My Dairy Note's

Life Style & Family Blog Indonesia

    • Home
    • About
    • Disclosure
    • Lifestyle
      • Books & Movie
      • Travel
      • Culinary
      • Fotografi
    • Midlife Series
      • Family
      • Wellness
      • Blogging
      • Techno
    • Career & Project Management
      • Project Management

Law-of-Attraction-dalam-Islam

Ada fase dalam hidup ketika kita merasa ingin mulai dari awal lagi. Bukan karena gagal, tapi karena kita ingin lebih selaras dengan diri sendiri, dengan Allah, dengan hidup yang terus berjalan.

Kalau ada yang tanya, “Buku apa yang paling ngaruh ke pola pikir kamu bahkan berkontribusi pada pengambilan keputusan besar dalam hidup saya?” Maka jawabannya adalah: The Secret karya Rhonda Byrne. Saya baca buku ini tahun 2011 (🫣 iyaa, udah lama banget!). Dari situ, saya kenal konsep Law of Attraction alias Hukum Tarik Menarik.

Buku itu nggak cuma saya baca, tapi juga saya praktikkan pelan-pelan. Dan anehnya, waktu itu pas banget momennya: lagi galau berat soal kerjaan. Sampai akhirnya saya memutuskan resign dan pindah jalur karier. Bisa dibilang, saya ini “korban LoA”, karena konsep ini bener-bener mengubah cara pandang saya. Padahal kerjaan yang saya tinggalin waktu itu sudah cukup mapan dan menjanjikan.

Belakangan, konten LoA makin sering bersliweran di media sosial dan YouTube. Yang bikin makin menarik, ternyata banyak juga yang ngebahas konsep ini dari sudut pandang Islam, bahkan dikaitkan langsung sama ayat Al-Qur’an.

So, what is LoA atau Law of Attraction alias Hukum Tarik Menarik? Intinya sih, apa yang kita pikirkan, dan apa yang kita fokuskan—itu yang akan kita tarik ke dalam hidup.

Kedengarannya kayak sihir ya? Magical banget. Tapi ternyata, kalau direnungin lebih dalam, ini tuh nggak jauh beda sama nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam.

Sebagai muslim, saya juga sempat mikir, “Boleh nggak sih kita nulis keinginan secara detail? Bikin wish list? Visualisasi pakai vision board? Afirmasi?” Awalnya saya agak ragu juga. Takutnya ini cuma gaya hidup ala barat yang nyaru spiritualitas. Tapi setelah saya cari tahu dan pelajari lebih dalam, ternyata banyak banget prinsip-prinsip LoA yang justru sudah diajarkan Islam—bahkan dari sejak 14 abad lalu.


Doa, Husnudzon, dan Tawakal: LoA versi Islami?

Saat kita berbicara tentang doa, husnudzon (prasangka baik), dan tawakal (pasrah pada ketetapan Allah), kita sebenarnya sedang mempraktikkan Law of Attraction versi Islami.

Ketiga prinsip ini—doa yang sungguh-sungguh, husnudzon yang tak tergoyahkan, dan tawakal yang penuh keikhlasan—adalah inti dari bagaimana seorang muslim "menarik" kebaikan dalam hidupnyaKita sering dengar bahwa doa itu senjata orang beriman. Tapi ternyata bukan cuma doa aja; Allah juga mengajarkan pentingnya prasangka baik (husnudzon). Dalam QS Al-Baqarah ayat 186, Allah bilang:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), 'Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.' Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran." 

Duh, mind blowing nggak sih? Artinya, kalau kita yakin Allah akan kabulkan, itu bisa banget terjadi. Tapi tentu, bukan sekadar afirmasi kosong. Dalam Islam, keyakinan itu harus diiringi usaha dan tawakal. Jadi kalau LoA versi Barat bilang "universe will give you what you attract", maka versi Islam-nya lebih ke: "kamu usahakan, kamu doakan, dan kamu yakin Allah Maha Mampu."  

Dengan kata lain, ngga cukup berdoa saja. Kita juga harus walk the talk permintaan yang kita panjatkan.


Fokus Menentukan Arah: Tentang RAS dan Imajinasi

Jauh sebelum saya baca bukunya mba Rhonda ini, saya sudah punya kebiasaan bikin wish list. Kalau lagi pengen sesuatu, saya catat di notes. Mulai dari barang-barang kecil, sampai tempat-tempat yang ingin saya datangi. Tujuannya sih simpel—buat bahan pertimbangan sebelum belanja, semacam perencanaan anggaran plus riset pasar versi saya sendiri. Segitu well-planned-nya saya… uhuk 😂

Surprisingly, tidak sedikit dari wish list yang saya tulis di notes ala-ala yang kejadian.  Entah gadget idaman, kamera mirrorless bahkan hingga destinasi liburan!  Masya Allah.

Setelah berkeluarga dan punya anak, wish list-nya makin beragam. Bukan cuma mimpi dan target pribadi, tapi juga harapan untuk anak-anak dan pasangan ikutan masuk daftar. Soalnya, doa dari istri dan ibu itu insyaAllah manjur, kan? 😄

Wish list saya nggak selalu soal yang besar-besar. Memang ada impian liburan, sampai ke luar negeri, tapi ada juga hal kecil tapi penting yang saya tulis dengan sungguh-sungguh. Misalnya, ingin aktif blogging lagi (yes, ini wish list 2025), punya produk digital dengan niche project management, belajar investasi buat persiapan pensiun, sampai harapan Si Bungsu bisa keterima di PTN lewat jalur undangan.

Belakangan, pengetahuan saya tentang LoA bertambah lagi. Saya kenalan dengan yang namanya RAS—Reticular Activating System. Pernah dengar? Ini semacam radar internal di otak kita. Dia yang nyaring informasi dan menentukan mana yang layak kita perhatikan. Nah, ketika kita sering mikirin satu hal—misalnya mau belajar digital skill atau pengen umroh—otak kita mulai nge-zoom in ke hal-hal yang nyambung sama itu. Tiba-tiba nemu info webinar, ketemu e-course, baca promo tiket. Padahal semuanya udah ada dari dulu, tapi baru kelihatan setelah kita fokusin.

Dan yang bikin makin takjub, otak manusia itu ternyata nggak bisa bedain mana kenyataan dan mana imajinasi. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai mental imagery. Ketika kita membayangkan sesuatu dengan detail dan emosi, otak kita memprosesnya seolah-olah itu sedang terjadi beneran. That’s why, visualisasi dan afirmasi itu bisa jadi alat yang luar biasa kuat—asal dilakukan dengan niat yang benar dan fokus yang terjaga.

Law-of-Attraction-dalam-Islam



Menjaga Niat

Dalam Islam, semua berawal dari niat. “Innamal a’malu binniyat,” kata Nabi. Dan menurut saya, visualisasi itu adalah bentuk nyata dari niat yang dijaga terus-menerus. Saat kita membayangkan sesuatu—dengan detail dan kesungguhan—itu seperti bilang ke diri sendiri: “Aku serius loh sama keinginan ini.” Kalau ditambah dengan doa, afirmasi positif, dan langkah nyata, maka kita sebenarnya sedang membuka jalan buat pertolongan Allah datang.  Mudahnya; niat yang tulus adalah fondasi, doa adalah bensinnya, husnudzon adalah keyakinannya, dan tawakal adalah penutupnya

Di momen-momen seperti itu, wish list bukan cuma jadi catatan iseng. Tapi jadi semacam reminder hidup, titik fokus kita. Supaya nggak kejadian tuh yang suka dialami banyak orang—hari ini pengen A, besok doanya B, lusa mikir lagi mau C. Padahal, kalau keinginan aja belum jelas, gimana Allah mau bantu arahkan?

