My Dairy Note's

Life Style & Family Blog Indonesia

    • Home
    • About
    • Disclosure
    • Lifestyle
      • Books & Movie
      • Travel
      • Culinary
      • Fotografi
    • Midlife Series
      • Family
      • Wellness
      • Blogging
      • Techno
    • Career & Project Management
      • Project Management


#dirumahaja karena Covid-19 memang membosankan, ya?

Jika tak pandai mengelola stress management, akibatnya malah tidak baik untuk kesehatan diri sendiri bahkan ke orang-orang di sekitar kita.  Padahal di tengah situasi pandemic ini, imunitas tubuh jadi faktor krusial.

Akhirnya setelah selesai dengan pekerjaan, di suatu sore saya dan Paksu memutuskan menghirup udara segar sejenak.  Tentunya dengan menerapkan prokes donk.

Tapi bingung juga, mau kemana?  Lalu terlintas Taman Budaya Sentul.  

Mengapa memtuskan ke sana?

Selain tidak jauh dari Bogor, di tempat banyak dijumpai kafe resto bernuansa alam yang sejuk.  Asyik untuk ngopi sore sambil santai.  Selain menjanjikan ambience yang berbeda dengan kafe resto di perkotaan, kafe resto di sana banyak yang mengusung konsep open air di alam terbuka.  Suatu hal yang menjadi pertimbangan dan banyak dicari oleh pengunjung kafe.  Tak heran jika Sentul belakangan jadi sasaran kunjung para pemburu kafe.  

Dari hasil rekam lensa kamera, Taman Budaya Sentul menurut saya ibarat hidden gems Bogor.  Banyak opsi kafe resto yang bisa dipilih pengunjung.  Niat sekedar ngopi-ngopi cantik; ada Kulo, Kopi Oey, Popolo dan baru-baru ini hadir pula Kopi Nako di sana.

Perlu tempat yang menyajikan menu berat bisa langkahkan kaki ke Finch atau Wigeon.  Ingin burger?  Bisa cobain Art Burger.  Bahkan Kedai Kita Bogor pun buka outlet di sana.  Lengkap banget pilihannya.

Atau hanya ingin sekedar sight seeing sambil hunting motret dalam kota seperti yang saya lakukan, juga bisa.  Ada untungnya juga ke sini saat pandemi, nggak banyak orang.  Hasil fotonya jadi 'bersih' orang hehehe. Walau di beberapa tempat masih terlihat orang-orang yang serius di depan laptop, bahkan dari curi dengar sedang meeting.  Tetap dengan prokes ya, duduk berjarak dan masker 'on' di wajah.  Mungkin mereka merasa bosan seperti saya.  

Demikian selayang pandang ke Taman Budaya Sentul sore itu.  Lumayan sebagai pengobat jenuh dan jadi bahan postingan retjeh macam ini 😁


















Share
Tweet
Pin
Share
1 comments


*disclaimer: foto-foto dalam tulisan ini diambil sebelum masa Pandemic.*

Sudah tahun 2021.
Tepatnya hari ke-9 bulan pertama tahun 2021.
Saya tidak akan bertanya apakah ada resolusi baru di tahun ini.  
Deep inside I just know we have same wishes; blessing with healthiness.
Harapun kita pun demikian; ingin agar semuanya berlalu dan kembali ke seperti sebelum pandemic menghajar dunia.

2020 was surely a turning-point for all of us.  
For the universe, as a matter of fact.
Sang Pemilik Jagat membuktikan jika DIA tak terbantahkan.
Manusia sekali lagi dibuat takluk pada mahluk yang bahkan kita sendiri tak bisa melihatnya dengan mata telanjang; virus!
Jadi, apa yang mau kita sombongkan?

Makanya dari pada bersombong diri, mari kita rendahkan hati.  Sambil berdoa agar vaksin cepat didistribusikan dengan baik ke seluruh anak negeri.  Ngga pake dikorup oleh oknum yang tak punya nurani.  Supaya negeri ini berseri kembali.

Berseri dan sumringah seperti saya yang hanya bisa mupeng sambil lihat lagi foto-foto lalu.   Waktu dimana masih bisa keluyuran tanpa masker.  Menikmati suasana Taman Sempur Bogor [dan sekitarnya] semasa akhir pekan yang ramai sekaligus seru.

Tempat latihan baris-berbaris anak-anak sekolah

Dari sekian banyak taman publik di Bogor yang bisa diakses gratis, Taman Sempur adalah yang terfavorit.  Selain lokasinya yang bersisian dengan Kebon Raya Bogor nan sejuk, taman ini pun difasilitasi dengan arena bermain dan olah-raga seperti lapangan basket, taman ini memiliki area rumput hijau seluas kurang lebih 100 meter x 65 meter di tengah taman juga menjadi daya tarik tersendiri.





