My Dairy Note's

Life Style & Family Blog Indonesia

    • Home
    • About
    • Disclosure
    • Lifestyle
      • Books & Movie
      • Travel
      • Culinary
      • Fotografi
    • Midlife Series
      • Family
      • Wellness
      • Blogging
      • Techno
    • Career & Project Management
      • Project Management


Berkunjung ke pasar barang antik Triwindu Solo ibarat berburu masa lalu.  Hampir semua benda yang saya lihat di sana menghadirkan kembali nostalgi .  Untuk sejenak, saya merasa "pulang" ke rumah Bapak-Ibu.

Bagi yang belum tahu, Pasar Triwindu hanya selemparan batu jaraknya dari Pura Mangkunegaran, tepatnya di sisi sebelah selatan.  Pasar yang merupakan peninggalan Raja Pura Mangkunegaran kini menjadi pusat barang antik dan konon terlengkap di Jawa. Kelengkapan aneka ragam barang yang dijajakan tidak hanya dikenal oleh pehobi barang lawas domestik saja, penyuka barang antik mancanegara pun sering mencarinya hingga ke sini.

Keunikan barang-barang di Pasar Triwindu pun menarik perhatian masyarakat awam dan menjadikan Pasar Triwindu sebagai "must seen" tujuan wisata Solo yang sayang untuk dilewatkan.   Bagi penggemar fotografi, pasar yang saat berdiri diberi nama Pasar Windujenar ternyata asik dijadikan lokasi hunting foto.  Termasuk oleh saya yang di siang itu dimanjakan oleh banyak obyek menarik.

Semoga foto-foto yang disajikan ini bisa mewakili masa lalu yang dimaksud.




**0**

Share
Tweet
Pin
Share
49 comments

Nggak sengaja saya re-run film Queen of The Desert di salah satu tv kabel.  Rupanya film yang dibintangi oleh aktris cantik Nicole Kidman menceritakan perjalanan Gertrude Bell; seorang penulis dan arkeologis berkebangsaan Inggris yang hidup di awal tahun 1900-an.  Ketertarikannya pada eksotisme Timur Tengah tidak hanya menjadikan Gertrude menjadi sosok yang berkontribusi atas terbentuknya negara-negara seperti yang kita kenal sekarang, namun membuatnya menjadi seorang (solo) traveler wanita yang dikenal seantero jazirah Arab.

Saya ngga bisa bayangin apa yang dihadapi oleh seorang solo traveller wanita barat di awal abad 19, melakukan perjalanan melintas gurun pasir Tanah Arab yang tidak hanya keras iklimnya namun juga berbeda dalam segala hal; dari mulai agama hingga budaya.  Pastinya membutuhkan sikap adaptasi yang luar biasa.

Amerika Serikat saja yang dijadikan barometer standar kemajuan suatu negara, konon sepuluh tahun yang lalu aja masih beranggapan female solo travel sebagai hal yang tak biasa.  Warga Paman Sam ini pun perlu waktu untuk menata persepsi akan female solo-traveler sebagai suatu tindakan yang wajar sama halnya seperti yang dilakukan oleh solo-traveler pria.

Wajar aja sih jika orang merasa khawatir bepergian sendiri. Berkunjung ke suatu tempat yang semuanya serba asing berarti keluar dari zona nyaman.  Memangnya ada yang senang meninggalkan comfort zone ?

Saya pribadi pun mikir panjang kalo disuruh travel sendirian.  Jika pada akhirnya saya ternyata harus traveling tanpa teman, itu karena kondisi pekerjaan yang mengharuskan saya pergi sendiri-ri-ri!  Sudah urusannya bukan senang-senang, sendirian pulak!  Double trouble 😩

Anyhow, setelah sekian kali solo travel, turns out it is not intimidating as I thought before.  Sebaliknya, banyak hal yang saya rasakan dari solo traveling.


Selfproven a.k.a Mengandalkan Diri Sendiri.  When you said you can do it, then you can.

Apa yang diperlukan saat Anda harus pergi ke tempat yang penduduknya nyaris tak berbahasa Inggris, boro-boro internet, handphone pun masih barang langka.  Tiada lain adalah percaya diri yang gede banget!

