My Dairy Note's

Life Style & Family Blog Indonesia

    • Home
    • About
    • Disclosure
    • Lifestyle
      • Books & Movie
      • Travel
      • Culinary
      • Fotografi
    • Midlife Series
      • Family
      • Wellness
      • Blogging
      • Techno
    • Career & Project Management
      • Project Management

Nggak sengaja saya re-run film Queen of The Desert di salah satu tv kabel.  Rupanya film yang dibintangi oleh aktris cantik Nicole Kidman menceritakan perjalanan Gertrude Bell; seorang penulis dan arkeologis berkebangsaan Inggris yang hidup di awal tahun 1900-an.  Ketertarikannya pada eksotisme Timur Tengah tidak hanya menjadikan Gertrude menjadi sosok yang berkontribusi atas terbentuknya negara-negara seperti yang kita kenal sekarang, namun membuatnya menjadi seorang (solo) traveler wanita yang dikenal seantero jazirah Arab.

Saya ngga bisa bayangin apa yang dihadapi oleh seorang solo traveller wanita barat di awal abad 19, melakukan perjalanan melintas gurun pasir Tanah Arab yang tidak hanya keras iklimnya namun juga berbeda dalam segala hal; dari mulai agama hingga budaya.  Pastinya membutuhkan sikap adaptasi yang luar biasa.

Amerika Serikat saja yang dijadikan barometer standar kemajuan suatu negara, konon sepuluh tahun yang lalu aja masih beranggapan female solo travel sebagai hal yang tak biasa.  Warga Paman Sam ini pun perlu waktu untuk menata persepsi akan female solo-traveler sebagai suatu tindakan yang wajar sama halnya seperti yang dilakukan oleh solo-traveler pria.

Wajar aja sih jika orang merasa khawatir bepergian sendiri. Berkunjung ke suatu tempat yang semuanya serba asing berarti keluar dari zona nyaman.  Memangnya ada yang senang meninggalkan comfort zone ?

Saya pribadi pun mikir panjang kalo disuruh travel sendirian.  Jika pada akhirnya saya ternyata harus traveling tanpa teman, itu karena kondisi pekerjaan yang mengharuskan saya pergi sendiri-ri-ri!  Sudah urusannya bukan senang-senang, sendirian pulak!  Double trouble 😩

Anyhow, setelah sekian kali solo travel, turns out it is not intimidating as I thought before.  Sebaliknya, banyak hal yang saya rasakan dari solo traveling.


Selfproven a.k.a Mengandalkan Diri Sendiri.  When you said you can do it, then you can.

Apa yang diperlukan saat Anda harus pergi ke tempat yang penduduknya nyaris tak berbahasa Inggris, boro-boro internet, handphone pun masih barang langka.  Tiada lain adalah percaya diri yang gede banget!

Dan itulah kondisi di tahun 1996 saat perusahaan "menyuruh" saya untuk berkunjung ke kantor pusat di Seoul, Korea Selatan.  Tahun segitu,  drakor Winter Sonata aja belum lahir!  😂



Sesungguhnya saat tahu harus berangkat sendiri, tidak hanya saya saja yang khawatir, orang tua pun merasakan hal yang sama.  Alm Bapak saya sampai wanti-wanti agar saya melakukan lapor diri ke kedutaan sesampainya di negara tujuan.  Duh, sampe segitunya, pikir saya waktu itu.  Anyway nggak saya lakukan juga hehe.

Sebelum berangkat, atasan saya yang notabene Korea hanya mengatakan, someone will pick you up at the airport, sambil menyerahkan tiket dan info hotel.  Selebihnya, lo atur deh sendiri.  Nah luu!

Selain percaya diri, saya juga membekali diri dengan nyali yang besar serta setumpuk doa, tidak lupa uang saku dari kantor berikut kartu kredit.  Dan solo traveling ke Negeri Ginseng pun dapat dilewati dengan baik, mengesankan malah.



Mastering survival.  It teaches you many things, including how to read a map.

Still from 1st solo trip.

I was picked up at the airport by a female colleague from Head Office.  She also took me to the hotel.  

On the following day, she picked me up at the hotel to go to the office.  Instead of a car, we used the subway.  She taught me how to use the subway (dia memahami kekatrokan gue yang seumur-umur belum pernah naik subway secara MRT aja baru ada di endonesah tahun seginih 😂).  She also asked me to memorize the route.  

Dan rasa excitement gue langsung lenyap ibarat diguyur air es saat dia mengatakan; "Ratna, it is important for you to remember the route from the hotel to the office because starting tomorrow you'll be on your own."  Dueeengngngng.