Area Taman Kaulinan
Tersedia wahana bermain untuk anak seperti permainan ular tangga, perosotan, dan jaring-jaring.




Setelah direvitalisasi tahun 2018 lalu, tampilan Taman Sempur ini jadi lebih cantik.  Meskipun tidak banyak perubahan yang terjadi, hanya memperbaiki jogging track yang berada melingkari lapangan hijau. Yang awalnya menggunakan batu kerikil kini berganti dengan bahan rubber sintetik berwarna biru.

Faktor tambahan lain yang menurut saya membuat Taman Sempur ini membuat hati sulit berpaling adalah aneka macam tukang jajanan yang kehadirannya tak bisa diabaikan, hahaha!

Ada banyak jenis makanan yang bisa dicicip di Taman Sempur.  Mulai dari menu standar sarapan paginya sejuta umat Indonesia, yak bubur ayam!  Ketoprak, Batagor, Lumpia Basah atau biasa disingkat Lumbas, Soto Mie, hingga olahan makanan kekinian seperti sosis bakar.










Semoga saja badai covid segera berlalu dan kita bisa icip-icip lagi makanan di Taman Sempur.  Karena kusudah merindu aktvitas seru akhir pekan di Taman Sempur.  (baca: jajanan!) 😁


PS: harap maklum, tulisan ini dibuat dalam kondisi halu efek Covid yang panjang.


Share
Tweet
Pin
Share
12 comments
Melakoni rutinitas dalam kurun waktu tertentu, entah sebagai orang kantoran, ibu rumah tangga, pekerja lepasan bahkan pelajar pun; akan berujung pada satu titik yaitu jenuh.  Yang membedakan adalah "how we deal" dengan kejenuhan tersebut. Tiap orang punya cara masing-masing.

Selain nonton film atau membaca buku, travelling adalah salah satu kiat saya membunuh jenuh.  Namun pilihan terakhir ini agak sulit dilakukan sering-sering.  Mengapa travelling?  Karena travelling dapat jadi ajang memuaskan hobi lainnya yaitu motret.  Selain "oleh-oleh" baju kotor, banyak gambar hasil perburuan selama travel yang memenuhi memory card saat kembali ke rumah.  Buat apa foto sebanyak itu?  A lot of things I could do with those picts.  Selain sebagai dokumentasi keluarga, dapat dipakai untuk menunnjang konten blog dan tentunya untuk dipajang di Instagram #udah follow saya belon? 😄

Sayangnya travelling ini selain faktor waktu yang terbatas -maklum masih orang gajian dengan jatah cuti yang terbatas 😋- biaya menjadi pertimbangan yang paling memberatkan.  Ngga mungkin juga 'kan saya travelling sendirian walaupun sebenarnya saya tidak bermasalah melakukan solo traveling namun ada pasangan dan anak-anak yang perlu "dipikirkan" hahaha.

Baca juga Alasan Mengapa Harus Melakukan Solo Travelling.


Walau ada keterbatasan; jangan dijadikan sebagai penghalang keinginan travelling.  "Sempit" rasanya mendefinisikan jika jalan-jalan "hanya" berupa perjalanan keluar negeri kota.  Berkeliling kota di tempat kita berdomisili, mengunjungi spot-spot yang menarik ternyata sudah berhasil mendatangkan excitement tersendiri bahkan ide.  

Dan untuk Kota Bogor, rasanya tiada tempat yang lebih menarik dibanding Jalan Surya Kencana.

Menurut sejarahnya, ruas jalan ini merupakan sentra niaga sekaligus sebagai pecinan oleh pemerintah kolonial Belanda.  Walaupun wilayah tersebut kini tak lagi dimonopoli oleh etnis Cina namun keberadaan Vihara Dhanagun sebagai "kepala naga" yang bersebelah dengan Pasar Bogor yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi pusat kegiatan perayaan Imlek, masih mengukuhkan trade mark nya sebagai kawasan pecinan.  Mungkin karena alasan itu Pemerintah Kota Bogor mengukuhkannya sebagai Kawasan Heritage di tahun 2016 yang lalu.

