My Dairy Note's

Life Style & Family Blog Indonesia

    • Home
    • About
    • Disclosure
    • Lifestyle
      • Books & Movie
      • Travel
      • Culinary
      • Fotografi
    • Midlife Series
      • Family
      • Wellness
      • Blogging
      • Techno
    • Career & Project Management
      • Project Management



Assalamu alaikum semwaah!  

Setelah pemalesan berkepanjangan di tahun 2021, saya nulis lagi nih walau dengan sambil menata kemageran hehehe.

Mumpung masih bulan Syawal 1442, ijinkan saya menghaturkan Selamat Hari Raya Idul Fitri.  Mohon maaf jika kemaren pernah mampir tapi belum ada postingan baru.  Biarlah ge-er berasa blogger ngetop 😂

Tidak terasa ya, ini kali kedua kita merayakan Lebaran dalam suasana Covid-19.  But hey, life goes on.  Semoga tahun depan kita masih dipertemukan dengan Ramadhan dan melewatkan suasana Hari Raya di situasi yang lebih baik dari sekarang dan pandemik pun berlalu, aamiin!

Setelah dua tahun dalam pandemik, adakah hobi yang sudah jarang dilakukan namun sekarang digiatkan kembali?  Kalau saya; ada!

Selama masa pandemi ini, usai bekerja daring dan kesibukan kegiatan domestik; seringnya yang saya lakukan adalah membaca buku, nonton streaming dan sesekali workout; seringnya gowes bareng suami.  Beragam bacaan disambangi, mulai dari buku hingga mencoba ebook.  Segala aneka drakor ditonton.  Bosan drakor, merambah ke film India.  Diantaranya, sesekali saya selingi kegiatan motret dengan inspirasi objek yang ditemukan sehari-hari di rumah agar kepekaannya tidak hilang dan self-learned editing.


Tapi ya begitulah manusia.  Over killed melakukan semuanya, lama-kelaman jadi bosan.  Akhirnya  saya melirik tumpukan pensil warna, spidol beserta cat air yang selama ini terbengkalai.  Ada 2 buku adult coloring series yang menanti untuk "dikerjain" 😄

Setelah sekian lama, saya menemukan kembali keasikan mewarnai.  Disertai alunan soft music, I could drawn myself with color for hours!  Asiknya maksimal.  Saking semangatnya, dalam semalam saya pernah menyelesaikan dua halaman!


Membantu Otak untuk Fokus (Mindfullness)

Perpaduan musik dengan warna, membuat saya relaks namun tetap konsentrasi di saat yang bersamaan.  Berusaha agar tarikan pensil warna tidak melampui garis sementara bidang warna tidak luas merupakan tantangan tersendiri.  Walaupun harus konsentrasi, mewarnai tanpa keluar garis tidak akan membuat stres.  Bahkan clinical counselor Leslie Marshall mengatakan bahwa aktivitas tersebut dapat membuka lobus frontal otak; yaitu pusat pengaturan dan pemecahan masalah pada otak, dan membut pikiran lebih fokus.  Whoaaa...


Relaksasi 

Setelah seharian memperhatikan angka yang bikin otak ngebul, playful dengan warna yang tidak melibatkan angka ampuh "mengistirahatkan" kepala ini.  And I feel good afterward.


Membebaskan Imajinasi

Selain melatih kepekaaan akan warna, dengan mewarnai saya merasa lebih kreatif.  Bereksperimen dengan warna mulai dari padu-padan warna hingga tabrak warna.  Tidak selamanya daun itu hijau, bunga berwarna merah atau pink, gunung berwarna hijau atau laut berwarna biru.  



Dalam mewarnai bidang, saya juga juga menggunakan beragam alat pewarna.  Untuk mendapatkan efek warna yang lembut, biasanya saya menggunakan pensil warna.  Dan memakai spidol agar warnanya lebih tegas.  Untuk bidang yang lebih luas, saya coba pakai cat air.  Heboh, ya?  Saking hebohnya, meja kerja pun jadi berantakan! 😆



Colouring Skill

Sama halnya dengan pengalaman saya dalam fotografi, aktivitas colouring ini saya jadi terpacu untuk cari tahu teknik mewarnai yang baik.  Cara menggoreskan pensil guna mendapatkan hasil arsiran yang sama ternyata itu "sesuatu banget" (meminjam istilah anak sekarang).  Karena tebal-tipisnya warna  memberikan hasil yang berbeda.  

Atau bagaiman memberikan arsiran bayangan guna mendapakan efek dimensi.  Kalau yang ini, saya mengingat kembali faktor pencahayaan dalam fotografi.  Ternyata masih ada korelasinya ya?

Teknis lainnya adalah pemilihan alat pewarna.  Memilih alat tulis warna ini -baik pensil maupun spidol- mengingatkan saya akan memilih lipstik, hahaha.  Kenapa?

Karena warna yang terlihat pada bungkusnya belum tentu hasilnya akan demikian.  Jika belum dicoba, kita ngga tahu apakah hasilnya sebelum dan sesudah diterapkan pada bidang, apakah akan plek-ketiplek mirip.  Karena tak jarang meleset dari bayangan!  Alhasil jadi tahu mana merk yang hasilnya sesuai keinginan dan mana yang tidak.


Dekoratif

Buat saya, mewarnai jadi mirip fotografi; ada hasil yang membuat saya "puas" dan ada pula yang bisa sampai puas banget! Dari beberapa hasil, level of kepuasannya berbeda.  

Gambar dengan kepuasan maksimal seringnya saya pandang-pandang sampai kepikiran untuk dijadikan hiasan dinding.  Well, kenapa nggak, yekan?  

Walaupun mungkin artinya saya harus merobeknya dari buku Colouring Adult tersebut 😂

Jadi itulah alasan kenapa menyukai colouring adult.  Mungkin ada yang menganggapnya "retjeh" tapi colouring adult sudah masuk dalam daftar alternatif kegiatan yang membantu saya melewati periode membosankan semasa pandemi ini.

Salam (tetap) sehat dan jangan lupa prokes!


Share
Tweet
Pin
Share
11 comments


Sebagai pembaca buku, inginnya segera menyelesaikan buku yang sedang dibaca.  Sayang rasanya jika mesti jeda ditengah cerita yang seru.  Ibarat sedang nonton drama Korea dan ketegangan sedang memuncak, eh harus ditunda ke episode berikutnya.  Bete.

Kalau sudah demikian, pengennya itu buku dibawa kemana pun, walau kadang "merepotkan".  Mengingat buku mudah lecek, basah jika kena air bahkan rusak karena usang.  

Walau demikian hingga kini saya tetap tidak beralih ke ebook.  

Katakanlah saya old fashioned tapi saya punya alasan sendiri mengapa hingga kini tidak menggunakan buku elektronik.  

Inilah alasan saya tidak beralih ke ebook.


The aromatic paper

Selalu hadir kesenangan tersendiri manakala nostril-nostril mencium aroma spesifik yang menguar dari buku baru.  Kemudian jemari membukanya dengan hati-hati seolah kertas adalah benda rentan mudah pecah.  Membalikkan halaman demi halaman sama mengasikkannya dengan mencari tahu isi cerita. 

