-webkit-border-radius: 100px; -moz-border-radius: 100px; border-radius: 100px; #linkwithin_logolink_0 {display:none;}

Mengenang Mei 1998, Luka Lain Sebuah Bangsa

Kalau tidak salah ketika itu sekitar pukul 10 pagi. Atasan saya yang seorang warga negara Amerika terlihat gelisah setelah menemui atasannya yang juga seorang expatriat.  Yang saya ingat juga, lantai 9 di gedung di mana saya bekerja, hari itu tidak terlalu ramai.

Tidak lama, telepon genggam saya berbunyi.  Dari Call ID, saya baca nama kakak sulungku yang berdomisili di Balikpapan.  Tumben, pagi-pagi telepon, batinku.

Begitu kusapa hallo, telingaku disambar oleh suara paniknya.  Di mana kamu, kenapa masih di kantor, ayo cepat pulang !  Pertanyaan dan perintah terdengar beruntun jadi satu.

Eh ?


Masih dari seberang sana terdengar kata-katanya; CNN memberitakan Jakarta rusuh, tidak aman, bakar-bakaran.  Heh, kok bawa-bawa CNN segala ?  Sambil mencoba mencerna berondongan kata-katanya, baru sadar kalo si Sulung yang berkantor di tanah Kalimantan sana bekerja untuk perusahaan asing yang banyak pula menghimpun pekerja asing.  Jadi ga heran kalo mereka tidak lepas tune-in dengan channel TV asing yang kondang itu.

Sambil bicara mataku melihat jauh ke kaca jendela yang super besar di hadapan.  Kulayangkan pandangan ke sebelah Utara gedung.  Yak, betul.  Terlihat kepulan asap hitam di kejauhan.  Tidak cuma satu tapi beberapa.  Kuhampiri jendela, melihat ke bawah, jalanan nampak lengang, tidak ramai seperti biasanya, padahal gedung perkantoran kami berseberangan dengan salah satu mall premium di bagian Selatan Jakarta. Aneh !

Gusar kuhampiri atasanku yang terlihat tergesa membereskan meja kerjanya. Masih terngiang perintah kakakku sulung, "Cepat pulang !" sebelum menutup pembicaraan tadi.

Begitu berhadapan dengan atasanku, dia langsung menjelaskan semuanya sesingkat mungkin.  Belum pernah kulihat dia sepanik itu.  "This is emergency situation, Ratna.  We are all sent out for home.  All expats in this office and its family are living the country.  And the closest safe area is Singapore.  We are going to depart soon from Halim with private plan.  Please go home now and keep in touch."  Lalu dia pun bergegas pergi.  Masih kuingat, telepon genggamnya tak henti berdering.


Gambar dipinjam dari sini

Menanti dijemput Suami Ganteng yang kala itu masih berstatus "pacar" serasa berpacu dengan waktu.  Di beberapa tempat yang kami lintasi kemudian, tampak orang berjalan dalam kelompok-kelompok.  Air mukanya terlihat garang tak ramah.  Nampak juga ban-ban mobil di tengah jalan yang sengaja dibakar massa. Traffic light tak kami indahkan. Pun tak nampak polisi. Sepanjang jalananan yang kami lewati pulang semuanya lengang tapi terasa mencekam.  Kala itu di jalanan, kami tak bisa bedakan mana kawan dan siapa lawan.

Mungkin seperti ini suasana ketika terjadi Gerakan 30 September 1965 seperti yang sering diceritakan Mama dulu.  Diam tapi menabur kengerian.  

Dari situ, media massa pun tak henti memberitakan berita-berita mencengangkan yang mengumbar tanya namun tak terjawab hingga kini. Siapa yang bertanggung jawab atas tewasnya mahasiswa-mahasiswa itu. Siapa yang menggerakkan amukan massa hingga membakar toko dan gedung-gedung ?  Kenapa kerusuhan bisa serentak seolah ada yang menkoordinasi ? Mengapa kendaraan militer lalu bisa terlihat di area elite tertentu saja ?  Kenapa terpikir oleh orang-orang itu untuk menjarah ?  Mengapa penganiyayaan hanya ditujukan pada etnis tertentu saja dan mengapa harus dianiaya ?  

Banyak tanya tak tuntas terjawab.  Seperti lukanya yang masih menganga manakala sebagian besar orang telah menutupnya.

Hampir seminggu itu, layar kaca televisi bergantian menayangkan gedung parlemen yang diduduki mahasiswa.  Diselingi pemandangan asap hitam pembakaran mobil dan gedung hingga toko-toko yang dijarah.

Lalu dunia pun dikejutkan oleh pengunduran diri Soeharto sebagai orang nomor satu negeri ini.  The Untouchable Smiling General has surrender.  He chose to leave the battle field.  Masih ingat langkah gontainya meninggalkan Istana Merdeka setelah hampir 3 dekade menjadi tempat kerjanya.  

Jakarta lumpuh.  Ekonomi Indonesia seolah mati suri.  BJ Habibie yang didaulat mengisi kekosongan kekuasaan tidak mempunyai pendukung.  Akhirnya sejarah mencatatnya sebagai presiden Indonesia dengan masa jabatan tersingkat.  

Saya adalah bagian dari sejarah itu, sejarah gerakan reformasi.  

Rentang waktu kedua orang tua saya lebih panjang lagi; mulai dari Perang Dunia 2, masa peralihan Revolusi 1966 pun mengalami runtuhnya Kerajaan Order Baru.  Saya yakin, ada banyak keluarga Indonesia lainnya yang mengalami hal ini.

Semoga masa generasi anak-anak saya lebih baik lagi.  Perubahan memang perlu karena alam berubah seperti juga manusianya.  Namun janganlah kiranya perubahan itu dengan kekerasan.

Supaya tidak ada luka lain bangsa ini...


7 comments:

  1. ngeri banget lihat foto-foto kerusuhan, btw, dulu knp rusuh ya mak? ga pernah nonton tv saat itu hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi kalo ngalamin langsung, ngeri dan mencekam. Jangan tanya dakuw rusuhnya kenapa hehehe yg pasti waktu itu rakyat udah bosen dg pola kepemimpinan presidennya

      Delete
  2. Aduh Mak....saya yg denger kabar itu n nyimak lewat tv aja udah deg2an. Syukurlah situasi ngeri sdh berakhir dan Mak Ratna selamat masih dilindungi Allah.
    Cerita ttng kerusuhan selalu bikin ngeri. Saya pernah lihat bekas kerusuhan Sampit. Bergidik bayangin orang2 yg jd korban n mereka yg melihat sec langsung. Kami yg datang ke kota tsb jg tdk luput dr pemeriksaan plus tatapan curiga warga setempat. Beruntung wajah kami semua tdk sama dg etnis yg mereka cari.
    Semoga tidak ada lg kerusuhan menoreh luka pada bangsa kita ini.

    ReplyDelete
  3. ngeri banget yaaa... gak kebayang gimana rasanya ada di tkp langsung...

    ReplyDelete
  4. Fotonya ngeri ya, Mak :( Sedih.

    ReplyDelete

Hai ^_^
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya di blog ini.
Silakan tinggalkan komentar yang baik.
Mohon maaf, komentar anonim maupun yang sifatnya spam, tidak akan dipublikasikan.
Keep reading and Salam !