Dan itulah kondisi di tahun 1996 saat perusahaan "menyuruh" saya untuk berkunjung ke kantor pusat di Seoul, Korea Selatan.  Tahun segitu,  drakor Winter Sonata aja belum lahir!  😂



Sesungguhnya saat tahu harus berangkat sendiri, tidak hanya saya saja yang khawatir, orang tua pun merasakan hal yang sama.  Alm Bapak saya sampai wanti-wanti agar saya melakukan lapor diri ke kedutaan sesampainya di negara tujuan.  Duh, sampe segitunya, pikir saya waktu itu.  Anyway nggak saya lakukan juga hehe.

Sebelum berangkat, atasan saya yang notabene Korea hanya mengatakan, someone will pick you up at the airport, sambil menyerahkan tiket dan info hotel.  Selebihnya, lo atur deh sendiri.  Nah luu!

Selain percaya diri, saya juga membekali diri dengan nyali yang besar serta setumpuk doa, tidak lupa uang saku dari kantor berikut kartu kredit.  Dan solo traveling ke Negeri Ginseng pun dapat dilewati dengan baik, mengesankan malah.



Mastering survival.  It teaches you many things, including how to read a map.

Still from 1st solo trip.

I was picked up at the airport by a female colleague from Head Office.  She also took me to the hotel.  

On the following day, she picked me up at the hotel to go to the office.  Instead of a car, we used the subway.  She taught me how to use the subway (dia memahami kekatrokan gue yang seumur-umur belum pernah naik subway secara MRT aja baru ada di endonesah tahun seginih 😂).  She also asked me to memorize the route.  

Dan rasa excitement gue langsung lenyap ibarat diguyur air es saat dia mengatakan; "Ratna, it is important for you to remember the route from the hotel to the office because starting tomorrow you'll be on your own."  Dueeengngngng.

Gimana rasanya coba harus ngapalin rute subway yang ditulis pake huruf yang bahasanya aja nggak gue ngerti?  Jangan bayangin sign board di Seoul saat 1996 kayak Seoul hari gini, yak!  It was not as friendly tourism like today.  Korea Selatan belum seterbuka sekarang.  Boro-boro ada K-POP. 

Mount Souraksan

Maka tidak ada cara selain mengingat dan mencatatnya di notes (tuh, pentingnya bawa notes dan pulpen!).  Dari hotel, di stasiun ke berapa harus turun berikut namanya.  Dimana pintu keluarnya endesbre endesbre.

Dan nggak seru kalau tanpa ada kejadian nyasar.  Pernah salah ambil pintu keluar.  Pas nongol dari pintu subway yang underground, lha kok gedung kantor adanya di seberang?  Berarti harus nyeberang dong?  Tapi kok ngga kelihatan zebra cross atau jembatan penyembrangan?  Gimana nyeberangnya?  Panic attack!  Turun lagi ke under ground station.  Hal pertama yang dilakukan adalah bertanya.  Sampai mau nangis rasanya karena orang-orang yang ditanya gak paham Bahasa Inggris.  Matek gue!

Long short story, I finally managed to get the correct route.  Dari situ saya jadi belajar bagaimana menghalau panik dalam kondisi terdesak.  Seiring waktu dan frekuensi traveling meningkat, saya jadi punya kebiasaan baru untuk merekam/mencatat hal-hal yang bisa dijadikan tanda sebagai penunjuk jalan atau arah jika datang ke suatu tempat.  Hal lainnya, I learn how to read a map! 

Understanding yourself

Bagi saya, dua hal yang disebutkan di atas adalah pintu gerbang memahami diri sendiri.  Sejatinya, get to know yourself before you want to know others.  Apalagi jika kita pergi sendirian.  Siapa yang bisa kita andalkan selain diri kita sendiri.  Agree?

Traveling solo also sharpen the ability of listen to my heart and follow my intuition.

Saya bisa dengan santainya sendirian menikmati kota Manado di malam hari dengan rasa aman dari tempat makan yang berjarak sepuluh menit jalan kaki dari hotel.  Namun tidak demikian halnya saat saya berada di salah satu kota di Kalimantan (sorry, ga mau sebut kotanya 😬).  Saking tidak merasa di level kenyamanan yang saya miliki, setiap berkunjung ke kota itu, saya selalu pesan room service for dinner.  Nggak mau keluar jika hari sudah gelap.  Can you see the different?


Nami Island


Enjoy "Me time" 

What would you do during 8-hours flight or 2 hours waiting for transit or hours before boarding?  Actually many things.  Seringnya saya membaca buku -kalo pergi pasti saya bawa buku- atau strolling around the airport karena setiap bandara punya keunikan.  Nah, kalo lihat yang unik udah pasti jadi objek bidikan yang saya rangkum di tulisan ini.