Belum lagi bunyi khas yang tercipta manakala jemari membalikkan setiap helai kertas.  Suara yang mungkin lemah terdengar dalam keramaian, namun jadi semacam nada tersendiri di lengangnya sepi.

Karena buku cetak memiliki halaman yang bagus dan lembut untuk disentuh. Maka kertas membuat membaca jadi kegiatan yang menyenangkan secara fisik.   Pengalaman fisik saat membaca buku akan tersimpan dalam otak manusia sehingga saat kita membuka kembali dan menyentuhnya, memori itu akan terpicu untuk mengingat kembali.


Buku itu menyenangkan

Setelah menatap layar komputer di tempat kerja sepanjang hari, bagaimana otak dan mata bisa rileks ketika dirumah harus menatap layar lain untuk membaca ebook?

Karena setiap saat memandangi layar gawai dapat membuat mata dan otak menjadi cepat lelah. Peneliti dan yang dilakukan di Swedia pada tahun 2005 menunjukkan bahwa membaca di layar memakan habis energi jauh lebih banyak dibanding membaca dari kertas. Sinar LED yang muncul juga dapat menganggu pola tidur dan membuat tidur menjadi tidak berkualitas.

Bayangkan betapa santainya meringkuk di rumah tanpa harus menatap layar.  Priceless!




The book is mine

Yang ini posesif banget, hahaha.

Tapi betul 'kan, kita bisa memiliki buku selama yang kita mau hingga mewariskannya pada anak atau memberikannya pada seseorang yang kita anggap akan menghargai buku dengan baik.

Proses "menyentuh" buku ternyata juga melibatkan seluruh panca indera.  Mulai dari mencium aroma buku baru, membalikkan halaman, memegangnya saat kita meraih cangkir kopi menghasilkan sejumlah rasa sehingga kita merasa kaya karena memilikinya karena semua indra terlibat. 

Di situlah moment of truth buku adalah produk spesial dan memberikan arti lebih bagi pemiliknya.  

Masih mengutip hasil studi yang dilakukan oleh peneliti Swedia tahun 2005; buku digital dan fisik adalah kedua produk yang berbeda. E-book lebih seperti pengalaman layanan (User Experience). "Secara keseluruhan, ebook lebih menawarkan pengalaman yang lebih efisien dan fungsional.”




Meskipun aslinya saya bukan termasuk yang suka "menodai" buku [baca mencoret buku, melipat ujung halaman sepagai penanda bacaan apalagi melipat buku], untuk buku tertentu saya -biasanya buku untuk non fiksi- akan memberikan marking pada bagian yang saya anggap penting.  Biasanya saya menggunakan stabilo markert atau menggarisbawahi kalimat tertentu.

Yang mana agak sulit dilakukan dengan ebook.  Kalau toh bisa, tidak semua ebook menyediakan fitur ini.

Jadi ada hubungan antara gerak fisik dan kognisi.   Memberi tanda atau mencoret buku.  sepertinya membantu kita untuk mengerti dan mengingat suatu bacaan dengan lebih baik.


Books is artsy and photogenic

Dari sisi kepraktiskan, penggunaan e-book ini memang menjawab kebutuhan tersebut.  Ebook tidak makan tempat karena cukup berada di satu gawai selama kapasitasnya memadai.  Dibanding buku yang membutuhkan tempat khusus.    

Di rumahpun, dengan jumlah buku yang kami [saya & anak-suami] miliki satu rak saja rasanya masih kurang.  Bicara soal rak dan buku, tak jarang kombinasi keduanya menghasilkan karya yang unik dan mempunyai nilai estetika tersendiri bagi pelaku desain interior.

There's nothing can change the beauties of bookshelves with plenty of hardcopy sitting on rack.  Eventually, baik bentuk-ukurannya, susunannya maupun warna-warni sampulnya bisa menjadi elemen ruang yang tak biasa, lho. 

Jejeran beragam buku dalam rak sudah sukses jadi mood booster buat saya.  Pernah merasakan excitement yang berbeda bergitu berada dalam toko buku?  Saya sering!  Dan hanya bookwarm sejati yang memahaminya heheheh.

Cukup hanya hanya strolling around dalam toko buku, tanpa membeli satupun, it is already mood booster for me!

I do not own this picture

Yet, I think e-books do not substitute paper books, in fact they complement each other.

Actually I read both tough.  Ada beberapa buku yang ingin saya baca, sulit mendapatkan versi cetaknya, somehow saya mendapatkan versi digitalnya.  Biasanya ini buku terbitan lama yang sudah tidak beredar di toko buku.  Jadi saya juga punya sejumlah bacaan dalam ebook.  Walau demikian rasanya tetap tidak sama.  The sense still different.  

Begitulah kalau sudah kadung jatuh cinta pada buku.  Sulit rasanya beralih ke ebook!

Namun jika reader adalah pencinta ebook, so be it.  Biarkan kita dengan pilihan masing-masing, ya!  😁

Selamat membaca!

Share
Tweet
Pin
Share
2 comments


Endorfin -gabungan dari endogenous dan morfin- zat yang merupakan unsur senyawa kimia neuropeptida opioid lokal dan hormon peptida, diproduksi oleh sel-sel tubuh serta sistem saraf manusia.  Bermanfaat membuat seseorang merasa senang, mengendalikan perasaan stres, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Dan salah satu cara saya menghasilkan endorfin adalah dengan menonton film secara daring.  Terima kasih kepada internet dan platform nonton online sehingga saya bisa melihat segala rupa tontonan.  Ngga kebayang kalau ngga ada kalian!

Nah, apa yang terbersit saat dengar film India?
Dalam benak saya selain Shah Rukh Khan dan Kajool [cuma mereka yang saya ingat namanya, itupun karena sebelumnya melihat film Kuch Kuch Hotai 😂] adalah tarian dan nyanyian.

Sementara film Hollywood selalu berakhir bahagia, jagoan pasti menang.  Dan Hallyu atau serial drama Korea penuh dengan orang ganteng dan cantik dengan konsep cerita Cinderella Symptom .  Maka film Bollywood penuh dengan nyanyian.  Menggambarkan hati senang dengan tarian, sedihpun menyanyi sambil menari-nari melingkari tiang pilar.

Etapi ternyata ada lho film Bollywood yang zonder tari dan nyanyian.  Ini daftarnya.


Tribhanga - Tedhi Medhi Crazy (2021)


Saya tergerak menonton film tentang keluarga ini setelah melihat trailernya di Netflix.  

Judul dari film ini diambil dari pose tarian klasik India yang menggambarkan ketidaksempurnaan namun tetap cantik.  Sebagai benang merah plot cerita, tentang cinta dan konflik tiga wanita dari tiga generasi.  

Berlatar di Mumbai, film ini mengajak penonton untuk melihat lika-liku kehidupan dan perjuangan menghadapi pilihan hidup yang sama sekali tidak konvesional menurut kacamata adab sosial India.  

Rangkaian kisah tiga perempuan dari tiga generasi diceritakan dengan gaya melintasi garis waktu untuk melihat lebih jauh kehidupan ketiganya.   Pertikaian dan kemarahan masa kini sebagai hasil dari trauma menyakitkan dan air mata masa lalu digambarkan maju-mundur silih berganti tanpa membingungkan yang melihatnya.

Setelah menontonnya, saya seolah diingatkan kembali arti pentingnya keluarga dalam kehidupan.
 