Gimana rasanya coba harus ngapalin rute subway yang ditulis pake huruf yang bahasanya aja nggak gue ngerti?  Jangan bayangin sign board di Seoul saat 1996 kayak Seoul hari gini, yak!  It was not as friendly tourism like today.  Korea Selatan belum seterbuka sekarang.  Boro-boro ada K-POP. 

Mount Souraksan

Maka tidak ada cara selain mengingat dan mencatatnya di notes (tuh, pentingnya bawa notes dan pulpen!).  Dari hotel, di stasiun ke berapa harus turun berikut namanya.  Dimana pintu keluarnya endesbre endesbre.

Dan nggak seru kalau tanpa ada kejadian nyasar.  Pernah salah ambil pintu keluar.  Pas nongol dari pintu subway yang underground, lha kok gedung kantor adanya di seberang?  Berarti harus nyeberang dong?  Tapi kok ngga kelihatan zebra cross atau jembatan penyembrangan?  Gimana nyeberangnya?  Panic attack!  Turun lagi ke under ground station.  Hal pertama yang dilakukan adalah bertanya.  Sampai mau nangis rasanya karena orang-orang yang ditanya gak paham Bahasa Inggris.  Matek gue!

Long short story, I finally managed to get the correct route.  Dari situ saya jadi belajar bagaimana menghalau panik dalam kondisi terdesak.  Seiring waktu dan frekuensi traveling meningkat, saya jadi punya kebiasaan baru untuk merekam/mencatat hal-hal yang bisa dijadikan tanda sebagai penunjuk jalan atau arah jika datang ke suatu tempat.  Hal lainnya, I learn how to read a map! 

Understanding yourself

Bagi saya, dua hal yang disebutkan di atas adalah pintu gerbang memahami diri sendiri.  Sejatinya, get to know yourself before you want to know others.  Apalagi jika kita pergi sendirian.  Siapa yang bisa kita andalkan selain diri kita sendiri.  Agree?

Traveling solo also sharpen the ability of listen to my heart and follow my intuition.

Saya bisa dengan santainya sendirian menikmati kota Manado di malam hari dengan rasa aman dari tempat makan yang berjarak sepuluh menit jalan kaki dari hotel.  Namun tidak demikian halnya saat saya berada di salah satu kota di Kalimantan (sorry, ga mau sebut kotanya 😬).  Saking tidak merasa di level kenyamanan yang saya miliki, setiap berkunjung ke kota itu, saya selalu pesan room service for dinner.  Nggak mau keluar jika hari sudah gelap.  Can you see the different?


Nami Island


Enjoy "Me time" 

What would you do during 8-hours flight or 2 hours waiting for transit or hours before boarding?  Actually many things.  Seringnya saya membaca buku -kalo pergi pasti saya bawa buku- atau strolling around the airport karena setiap bandara punya keunikan.  Nah, kalo lihat yang unik udah pasti jadi objek bidikan yang saya rangkum di tulisan ini.

Jarang banget ngobrol apalagi dengan orang asing, karena saya basicnya pemalu pendiam.  Uwooooooooo! 😝

Kala lain, waktu tunggu saya pakai untuk memikirkan hal-hal yang ngga sempat serius dipikirkan, maklum mamak orang cibuk hihi.  Semalas-malasnya, saya cuma duduk diam sambil memperhatikan sekeliling.  Ternyata seru juga lho merhatikan perilaku orang-orang di bandara bahkan bisa nguping obrolan orang lain!

Setelah sejumlah kali penantian boarding, saat ini saya sudah bisa merubah perasaan jemu menunggu itu menjadi salah satu "me time".

We might look alone but not lonely.  Keep yourself busy.  That's my mantra.



Self-discipline since you control & in charge of everything

Solo traveling artinya melakukan segala hal sendirian.  Sendiriannya ngga cuma sebatas angkat koper dan geret bagasi kesana-kemari, gak ada temen yang diajak bisa ngobrol.   Nope, it's not only that.  Hal lain yang harus diatur sendiri adalah managing waktu dan keuangan.  Telat bangun gak ada yang omelin, skip makan juga gak ada yang ngingetin.  Mau belanja sampe dompet jebol pun gak ada yang peduli.  Paling banter bayar kelebihan bagasi dan plus bayar cicilan kartu kreditnya, yekan?

It's really come back to ourself.  Kalau udah begini, gak ada yang perlu dimiliki selain disiplin diri.

Stick to the plan adalah wajib hukumnya!