Dan sering kali, waktu keinginan nggak terwujud, kitanya yang buru-buru mish-misuh: “Kok nggak kesampaian sih?” Padahal kalau ditelusuri, bisa jadi antara doa yang kita panjatkan dan usaha yang kita lakukan belum sepakat. Belum sinkron. Jadi bukan soal gagal, tapi lebih ke: belum disambungin aja antara niat dan langkah..  

Kesehatan Mental dan Harapan di Usia 50+

Masuk usia 50+ itu rasanya seperti masuk babak baru dalam hidup. Banyak hal berubah, dan seringkali datangnya barengan. Ada perubahan fisik yang mulai terasa, tubuh pun mulai kasih sinyal—terutama bagi perempuan yang bersiap melewati fase menopause. Perubahan hormon estrogen, yang salah satu fungsinya menjaga suasana hati dan kemampuan kognitif, mulai terasa berbeda. Kesehatan mulai perlu diperhatikan lebih serius.

Anak-anak makin besar, mulai jarang di rumah. Anak pertama sudah menikah dan punya sarangnya sendiri.  Anak kedua anak saya memutuskan untuk kost saat kuliah.  Rumah mendadak sepi. Nggak ada lagi yang bisa dicerewetin. Officially empty nester 😆

Di sisi lain, transisi karier yang bikin mikir ulang soal arah hidup.  Mulai menkhawatirkan banyak hal, salah satunya : “Nanti kalau pensiun, hidup gue gimana ya?” Semua pikiran itu numpuk. Kadang bikin kepala penuh, tapi hati kosong. Dan kalau semuanya cuma disimpan sendiri… bisa-bisa bikin kita nggak waras 😅

Di titik itulah, saya merasa konsep Law of Attraction bukan cuma teori manis, tapi bisa jadi cara buat bertahan—bahkan bangkit. Fokus pada potensi diri, bersyukur atas hal kecil, dan mulai memvisualisasikan harapan-harapan sederhana, ternyata bisa banget menggeser energi harian. 

Wish list yang awalnya cuma ditulis di notes, sekarang menyadarkan saya bahwa daftar ini bukan cuma daftar angan, tapi bisa jadi titik awal untuk membangun vision board yang lebih terarah—dan lebih terasa hidup.

Dibarengi dengan kontemplasi; questioning myself: “So, what’s next? Mau saya bawa ke mana hidup saya setelah ini?” Insya Allah adalah ikhtiar saya memaknai hidup menjadi lebih baik lagi.

Bukan yang langsung bikin semuanya baik-baik saja, tapi cukup buat nambah semangat dan harapan.  Ini juga salah satu alasan kenapa  akhirnya saya memutuskan untuk kuliah lagi di usia yang tak lagi muda.

Dan di sinilah vision board datang sebagai “alat bantu hati”. Menuliskan harapan, memvisualisasikan kebaikan, dan mengucapkannya dalam doa.  Bentuk self-healing yang kalau diresapi bisa nenangin jiwa. Kita jadi inget bahwa hidup belum selesai. Masih bisa banget diisi dengan makna, tujuan, dan rencana. Nggak ada istilah ketinggalan kereta. Karena buat berharap… nggak pernah ada kata terlambat.

Vision Board dan Wish List: Old Habit, Hard to Die 

Setelah punya daftar harapan, biasanya saya lanjut cari gambar-gambar yang cocok buat vision board. Sesuai namanya, vision akan lebih “mantul” kalau divisualisasikan. Semakin detail gambarnya, semakin jelas niat dan arah pikirannya. Bisa ditambahin deskripsi juga biar makin kuat kesannya.
Nggak bisa gambar? No worries.

Saya pun nggak jago gambar, kok 😄 Tapi sekarang banyak cara. Bisa ambil dari Pinterest, pakai elemen di Canva, atau bahkan foto sendiri. Saya suka cari afirmasi atau kutipan yang bisa nyentuh dan bikin hangat saat dibaca ulang.

Dan yang paling penting: saya sisipkan unsur spiritual berua doa-doa harian favorit, kutipan ayat Al-Qur’an, atau afirmasi Islami yang saya tulis sendiri. 

Untuk Vision Board 2025, saya cetak dan tempel di dinding meja kerja. Tujuannya, agar sering terlihat dan menjadi pengingat bahwa saya sedang berikhtiar. Ini juga jadi booster semangat saat kemalasan datang tanpa aba-aba, membuat saya lebih fokus dan bersemangat menjalani hari.



Yuk, Coba Bikin Vision Board Islami

Belum pernah bikin vision board? 
Coba deh mulai. Nggak harus nunggu tahun baru—hari ini juga bisa. Caranya simpel kok:

  • Tulis keinginanmu. 
  • Cari gambar/kata yang mewakili harapanmu.
  • Susun di atas kertas, versi manual.
    • Jika ingin dalam bentuk digital bisa pake Canva (versi gratis juga cukup banget!).
  • Sisipkan kutipan spiritual atau afirmasi Islami. Tambahkan doa (optional).
  • Simpan di tempat yang sering kamu lihat.


Khusus untuk pengguna Canva, platform desain yang belakangan juga dipakai oleh desainer profesional punya segudang template vision board.  Tinggal pilih dan modifikasi sesuai selera.  Atau mau samaan dengan template yang saya pakai?  Boleh.  Tinggal akses dan isi sendiri, ya.  Dan ini pake versi gratisan, kok!  

👉 Klik di sini untuk mulai membuat versimu: [Link Canva Template Vision Board Islami – Gratis]

📌 Kalau kamu ingin coba bikin wish list versi kamu sendiri, saya juga udah siapkan template printable-nya di bagian ini, lho! Bisa langsung diunduh dan mulai coret-coret dari sekarang ✍️


Jadi, Law of Attraction versi Islami bukan sekadar visualisasi kosong. Ini adalah kombinasi dari doa yang tulus, husnudzon yang kokoh kepada Allah, dan tawakal yang penuh keyakinan bahwa semua kebaikan akan datang pada waktunya. Itulah mengapa, bagi saya, berharap dan berikhtiar adalah perjalanan yang penuh berkah

Selamat menyusun harapan, teman.

Semoga Allah kabulkan semua niat baik kita. Aamiin. 🩷

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments


 "Nggak terasa kita udah 2 tahun ya, makan siang bareng seperti begini."  ujarku siang itu saat kami sedang menyantap makan siang bersama.  Ya, semenjak pandemic melanda, otomatis kita semacam "tahanan" di rumah sendiri.  Segala aktivitas nyaris semua dilakukan dari rumah, termasuk kegiatan belajar-mengajar dan bekerja pun dipusatkan dari rumah.  

Kami yang sehari-harinya sibuk dengan kegiatan masing-masing saat siang hari dan baru berkumpul lagi di rumah saat menjelang petang, sudah dua tahun ini selalu bersama selama 24 jam sehari.
Makan siang bareng yang biasanya "dipusatkan" harian setiap malam dan akhir pekan, maka kini acara makan bersama menjadi rutinitas keseharian.  

"Stress nggak sih, Ma?" tanya anakku sulung.  "Aku kok rasanya begitu" lanjutnya lagi.  "Ya, jangan dibuat stress lah" hiburku.  "Mama aja berusaha ngga mikirin.  Dibawa seneng aja, malah kadang enak, ngga perlu macet-macetan di jalan" imbuhku lagi.