Jarang banget ngobrol apalagi dengan orang asing, karena saya basicnya pemalu pendiam.  Uwooooooooo! 😝

Kala lain, waktu tunggu saya pakai untuk memikirkan hal-hal yang ngga sempat serius dipikirkan, maklum mamak orang cibuk hihi.  Semalas-malasnya, saya cuma duduk diam sambil memperhatikan sekeliling.  Ternyata seru juga lho merhatikan perilaku orang-orang di bandara bahkan bisa nguping obrolan orang lain!

Setelah sejumlah kali penantian boarding, saat ini saya sudah bisa merubah perasaan jemu menunggu itu menjadi salah satu "me time".

We might look alone but not lonely.  Keep yourself busy.  That's my mantra.



Self-discipline since you control & in charge of everything

Solo traveling artinya melakukan segala hal sendirian.  Sendiriannya ngga cuma sebatas angkat koper dan geret bagasi kesana-kemari, gak ada temen yang diajak bisa ngobrol.   Nope, it's not only that.  Hal lain yang harus diatur sendiri adalah managing waktu dan keuangan.  Telat bangun gak ada yang omelin, skip makan juga gak ada yang ngingetin.  Mau belanja sampe dompet jebol pun gak ada yang peduli.  Paling banter bayar kelebihan bagasi dan plus bayar cicilan kartu kreditnya, yekan?

It's really come back to ourself.  Kalau udah begini, gak ada yang perlu dimiliki selain disiplin diri.

Stick to the plan adalah wajib hukumnya!

Alarm bangun pagi diset pukul berapa atau minta morning call ke resepsionis.  Pengeluaran untuk makan sekian, walaupun ditanggung biaya perjalanan dinas, do not abuse donk.  Alokasi beli oleh-oleh sejumlah ini.  Shopping-shopping tipis oke lah minimal ada tanda mata dari negara ini atau rekam jejak di tempat itu 😁

Kebiasaan lain yang saya anggap penting, begitu naik kendaraan dari bandara ke hotel, otomatis pantau travel time yang ditempuh.  Walaupun bisa tanya ke pak supir but personal observation won't hurt, right?

Jadi saat waktunya pulang, kita sudah punya referensi sendiri berapa lama waktu yang diperlukan berikut kondisi trafficnya, apakah saat peak hour atau tidak.

Nami Island

Bebas, Time Flexibility karena Dapat Mengatur Perjalanan Sesuai Keinginan

Segitu disiplinnyakah lalu kapan seneng-senengnya?

Bagi saya justru dengan patuh pada waktu saya jadi punya prediksi berapa banyak spare time yang saya miliki.  Yang tidak kalah penting, nobody told me what I should do during that free time, yeay!

Walaupun berkonteks perjalanan dinas, saya punya kebebasan memilih jadwal keberangkatan dan kembali.  Saat ada 1-day transit di Bangkok dalam perjalanan pulang dari Hanoi, saya optimalkan waktunya untuk One Day Bangkok City Tour.  Hasil jalan-jalan tipis di Bangkok lainnya selama business trip ternyata bisa jadi tulisan yang saya rangkum di sini.

Kali lain, saya sengaja "meninggalkan" diri dari rombongan untuk menikmati Bandung lebih lama hanya karena ingin mengenang Braga.

Atau saat di Menado; sehabis rapat yang ternyata selesai lebih cepat dari dugaan, sisa waktunya saya pakai untuk ziarah ke makam Tuanku Imam Bonjol serta melihat patung Monumen Yesus Memberkati yang menjulang tinggi hingga 50m.

Work hard, travel hard.  Can have them both altogether is such a blessing for me 😎.


Gereja Blenduk, Semarang


Self Improvement of traveling

Sering solo traveling akhirnya menumbuhkan ketrampilan dalam hal traveling.  Mulai dari memilih flight schedule, buat itinerary -seringnya made on location-, punya kostum anti lecek, ukuran koper/tas sesuai lama hari bepergian hingga cara packing walaupun belum mahir lipet baju sampai kecil seperti yang udah beredar di Youtube.  I should learn someday though.

Pengalaman traveling juga saya jadikan referensi saat merancang family trip.  Tempat mana yang perlu dikunjungi, spot apa saja yang bisa diskip because it's not worthed to visit.