Alarm bangun pagi diset pukul berapa atau minta morning call ke resepsionis.  Pengeluaran untuk makan sekian, walaupun ditanggung biaya perjalanan dinas, do not abuse donk.  Alokasi beli oleh-oleh sejumlah ini.  Shopping-shopping tipis oke lah minimal ada tanda mata dari negara ini atau rekam jejak di tempat itu 😁

Kebiasaan lain yang saya anggap penting, begitu naik kendaraan dari bandara ke hotel, otomatis pantau travel time yang ditempuh.  Walaupun bisa tanya ke pak supir but personal observation won't hurt, right?

Jadi saat waktunya pulang, kita sudah punya referensi sendiri berapa lama waktu yang diperlukan berikut kondisi trafficnya, apakah saat peak hour atau tidak.

Nami Island

Bebas, Time Flexibility karena Dapat Mengatur Perjalanan Sesuai Keinginan

Segitu disiplinnyakah lalu kapan seneng-senengnya?

Bagi saya justru dengan patuh pada waktu saya jadi punya prediksi berapa banyak spare time yang saya miliki.  Yang tidak kalah penting, nobody told me what I should do during that free time, yeay!

Walaupun berkonteks perjalanan dinas, saya punya kebebasan memilih jadwal keberangkatan dan kembali.  Saat ada 1-day transit di Bangkok dalam perjalanan pulang dari Hanoi, saya optimalkan waktunya untuk One Day Bangkok City Tour.  Hasil jalan-jalan tipis di Bangkok lainnya selama business trip ternyata bisa jadi tulisan yang saya rangkum di sini.

Kali lain, saya sengaja "meninggalkan" diri dari rombongan untuk menikmati Bandung lebih lama hanya karena ingin mengenang Braga.

Atau saat di Menado; sehabis rapat yang ternyata selesai lebih cepat dari dugaan, sisa waktunya saya pakai untuk ziarah ke makam Tuanku Imam Bonjol serta melihat patung Monumen Yesus Memberkati yang menjulang tinggi hingga 50m.

Work hard, travel hard.  Can have them both altogether is such a blessing for me 😎.


Gereja Blenduk, Semarang


Self Improvement of traveling

Sering solo traveling akhirnya menumbuhkan ketrampilan dalam hal traveling.  Mulai dari memilih flight schedule, buat itinerary -seringnya made on location-, punya kostum anti lecek, ukuran koper/tas sesuai lama hari bepergian hingga cara packing walaupun belum mahir lipet baju sampai kecil seperti yang udah beredar di Youtube.  I should learn someday though.

Pengalaman traveling juga saya jadikan referensi saat merancang family trip.  Tempat mana yang perlu dikunjungi, spot apa saja yang bisa diskip because it's not worthed to visit.

Iya, sampai saat ini saya masih melakukan swakelola dalam merencanakan liburan keluarga.  Mulai dari ordering ticket, booking hotel hingga membuat itinerary dilakukan sendiri.  Masih belum merasa perlu pakai tour hehehe.  Paksu sampai komen, kamu udah pantes jadi tour organizer.  Aaamiin.

Lha wong traveling jaman kekinian mah gampil-surampil; the world in one hand itu benar adanya.  Fitur peta, aplikasi terjemahan sampe rekomendasi tempat makan semuanya ada. Semuanya manageable dan mudah berkat internet.  Internet indeed is connecting people to the world.

Terakhir,

Understand the meaning of absence

Mungkin ini romantisme saya aja ya, sebaga ibu pekerja yang kadang harus meninggalkan anak-anak dan pasangan.  Berjauhan dengan kesayangan untuk sementara waktu malah menambah kesadaran betapa berharganya kebersamaan bersama keluarga.  I become a person who value the quality over quantity.

Agar tetap terkoneksi walau terpisah jarak, kami sampai punya kesepakatan pukul berapa melakukan video call.  Someone is going for a while, doesn't mean communication is off.

Lalu saya pun teringat akan kata-kata bijak pakde Thomas Fuller;

Absence sharpens love, presence strengthens it.  


Tanpa pernah solo traveling, terlepas liburan atau bekerja, pastinya saya tidak akan pernah merasakan hal-hal yang saya tuliskan di atas.

Setuju atau punya pendapat lain?



Share
Tweet
Pin
Share
66 comments
Maret sudah di penghujung bulan, tak terasa tiga bulan sudah MEA berlangsung.  Merasakan bedanya?  Enggak.  Atau mungkin tepatnya belum.  Padahal gaung era MEA sudah dimulai dari semenjak tahun 2015.  Namun tampaknya aktivitas berjalan seperti biasa.  Ketika counting down mejelang tahun 2016, tanpa kita sadari pintu perdagangan bebas antar sesama anggota ASEAN sebenarnya perlahan dibuka.   