The Sky Is Pink (2019)

Film tentang anggota keluarga yang sakit selalu digambarkan menyedihkan.  Berurai air mata sepanjang cerita dan biasanya lagi digambarkan dari perspektif yang sehat terhadap yang sakit.  Sebut saja film My Sister's Keeper atau Miracles from Heaven.  Catet ya, dua judul film ini made in Hollywood 😉

Dalam The Sky Is Pink semua kebiasaan itu dipatahkan.  Kalau boleh dibilang; diputarbalikkan!  Dari judulnya aja udah kebaca, this one is unusual!

Narasi diceritakan dari perspektif kacamata si sakit (malah udah meninggal!) dengan gaya humor, kalau gak mau disebut witty.  


The Sky Is Pink dibuat berdasarkan kisah nyata Aisha Chaudhary, seorang motivator dan penulis India. Dia adalah penulis buku My Little Epiphanies, diterbitkan satu hari sebelum kematiannya. 

Aisah lahir sebagai pengidap defisiensi imun gabungan yang parah (SCID, Severe Combined Immuno Deficiency).  Di usia remajanya, Aisah menderita fibrosis paru sebagai efek pengobatan dari SCID.  Semenjak itu, Aisha sering membagikan pengalamannya dengan menjadi pembicara.

Dalam waktu 2 jam 14 menit, kita akan mendengar Aisha bercerita tentang bagaimana orangtuanya (Aditi dan Niren) menjalani pernikahan saat menghadapi penyakit putri mereka.

By the time I finishing watched the movie on Netflix,  I was overwhelmed by the thought of young Aisha about death and happiness.  Ngga salah kalau dia dianggap sebagai pembicara inspirasi karena memang demikian adanya.





Kapoor & Sons (2016)


Masih mengangkat konflik keluarga, film berdurasi 137 menit ini mengisahkan tentang kesalahpahaman antara kakak-adik, pilihan hidup yang kontroversial, bahwa orang tua juga mempunyai masalah dan lagi-lagi mengangkat communication gap antara orang tua dan anak.

After all, family is family.  You can not choose your family, it is a gift from God.

Terakhir saya cek, film yang dirilis tahun 2016 ini masih bisa dinikmati di channel Netflik.


The Lunch Box (2013)

Ila Sehgal adalah seorang istri muda yang mencari perhatian suaminya Rajeev Sehgal dan mencari cara untuk mengembalikan romantisme ke dalam pernikahannya, salah satunya adalah memasak makan siang yang lezat untuknya. Dia mengirim kotak makan siang melalui "dabbawalas" Mumbai.

Karena campur aduk, kotak bekal yang disiapkan Ila untuk suaminya dikirimkan berikut surat cinta untuk "sang suami" malah diterima oleh Saajan Fernandes, seorang duda yang akan pensiun dari pekerjaannya sebagai akuntan.


Dari sinilah cerita bergulir.

Dalam 105 menit, silih berganti scene memperlihatkan adegan menyiapkan menu, memasak, dan surat yang dibaca oleh orang yang tidak semestinya.  Transformasi emosi Saajan, sang duda kesepian, apik digambarkan dari yang mulanya sarat kesedihan hingga menampilkan raut wajah berseri-seri dijatuhi panah amor Dewi Cinta.  

Irrfan Khan pas banget membawakan peran ini.  Tidak salah sehingga dinominasikan sebagai Film Terbaik Tidak dalam kategori Bahasa Inggris oleh British Academy Award 2015.

Sayangnya kita tidak akan pernah bisa melihat akting ciamiknya lagi. Almarhum yang juga sering terlibat proyek film dari luar India seperti Amerika dan Inggris ini menutup usianya April tahun lalu karena penyakit yang dideritanya.   Life of Pi, Jurassic Park dan The Amazing Spider-Man sebagai Dr. Rajit Ratha adalah beberapa film hasil kolaborasinya dengan para sineas asing. 

Oiya, lalu bagaimana penyelesaian kesalahpahaman ini?  

Cari tahu sendiri dengan menontonya yaaa.  Tanpa menontonnya, Readers tak akan memahami kerumitan "dabbawalas".   Mekanisme yang terkenal dan rumit di Mumbai.  Pada dasarnya mengambil dan mengantarkan makan siang dari restoran atau rumah kepada orang-orang di tempat kerja. 😉



Chak De! India (2006)

Chak De! India atau Let's Go! India merupakan film bergenre olahraga.  Terinspirasi kemenangan tim hoki nasional wanita India pada ajang Commonwealth Games 2002, film ini menceritakan kisah perjuangan perempuan India yang kental dalam stigma feminisme dan seksisme, warisan partisi India, fanatisme ras dan agama, belum lagi prasangka etnis.

Walau berdurasi 153 menit, film Bollywood tanpa nyanyi dan joget ini menghibur juga, kok.  Chak De! India dirilis di seluruh dunia pada tanggal 15 Agustus 2007, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan India ke-60, dan menerima tanggapan positif dari para kritikus.

Chak De! India berhasil memenangkan sejumlah penghargaan.   Termasuk diantaranya Penghargaan Film Nasional untuk Film Populer Terbaik yang Menyediakan Hiburan Seutuhnya. Film ini berhasil meraup pendapatan box office sebesar 21,5 juta dolar AS di seluruh dunia selama masa tayangnya.



Dari 6 rekomendasi film Bollywood tanpa nyanyian dan joget di atas, kira-kira film yang mana yang ingin ditonton?


Share
Tweet
Pin
Share
5 comments


Assalamu alaikum Readers!

Semoga selalu dalam keadaan sehat di masa pandemi yang menurut statistik, angkanya masih enggan turun.  Malah cenderung naik 😩

Harapan 2021 untuk beraktivitas normal harus direm dahulu.  Pendam kembali keinginan-keinginan jalan-jalan dan sejenisnya.   

Lalu hiburan apa yang bisa dilakukan agar bosan tidak menggunung apalagi matgay alias mati gaya karena ruang gerak yang terbatas karena PSBB; membaca?  Atau nonton?

Padahal udah bosen banget dengan cerita stereo-type ala Hollywood yang "gitu-gitu" aja.  Ingin mencoba nonton drama Korea, tapi kok kesannya cewek banget.  Ceritanya pasti gak bakal jauh dari standar drama percintaan penuh konflik dengan pemeran yang ganteng dan cantik dan ending yang bisa ketebak.  Jadi ilfill duluan 😜

Etapi ternyata ada lho drama Korea yang ceritanya tanpa romance. Kalau toh ada, it is not much! 
Saya sudah nonton 5 drama Korea ini yang rasanya mirip permen Nano-nano itu; tegang, thriller, plot yang twisted, ending susah ditebak, kudu mikir dan [diantara ke-5 ini] ada juga unsur komedinya.

Nah, serial Korea apa saja itu?  Disimak ya!


1.  Prison Playbook

Ini pilihan pertama versi saya.

Dari semenjak lihat trillernya di channel TVN, saya sudah terpikat, "Kayaknya bagus, nih" batin saya.  Ternyata feeling saya nggak meleset!