Jika tidak pandai menyiasati, ternyata pandemi ini dapat membuat siapa saja stres dan cemas. Terlebih ketika melihat berita yang ditayangkan di televisi atau media sosial. Padahal, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.  Maka meluangkan waktu untuk melakukan hal menyenangkan atau relaksasi serta menghabiskan waktu berkualitas bersama orang terdekat, menjadi penting adanya.

Setelah saya review ulang, berikut adalah kegiatan yang bisa dibilang sering dilakukan selama masa pandemi ini.


Nonton Film Streaming

Seperti yang Readers tahu, salah satu hobi kami sekeluarga adalah nonton film.  Di masa normal, minimal sebulan sekali kami sempatkan untuk hunting film baru di bioskop.  Kebiasaan yang satu ini otomatis terenggut manakala Corona merebak.

Untungnya sekarang banyak aplikasi nonton film secara streaming; macam Netflix atau Viu.  Alhasil keinginan menonton masih dapat disalurkan.  Malah lebih ekonomis mengingat tidak ada biaya beli HTM plus pop-corn yang jika dikalkulasi [ternyata] lumayan juga angkanya #mamakkekepindompet.
Provider film-film streaming itupun seakan memahami kebutuhan para viewernya dengan menyajikan aneka film; mulai dari serial, drama Korea (for sure!) termasuk film dokumenter.  Tinggal pandai-pandainya kita memilih program yang sesuai dengan value yang kami ajarkan pada anak-anak mengingat di rumah masih ada bocah di bawah umur 17 tahun 😎


Youtube-ing

Selain website film streaming, Youtube adalah kanal tontonan online yang saya sambangi.  Di sini seringnya saya mencari klip musik kesukaan, aneka tutorial hingga kajian agama.  

Salah satu hasil dari berselancar di kanal Youtube, saya jadi tahu Youtuber-youtuber yang sesuai dengan selera saya.  Pan-kapan saya tulis deh di blog ini.  Semangat, Ratna! 💪


[Adult] Colouring

Seperti yang sudah diulas di sini, kegiatan mewarnai sebetulnya hobi dari dulu yang sempat hiatus lama.  Dengan datangnya pandemi, saya jadi punya waktu untuk melakukannya lagi.  Adult coloring jadi alternatif kegiatan yang membantu saya melewati periode membosankan semasa pandemi ini.  Semacam stress release juga, harusnya ya?  Heheheh.


Exercise

Semenjak corona Covid-19 merebak, kita memang diharuskan lebih banyak berada di rumah. Tak bisa dipungkiri kalau kita makin banyak menggunakan gawai selama di rumah saja.

Gawai memang mampu menghadirkan beragam hiburan apalagi di tengah kondisi seperti sekarang ini. Namun sebenarnya, ada alternatif kegiatan lain yang bisa mengusir stres atau rasa jenuh tanpa perlu membuka gawai.  


Ditambah dengan banyaknya artikel kesehatan yang menekankan pentingnya untuk tetap aktif secara fisik demi menjaga kesehatan dan stamina tubuh sebagai ikhtiar penangkal virus, beberapa kegiatan hobi berupa olahraga jadi menyeruak. Salah satu olahraga yang banyak dijadikan hobi baru adalah gowes alias bersepeda.

Sebetulnya ini bukan hal baru, terutama bagi Paksu yang memang hobi bersepeda sedari dulu.  Lain halnya untuk saya.  Yang tadinya menekuni yoga bahkan ikut kelompok yoga online, tapi lama-kelamaan bosan juga karena yoga online di dalam rumah terus, akhirnya memutuskan untuk bersepeda [juga].  Selain gowes, terkadang saya dan Paksu juga jalan pagi.

Jika jadwal kami berempat memungkinkan luang, sesekali kami sempatkan juga untuk gobar alias gowes bareng.  Biasanya momen ini dipake juga sebagai ajang Gocapan atau Gowes Cari Sarapan hahaha.  Tentunya dengan cari tempat yang sepi, tidak banyak orang.

Anggap saja kami sedang berekreasi, satu hal yang sudah lama tidak kami lakukan.


Rute yang dipilihpun biasanya rule blusukan, ke kampung-kampung atau pinggiran kota.  Jadi masih dapat pemandangan yang hijau menyegarkan seperti ini.


Gardening

Kegiatan fisik lainnya yang saya lakukan adalah... *drum roll* mengurus tanaman atau gardening!  Definisi "mengurus" tanaman versi saya adalah menyiram dan sesekali memberikan suplemen agar tanaman tumbuh baik.  

Dan inipun bukan karena wabah hobi hits dadakan kala pandemi hehehe.  Walaupun mulanya saya tidak tertarik dengan yang satu ini.  Lain halnya dengan mendiang Mama yang memang bertangan dingin.  Lha wong saya "miara" kaktus aja mati kok!  Padahal katanya kaktus termasuk tumbuhan free maintenance.

Lalu kenapa juga saya melakukannya?  Tidak lain karena prihatin lihat koleksi tanaman Mama yang nggak keurus.  Daripada terbengkalai, akhirnya saya tergerak untuk merawatnya.  Jadi ini bukan hobi dadakan, ya.  Jenis tanamannyapun  bukan tanaman hias harga sultan.  

Tanaman hias yang menghijaukan dan bikin adem halaman rumah kami didominasi oleh tanaman jadul seperti suflir, lidah buaya dan kuping gajah mini.  Belakangan saat saya menemukan kenikmatan memelihara tanaman, barulah saya menambahkan beberapa varian baru.  Itupun masih dengan catatan, tanaman with low maintenance.   Hahahaha, teteuub yaaa...


Reading

Kebiasaan ini mah ngga perlu dibahas panjang X lebar, ya?

Bagi teman-teman Readers yang suka drop by ke blog ini, pasti sudah tahu hobi saya ini karena terkadang saya juga mereview buku.  Silahkan ke mari.  

Kalaupun saya masukkan dalam list, karena nampaknya saya paling konsisten melakukannya.  Pandemic or not, I'm still reading a book.  Reading is to feeding my soul and brain.  

Rangkaian kata selain membantu mengungkapkan perasaan secara verbal, bisa menjadi jimat ampuh membawa diri menjauh dari suasana sekitar.  Tenggelam dalam rangkaian kata mengayakan imajinasi.  Tak mengapa membaca fiksi yang fiktif, mengelanakan jiwa manakala raga hanya bisa berdiam di rumah.   Merehatkan diri sejenak dari ketidakpastian serta kecemasan yang disebabkan pandemi.


Perbedaannya, jikalau dahulu browsing bacaannya di toko buku.  Kini saya melakukannya secara daring walaupun tidak sepenuhnya ebook.

Karena frekuensi "jajan" buku berkurang, alhasil saya menkorek-korek lagi koleksi buku lama yang selama ini belum sempat dibaca 😆


Blogging

Kenapa jadi ngeblog [lagi] selama pandemi?  

Tidak lain karena saya jadi punya waktu "lebih" untuk kontemplasi.  😉

Mobilitas yang mendadak turun -dalam artian ngga perlu travel time ke tempat kerja- ternyata berpengaruh ke fisik.  Walau cuma duduk manis di mobil, itu melelahkan lho.  Dengan kondisi "ngantor" di rumah, jatah travel time tadi semacam waktu luang.  Di waktu luang inilah, rasanya otak jadi relaks.  Bawaannya jadi banyak gagasan untuk bahan tulisan.  Thus, ada waktu untuk menuangkannya menjadi blog post.  