Iya, sampai saat ini saya masih melakukan swakelola dalam merencanakan liburan keluarga.  Mulai dari ordering ticket, booking hotel hingga membuat itinerary dilakukan sendiri.  Masih belum merasa perlu pakai tour hehehe.  Paksu sampai komen, kamu udah pantes jadi tour organizer.  Aaamiin.

Lha wong traveling jaman kekinian mah gampil-surampil; the world in one hand itu benar adanya.  Fitur peta, aplikasi terjemahan sampe rekomendasi tempat makan semuanya ada. Semuanya manageable dan mudah berkat internet.  Internet indeed is connecting people to the world.

Terakhir,

Understand the meaning of absence

Mungkin ini romantisme saya aja ya, sebaga ibu pekerja yang kadang harus meninggalkan anak-anak dan pasangan.  Berjauhan dengan kesayangan untuk sementara waktu malah menambah kesadaran betapa berharganya kebersamaan bersama keluarga.  I become a person who value the quality over quantity.

Agar tetap terkoneksi walau terpisah jarak, kami sampai punya kesepakatan pukul berapa melakukan video call.  Someone is going for a while, doesn't mean communication is off.

Lalu saya pun teringat akan kata-kata bijak pakde Thomas Fuller;

Absence sharpens love, presence strengthens it.  


Tanpa pernah solo traveling, terlepas liburan atau bekerja, pastinya saya tidak akan pernah merasakan hal-hal yang saya tuliskan di atas.

Setuju atau punya pendapat lain?



Share
Tweet
Pin
Share
66 comments
Stockholm Syndrome Bogor

This is not a sponsor post.  
I received no economical reward in return.  I posted because I impressed.
***

Hari gini, warung kopi kekinian sudah biasa bukan?  Variannya pun beragam; ada yang menjual kopi saja, ada pula yang menyajikan kopi plus snack, pastries serta makanan ringan, dan tidak sedikit kafe menyediakan semuanya berikut makanan berat.

Nah, di Bogor kini ada kafe yang tidak biasa, yaitu Stockholm Syndrome Bogor.  Kedengarannya provokatif ya, sampai mencantumkan "stockholm" segala?

Apa sih keunikan tempat ngopi ini, sampai saya bela-belain datangi padahal lokasinya saja nyempil, bukan di pinggir jalan raya.

The Nordic Style

Yang familiar dengan IKEA, pasti paham bagaimana style negara yang terkenal akan Aurora Borealisnya ini; desainnya sederhana, fungsional sekaligus dekoratif.  Palet warna yang digunakan sangat ringan, biasanya bernuansa monokromatik dan terang mencakup nuansa abu-abu dan biru serta banyak menggunakan warna putih.  


Sebagai salah satu negara yang dekat dengan Benua Antartika, Swedia relatif bersuhu rendah.  Di negara asalnya, pemakaian warna putih bertujuan untuk mencerahkan suasana di dalam ruangan mengingat musim dingin sudah memberikan efek gloomy.

Agar suasana dalam ruangan lebih ceria, tak jarang diberi sentuhan warna electric atau pastel yang berani.  

Dekorasi yang sederhana dikompensasi lewat bingkai foto, artwork, elemen texture seperti rug atau babut dengan pola minimalis.  Mereka juga menyukai elemen alami seperti rotan/anyaman dan kayu karena bahan-bahan tersebut memberikan efek hangat dan menambahkan tanaman hidup khusus indoor.

The good news is, you can find them all in Stockholm Syndrome Bogor!

When you enter the room, aura Swedish are welcoming you!

Aksen yang menurut saya cukup eye-catching adalah sentuhan warna biru turqoise pada beberapa sisi dinding dan quite a number of indoor plant.  Tanaman hias dalam ruangan sebetulnya ngga aneh, hanya di Stockholm Syndrome peletakknya relatif cukup banyak dari yang biasanya saya jumpai di kafe shop.  Suatu keputusan yang hasilnya memang berkesan "adem".
 

Tertulis jelas di akun instagramnya, Stockholm Syndrome adalah "home for cactus and succulents".  Aneka jenis tanaman-tanaman hias tersebut bisa kita jumpai di bagian taman dan merupakan area indoor.

Yang mengejutkannya, suasana dan luas taman yang terletak di belakang ini berbeda sekali dibandingkan inner interiornya.  Jika ruangan dalam kental akan desain interior a'la Nordic, maka bagian taman ini dihiasi beragam succulent dan kaktus.  