Ceritanya berpusat pada pitcher kebanggaan Korea yaitu Kim Je-hyeok secara tak terduga mendarat di balik jeruji besi hanya beberapa hari sebelum debut bisbol liga utamanya.  Semenjak kehidupannya jungkir-balik, dia harus belajar menavigasi dunia barunya dengan aturan baru jika dia ingin bertahan.

Pemaparan cerita yang maju-mundur berikut alur flashback banyak diterapkan membuat kita mau tak mau harus menyimak setiap episode.  Walau fokus pada sang pitcher Kim Je Hyuk (Park Hae Soo), pada dasarnya drama ini menceritakan tentang kehidupan orang-orang yang berada dipenjara. Terutama teman-teman 1 sel Kim Je Hyuk.  Bukan sekedar kehidupan di penjara, tetapi untuk beberapa tokoh yang sering muncul akan diperlihatkan pula bagaimana mereka bisa sampai mendekam di jeruji besi tersebut. 


Banyak pesan moral yang disampaikan.  Siapa juga sih yang mau di penjara?   Bisa dikatakan serial ini menjadi pengingat bahwa kehidupan itu tidak selamanya hitam-putih.  Tidak sedikit orang mesti mendekam dalam prodeo karena prinsip hidup yang dijunjung.  Pentingnya lagi bahwa orang-orang yang berada di balik jeruji besi dipenjara pun masih memiliki hati nurani.

Music score yang keren, casting karakter yang pas dengan penjiwaan dari para pemain thus duet ciamik penulis dan sutradara -yang katanya juga menangani Reply The Series- membuat drama bergenre black comedy dengan plot twist di luar dugaan membuat cerita tentang kehidupan di penjara berdurasi 1,5 jam jadi tontonan yang tak jemu.  

By the way, di mana letak komedinya dan twistnya?

Clue aja biar penasaran; ekspresi datar, karakter lugu cenderung bodoh dari Kim Je Hyuk berbanding terbalik dengan manuver-manuvernya untuk tetap survive selama di penjara.  Oiya, drama ini aja juga scene romansa antara Ji Hyuk dengan sang pacar.  Walau demikian tetep ngga menye-menye, kok, hanya sekilas-sekilas saja. Malah hubungan itu merupakan benang merah keseluruhan cerita dan menjadi alasan utama Ji Hyuk untuk bertahan menjalani 12 bulan masa kurungannnya. 


2. Designated Survivor: 60 Days

Ini nominasi yang kedua.

Serial political thriller yang diadaptasi dari serial Hollywood dengan judul yang sama dan dibintangi oleh Kiefer Sutherland.  Saya malah ngga nonton yang versi Hollywood, karena ya itu tadi, bosan dengan aura Hollywod [*sombong!].  

Lebih memilih memandang wajah ganteng 'oppa' Ji Jin Hee [hehehe] adalah alasan utama saya menonton drama dan berujung tanpa penyesalan.  Selain karena dari episode pertama aura suspense diobral tanpa jeda.  Film ini juga menuntut pemirsah untuk 'sedikit' berpikir dan menyimak dialog.  Yah, namanya juga film tentang politik.  Kalau mau ketawa, nonton lawak aja.  Eehh..



Adapun versi Koreanya, cerita berkisar pada ketegangan hubungan Korea Selatan-Utara, terorisme dan 'kepanikan' situasi politik saat orang nomor 1 negara itu menjadi salah satu korban teror dan memutar-balikkan kehidupan seorang dosen bersahaja Park Moo Jin (Ji Jin Hee) menjadi pemegang tampuk kekuasaan.

Dari sini konflik dimulai, adegan demi adegan yang sukses mengaduk emosi penonton. Mulai dari sedih, tegang, hingga geregetan!  Anyway, bukan drama Korea namanya kalau flat ajah 😁
Setiap episode sengaja dibuat menggantung, menyisakan tanya.  Siapa yang pendukung atau musuh sang Presiden baru, apakah tewasnya Presiden yang sebelumnya karrna faktor kesengajaan?  Apakah peristiwa tersebut didalangi oleh orang dalam?  

Serial ini juga menerapkan twist plot walau tidak sebanyak Prison Playbook.  Castingnya juga pas.  Setiap karakter dibawakan pas oleh masing-masing pemain yang notabene pelakon pilihan papan atas.  Semuanya membuat Designation Survivor buat saya adalah tontonan TV ini serasa film bioskop.  Efek animasi saat Gedung Parlement dibumi hanguskan juga keren, lho, mengingat ini "cuma" serial drama.

Belum ada kejelasan apakah serial ini akan dibuat season kedua dan ketiga seperti original versionnya di Amerika sana.

3. Vagabond

Masih tentang politik, yang ini dibalut dengan melodrama, thriller, suspense, bahkan romance. Karena itu, nonton KDrama ini bisa mengaduk emosi banget. Dari terharu hingga memacu adrenalin.  Multilapis deh!

Bermula dari rasa penasaran akan jatuhnya pesawat terbang yang menewaskan sang keponakan, seorang stuntman (diperankan oleh Lee Seung-Gi) malah terseret dalam konspirasi tingkat tinggi yang melibatkan pejabat pemerintahan.  Dalam prosesnya, Cha Dal Gun yang diperankan oleh Seung-Gi menjadi terlibat dengan agen nasional Go Hae Ri (Suzy Bae).   The connection sparks without exaggerated scenes about it, pemirsaah!  Me like it.




Dan jika Readers penyuka film aksi, Vagabond akan jadi pilihan yang sempurna.  

Banyak adegan action yang kece badai jelas menjadi salah satu pesona KDrama Vagabond.  Mulai dari bertarung dengan tangan kosong, menembak, hingga adegan pengejaran di atas atap gedung. Semuanya dieksekusi dengan baik dan tentu saja menarik.  Melihat Lee Seung-Gi di sini membawakan sendiri adegan aksi tersebut tanpa pemeran pengganti, berasa dia mirip Tom Cruise di Mission Impossible [lebhay!! 😂]

Mirip dengan Designated Survivor, serial ini pun dipadati oleh aktor dan aktris papan atas Negeri Ginseng.  Ditambah dengan sinematografi yang keren a'la suguhan layar lebar, Vagabond merupakan salah satu drama seri "rasa" bioskop versi saya.  Sebagian lokasi shooting bertempat di Maroko dan Portugal pun jadi "bonus" jalan-jalan virtual.  Buatku jadi tambah pengen ke Maroko, hiks! 


4. Innocent Defendants

Bayangkan; terbangun dan mendapati diri berada dalam penjara dengan tanpa bisa mengingat kejadian yang telah menimpanya. Tuduhannya?  Membunuh anak dan istri sendiri.

Upaya menggali lagi ingatan itulah yang menjadi kisah dalam serial bergenre thriller [lagi-lagi thriller, ya?] yang saya tempatkan di posisi ke empat.

Alur cerita?  So pasti, kombinasi kilas balik dan present-time.

Dari awal, aura ketegangan sudah langsung dihembuskan.  Terus berlanjut sampai akhir dengan plot twisted di luar dugaan. 

Ditambah dengan adanya sosok kembar yang dimainkan secara ketjeh badai oleh Uhm Ki-joon yang pas banget memerankan karakter "creepy".  Sense psikopatnya dapet sampe kayak beneran!  hiyy.