Seperti tulisan yang sedang Readers baca sekarang ini.  Iya, saya menuliskannya berdasarkan obrolan dengan anak-anak saat makan siang hari itu.  Pembicarran yang menggerakkan saya untuk mereview lagi, selama pandemi ini, saya ngapain aja.  

Diluar pekerjaan -alhamdulillah masih dapat amanah di tengah situasi yang menantang ini- dan kegiatan domestik [baca memasak & beberes rumah], itulah 7 hal yang bermanfaat sebagai stress release yang saya lakukan selama pandemi.  Upaya membentuk imunitas tubuh sebagai benteng pertahanan kesehatan dan kewarasan 😎 

How about yours?


Share
Tweet
Pin
Share
6 comments



Mirip dua sisi mata uang, dibalik "happiness" sebuah perjalanan, ada hal-hal yang kurang tidak menyenangkan.  6 hal kehilangan yang saya rasakan dan sukses bikin kangen saat meninggalkan rumah.


1. Family Time

Wajar banget jika saya tulis ini di nomor urut satu.  Terbiasa bepergian berempat [baca paksu + 2 anak], rasanya dunia hampa jika terpaksa solo travelling.  Hallagh!  Cara saya mengatasi rasa kangen pada mereka, saya kupas tuntas di sini.


2. Favorite Food

Dimulai dari hal yang paling mudah; makanan halal.  Iyep, bener banget.  Jangan bahas soal menu atau rasa karena jika sudah kepepet, dua hal tadi jadi less priority , siiist.

Ketidaktahuan kadang menyesatkan.  Termasuk ketidakpahaman akan makanan daerah yang kita kunjungi.  Padahal tak jarang kuliner adalah pemicu utama keinginan mengunjungi suatu tempat.  Bagi saya yang seneng icip-icip kuliner lokal di tempat jajanan kaki lima, faktor ini jadi pe-er besar.

Nemu makanan halal ditengah rasa lapar yang mendera plus ketidakpahaman akan lokasi di mana kita berada saja sudah jadi stressor tersendiri yang harus di-manage.  

Tak jarang saya mengalami kejadian yang membayangkannya saja gak pernah!.

Mengabaikan etika plus malu sesudah memutuskan untuk hengkang di salah satu restoran Kota Hanoi saat lihat menu yang disajikan ternyata didominasi olahan "sapi kaki pendek" padahal sudah duduk manis dan ready to order, pernah saya lakukan.

Baca juga Bangkok Street Food; Eat Like Local

Sempet emosi di Singapura karena dihela -tepatnya diusir- oleh seorang pria yang jika ditilik dari pakaiannya menandakan dia seorang koki.  Padahal alasan saya melangkah masuk ke sana karena melihat seorang wanita muda berhijab [mungkin pelayannya?] sedang membereskan etalase tokonya yang berisi aneka menu layaknya yang banyak dijual di restoran Melayu.

Apakah si chef tadi bermaksud memberitahu bahwa makanan yang dijualnya tidak halal namun cara dia memberitahukannya dengan gesture yang tidak elegan?  Wallahu alam.

Lain halnya pengalaman di Philipina.

Keliling bolak-balik di salah satu mall di Manila demi mencari makanan halal padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 malam waktu setempat pun dijabanin.  Akhirnya menyerah pada ayam goreng Sang Kolonel janggut putih berkacamata jua.  Baca basmallah.

Sempet syedih hati di Korea.

Cuma bisa nonton aneka macam street food saat kluyuran malam di Myeong-Dong .  Padahal semua penampakannya menggiurkan, sayangnya timbul perasaan ragu untuk mencoba.  Bersandar pada ajaran yang mengatakan kalau ragu lebih baik tinggalkan, alih-alih jajan saya sibukkan diri memotret riuhnya penjaja kuliner kaki lima ala Negeri Ginseng.  Itupun sambil nelan ludah berkali-kali 😂!!


Baca juga My Korean Food Adventure

Etapi perjalanan di negeri sendiri pun bukan berarti tak pasang mata-telinga lho ya, khususnya saat berkunjung di daerah dengan penduduk minoritas muslim.    Contohnya saat ke Bali.  Berangkat dari rasa penasaran, saya sempat bertanya pada supir taksi bagaimana caranya membedakan rumah makan yang halal dengan non-halal.  

Begini jawabnya; "Biasanya warung makan yang pakai tulisan Jawa Timur atau Malang itu bisa dimakan [maksudnya halal], Bu."

"Tukang bakso gerobak yang ada Jawa Timurnya  itu juga boleh.  Kalau ngga ada tulisan Jawanya, jangan dibeli, Bu"  imbuhnya lagi.  Kenapa mesti Jawa Timur?  Karena notabene banyak pendatang berasal dari daerah tersebut yang mencari nafkah di Pulau Dewata.

Singkatnya pasang radar baik-baik di mana pun kaki melangkah.


3. Suara Azan

Harus saya akui, acap kali mendengar azan berkumandang, yang terlintas adalah waktu kok cepet banget berlalu.  Bagi muslim, suara azan adalah panggilan untuk salat lima waktu.  Selain tanda tibanya salat lima waktu, buat saya, azan adalah penanda waktu yang ampuh.  Tanpa melihat jam, saya bisa mengira-ngira waktu.  Ngga mesti persis namun tak meleset jauh.

Lain cerita saat berada di daerah yang minim atau tak terpapar suara azan.  Apalagi jika beda zona waktu pulak.  Matahari masih kelihatan, anehnya mata sudah sepet dan berkali tak kuasa menguap kantuk.  Pas lihat jam, lhoo, kok sudah malam.  Pantes ngantuk 😮

Cerita tentang azan, saya pernah pergi ke daerah Indonesia bagian Timur.  Rasanya baru tidur sebentar, ehh sudah terdengar azan.  Melirik jendela kamar yang gordennya sengaja tak ditutup rapat, di luar masih menyisakan gelap.  Cek penunjuk waktu di telepon genggam, tinggal beberapa menit menuju pukul 4 pagi!  Saya lupa kalau di sini waktu Subuhnya lebih cepat hehehe.

Seringnya saat berada di tempat yang minim [atau gak ada mesjid], tak mendengar suara azan jadi satu kerinduan tersendiri.

Something is missing.


4. Tempat Beribadah

Kehilangan lain yang saya rasakan saat traveling bisa dibilang terkait #3 .  Kalau dengar azan dipastikan dikumandangkan dari tempat ibadahnya.  Dan berburu tempat ibadah pun sama serunya dengan mencari makanan halal.  Maka bisa dipahami jika ada lokasi yang bisa menyatukan dua hal tersebut menjadi sasaran destinasi wisatawan muslim.

Limitasi akses pada tempat beribadah mendorong saya untuk mempelajari tata-cara ibadah sebagai pejalan berdasarkan keyakinan yang saya anut.  Minimal jadi paham dan praktek langsung bagaimana tayamum dan salat di atas kendaraan yang sedan melaju.

Pengalaman yang tak terlupakan adalah saat melaksanan salat subuh di atas pesawat.  Yang biasanya mendirikan salat usai mendengar azan, waktu itu saya melakukannya berdasarkan intensitas sinar matahari.  Saat semburat kuning tampil mencolok di gelapnya langit, teman seperjalanan lantas melakukan tayamum; tanda waktu Subuh telah tiba.