Walau banyak kursi taman yang disediakan untuk menikmati sesapan kopi, tetap harus siapkan mental untuk mengantri giliran di tempat ini terlebih jika kita berkunjung pada sore hari saat akhir pekan.  Dijamin ramai!

Stockholm Syndrome BogorStockholm Syndrome Bogor


The Swedish Kitchen

Besides coffee, the best part of indulging your appetite is food!  The Swedish dishes to be exact.

Karena memang niat mau icip-icip makanan sambil praktek foto bareng Inna, dari rumah saya sengaja tidak sarapan berat.  Pagi itu saya memesan cappucinno serta sepotong Kanebullar (Cinnamon Rolls), sedangkan Inna lebih suka matcha latte dan Chockladbollar atau Chocolate ball (1 porsi isi 3 potong).

Sebelum semuanya masuk perut, kami potret dulu sebagai bahan latihan.

Tak terasa, nyaris tiga jam kami berada di kafe yang menyenangkan ini.  Sudah banyak foto yang kami buat, dan Inna pun bisa menyelesaikan tulisannya.  Asinan Blogger yang satu ini memang termasuk yang rajin update blognya.  Ngga mageran kayak saya hihi.

Dan untuk menikmati main course, kami memilih menikmatinya di bagian dalam kafe.

Sebaiknya memang datang ke Stockholm Syndrome saat pagi tak lama mereka buka.  Selain masih sepi, kita mudah memilih kursi atau seperti kami yang berpindah dari dalam, ke bagian taman lalu ke dalam lagi.  Udah berasa milik pribadi, untung ngga diomelin sama crew!  Hahaha.







Atas kesepakatan bersama pula, dipilih masing-masing satu menu untuk kami nikmati berdua.  Alasannya agar dapat menikmati lebih beragam menu.  Sharing makanan begini, irit atau pelit? 😆

Saya pesan Aglio Olio, sedangkan Inna memilih Köttbullar.  Pada udah paham donk apa itu Aglio Olio?  Mengingat selain pizza, pasta adalah jenis makanan Italia yang sering dijumpai.  Lalu apa itu Köttbullar?  Deskripsinya sudah dicantumkan di gambar bawah.  Silahkan dinikmati eh, dibaca seksama hehe.

Saat melihat ukuran pesanan yang jumbo terhidang di meja, saya dan Inna bersyukur bahwa keputusan sharing makanan adalah tepat.  Entah karena perut yang lapar atau rasanya yang enak, or even combination of both; pasta berikut meatballs pun berpindah tempat dalam perut.  As a matter of fact, we both agreed that the food are tasty.

Inna bahkan sampai memesan lagi bola-bola coklat sebagai buah tangan untuk para jagoan kecilnya di rumah.

Turned out to me that Stockholm Syndrome Bogor not only homy, has lots of corner for your catchy photos but also serving yummy food!

Jadi tidak berlebihan rasanya jika keberadaan Stockhold Syndrome, membuat Bogor makin mengokohkan posisinya sebagai tujuan wisata kuliner.  Sekaligus terjawab mengapa menamakan Stockholm untuk tempat hangout yang worth to visit.

Välkommen in!



Stockholm Syndrome Bogor
Cappuccino, Cinnamon rolls, Matcha Latte, Chocolate Ball


Stockholm Syndrome Bogor

Stockholm Syndrome Bogor Aglio Olio
Strong flavor of garlic, plenty of mushrooms
It's tasteful but I think a little more of olive oil would be perfect
Stockholm Syndrome
Soft beef Minced with Creamy mashed potato
 and savory cream 
(I wish I knew how it made 😆)




---

Stockholm Syndrome
Jl. Pulo Armin No.15, Baranangsiang, Bogor Timur
Kota Bogor, Jawa Barat 16143

Instagram: stockholmsyndromebgr



Share
Tweet
Pin
Share
34 comments

Hi there!

I'm back after "loss" for a while.  Since my rally posts about the trip to Korea, now I am with a post about photography.  Ready?

When it comes to style, I have always believed "less is more."

Less make-up stands out the beauty of a woman.  Less talk is telling me someone's prominence acumance.  As Hans Hofmann saying; "The ability to simplify means to eliminate the unnecessary so the necessary may speak."

Alhasil, justru kesederhanaan itu yang jadi fokus utamanya (Point of Interest)!