Sepadan dengan akting Seong Ji/Ji Sun, tokoh Jaksa yang sempet dianggap hilang ingatan karena kasus yang dialaminya.  Walau begitu, tidak 18 episode "serius" semua kok.  Suasana tegang dalam serial ini agak dicairkan dengan selingan kehidupan penghuni penjara yang kocak.  Walau tak sekocak Prison Playbook.

Saya sih kagum dengan kemampuan sang penulis cerita, "Kok kepikiran ya, buat cerita keren begini?"  Drama tapi tidak menye-menye hehehe.


5. Nine: 9 Times Time Travel

Terakhir.

Bukan thriller maupun action.  Melainkan tentang time traveller.  So pasti fiksi abis, tepatnya ini adalah serial science fiction.   Termasuk KDrama yang "jadul", dirilis 2013 dan sayangnya under-rated.



Park Sun Woo (Lee Jin Wook) adalah pembawa berita yang menemukan sembilan dupa ajaib dalam perjalanan ke Nepal.  

Setiap dupa memberinya sembilan kesempatan untuk melakukan perjalanan ke masa lalu dan dia pergunakan untuk membuka misteri kematian saudaranya.  

Ketegangan dalam drama ini terbangun karena aturan unik perjalanan waktu ke masa lalu dengan menggunakan media dupa; sebagai upaya agar Park Sun Woo dapat kembali lagi ke masa kini.  



Itulah serial Drama Korea yang zonder romance versi saya.  Ada yang sudah Readers tonton juga?


Share
Tweet
Pin
Share
12 comments
alasan-nonton-drama-korea

Blog post ini ditulis di masa #socialdistance #covid19 #staysafe #dirumahaja
---

Hi again Mentemen!

Saya datang lagi dengan tulisan yang masih bahas drama Korea.  Bukan, ini bukan postingan tentang review ceritanya.  Yakin di luar sana sudah banyak yang membahas tentang resensi drama Korea.  Secara saya juga nontonnya hanya selewatan saja 😎

Walau hanya selewetan, harus mengakui jika booming drama Korea membuat saya jadi familiar dengan hal-hal berbau Korea.  Mulai dari artis-artis "oppa" ganteng semacam Hyun Bin dan "eonni" secantik Sen Yo-Jin yang berhasil membuat baper sedunia lewat serial Crush Landing On You yang usai di awal tahun 2020 ini.

Setelah diamati, drama Korea yang makin hari digandrungi banyak orang seantero dunia ternyata bisa jadi ladang ide juga, lho.

Memangnya ide apa saja yang bisa diambil dari serial drama Korea?

#1. Inspirasi [Unlimited] Cerita

Walau sebutannya drama, tidak semua serial Korea ada percintaannya.  Ada banyak genre yang bisa dipilih; medical drama, romcom atau romantic comedy, history alias sejarah, fantasi, action, family hingga drama tentang masak pun ada!  Oiya, drama tentang kuliner saya tulis terpisah di sini.

Baca juga 7 Serial Layak Tonton Bagi Pehobi Masak dan Pencinta Drama Korea

Plot cerita juga ternyata beragam; mulai dari twisted sampai ending is the beginning.  Maksudnya "ending is the beginning" adalah asal mula cerita itu justru terkuaknya di mulai di episode terakhir.  Seru 'kan?

Baca juga Twisted Story Movie 

Bagi yang berkeinginan atau senang menulis cerita, drama Korea ibarat perpustakaan besar yang tidak ada ujungnya.  Begitu banyak cerita memiliki keunikan masing-masing. 

Agree?

Termasuk saya menuliskan blog post ini, hasil dari menonton beberapa drama Korea 😎


#2. Inspirasi Teknologi 

Kepiawaian Korea meracik teknologi tak perlu dipertanyakan lagi.  Produk-produk made in Korea tidak hanya berjaya di kawasan Asia bahkan sudah mendunia.  Dan dengan apiknya produk-produk tersebut disusupkan dalam drama Korea.

Sebut saja Samsung Z Flips series. Android dapat dilipat dua ini (namanya juga flip hehehe) dan baru dilirilis belum lama ini sudah "berkeliaran" di serial Itaewon Class yang belum lama usai episodenya.  Konon gadget yang memiliki processor 8 GB RAM tersebut dihargai sekitar 20-an juta Rupiah!  😲

Apakah teknologinya hanya sekedar telepon genggam?

Well, yang mengikuti dengan setia drama Korea Crush Landing On You pasti ingat adegan kocak saat salah satu Ibu-ibu Julid tetangga Kapten Ri ketahuan memiliki alat penanak nasi listirk yang secara otomatis akan menginformasikn "nasi sudah masak".  Mengingat mereka tinggal di negara komunis dengan aturan kepemilikan barang pribadi juga diatur Negara, sudah pasti kepemilikan benda-benda semaca itu adalah ilegal!  Apalagi jika dimiliki oleh rakyat biasa.

Aplikasi teknologi Korea semisal robot vacuum cleaner yang berbentuk mirip piring terbang UFO serta sistem penerima panggilan telepon genggam yang terkoneksi ke audio mobil termasuk yang sering diperlihatkan dalam scene drama Korea.

Kira-kira, ada teknologi baru apa lagi ya nanti?


#3. Inspirasi Design Interior

Berniat mendekor ulang ruangan dan mentok ide walaupun sudah melihat majalah desain?  

Ngga ada salahnya sih nonton drama Korea, selain refreshing, siapa tahu berhasil memancing kreativitas karena belakangan style interior Negeri Kimchi kini digemari banyak orang.

Kamar tidur

Selain menyukai jalan ceritanya, serial drama Korea The Time When We're Not In Love juga menarik dalam menyajikan dekorasi tata ruang.  Drama ini banyak mengambil indoor ruangan terutama kamar tidur kedua tokoh sentral.  Di postingan ini saya contohkan 2 desain yang berbeda untuk ruangan yang sama milik sang tokoh Choi Won [Lee Jin-wook].

Gaya maskulin kamar sang jomblo Choi Won

alasan-nonton-drama-korea
Ruangan yang sama dengan interior yang berbeda setelah kedua tokoh sentral Choi Won menikah dengan Oh Ha-na
Disclaimer: I do not own this picture.  This belongs to SBS

Atau tema ruangan yang girly di What's Wrong With Secretary Kim?
alasan-nonton-drama-korea
Ide dekorasi dari drama What's Wrong With Secretary Kim
Disclaimer: I do not own this picture.  This belongs to TVN

Ruang baca

Sebagai penimbun penyuka buku, saya mupeng abis lihat ruang baca di drama Korea Chicago Typewriter.  Sukses bikin iri poll!
alasan-nonton-drama-korea
This picture belongs to serial Chicago Typewriter 
Nah, itu hasil sneak peak dari beberapa drama Korea yang pernah saya tonton.  Tentunya masih banyak jenis dekorasi lainnya, yess?  Bisa cari di Pinterest atau googling menggunakan keyword korean drama room decor atau korean drama room interior decor.