Baca juga Telisik Imlek di Pecinan Bogor

Dari pengamatan jalan-jalan ini, keramaian Jalan Surya Kencana ini hanya terpusat di beberapa titik.  Yang pertama di depan Pasar Bogor.  Makin ke tengah -atau mengarah ke selatan- tingkat keramaian menurun bahkan bisa dibilang sepi, terlihat dari rumah-toko yang tutup.  Geliat kesibukan baru terlihat kembali menjelang Gang Aut.  Menurut saya justru di sinilah sentra kuliner Jalan Surya Kencana berada.

Hanya kuliner sajakah yang bisa kita dapatkan di Jl. Surya Kencana?

Ternyata banyak hal menarik lho yang saya dan Rani (iya, saya ditemani blogger pemilik www.tukangulin.com) temukan saat menyusuri ruas jalan yang membentang sepanjang 2.8 km dan masih menjadi pusat Kota Bogor ini.  


Sentra Kuliner

Bermula dari perluasan pemukiman etnis Cina dari Kampung Pulo Geulis. Kini metamorfosis jadi destinasi wisata kuliner.  Mulai dari kudapan hingga makanan berat bisa ditemukan di sini.  Jika merindu kuliner tradisional Bogor, datangi saja tempat ini.  Beberapa warung makan legendaris bertengger di sana.  Sebut saja Soto Kuning Pak Yusup dan Asinan Gedung dalam yang sudah tersohor.










Heritage

Ternyata Jalan Suryakencana adalah sebuah ruas jalan tua yang merupakan bagian dari De Grote Postweg yang dibangun sekira 1808 atas perintah Gubernur Jenderal Daendels. De Grote Postweg memasuki Buitenzorg—nama lama Bogor—dari jalan yang kini jadi Jalan Ahmad Yani, berlanjut hingga Jalan Jenderal Sudirman, membelok ke Jalan Juanda, bersambung ke Suryakencana hingga ke Ciawi.

Dapat dikatakan jalan ini adalah denyut nadi Kota Bogor dari semenjak jaman Prabu Siliwangi hingga kini. Dari literatur sejarah, hari jadi Bogor merupakan tanggal ditasbihkannya Sang Prabu menjadi raja yang diperkirakan jatuh pada tanggal 3 Juni 1482. 


Sepanjang saya amati saat menyusuri Suryakencana, masih ada beberapa rumah-toko bergaya Tionghoa yang mempertahankan bentuk aslinya. Penandan yang paling kentara adalah bentuk hiasan atapnya. Serasa jomplang melihat saksi bisu ini harus berimpit dengan bangunan-bangunan baru yang lebih menjulang.


Dalam hati menyayangkan.  Sebagai penyuka bangunan-bangunan lama, saya kurang setuju dengan tindakan merubuhkan gedung-gedung tua.  Dibandingkan dengan negara-negara lain yang berhasil menjaga peninggalan historisnya seperti  kawasan heritage Geylang atau Chinatown di Singapore, Indonesia bisa dibilang jauh ketinggalan.  Mereka sukses merawat bahkan dapat mengemasnya menjadi komoditi wisata.  Saking dikenal oleh mancanegara, Bukit Pasoh Road di Chinatown bahkan masuk dalam scene film The Crazy Rich Asian!

Coffee Shops

Rupanya ruas Surya Kencana tidak melulu menyuguhkan kuliner tradisional Bogor.  iGeliat gerai kopi lokal juga merasuki wilayah ini.  Saya hitung ada 3 coffee shops kekinian yang bisa saya temukan; Cyrano, Fanaticoffee dan Kopi Lalu.  Kecuali Kopi Lalu yang hanya menyediakan kopi saja di ruang yang tidak terlalu besar, dua lainnya berkonsep resto & coffee shop.  Sudah banyak reviewnya di dunia maya, silahkan digoogling.

Dari semuanya, kami sempatkan menghalau dahaga sekaligus lelah di Kopi Lalu.  Letaknya pas di perempatan Gang Aut, titik di mana saya dan Rani sepakat menyudahi jalan kaki kami siang itu.

Foto Kanan: Pencitraan Rani masuk ke Cyrano yang sebetulnya masih tutup



Hotel




The only hotel besar di kawasan ini.  Letaknya kira-kira di tengah ruas Jalan Surya Kencana.  Letaknya menjorok ke dalam, memberikan arena parkir yang cukup luas di halaman depan serta menjanjikan kenyamanan bagi tamu hotel karena tidak persis di sisi jalan.

Selain berada di muara kuliner khas Bogor, 101 Hotel juga menyuguhkan akses penuh pada kerlip lampu city view Bogor di malam hari.  

Mural

Semacam hidden gems nemu mural di tengah Kota Bogor.  Belum seartistik mural-mural ketjeh di Melaka atau Haji Lane siyy, namun lumayanlah.  