Sebagai bagian dari seni/style, konsep minimalis diusung tidak hanya oleh fotografi melainkan oleh design furniture, web design, fashion, arsitektur bahkan kini diserap sebagai salah satu trend gaya hidup.

Saya sendiri tidak men-genre-kan diri sebagai pengikut aliran foto minimalis.  Walau harus diakui, ketidaksukaan saya akan hal-hal yang berbau "ribet" pada akhirnya mempengaruhi hasil jepretan.  Alasan lain?  Karena ternyata membuat foto dengan banyak props itu, capek beresinnya siiist 😂

Dan yang namanya minimalis atau simpel mestinya gampang, yekan?  Kalau ada yang jawab "iya", pliz jangan percaya karena sesungguhnya motret objek minimalis itu is a lot harder than you think.

Merujuk berbagai referensi tentang fotografi minimalis, ternyata ada banyak hal yang perlu diperhatikan.  To make it simple (aha!); saya hanya akan menuliskannya 4 saja di sini.

Alasan pertama, buat saya yang masih taraf belajar alias beginner, ke-4 hal tersebut adalah "the main basic".  Alasan lain, karena 4 poin basic berikut yang saya terapkan sejauh ini.  When you master these four, Insha Allah  you have them all.

1. Concept, draw in your mind first!

Namanya juga seni, harus jelas konsepnya.  Konsep minimalis seperti apa yang mau diterapkan.  Apakah mau menghadirkan warna.  Or playing with lights and shadow perhaps, as matter of fact, photography is drawing with lights.  Atau ingin menonjolkan tekstur, bermain dengan bentuk geometri atau komposisi?

Jika fokeusnya pada komposisi maka erat kaitannya dengan rule of third.  Dan ini merupakan konsep yang paling banyak saya terapkan.

Bicara konsep, kebiasaan yang sering saya lakukan adalah membayangkan terlebih dahulu gambar seperti apa yang akan dihasilkan.  Nampak jelas karakter the day-dream-nya yaakkk 🙈

From the imaginery visualisation, then I shot the real picture.  Salah satunya, foto yang dipakai sebagai judul postingan ini.  Dari semenjak melihat si bunga, sudah ada dalam bayangan hanya kelihatan bunga di sisi kanan menggunakan bird eye angle dan negative space mendominasi area kiri (rule of third base).  Adapun negative space diperuntukan sebagai ruang teks; bisa judul, quotes or whatever I want to write.

 Kiri: fokus pada tekstur roti
Kanan: food color wheel


2. Keep it Simple

Namanya juga minimalis, artinya tidak banyak pernak-pernik, props dan sebangsanya.  Take out unnecessary elements or keep to a minimum level but it doesn't lose its soul.  

Ngomong sih gampang.  Prakteknya?  

Sampai pusing kepala berbi pake keringetan dan encok pinggang gegara ambil gambar dengan beragam angle! 😆

Perfection is achieved, not when there is nothing more to add, but when there is nothing left to take away. — Antoine de Saint-Exupery
Dominasi putih

3. Get Creative

Being minimalist doesn't mean boring.  

In fact; when dealing with minimalism, it’s important to understand the relationship between subject and viewer, texture and pattern, and light and shadow.  Naah...

Pada kenyataannya, memunculkan rasa kreativitas itu bisa bikin frustasi, beiiib!  Perasaan udah kreativ sampai mentok level dewa, hasilnya kok "gitu lagi-gitu lagi."  Di titik itulah, menjelajahi jagat stok dunia fotografi atau gudang gambar macam Pinterest ibarat mendapat hikmah cahaya Ilahi.

Tidak sedikit foto yang saya hasilkan setelah mendapatkan inspirasi dari sana.  And yes, bisa dilakukan di rumah dengan perangkat yang kita miliki.  Ngga selamanya mesti ke kafe atau restoran untuk bisa mendapatkan foto yang bagus.  Foto cookies di bawah saya ambil setelah baking saat Lebaran yang lalu.  Sedangkan cake roll adalah parsel dari tetangga.

Eiya, ngomong-ngomong udah folo Pinterest saya, belon?  #promo 😋
 Play with light; backlight or side light


Kiri: traveling theme photo challenge; modal passport dan tempelan kulkas
Kanan: simply bunga plastik









4. Pictures with message

A picture tells a thousand words.  O yeah, heard it many times.  But can minimalist picture do that?