#4. Inspirasi Kuliner

Apa pemicu jalan-jalan?  Selain keinginan mendatangi tempat baru, icip-icip kuliner termasuk alasan saya melakukan traveling.

alasan-nonton-drama-korea


Dan wisata kuliner yang otentik so pasti dari tempatnya langsung donk!  Pengalaman merasakan kuliner Korea sudah saya rekam di sini.  Dibaca yaaaaa! 😄

Baca juga My Korean Food Adventure

#5. Inspirasi Fashion & Make-up

Kalau hal ini rasanya tidak perlu dibahas panjang lebar deh heheh.  Mulai dari make-up a'la artis Korea yang tetap tampil memesona dengan nude style hingga produk perawatan kulit.  Bagi saya yang kurang suka memoles muka, harus diakui Korean make-up style memang jadi referensi.

Ngga semua juga saya tiru.  Hanya beberapa terutama produk skin care-nya.  Siapa sih yang tidak ingin memiliki kulit bersih glowing nan flawless?



Walau demikian tetap harus yang cocok dengan jenis kulit yang kita miliki ya; apakah cocok dengan skin care water base seperti Laneige atau perlu produk perawatan kulit mengandung ginseng macam Sulwhasoo yang harganya bikin syok #kekepindompet.



#6. Inspirasi Fotografi

Sebagai pehobi fotografi, tidak sedikit ide visual dari sejumlah drama yang pernah saya tonton. Ada banyak hal sehingga suatu hasil visual tampil menarik; mulai dari permainan warna, tekstur, pengulangan pola, perspektif dan komposisi.  Atau kombinasi semuanya.

Walaupun "hanya" drama, semua unsur tersebut banyak saya temukan di berbagai scene drama Korea.

Contohnya dalam salah satu scene drama Secret yang menampilkan keindahan musim gugur Negeri Kimchi.  Kepincut pemandangan yang disuguhkan musim gugur dimana dedaunan yang lazimnya kita lihat di sini berwarna hijau berubah jadi berwarna-warni, alhasil jadi punya bucket list untuk mengunjungi Korea di musim gugur untuk memotretnya langsung #Aamiin.
Secret Korean Drama

Secret Korean Drama

Permainan komposisi yang pas pun menghasilkan gambar yang ciamik.  Ambil contoh scene tepi pantai dari drama yang sedang airing When The Weather is Fine.  Angle gambar persis sebagaimana teori fotografi yang saya pelajari.

Centre POI & Negative Space

Aplikasi Rule of 3rd, Negative Space dengan angle Eye Level

Frog Eye Angle, Negative Space & Rule of 3rd

Ternyata tidak hanya bagi pehobi foto saja yang bisa menemukan sumber ide dari tontonan drama Korea.  Buat Mentemen yang hobi dipotret dapat mendapatkan banyak referensi beragam pose; mulai dari gaya romantis hingga kocak semua ada.  Saat difoto berkelompok maupun berdua saja dengan si dia.

Belakangan halaman Pinterest dipenuhi oleh trend baru #Koreanweddingphotography (silahkan browsing).  Saya sih gak bakalan heran kalau new look itu bakalan menggeser konsep pre-wed western style.  Jika diperhatikan seksama, ada persamaan dari foto-foto dengan Korean look; yaitu simpel, sederhana namun memanjakan mata yang melihatnya.  Setuju?

alasan-nonton-drama-korea
All images from Pinterest.  I do not own them

#7. Dating Inspiration

Bingung cari ide kencan dengan pasangan atau bosan karena hanya menghabiskan waktu dari kafe ke kafe berdua si dia?

Setelah disimak seksama, drama Korea ternyata menyajikan beragam aktivitas yang bisa dilakukan berpasangan, lho.  Mulai dari yang perlu biaya besar sampai yang tidak bikin jebol dompet.

Menikmati alam seperti piknik dan tracking termasuk adegan yang sering nongol di drama Korea, yes?  Khusus bagi yang sudah halal menikah, boleh tambahkan camping ke dalam daftar quality time dengan pasangan 😉

Buat yang ingin seru-seruan tapi irit bisa menghabiskan waktu di tempat semacam Time Z*ne;  Kan banyak tuh games yang disediakan, mulai dari war game, adu mobil balap, flying hockey (I love this one), masukkan bola basket kecil ke keranjang sampai doll machine.  Itu lho, ambil boneka dari kotak dengan capit mesin.  Benerannya ngga gampang bu-ibuuk!  Yang barusan disebutin itu adalah contekan dari drama Suspicious Partner dan Cheese in Trap.

Atau pengen coba mancing?  Bolehlah tiru kegiatan ini seperti yang dilakukan pasangan Song-Song yang sempet heits di Descendant of The Sun.  Bersepeda pun bisa jadi alteranatif yang menyenangkan ternyata.  Karena Paksu hobi gowes, sesekali saya pun ikutan menemani ^_^

Scene from Chocolate

Semoga pandemic Covid-19 ini segera berlalu ya.  Jadi bisa dieksekusi ide-ide meningkatkan quality time dengan si dia, ehm.


Nah, itulah 7 inspirasi versi saya dari drama Korea.  Bagaimana menurut Mentemen, ada ide apa yang timbul usai menonton drakor?





Share
Tweet
Pin
Share
12 comments

Blog post ini ditulis di masa #socialdistance #covid19
---

drama-korea-tentang-chef-masak


Salah satu kegiatan mengisi waktu selama #selfquarantine akibat pandemik #corona selain memasak adalah nonton.  Tontonan yang simpel gak pake mikir apalagi jika bukan drama Korea, setuju?  Sebetulnya memasak bukan hobi melainkan lebih pada kewajiban sebagai ibu *kencengin iket kepala*.   Di tengah kondisi kesehatan yang memprihatinkan ini, lebih bijak rasanya jika memperbanyak masakan home made dibandingkan beli jadi dari luar.  Selain pemilihan bahan yang selektif, faktor higienisnya juga lebih terpercaya.  Bukan begitu bu-ibuk? 😉

Jadi buat Mentemen punya hobi memasak dan pencinta drakor; ngga ada salahnya nonton drama Korea tentang chef berikut ini.  Selain untuk hiburan pelepas penat setelah memasak untuk anggota keluarga, siapa tahu jadi ladang ide menyajikan masakan kuliner Korea di rumah, yes?

1. Coffee Prince

Kita mulai dengan serial jadul yang dirilis tahun 2007.  Konon drama ini merupakan starting point Gong Yoo masuk dalam jajaran "oppa" dengan bayaran tertinggi.  Dikisahkan sebagai anak tunggal dari keluarga yang manja (klise banget sih 😁) hingga akhirnya berubah sikap setelah berkawan akrab dengan salah satu karyawannya yang cantik namun tomboy dan bercita-cita menjadi barista profesional dibawakan pas oleh Yoon Eun-hye. 

Coffee Prince - AsianWiki
https://asianwiki.com/images/f/f8/Coffeeprince.jpg
Di luar plot ceritanya yang standar plus happy ending, drama Korea ini menunjukkan proses kreatifitas berikut tantangan dalam membangun usaha warung kopi yang belakangan banyak bermunculan.

Bukan drama Korea namanya jika tak ada romansa.  Selain memotret dinamika usaha warung kopi yang sepenuhnya dikelola oleh anak muda, Coffee Prince juga dibumbui cerita cinta tokoh-tokoh sentralnya yang menurut saya cukup seru.  Dimulai dari prasangka akan percintaan sesama jenis, cinta plationis hingga friend zone!  Selain suka melihat penampilan Eun-hye yang masih polos dan menurut saya bermain tanpa beban,  saya juga senang lihat karakter second lead Lee Sun-kyun yang dewasa.