Urban mural ini kami temukan di bagian tengah ruas Jalan Surya Kencana tak jauh dari Hotel 101.  Seperti yang saya jelaskan di atas, di area ini tidak seriuh dekat Pasar Bogor maupun Gang Aut.  Banyak rumah toko yang tutup menjadikan bagian ini lebih sepi.  Diantara rumah-rumah toko dan gang-gang kecil itulah ada bagian pintu atau dinding yang dijadikan kanvas mural.

Mural di gang kecil
Terlepas apakah para pemilik bangunan tak menyukai keberadaan mural di property-nya namun hasil corat-coret kekinian dengan warna-warna atraktif tersebut membuat Jalan Surya Kencana lebih berwarna.


Mural di pintu toko
Penyusuran yang kami mulai sekitar pukul 8 pagi berakhir menjelang waktu makan siang.  Ruas Surya Kencana yang panjangnya kira-kira 3Km kami tapaki dengan santai penuh obrolan "berbobot" diseling curhat.  

Jalan-jalan tipis ini ternyata ampuh menghilangkan jenuh atas rutinitas.  Selain puas hati ber-quality time dengan salah satu kawan blogger yang walau satu kota jarang bersua, saya pulang dengan memory card berisi foto-foto baru dan punya ide untuk nulis blog post (lagi) seperti yang sedang Readers baca ini!  😉



Share
Tweet
Pin
Share
47 comments
Older Posts

Follow Me

Email Facebook LinkedIn Pinterest

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  October 2025 (1)
      • Personal Branding Konsultan Project Management: 3 ...
    • ►  August 2025 (1)
    • ►  July 2025 (1)
    • ►  June 2025 (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  June 2022 (2)
  • ►  2021 (12)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (2)
    • ►  May 2021 (1)
    • ►  February 2021 (1)
    • ►  January 2021 (4)
  • ►  2020 (7)
    • ►  December 2020 (2)
    • ►  October 2020 (1)
    • ►  April 2020 (2)
    • ►  March 2020 (1)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (17)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  October 2019 (2)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  May 2019 (2)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (4)
  • ►  2018 (25)
    • ►  December 2018 (4)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  October 2018 (3)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (5)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (1)
    • ►  February 2018 (2)
    • ►  January 2018 (3)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December 2017 (5)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  October 2017 (1)
    • ►  September 2017 (2)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  June 2017 (1)
    • ►  April 2017 (1)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (1)
  • ►  2016 (37)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  July 2016 (3)
    • ►  June 2016 (4)
    • ►  May 2016 (2)
    • ►  April 2016 (9)
    • ►  March 2016 (8)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (6)
  • ►  2015 (75)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  September 2015 (6)
    • ►  August 2015 (5)
    • ►  July 2015 (19)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  April 2015 (7)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (9)
    • ►  January 2015 (5)
  • ►  2014 (39)
    • ►  December 2014 (2)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  October 2014 (2)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  August 2014 (5)
    • ►  July 2014 (2)
    • ►  June 2014 (3)
    • ►  May 2014 (4)
    • ►  April 2014 (2)
    • ►  March 2014 (2)
    • ►  February 2014 (5)
    • ►  January 2014 (7)
  • ►  2013 (36)
    • ►  December 2013 (5)
    • ►  November 2013 (5)
    • ►  October 2013 (2)
    • ►  September 2013 (5)
    • ►  August 2013 (1)
    • ►  June 2013 (1)
    • ►  May 2013 (4)
    • ►  April 2013 (6)
    • ►  March 2013 (3)
    • ►  February 2013 (2)
    • ►  January 2013 (2)
  • ►  2012 (28)
    • ►  December 2012 (2)
    • ►  November 2012 (3)
    • ►  October 2012 (3)
    • ►  September 2012 (4)
    • ►  August 2012 (4)
    • ►  July 2012 (5)
    • ►  May 2012 (1)
    • ►  April 2012 (1)
    • ►  March 2012 (1)
    • ►  February 2012 (1)
    • ►  January 2012 (3)
  • ►  2011 (28)
    • ►  December 2011 (2)
    • ►  November 2011 (3)
    • ►  October 2011 (1)
    • ►  September 2011 (1)
    • ►  August 2011 (4)
    • ►  July 2011 (2)
    • ►  June 2011 (4)
    • ►  May 2011 (1)
    • ►  April 2011 (4)
    • ►  March 2011 (3)
    • ►  January 2011 (3)
  • ►  2010 (2)
    • ►  December 2010 (1)
    • ►  June 2010 (1)

Created with by BeautyTemplates