Usai melaksanakan salat wajib dua rakaat dalam kondisi duduk.  Saya pusatkan kesadaran menatap titik kuning keemasan yang semakin lama semakin luas pancaran sinarnya hingga tirai malam yang pekat berganti benderang.  

Suatu proses pergantian dari malam ke siang yang luar biasa yang sayang untuk dilewatkan.  Tidak setiap waktu mendapatkan fenomena alam seperti ini, di atas angkasa pula!


5. Guling

Kehilangan selanjutnya jika saya traveling adalah *drum roll* ... GULING.

Iya, guling!

Konon -di seantero jagad ini- hanya penduduk Indonesia yang punya kebiasaan tidur memakai guling sebagai salah satu perlengkapan tidurnya.  Kalau benar adanya maka ini bisa jadi ke-Unik-an kita.  

Dan saya termasuk wong endonesah yang sulit tidur tanpa guling plus bukan tipe pelor alias nempel molor.  Terlebih jika bermalam di tempat baru.  Retjeh ya?  Tapi itulah faktanya.

So, walau saya menikmati bepergian, saat tidur perasaan senang tadi berubah menjadi double trouble; adaptasi kamar tidu dulu plus tak ada guling.  Alhasil jadi bikin mata melotot beberapa saat sebelum jatuh tidur walaupun ngantuk warbiyasak!

Jadi manakala menginap di Ibis Manado dan menemukan guling terbujur manis di sandaran tempat tidur; it was like YIPPEEEAAAYY!  

Kamar hotel Ibis Manado


6. Bahasa [Ibu]

Pernah gak mengalami keterasingan padahal Anda berada dalam keramaian?  Lalu panik karena tidak mengerti not even single word of what people around are saying?

Atau mendadak berasa bego, lemah otak, tidak bisa mengingat lagi vocabulary pelajaran bahasa Inggris yang sudah kita pelajari dari semenjak bangku sekolah dasar?  

Kalau jawabnya PERNAH, maka Anda paham betapa nikmatnya berkomunikasi dalam bahasa ibu.  Sepandai-pandainya menguasai bahasa asing, ada satu tempo di mana otak akan tidak kompak dengan mulut.  Buat saya, artinya stamina berpikir sudah di titik terendah.  Biasanya dialami jika sedang training atau rapat dengan orang asing dalam hitungan lebih dari sehari.  

Bayangkan saja, mau ngomong sesuatu; kita harus mikir "ini vocabnya apa ya?"  Pakai grammar ala sekolahan kadang malah gak sampai isi pesan yang disampaikan.  Kalaupun lawan bicara paham, kita harus menyimak every word they said.  Ada proses berpikir lagi dalam otak, menerjemahkan maksud si orang tersebut.  Terlebih jika mereka memiliki aksen yang "unik".  Walau kuping serasa udah dibuka selebar-lebarnya, tetap aja donk ga paham apa yang mereka ucapkan.  Hampir seminggu siang-malam komunikasi seperti ini, alhasil lelah otak haha.  Kepala makin panas rasanya jika trainingnya serius atau meetingnya alot!

So, dibalik berkah dapat kesempatan ke luar negeri dibayarin kantor, harus dibayar dengan kram otak gegara bahasa.  Paling apes, jika pergi sendirian, gak ada kawan seperjalanan dari kantor.  Alhasil manyun sendirian selama perjalanan.  Pe-er tambahan jika negara yang dikunjungi, penduduk lokalnya juga tidak memakai Bahasa Inggris sebagai bahasa utama.  

Namun dari beberapa kali perjalanan saya ke tanah asing, [kendala?] bahasa ini lebih banyak menjadi bahan cerita yang bikin ketawa dibanding kisah sedih atau seram.  Ihh, semoga tidak deh!



Kesimpulan saya jika kita pergi sejenak dari rutinias, the missing of absence can't be denied.  Ternyata ada hal-hal yang kita rasa hilang dari keseharian.

At the same time, "The missing of absence" membuat saya belajar mensyukuri kemudahan yang sehari-hari diperoleh.  Saking mudahnya saya cenderung -atau bahkan?- take it for granted.  

Saya jadi belajar memahami perbedaan. Selama hal tersebut tidak menjadi gangguan yang berarti, tidak prinsip, so leave it as it is.  Don't sweat our life with small stuff juga 'kan?

Mensyukuri diberikan kesempatan untuk sesekali merasakan artinya menjadi minoritas atau merasa "terasing".   Karena ternyata dari sanalah tumbuh rasa untuk simpati, bahkan empati juga rindu.

Sekarang saya jadi bisa mencerna makna ayat dari kitab agama yang saya yakini;

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.[QS 49:13]

---

Tulisan yang dibuat karena rasa kangen akan jalan-jalan ke tempat baru.  Semoga covid segera berlalu.
Share
Tweet
Pin
Share
22 comments


Have you ever dealt with a difficult person in your life? 

I was thinking recently about all the difficult people I had to deal with throughout my life. People who annoy me and put me into angry, make me frustrated. A person who tests my patience into the lowest level.  People I had to forgive numerous times but hardly figure out what their absence.  People who're actions bother me greatly, or people who are very hard to love.
In the process of I was thinking about all these people, I started to get annoyed again but then this thought hits me. ‘These difficult people are my greatest teachers.’
As I pondered this for a while, my annoyance or dislike towards them was replaced with humility and gratitude. 

It’s easy to love people who are easy to love or who loves you. That is just a natural reaction, it doesn’t require any strength or character to do that.

But show me how a person treats their enemies or a person they think they’re above them.  It will show you their true character.
There are not many qualities gained in us from people that are easy to love, easy to get along with. But the qualities that strengthen us in every positive way, comes from difficult people. 

So I am grateful for all the people that were difficult to get along with, or difficult to love, for they have been my greatest teachers. 

And I thank them for that. 

Have you had to deal with someone difficult?  What values you obtain after having a hard time with them?


Share
Tweet
Pin
Share
4 comments
Semenjak kepergian ayah saya empat tahun lalu karena kanker tulang yang dideritanya, saya jadi punya perhatian lebih akan penyakit ini.  Dimulai dengan mencari tahu hal-hal apa saja yang bisa menjadi pemicu penyakit kedua mematikan sedunia setelah kelainan jantung (WHO-2015).

Ternyata ada banyak penyebab kanker, tergantung dari varian kanker yang diderita.  Masih menurut catatan WHO; ditemukan bahwa 1 dari 3 kasus kematian yang disebabkan oleh kanker disebabkan karena lima hal berikut; indeks massa tubuh yang tinggi, asupan buah dan sayuran yang rendah, kurangnya aktivitas fisik, penggunaan tembakau dan terakhir adalah konsumsi alkohol.




manfaat-cni-ester-c-plus


Semasa hidupnya -terutama saat usia mudanya- almarhum ayah memang perokok aktif.  Setelah pensiun, frekuensi merokok menurun tapi tetap tidak berhenti total.  Apakah kebiasaan tersebut memicu transformasi sel-sel normal tubuhnya bermetastase menjadi sel kanker?  Wallahu alam.

Karena metastase yang dialami oleh almarhum ayah saya adalah kanker tulang.  Bukan menyerang paru-paru jika memang itu disebabkan oleh rokok yang lekat dengan sistem pernafasan.