2. Pasta

https://images.app.goo.gl/EkCYGrSRMFz7cW7z5
Ini drama Korea kedua dari Lee Sun-kyun yang pernah saya tonton dan berhubungan dengan dunia kuliner.  Alih-alih second lead sebagaimana serial Coffee Prince, di sini Sunk-kyun yang dijuluki The Swee Voice "oppa" menjadi lead actor sebagai Sous Chef yang galak banget sama anak dapurnya.   Otomatis sang boss killer tidak disenangi oleh anak buahnya padahal ada seorang asisten dapur [Gong Hyo-jin] yang bercita-cita menjadi koki pasta profesional dan ingin belajar pada si boss yang notabene chef profesional lulusan Italia.

Serial bergenre romcom [romantic comedy] Pasta tidak melulu menyuguhkan romansa sesama chef di belakang dapur restoran Italia berlokasi di tengah sibuknya Kota Seoul, namun sarat tips memasak khususnya mengolah pasta.  Jika MenTemen penyuka pasta, di sini bisa dapatkan aneka tips seperti bagaimana merebus pasta hingga mendapatkan pasta dengan kriteria al dente, membuat Aglio Olio yang lezatos hingga penyajian seafood pasta.

Salut dengan penulis cerita yang nampaknya melakukan banyak riset tentang pasta!

3. Temperature of Love

Pengen lihat koki berwajah imut mempersiapkan masakan Perancis mengencani seorang penulis naskah drama?  Jawabannya ada di serial ini.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/f/f5/Temperature_of_Love-poster.jpg
Tidak hanya memperlihatkan adegan memasak, cara bagaimana seorang chef mengasah aneka pisaunya saja sesuai ilmu koki pun masuk adegan dalam drama.

Buat saya yang tidak betah nonton serial dengan episode dalam jumlah banyak, terus-terang nyerah juga lihat drama sebanyak 40 episode.   Alhasil saya butuh waktu lama menuntaskannya walaupun durasi setiap episode hanya 30 menit!

4. Oh My Ghostess

Walaupun mengandung kata "hantu",  drama Korea ini malah banyak menampilkan adegan yang menceritakan kesibukan di dapur dan proses memasak.

Mengusung genre romcom, Oh My Ghostess bersetting di sebuah restoran Italia mengisahkan tentang asisten chef bernama Na Bong Sun (Park Bo Young) yang jatuh cinta pada atasannya seorang chef tampan Kang Sun Woo (Jo Jung Suk) namun arogan.

Oh My Ghostess" Posters Are Out | Korean drama, Popular korean ...
https://id.pinterest.com/pin/338473728222035569/

Kemampuan unik Bong Sun yang mampu melihat hantu dan dirasuki oleh arwah yang ingin kembali ke alam keabadian menjadi sumber kekocakan karakter Bong Sun yang jatuh cinta pada atasannya, sang koki sekaligus pemilik restoran.

Oh My Ghostess tambah kocak lagi dengah kehadiran pemain Kang Ki-youn yang wajahnya saja sudah kocak.  Dia dikenal sebagai aktor pendukung di banyak drama Korea populer, sebut saja My Secret Terius bareng Su Ji-sub yang belum lama melepas masa lajangnya.

Jika tujuannya menonton ini untuk mendapatkan scene memasak secara detil, kalau menurut penilaian saya porsi adegan tersebut memang tidak sebanyak Temperature of Love atau Pasta.

It's more to see how hot male being busy in the kitchen, hahaha!
             

5. Chocolate

Jika ternyata selama ini saya beranggapan coklat adalah salah satu jenis makanan yang menimbulkan rasa bahagia karena kandungan theobromine-nya, lain halnya bagi karakter Lee-Kang (Yoon Kye-sang) seorang neurologist berpenampilan "dingin".

Coklat juga kenangan yang traumatis untuk seorang koki baik hati bernama Cha-Young (Ha Ji-won).

Dua manusia dengan luka jiwanya itu harus berdamai dahulu dengan masa lalunya masing-masing sebelum akhirnya memutuskan untuk bersama.

Chocolate Drama Korea (2019) : Sinopsis dan Review | Diani Opiari
https://images.app.goo.gl/wRZRnJj7JZPEin4X9

Apa yang menarik dari drama Korea Chocolate?

Ha Ji-won tidak hanya harus menjadi karakter yang sendu namun ditantang untuk dapat memasak sebagaimana aslinya seorang kaki.  Chocolate banyak menampilkan scene mengolah masakan beragam masakan.  Tidak hanya kuliner asli Korea tapi juga masakan internasional.  Banyak adegan memasak ditampilkan close-up dan step-by-step; detil banget.  Contoh saat Ha Ji-won dikisahkan mengikuti lomba memasak.  Semuanya diperlihatkan selayaknya melihat tontonan Master Chef!

Saking penasarannya; saya sampai nonton klip BST (Behind The Scene)-nya di Youtube.  Ternyata sang aktris memang mempelajari dahulu langkah-langkah menyiapkan masakan dari seorang koki sebelum take scene.  Very impressive!

Drama Korea yang tayang di jaringan Netflix ini termasuk yang menemani saya melewati pergantian tahun 2019 yang lalu di rumah saja 😉


Dua serial berikut bukan drama Korea melainkan serial cooking show.  Saya menonton keduanya di channel TVN and I loved it very much!  Di dua reality show ini kita dapat menyaksikan bahwa aktor dan aktris Korea itu ternyata tidak hanya memiliki wajah yang enak dilihat, pandai berakting tapi juga memiliki kemampuan memasak yang mumpuni.

Reality show ini juga memberikan perspektif lain bahwa mereka juga sama seperti kita; senang makan dan bisa memasak hanya saja berprofesi sebagai pelakon film.

6. Youn's Kitchen Season 2, Spain Series

Saat melihat Park Seo Joon berperan sebagai pemilik restoran di serial Itaweon Class, ingatan saya terlempar pada cooking show Youn Kitchen Season 2.

Acara ini menampilkan Park Seo Joon, Lee Seo Jin, Jung Yu Mi dan Yoon Yeo Jung untuk mengurus dan menjalankan restoran Korea di Garachico.  Sebuah kawasan wisata bertempat di desa kecil tepi pantai di Spanyol.

https://en.wikipedia.org/wiki/File:Youn%27s_Kitchen_Season_2.jpg
Bedanya; dalam drama Itaewon Class, Seo Joon hanya berakting saja sebagai pengelola restoran; di Youn's Kitchen, Seo Joon benar-benar melakukannya.  Mulai dari berbelanja bahan masakan, menyiangi, memasak, taking order, serving customer hingga membersihkan restoran.  Bersama 3 rekan lainnya, para pesohor yang dikenal di negara asalnya tersebut sesaat menjadi nobody hingga akhirnya restoran yang menyajikan kuliner asli Korea tersebut diliput oleh stasiun televisi setempat.

Hal menarik lainnya dari reality show ini, proses memasak yang dilakukan sendiri oleh para aktris/aktor diperlihatkan secara seksama.  Pujian atas masakan dari pengunjung restoran yang awam jika pegawai restoran yang melayani mereka adalah para pesohor Negeri Ginsang menjadi daya tarik tambahan serial Youn's Kitchen.

