa itu Aglio Olio?  Mengingat selain pizza, pasta adalah jenis makanan Italia yang sering dijumpai.  Lalu apa itu Köttbullar?  Deskripsinya sudah dicantumkan di gambar bawah.  Silahkan dinikmati eh, dibaca seksama hehe.

Saat melihat ukuran pesanan yang jumbo terhidang di meja, saya dan Inna bersyukur bahwa keputusan sharing makanan adalah tepat.  Entah karena perut yang lapar atau rasanya yang enak, or even combination of both; pasta berikut meatballs pun berpindah tempat dalam perut.  As a matter of fact, we both agreed that the food are tasty.

Inna bahkan sampai memesan lagi bola-bola coklat sebagai buah tangan untuk para jagoan kecilnya di rumah.

Turned out to me that Stockholm Syndrome Bogor not only homy, has lots of corner for your catchy photos but also serving yummy food!

Jadi tidak berlebihan rasanya jika keberadaan Stockhold Syndrome, membuat Bogor makin mengokohkan posisinya sebagai tujuan wisata kuliner.  Sekaligus terjawab mengapa menamakan Stockholm untuk tempat hangout yang worth to visit.

Välkommen in!



Stockholm Syndrome Bogor
Cappuccino, Cinnamon rolls, Matcha Latte, Chocolate Ball


Stockholm Syndrome Bogor

Stockholm Syndrome Bogor Aglio Olio
Strong flavor of garlic, plenty of mushrooms
It's tasteful but I think a little more of olive oil would be perfect
Stockholm Syndrome
Soft beef Minced with Creamy mashed potato
 and savory cream 
(I wish I knew how it made 😆)




---

Stockholm Syndrome
Jl. Pulo Armin No.15, Baranangsiang, Bogor Timur
Kota Bogor, Jawa Barat 16143

Instagram: stockholmsyndromebgr



Share
Tweet
Pin
Share
34 comments
Older Posts

Follow Me

Email Facebook LinkedIn Pinterest

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  October 2025 (1)
      • Personal Branding Konsultan Project Management: 3 ...
    • ►  August 2025 (1)
    • ►  July 2025 (1)
    • ►  June 2025 (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  June 2022 (2)
  • ►  2021 (12)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (2)
    • ►  May 2021 (1)
    • ►  February 2021 (1)
    • ►  January 2021 (4)
  • ►  2020 (7)
    • ►  December 2020 (2)
    • ►  October 2020 (1)
    • ►  April 2020 (2)
    • ►  March 2020 (1)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (17)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  October 2019 (2)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  May 2019 (2)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (4)
  • ►  2018 (25)
    • ►  December 2018 (4)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  October 2018 (3)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (5)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (1)
    • ►  February 2018 (2)
    • ►  January 2018 (3)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December 2017 (5)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  October 2017 (1)
    • ►  September 2017 (2)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  June 2017 (1)
    • ►  April 2017 (1)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (1)
  • ►  2016 (37)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  July 2016 (3)
    • ►  June 2016 (4)
    • ►  May 2016 (2)
    • ►  April 2016 (9)
    • ►  March 2016 (8)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (6)
  • ►  2015 (75)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  September 2015 (6)
    • ►  August 2015 (5)
    • ►  July 2015 (19)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  April 2015 (7)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (9)
    • ►  January 2015 (5)
  • ►  2014 (39)
    • ►  December 2014 (2)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  October 2014 (2)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  August 2014 (5)
    • ►  July 2014 (2)
    • ►  June 2014 (3)
    • ►  May 2014 (4)
    • ►  April 2014 (2)
    • ►  March 2014 (2)
    • ►  February 2014 (5)
    • ►  January 2014 (7)
  • ►  2013 (36)
    • ►  December 2013 (5)
    • ►  November 2013 (5)
    • ►  October 2013 (2)
    • ►  September 2013 (5)
    • ►  August 2013 (1)
    • ►  June 2013 (1)
    • ►  May 2013 (4)
    • ►  April 2013 (6)
    • ►  March 2013 (3)
    • ►  February 2013 (2)
    • ►  January 2013 (2)
  • ►  2012 (28)
    • ►  December 2012 (2)
    • ►  November 2012 (3)
    • ►  October 2012 (3)
    • ►  September 2012 (4)
    • ►  August 2012 (4)
    • ►  July 2012 (5)
    • ►  May 2012 (1)
    • ►  April 2012 (1)
    • ►  March 2012 (1)
    • ►  February 2012 (1)
    • ►  January 2012 (3)
  • ►  2011 (28)
    • ►  December 2011 (2)
    • ►  November 2011 (3)
    • ►  October 2011 (1)
    • ►  September 2011 (1)
    • ►  August 2011 (4)
    • ►  July 2011 (2)
    • ►  June 2011 (4)
    • ►  May 2011 (1)
    • ►  April 2011 (4)
    • ►  March 2011 (3)
    • ►  January 2011 (3)
  • ►  2010 (2)
    • ►  December 2010 (1)
    • ►  June 2010 (1)

Created with by BeautyTemplates