Terlepas dari itu semua, saya jadi paranoid dengan asap rokok. Jika dari jauh terlihat kerumunan orang merokok, saya memilih menghindar.  Jika ada teman atau kerabat yang merokok, saya akan menjauh selama mereka menikmati batang-batang putih sepanjang 9cm (keinget pusinya Pak Taufik Ismail 😎) untuk kembali bergabung setelah acara hisap-hisapan asap usai.

Belum berhenti sampai di situ.  Saya sampai meniadakan keberadaan asbak di dalam rumah.  Adanya asbak di dalam ruangan sama artinya dengan memfasilitasi.  Dan sejauh ini alhamdulillahnya suami sudah berhenti merokok selama 12 tahun.  Bagaimana jika ada tamu yang ingin merokok?  Dengan halus akan 'diarahkan' untuk melakukannya di teras halaman rumah 😉


cara mudah #jagadayatahantubuh cni ester c plus


Terlalu ekstrim?  Mungkin.  Tapi itu berangkat dari sebuah kesadaran yang mengkristal lewat fase paling menyedihkan dalam hidup saya bahwa hanya dalam hitungan bulan, sel-sel agresif itu dapat merangsek tubuh tua ayah saya.

Alhasil, seusai periode yang menjungkir-balikkan emosi dimulai dari vonis dokter, malam-malam yang panjang di rumah sakit, untaian doa yang tak usai hingga kini, serta air mata; maka sepanjang saya bisa menjauhkan faktor pemicunya, sejauh itu pula saya akan mengupayakannya demi terhindar dari kanker yang sudah menelan korban hampir 9 juta manusia di seluruh dunia (WHO-2015).

Sayangnya sama seperti paparan polusi asap kendaraan, virus yang kasat mata, zat pengawet pada makanan; asap rokok ternyata termasuk kategori radikal bebas yang sulit untuk dihindari.  

Radikal Bebas

Lalu, apakah radikal bebas itu?

Okey, kita kembalikan ingatan pada pelajaran biologi jaman sekolah dulu nih.

Dari hasil browsing sana-sini, singkatnya radikal bebas adalah molekul tubuh yang tidak seimbang.  Harusnya dia berpasangan.  Karena molekul tersebut memiliki lebih atau kurang dari satu elektron, menjadikannya tidak stabil.  Hmm, mirip manusia ya?  Harus berpasangan 😁

Agar seimbang, si molekul tubuh akan mencuri atau memberikan elektron yang dimilikinya ke molekul lain.  Akibatnya struktur kimia (DNA) si molekul akan berubah sehingga timbul sel baru yang mutan.


#jagadayatahantubuh CNI ester C



Di saat radikal bebas menyerang molekul lain, molekul yang awalnya netral akan diubah menjadi radikal.  Proses ini mengakibatkan reaksi berantai yang dapat menyebabkan kehancuran sel.  Tidak heran, penyakit yang disebabkan oleh radikal bebas tergolong kronis.  Dibutuhkan waktu bertahun-tahun agar suatu penyakit tersebut menjadi nyata.

Selain kanker; gangguan pada jantung, alzeimer adalah contoh penyakit yang dianggap bertanggung jawab atas radikal bebas.   Penuaan dini disebabkan sel baru yang tumbuh tidak sempurna sebagai akibat DNA yang rusak.

Walau begitu, radikal bebas juga penting lho.  Kemampuan tubuh mengubah udara dan makanan menjadi energi, ternyata bergantung pada reaksi berantai dari radikal bebas.  Selain kekebalan tubuh dan menyerang zat asing yang masuk ke tubuh kita.

Apa yang harus dilakukan untuk menangkal bahaya radikal bebas?

Adalah antioksidan, molekul dalam sel yang dapat mencegah radikal bebas mengambil elektron.  Sehingga radikal bebas tidak menyebabkan kerusakan sel.  Keberadaan antioksidan ini mengendalikan jumlah radikal bebas dalam tubuh kita.

Sesungguhnya tubuh manusia dapat menghasilkan antioksidan namun jumlahnya seringkali tidak cukup untuk menetralkan radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh.  Atau, tubuh tidak memiliki persediaan zat pemicu untuk menghasilkan antioksidan yang dibutuhkan.  Pada kondisi seperti inilah, manusia membutuhkan antioksidan dari sumber luar.

Glutathione merupakan salah satu antioksidan yang sangat kuat.  Tubuh manusia dapat menghasilkan zat ini asalkan asupan vitamin C sebesar 1.000 mg terpenuhi.  

Selain vitamin C, ternyata dalam sehari tubuh butuh kandungan 3.000 ORAC atau Oxygen Radical Absorbance Capacity sebagai anti oksidan alami untuk tubuh atau setara dengan konsumsi buah-buahan dengan porsi masing-masing sebagai berikut.


#jagadayatahantubuh dengan cni ester c plus


Bayangkan jika dalam sehari kita harus melahap buah-buahan sebanyak itu.  Beneran sanggup?  Padahal kita semua maklum dengan life style jaman now yang serba cepat, makanan pun lebih sering disajikan instan.  Banyak dari kita yang cenderung mengonsumsi fast food dibanding makanan berserat macam sayuran apalagi buah-buahan.

Namun berkat Ester-C Plus dari CNI, kita sudah dapat memenuhi kebutuhan ORAC tersebut dengan mengonsumsi 1-2 tablet per harinya (lihat aturan pakai).  Manfaat lainnya adalah menjaga daya tahan tubuh. Nah, ini penting banget apalagi bagi yang punya aktivitas padat setiap harinya.

cara mudah #jagadayatahantubuh CNI Ester C Plus


Tidak hanya mudah dikonsumsi, cara mendampatkannya pun tidak sulit. Akses saja www.geraicni.com untuk memilih apakah akan membeli Ester-C Plus dalam kemasan botol atau strip isi 40 tablet.  Lalu klik sesuai pilihan, bayar dan tunggu hingga pesanan Anda diantar di rumah.  Mudah bukan?

Ternyata menjaga daya tubuh dari radikal bebas bisa kita upayakan dari hal yang sederhana, ya.



Share
Tweet
Pin
Share
20 comments
Masih tentang Maraca Books & Coffe Shop, tapi bukan mengenai Maracanya sendiri karena udah saya tulis di sini.  Melainkan tentang ngapain saya awal Februari lalu di sana. Dan baru diposting April?  Holly Molly, malasnyaaah dirikuuhh 😫
Tidak lain karena Playdate Photography bareng @dapurhangus, si pelaku food photography yang hasil jepretannya daebak sangat!


A post shared by Dapur Hangus (@dapurhangus) on Jan 16, 2017 at 8:17pm PST


Jika ditotal, ini adalah kali ketiga saya mengikuti workshop tentang fotografi. 3 narsum di 3 lokasi workshop dan waktu yang berbeda, dengan 3 photo style plus 3 ilmu tips & tricks.  Memang belum banyak karena masih bisa dihitung oleh sebelah tangan.  Tapi bukan itu yang bikin haus for keep coming to similar workshsop. Karena selalu ada hal-hal yang baru dijumpai di setiap sesi.  Ngga cuma ilmu tapi juga pertemanan. Biasanya peserta saling foll-back akun sosmed, lumayan nambahin follower IG 😘

Akhirnya semakin terasa jika belajar itu memang nggak cukup sekali.  Dan ternyata ada persamaan dari ketiga workshsop tersebut.  Yaitu menggunakan makanan sebagai obyek foto, aha!
Share
Tweet
Pin
Share
12 comments
Paling seneng ikutan grup WA yang isi obrolannya bermanfaat; nggak Cuma sebatas urusan ibu-ibu saja tapi juga termasuk tukar informasi perihal kesehatan.  Di salah satu grup yang saya ikuti, beberapa hari yll tetiba jadi membahas obat-obatan non-medis.  Disulut oleh pertanyaan salah satu anggota grup WA yang sakit gigi tapi ngga mau ke dokter.  Lalu saya pun teringat tayangan salah satu TV lokal yang membahas fungsi bumbu dapur sebagai obat-obatan.  

apotik-hidup-manfaat-bawang-merah-lidah-buaya


Padahal saya termasuk jarang nonton TV, lho.  Hinggap di channel TV itupun ketika channel hopping, karena tertarik dengan pembahasan.  Nah, salah satunya mengulas bumbu dapur yang bisa digunakan sebagai obat pengurang rasa sakit gigi.

