Assalamu alaikum semuanya. Semoga dalam kondisi baik-baik, ya.
Ngomongin soal traveling, punyakah cerita perjalanan yang paling berkesan? Saya punya!
Yaitu liburan ke Bali berdua Mama sebagai hadiah kelulusan SMP. Ceritanya di masa itu, dari kami berlima, cuma saya yang belum pernah ke Bali. Kedua kakak saya sudah ke Bali bersama kawan-kawannya. Sebagai anak cowok mereka nggak punya exit permit issue. Lain ceritanya dengan saya, Si Bontot perempuan. Mau kemana-mana perlu surat ijin keluar dan pengawalan khusus jika diperlukan, hahaha. Begitulah nasib anak perempuan satu-satunya di keluarga. Untuk Mama, ke Bali diajak Apak saat beliau dinas ke Pulau Dewata. Tinggallah saya yang belum mengecap Tanah Bali. Dari dulu, Bali memang nggak ada matinya. Tujuan liburan fenomenal bahkan untuk orang Indonesia. Ibaratnya, belum liburan kalau belum pernah ke Bali.
Singkat cerita, akhirnya kami berdua ke Bali. Bali di pertengahan 1980-an (bisa ngira-ngiralah yaw, berapa umur saya hehe) pastinya beda dengan sekarang. Semuanya masih serba manual, boro-boro ada aplikasi travel online. Tempat wisata pun belum semarak. Destinasinya standar; Tanah Lot, Kintamani, Pura Besakih dan Pantai Kuta. Ubud masih kampung yang belum dilirik wisatawan.
Meski hanya berdua kami tidak mengikuti tour. Alih-alih terikat dengan rombongan, kami pilih paket daily tour sendiri. Jadi hari ini ikut tour arah Bedugul. Keesokan hari jika ingin santai, kami off-kan dulu tournya. Dan arrangement seperti ini berdasarkan hasil diskusi kita berdua. Iya, selama perjalanan itu, otomatis kami jadi banyak diskusi. Tidak sedikit pendapat saya yang “didengar” Mama. Sikap Mama yang demikian membuat saya jadi merasa “dewasa”. Yang biasanya perjalanan liburan dikomandani oleh Apak, kali ini kami berdua yang pegang peranan. Efeknya ternyata beda sekali lho, jadi lebih terasa unsur adventure-nya. Selain itu, Saking berkesannya liburan berdua Mama ke Bali, hingga tertanam keinginan untuk melakukannya lagi di kemudian hari.
Selain jadi ajang bonding hubungan saya dengan Mama yang kemudian membuat relationship seperti “teman”, liburan berdua Mama ternyata jadi pengalaman yang sangat emosional di kemudian hari. Karena tidak lama saya lulus SMA, Mama berpulang ke pangkuan Ilahi.
"Hanya" dikasih waktu sebentar sama Mama, jadi menimbulkan dendam. Jika punya anak nanti, betul-betul ingin memaksimalkan hubungan ibu dengan anak. Pengen jadi ortu yang asik seasik kanal berita https://www.ibupedia.com/. Salah satu ikhtiarnya adalah bercita-cita traveling berdua anak saja! Saat saya sampaikan keinginan tersebut pada Paksu, alhamdulillah dia memahami dan mengijinkan.
Maka dari itu manakala Si Sulung punya permintaan untuk “dihadiahi” traveling jika diterima di perguruan tinggi negeri, permintaannya kami setujui. Itupun dengan syarat tambahan jika masuk PTN melalui jalur undangan. Qadarullah Si Sulung masuk PTN tanpa tes. Semua doa dan ikhtiar dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa.
Saat penentuan tujuan, akhirnya diputuskan Singapura. Pertimbangannya karena harga tiket ke Singapura lebih murah dibanding Bali. Well, not nice but it’s true. Selain faktor keamanan di Negara Merlion ini cukup baik, saya juga sudah familiar karena beberapa kali tugas ke sana.
Perjalanan ke Singapura itu benar-benar dibuat tanpa pretensi apa-apa. Saya yang acapkali mempersiapkan itinerary dengan matang seperti perjalanan ke Bangkok lalu, kali ini sangat santai. Urusan pencarian tiket saya serahkan pada Si Sulung. Kata kuncinya, cari tiket seekonomis mungkin. And she did her part great. Saya tinggal urus penginapan. Dari sekian banyak pilihan akhirnya kami memilih 5Foot Way.Inn. Hostel ekonomis dengan fasilitas yang lumayan untuk budgetted travel kali ini.
Di hari keberangkatan, begitu PakSu drop off kami di Terminal Bus Damri, artinya petualangan ibu dan anak pun dimulai hingga 3 hari ke depan. Yup, kami memilih berakhir pekan di Singapura. The trip was short of like week-end gate away. Dalam hati, sebetulnya saya sangat excited. Bepergian adalah pengalaman yang indah; ketika saya pergi solo, rasanya memuaskan; saat bersama teman-teman, itu menyenangkan; tapi dengan anakku saja, rasanya luar biasa!
Dan sejarahpun berulang. Rasanya de ja vu. Bedanya, saya jadi si ibu, bukan Ratna si anak remaja. Dalam perjalanan tersebut, rasanya bukan sekedar anak dan ibu, melainkan teman seperjalanan. She is my travel buddy. I have to listen my travel mate to make this trip fun and joyful. And so she is.
![]() |
| Wefie alas kaki di MRT |
![]() |
| Ikutan lesehan sama orang-orang ini sambil makan es krim potong Uncle |
Mirip seperti perjalanan saya dengan Mama ke Bali, kali ini pun kami banyak bertukar cerita dan diskusi bahkan ide. Si Sulung ini memang anaknya matematis, punya kecenderungan untuk berhitung. Begitu pula saat akan bertransaksi, dia yang jadi juru hitung. Memberikan pandangan agar saya mencari toko lainnya saat dinilainya harga barang yang dimaksud dianggap terlalu tinggi. Dengan caranya yang demikian saya jadi tahu trik menekan biaya makan di Singapura yang memang sudah terkenal tinggi biaya hidupnya.
Dalam hati saya sangat bersyukur karena diberi kesempatan oleh Allah untuk merealisasikan keinginan saya: traveling berdua dengan anak. Lewat perjalanan ini, saya jadi makin memahami pola pikir dan sikapnya. Karena hanya berdua saja, sikapnya pun jadi lebih independen. Insya Allah nanti saya bisa melakukan hal yang sama dengan adiknya. Atau Paksu bepergian berdua saja dengan Anak Lanang, mungkin?
Walaupun sebetulnya semua perjalanan liburan mau kemana pun tujuannya dengan siapapun perginya, selalu menyenangkan dan punya cerita yang tak terlupakan. Namun pergi berdua saja dengan anak akan menjadi kenangan khusus bagi saya. Semoga juga untuk dia.
“The greatest legacy we can leave our children is happy memories.”- Og Mandino -
***
Tulisan ini diikutsertakan dalam Ibupedia Blog Competition - Share Your Parenting Story






