Gara-gara nonton cooking show Youn's Kitchen, saya sampai bela-belain beli kimchi untuk membuat Nasi Goreng Kimchi.  Ternyata gampang sekali!

Jika Youn's Kitchen Season 2 berlokasi shooting di Spanyol, Season pertamanya ternyata bertempat di Gili Trawangan!  Sayangnya hingga kini saya belum berhasil mendapatkan episode lengkap dari Season-1.  Padahal saya penasaran banget.

7. Korean Hostel in Spain

Selain Youn's Kitchen, ada lagi variety cooking show berlatar negara Spanyol yaitu Korean Hostel in Spain.

Jika Youn's Kitchen menantang para pesohor untuk menjalankan usaha restoran, maka reality show ini meminta tiga aktor (Yoo Hae Jin, Cha Seung Won dan Bae Jung Nam) untuk mengelola sebuah hostel yang biasa dikunjungi oleh pejalan kaki rute ziarah Camino De Santiago.

Dengan membayar €10, seorang pengunjung dapat menginap semalam, menggunakan kamar mandi, fasilitas laundry dan mendapatkan 2x jatah makan (sarapan dan makan malam).

3 aktor papan atas Negeri Ginseng tersebut menjadi staf dari penginapan ini. Sebagaimana penginapan yang asli, mereka bertugas membersihkan hostel, menyiapkan kamar hingga membuatkan makanan khas Korea untuk para peziarah yang ingin bermalam di sana.

Polltab - Which is your favourite Korean variety show for the past ...
https://images.app.goo.gl/aUhtaf9RbAujTkZF6Add caption

Adapun pembagian tugasnya; Yoo Hae jin sebagai resepsionis serta mengelola ruangan agar tetap nyaman. Cha Seung-won bertugas sebagai koki utama, memasak makanan untuk para tamu.  Sedangkan Bae Jung Nam yang bertugas sebagai asisten koki.  Setiap orang begitu serius dengan peran masing-masing.

Diperlihatkan pada episode pertama saat pertama tiba di hostel, bagaimana Seung-won memeriksa dapur berikut fasilitas memasak.  Dilanjutkan berdiskusi serius dengan dua orang rekannya dalam menetapkan menu.  Gegara lihat Seung-won mengatur menu dan menunjukkan kepiawaiannya memasak di variety show ini, saya jadi envy sama dia.  Udahlah tamfan, pintar masak pulak!  Gimana rasanya dimasakin sama hot papa macam Seung-won, ya?  #tutupinmuka

Di acara ini kita tidak hanya melihat bagaimana para member dalam mengelola penginapan berikut tingkah menarik dan terkadang lucu dari para member acarannya.

Kelucuan lainnya datang dari reaksi peziarah asal Korea saat mengetahui jika awak hostel ternyata wajah-wajah yang selama ini hanya bisa dilihat di layar kaca/bioskop malah melayani mereka di hostel.  Reaksi terkejut tersebut malah menjadi hiburan tersendiri bagi para Yoo Hae Jin, Cha Seung Won dan Bae Jung Nam.

Selain menunjukkan masing-masing ketrampilan 3 aktor pria dari Tanah Kimchi ini, 11 episode show juga memperlihatkan rutinitas para peziarah menghabiskan waktunya di penginapan selama rehat dari perjalanan panjang 800km rute Camino de Santiago. Peziarah dengan karakter yang berbeda, bukan hanya peziarah dari Korea saja.

Bag peziarah Korea, menemukan penginapan bergaya Korea di Spanyol setelah perjalanan panjang terasa mengejutkan sekaligus menyenangkan.  Sedangkan bagi peziaarah asing yang mengunjungi hostel ini mereka akan mengenal budaya baru, dalam hal ini budaya Korea.

Secara keseluruhan saya menyukai variety ini sebagai tontonan yang relaxing sekaligus informatif.


Nah, dari 7 judul yang saya uraikan di atas, adakah yang sudah ditonton atau malah ada judul lain yang lebih menarik untuk direkomendasikan selama masa #dirumahaja ?

---

Oiya semoga #covid19 segera berlalu, ya.  And stay safe.

Share
Tweet
Pin
Share
7 comments
Older Posts

Follow Me

Email Facebook LinkedIn Pinterest

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  October 2025 (1)
      • Personal Branding Konsultan Project Management: 3 ...
    • ►  August 2025 (1)
    • ►  July 2025 (1)
    • ►  June 2025 (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  June 2022 (2)
  • ►  2021 (12)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (2)
    • ►  May 2021 (1)
    • ►  February 2021 (1)
    • ►  January 2021 (4)
  • ►  2020 (7)
    • ►  December 2020 (2)
    • ►  October 2020 (1)
    • ►  April 2020 (2)
    • ►  March 2020 (1)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (17)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  October 2019 (2)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  May 2019 (2)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (4)
  • ►  2018 (25)
    • ►  December 2018 (4)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  October 2018 (3)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (5)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (1)
    • ►  February 2018 (2)
    • ►  January 2018 (3)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December 2017 (5)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  October 2017 (1)
    • ►  September 2017 (2)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  June 2017 (1)
    • ►  April 2017 (1)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (1)
  • ►  2016 (37)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  July 2016 (3)
    • ►  June 2016 (4)
    • ►  May 2016 (2)
    • ►  April 2016 (9)
    • ►  March 2016 (8)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (6)
  • ►  2015 (75)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  September 2015 (6)
    • ►  August 2015 (5)
    • ►  July 2015 (19)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  April 2015 (7)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (9)
    • ►  January 2015 (5)
  • ►  2014 (39)
    • ►  December 2014 (2)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  October 2014 (2)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  August 2014 (5)
    • ►  July 2014 (2)
    • ►  June 2014 (3)
    • ►  May 2014 (4)
    • ►  April 2014 (2)
    • ►  March 2014 (2)
    • ►  February 2014 (5)
    • ►  January 2014 (7)
  • ►  2013 (36)
    • ►  December 2013 (5)
    • ►  November 2013 (5)
    • ►  October 2013 (2)
    • ►  September 2013 (5)
    • ►  August 2013 (1)
    • ►  June 2013 (1)
    • ►  May 2013 (4)
    • ►  April 2013 (6)
    • ►  March 2013 (3)
    • ►  February 2013 (2)
    • ►  January 2013 (2)
  • ►  2012 (28)
    • ►  December 2012 (2)
    • ►  November 2012 (3)
    • ►  October 2012 (3)
    • ►  September 2012 (4)
    • ►  August 2012 (4)
    • ►  July 2012 (5)
    • ►  May 2012 (1)
    • ►  April 2012 (1)
    • ►  March 2012 (1)
    • ►  February 2012 (1)
    • ►  January 2012 (3)
  • ►  2011 (28)
    • ►  December 2011 (2)
    • ►  November 2011 (3)
    • ►  October 2011 (1)
    • ►  September 2011 (1)
    • ►  August 2011 (4)
    • ►  July 2011 (2)
    • ►  June 2011 (4)
    • ►  May 2011 (1)
    • ►  April 2011 (4)
    • ►  March 2011 (3)
    • ►  January 2011 (3)
  • ►  2010 (2)
    • ►  December 2010 (1)
    • ►  June 2010 (1)

Created with by BeautyTemplates