Menurut ulasan TV tersebut, ambil sejumlah cengkeh untuk disangrai.  Setelah kering, lalu gerus hingga halus.  Setelah itu ditempelkan pada bagian gigi yang sakit, Insya Allah rasa sakitnya berkurang.  Wah, itu betul-betul informasi yang baru saya dengar tentang kegunaan cengkeh.  Selain salah satu bahan yang sering dipakai dalam masakan maupun kue, cengkeh yang memiliki aroma khas juga dipakai dalam campuran rokok. 

Share
Tweet
Pin
Share
5 comments


Untuk urusan olah raga, selain berenang, saya suka berenang, aerobik dan bersepeda.  Namun semenjak tidak menemukan kolam berenang yang sreg di hati, alhasil berenang jadi vakum.  Biasanya jadwal berenang adalah akhir pekan.  Tapi belakangan berenang di akhir pekan ibarat cendol; kolamnya penuh oleh pengunjung, air kolam jadi butek dan berenang tidak bisa santai.  Baru berenang satu meter, udah terhalang orang.  Nggak enjoy.  Padahal olah raga air yang baik untuk pergerakan sendi-sendi ini adalah olah raga yang saya tekuni semenjak usia SD.

Maka berenang pun jadi diseling dengan aerobik.  Seperti menari, gerak badan sambil diiringi suara musik khususnya yang berirama ritmis itu ternyata buat tambah semangat dan .... bikin happy.  Walau udah ngos-ngosan dan gobyos keringet, rasanya menyenangkan.  Kendala di eorobik ini, sayanya semangat eh...si gurunya malah nggak rajin datang. Ada aja gitu halangannya; mulai dari batal kelas karena murid yang hadir tidak mencapai kuota minimum.  Yang gurunya ikut lombalah.  Yang anulah, inulah.  Sudah datang jauh-jauh dari rumah ke tempat sanggar, eh, batal.  Bete !

Share
Tweet
Pin
Share
9 comments

Lebaran tiba.  Time line sosial media penuh dengan ucapan selamat hari raya dan sejenis.  Ada yang mirip kartu lebaran model online namun tidak sedikit yang pasang foto keluarga dengan berbagai pose.  Ada foto dengan pose resmi, banyak juga yang pake gaya bebas.  Ada yang keluarga inti -seperti saiah !- dan ada pula yang publish foto keluarga besar.  Tongsis atau tripod jadi berguna banget ^_^

Tidak ada ekspresi sedih. Semuanya wajah sumringah, penuh senyum bahagia.  Betapa Hari Kemenangan memang disambut penuh suka cita.  Akhirnya datang juga hari yang telah dinanti 30 hari sebelumnya.  Bertemu dengan orang tua, bersua kembali dengan orang-orang terkasih, dengan orang-orang yang tidak setiap hari dijumpai karena kesibukan keseharian.  Sejumput rasa kasih yang Tuhan tanamankan dalam diri setiap insan-Nya, terpancar terang di Hari penuh Kemenangan.

Share
Tweet
Pin
Share
3 comments



Asal muasalnya kepincut sama si kuning lemon ini ketika minum lemon tea di salah satu restoran. Selain memberi rasa asem pada air teh, terhirup juga aroma segar lemon.  Syaraf-syaraf di badan sontak bangun, jadi jreng lagi.  Tambahan es batu, jelas menghalau dahaga.  Semenjak itu ice lemon tea jadi minuman favorit.

Dan si kuning lemon ini menambah daftar jenis jeruk yang dikonsumsi.  Hanya saja, saya kurang suka mengonsumsinya secara langsung.  Lebih cocok jika untuk campuran makanan.  Biasanya saya melakukannya untuk ini.

Share
Tweet
Pin
Share
16 comments
Apa yang terlintas jika mendengar shophacolic ?   

Yang terbayang adalah si gila belanja yang saking gilanya bisa jebolin limit kartu kredit.  Shophacolic juga orang yang doyan belanja gak kenal waktu apalagi jika ada diskon.  Wahh, bisa jatuh dalam kondisi lebih besar pasak daripada tiang.  Tidak jarang si sophacolic ini membeli barang bukan karena needs melainkan lebih pada faktor wants.  Persis seperti yang digambarkan dalam film Confession of a Sophacolic. 

Image from here with personal customization


Tapi ternyata tidak selamanya si shophacolic ini negatif.  Seperti dua sisi mata uang, ada hal positif yang bisa kita teladani dari si sophacolic. 

Share
Tweet
Pin
Share
8 comments
I shall be thankful for being health, even others are not.  It was like two weeks earlier when both my kids and hubby were recovered from their illness.  My eldest got typhus while hubby had a rough cold.  Though they both at home, still do not like the atmosphere as barely hearing them laughing as they always do. 

So yeah, I shall be thankful now as they both got recovered and hearing them laugh again.

I shall be thankful now I can making a good porridge.  As I had an illness at home, I need to serve appropriate meals for them.  So, porridge is the most suitable dish.  Believe it or not, I’ve never made such a dish before.  It turned out easy, not as I thought before.  Instead of buying like we usually did, now I can make it on my own.




I shall be thankful for having a job though it drives me crazy, sometime upset and stressful.  Nevertheless, this job exposed me to learn things I’ve never done before.  While there are a million people out there whose jobless and left worried on how paying their bills.

Share
Tweet
Pin
Share
8 comments
Do we feel grateful with what we have now ?

Have we ever say “thank you” to God for have created us as we are today, as a human being, not as other creature ?

Have we ever thought if you were created to be someone else, not as you are today ?

Have we ever feel lucky and thankful for being you are today ? 

How many of us feel comfortable with our own body and never think about change it or have it in different way. 



***
Share
Tweet
Pin
Share
9 comments
There is always 1st time for everything.  And this is my first post for Wellness Wednesday, initiated by Rina and Maureen.

I took the challenge for following reasons:
  • Practicing my English so I don’t forget them.  If I can’t practice the language as I used to be, at least the writing ability still there #LOL
  • Self-commitment for writing, regardless what language it is.  I hope by having this “obligation” –if I may say so- I will improve my writing skill.



So, here you go.  My first English posting for Wellness Wednesday where I chose 5 fealthy foods that I crave all the time.  Well, at least I am keeping them ready on our fridge ^_^

Share
Tweet
Pin
Share
14 comments
Liburan akhir tahun yang nota bene adalah school break semester ganjil kudu diundur ke awal tahun karena alasan klise; orang tuanya baru dapet ijin cuti after New Year.  Alhasil, minta ijin ke pihak sekolah untuk minta “tambahan hari libur” anak-anak ^_^.  