TBH (To Be Honest) my pictures are not reaching this level yet.  Not now, maybe later.  Crossed finger.

Butuh kelihaian tingkat "mastah" untuk berada di tingkatan ini.  Perlu praktek banyak kali sampai bisa menguasai konsep-konsep secara ilmu pencahayaan saya masih nyungsep dan eksposure pun kadang lari keman-mana 🙈

But we shall not stop to try, agree?

"Simple can be harder than complex.  You have to work hard to get your thinking clean to make it simple.  But it's worth it in the end, because once you get ther, you can move mountains".  Steve Jobs

Itulah tips esensial saya dalam membuat foto minimalis.  Kalau teman-teman punya saran lainnya, silahkan diposting di kolom koment.  .

Kalau masih ingin lihat gambar saya lainya, bisa lihat di akun Instagram @ratna17amalia #promolagi 😚


Single but not alone

Less is more

Monochromatic or color

Kiri: latihan pakai permen warna-warni
Kanan: book collection for personal usage such blog post purpose


View this post on Instagram



A post shared by Ratna Amalia (@ratna17amalia) on Jul 16, 2018 at 6:57pm PDT
Tekstur dan bayangan

Senja dan nelayan Belitung

Share
Tweet
Pin
Share
8 comments
Older Posts

Follow Me

Email Facebook LinkedIn Pinterest

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  October 2025 (1)
      • Personal Branding Konsultan Project Management: 3 ...
    • ►  August 2025 (1)
    • ►  July 2025 (1)
    • ►  June 2025 (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  June 2022 (2)
  • ►  2021 (12)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (2)
    • ►  May 2021 (1)
    • ►  February 2021 (1)
    • ►  January 2021 (4)
  • ►  2020 (7)
    • ►  December 2020 (2)
    • ►  October 2020 (1)
    • ►  April 2020 (2)
    • ►  March 2020 (1)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (17)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  October 2019 (2)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  May 2019 (2)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (4)
  • ►  2018 (25)
    • ►  December 2018 (4)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  October 2018 (3)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (5)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (1)
    • ►  February 2018 (2)
    • ►  January 2018 (3)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December 2017 (5)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  October 2017 (1)
    • ►  September 2017 (2)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  June 2017 (1)
    • ►  April 2017 (1)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (1)
  • ►  2016 (37)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  July 2016 (3)
    • ►  June 2016 (4)
    • ►  May 2016 (2)
    • ►  April 2016 (9)
    • ►  March 2016 (8)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (6)
  • ►  2015 (75)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  September 2015 (6)
    • ►  August 2015 (5)
    • ►  July 2015 (19)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  April 2015 (7)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (9)
    • ►  January 2015 (5)
  • ►  2014 (39)
    • ►  December 2014 (2)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  October 2014 (2)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  August 2014 (5)
    • ►  July 2014 (2)
    • ►  June 2014 (3)
    • ►  May 2014 (4)
    • ►  April 2014 (2)
    • ►  March 2014 (2)
    • ►  February 2014 (5)
    • ►  January 2014 (7)
  • ►  2013 (36)
    • ►  December 2013 (5)
    • ►  November 2013 (5)
    • ►  October 2013 (2)
    • ►  September 2013 (5)
    • ►  August 2013 (1)
    • ►  June 2013 (1)
    • ►  May 2013 (4)
    • ►  April 2013 (6)
    • ►  March 2013 (3)
    • ►  February 2013 (2)
    • ►  January 2013 (2)
  • ►  2012 (28)
    • ►  December 2012 (2)
    • ►  November 2012 (3)
    • ►  October 2012 (3)
    • ►  September 2012 (4)
    • ►  August 2012 (4)
    • ►  July 2012 (5)
    • ►  May 2012 (1)
    • ►  April 2012 (1)
    • ►  March 2012 (1)
    • ►  February 2012 (1)
    • ►  January 2012 (3)
  • ►  2011 (28)
    • ►  December 2011 (2)
    • ►  November 2011 (3)
    • ►  October 2011 (1)
    • ►  September 2011 (1)
    • ►  August 2011 (4)
    • ►  July 2011 (2)
    • ►  June 2011 (4)
    • ►  May 2011 (1)
    • ►  April 2011 (4)
    • ►  March 2011 (3)
    • ►  January 2011 (3)
  • ►  2010 (2)
    • ►  December 2010 (1)
    • ►  June 2010 (1)

Created with by BeautyTemplates