Kembali menyusur area Timur Indonesia, kali ini pilihannya jatuh ke Pulau Lombok.  Hampir seminggu mengeksplor pulau ini, Lombok ternyata bukan hanya ayam Taliwang dan Kepulauan Gili atau biasa disebut 3 Gili (Gili Trawangan, Gili Menok dan Gili Air) oleh penduduk lokal.  Selain tempat eksotis yang baru kami datangi; banyak temuan dan kenalan baru yang kami peroleh dari trip ini.  Setiap perjalanan memang selalu punya ceritanya sendiri-sendiri. 

Postingan kali ini khusus membahas keunikan Pulau Lombok, yang dijuluki Pulau Seribu Mesjid.

Rumah Kotoran Sapi Suku Sasak
Sekilas selama ini orang mendengar bahwa rumah adat suku Sasak terbuat dari kotoran sapi.  Setelah mendengarkan keterangan local tour guidelocal yang notabene juga penduduk asli Suku Sasak, ternyata kotoran sapi dipergunakan sebagai salah satu pendukung dalam proses pembuatan rumah adat mereka.  Jadi alas rumah dibuat dari campuran adonan pasir, kelapa dan air.  Setelah selesai dibentuk menjadi lantai rumah, untuk melicinkan lantai bangunan mereka menggosoknya dengan kotoran sapi segar.  


Jadi inget perkampungan Suku Baduy Banten

Share
Tweet
Pin
Share
7 comments

n
Twit #1
Mnurut @LovepinkID stlh thn 2009, breast cancer naik peringkatnya jd #1 stlh kanker ovarium, sbg penyebab kematian perempuan Indonesia

Twit #2
Siang ini mba Muti dari @LovepinkID yg berbagi pengalamannya sbg breast cancer.

Twit #3
Genetic, life style, stress adl hal2 yg bs memicu breast cancer begitu sharing dr mba Muti selalu cancer survivor.

Share
Tweet
Pin
Share
12 comments
Kapan terakhir ke dokter gigi ?  3 bulan yang lalu, setahun yang lalu, dua tahun yang lalu atau malah tidak pernah sama sekali ?

Seringnya kita memang kurang perhatian sama bagian tubuh yang satu ini.  Selama sikat gigi teratur –kadang Cuma sekali dalam sehari kalo mandi pagi aja- dan tidak ada keluhan dengan gigi, seringnya kita beranggapan “it is okay”.  Padahal sebetulnya ngga lho…
Cara sikat gigi yang kurang benar, jenis makanan yang dikonsumi ternyata berpengaruh pada kondisi gigi kita.  Sehingga di kalangan medis, sangat dianjurkan periksa kondisi gigi per 6 bulan sekali.  Atau minimal setahun sekali lah.  Biar ngga kelewat atau parahnya nunggu sampe berasa sakit gigi, tips salah seorang kawan mungkin jni mungkin bisa ditiru.  Setiap merayakan hari ulang tahunnya, teman saya selalu menyempatkan diri untuk cek kesehatan termasuk periksa gigi.  Katanya sebagai ritual perayaan hari kelahiran dan mensyukuri sudah dikasih berkah sehat maka selayaknya tubuh yang diberikan oleh Sang Pencipta, salah satunya dengan melakukan medical check up.  A good philosophy, after all.  Karena itu kalo si kawan ini ulang tahun, alih-alih pesan kue ulang tahun, dia malah buat janji ketemu dokter termasuk diantaranya ke dokter gigi.  Alhasil, kuota minimal periksa gigi terpenuhi.

Fresh look: green lime and white !
Share
Tweet
Pin
Share
11 comments
October 23th, 2013.
My Dad died.  

October 11th, 2013
He turned 80.  Happy birthday, Dad !  You made it 80 as you wish.

August 2013
We rushed Dad to hospital.  
His condition was in terminal stadium, doctor said, after examined him.  What we could do was only to maintain his quality of life but not prolonged his life expectation.  Dear God !

June 2013
Dad had MRI and from the result, the cell has scattered all over his body.  From head to toe. MRI photos showed a light spots.  Those light spots are fierce cells.  The cancer.
BUM !

Sometimes late 2012
Dad complained about his head and legs.  He felt his legs was "hot" in certain parts.  He had on-off headache.  Generic painkillers didn't help him much.  We did not take it seriously (Guilty !  Guilty !  Guilty !) as we understands that old people usually feels strange about their own body, don't they ?

***
Share
Tweet
Pin
Share
3 comments
Older Posts

Follow Me

Email Facebook LinkedIn Pinterest

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  October 2025 (1)
      • Personal Branding Konsultan Project Management: 3 ...
    • ►  August 2025 (1)
    • ►  July 2025 (1)
    • ►  June 2025 (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  June 2022 (2)
  • ►  2021 (12)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (2)
    • ►  May 2021 (1)
    • ►  February 2021 (1)
    • ►  January 2021 (4)
  • ►  2020 (7)
    • ►  December 2020 (2)
    • ►  October 2020 (1)
    • ►  April 2020 (2)
    • ►  March 2020 (1)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (17)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  October 2019 (2)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  May 2019 (2)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (4)
  • ►  2018 (25)
    • ►  December 2018 (4)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  October 2018 (3)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (5)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (1)
    • ►  February 2018 (2)
    • ►  January 2018 (3)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December 2017 (5)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  October 2017 (1)
    • ►  September 2017 (2)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  June 2017 (1)
    • ►  April 2017 (1)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (1)
  • ►  2016 (37)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  July 2016 (3)
    • ►  June 2016 (4)
    • ►  May 2016 (2)
    • ►  April 2016 (9)
    • ►  March 2016 (8)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (6)
  • ►  2015 (75)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  September 2015 (6)
    • ►  August 2015 (5)
    • ►  July 2015 (19)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  April 2015 (7)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (9)
    • ►  January 2015 (5)
  • ►  2014 (39)
    • ►  December 2014 (2)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  October 2014 (2)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  August 2014 (5)
    • ►  July 2014 (2)
    • ►  June 2014 (3)
    • ►  May 2014 (4)
    • ►  April 2014 (2)
    • ►  March 2014 (2)
    • ►  February 2014 (5)
    • ►  January 2014 (7)
  • ►  2013 (36)
    • ►  December 2013 (5)
    • ►  November 2013 (5)
    • ►  October 2013 (2)
    • ►  September 2013 (5)
    • ►  August 2013 (1)
    • ►  June 2013 (1)
    • ►  May 2013 (4)
    • ►  April 2013 (6)
    • ►  March 2013 (3)
    • ►  February 2013 (2)
    • ►  January 2013 (2)
  • ►  2012 (28)
    • ►  December 2012 (2)
    • ►  November 2012 (3)
    • ►  October 2012 (3)
    • ►  September 2012 (4)
    • ►  August 2012 (4)
    • ►  July 2012 (5)
    • ►  May 2012 (1)
    • ►  April 2012 (1)
    • ►  March 2012 (1)
    • ►  February 2012 (1)
    • ►  January 2012 (3)
  • ►  2011 (28)
    • ►  December 2011 (2)
    • ►  November 2011 (3)
    • ►  October 2011 (1)
    • ►  September 2011 (1)
    • ►  August 2011 (4)
    • ►  July 2011 (2)
    • ►  June 2011 (4)
    • ►  May 2011 (1)
    • ►  April 2011 (4)
    • ►  March 2011 (3)
    • ►  January 2011 (3)
  • ►  2010 (2)
    • ►  December 2010 (1)
    • ►  June 2010 (1)

Created with by BeautyTemplates