MEA-peluang-atau-ancaman


Sebenarnya apa MEA itu?  Kenapa diberlakukan MEA di kawasan Asia Tenggara.  Secara konsep, MEA atau Masyarakat Ekonomi ASEAN tidak jauh berbeda dengan MEE (Masyarakat Ekonomi Eropa).  Tujuannya melindungi kepentingan ekonomi negara-negara yang tergabung di dalamnya.  

Dengan menerapkan perlakuan khusus antar sesama teman seregional, semisal penghapusan bea cukai atau keringanan pajak, diharapkan membangun situasi kondusif bagi kemajuan ekonomi negara ybs. Artinya bakalan masuk produk-produk selain produk lokal bersanding di etalase pusat perbelanjaan.  Kebijakan MEA lainnya adalah SDM (Sumber Daya Manusia).  Tenaga kerja dari Singapura, Malaysia atau Filipina misalnya bebas kerja di Indonesia.  Begitu juga sebaliknya.  Tenaga kerja Indonesia ngga Cuma berjaya di dalam negeri tapi juga eksis di luar negeri.

Ancamankah atau peluang?

Share
Tweet
Pin
Share
7 comments
Ketika membaca liputan Mak @lusitris tentang Sukses Online Shop ala Mak Carra di Seminar Wirausaha Perempuan Berdaya Saing Tinggi yang diselenggarakan oleh Stilletto Book tanggal 6 September 2014 lalu di Kota Gudeg, Jogjakarta; saya jadi keinget kalo saya dan dua orang adik sepupu pernah menginisiasi upaya serupa olshop ini namun mandeg di tengah jalan.  

As a start, infrastruktur bisnis online hijab plus aksesoris ini sudah ada secara adik sepupu si owner background sekolahnya IT.  Web -berbayar- udah punya, buyer juga udah ada.  Tinggal promosinya yang masih perlu digenjot.  Makanya kalo kita lagi ngumpul bertiga, topik jual-menjual ini juga dibahas diseling update berita-berita terkini keluarga besar, hehehe.


From the photo session,what do you think ?

Waktu itu, salah satu yang kita anggap perlu diperbaiki supaya calon pembeli lebih tertarik dengan produk adalah tampilan produk yang dipajang di website kurang greget. Padahal kita sadar bener bahwa web site itu berfungsi sebagai etalase, 'kan ?  Dan selayaknya etalase yang kita lihat di pertokoan, harus dirancang semenarik mungkin.  Akhirnya kita sepakat untuk bikin foto yang lebih serius dibandingkan sebelumnya.  


Share
Tweet
Pin
Share
12 comments
Kalau tidak salah ketika itu sekitar pukul 10 pagi. Atasan saya yang seorang warga negara Amerika terlihat gelisah setelah menemui atasannya yang juga seorang expatriat.  Yang saya ingat juga, lantai 9 di gedung di mana saya bekerja, hari itu tidak terlalu ramai.

Tidak lama, telepon genggam saya berbunyi.  Dari Call ID, saya baca nama kakak sulung saya yang berdomisili di Balikpapan.  Tumben, pagi-pagi telepon, batinku.

Begitu kusapa hallo, telingaku disambar oleh suara paniknya.  Di mana kamu, kenapa masih di kantor, ayo cepat pulang !  Pertanyaan dan perintah terdengar beruntun jadi satu.

Eh ?

Share
Tweet
Pin
Share
14 comments
Seperti yang diterangkan oleh Rancho ketika ditanya oleh dosennya dalam film 3 Idiots bahwa teknologi seyogyanya untuk memudahkan kerja manusia.  Jadi barang sekecil resleting pun, menurut Pancho, bisa dikategorikan sebagai mesin.

Ketika hidup kita sudah diinvasi oleh teknologi plus internet di masa kini, pernah terpikir ga kalau ternyata kita sudah jarang melakukan hal-hal berikut ?



Share
Tweet
Pin
Share
4 comments
Image from Google


Almarhum nyokap bilang, trend itu semacam siklus.  Sesaat hype, hilang untuk kemudian timbul lagi.  Saat Lupus Reborn di tahun 2013 yang lalu, gue jadi inget lagi serial Lupus yang dimuat di majalah Hai.  Lupus booming berbarengan dengan masa SMA gue.  Seandainya Lupus ini beneran orang, bisa jadi udah seumuran gue juga.

Buat yang ga kenal Lupus, dia adalah anak laki-laki SMA Merah Putih yang hobi mengunyah permen karet, tokoh iconic remaja tahun 80-an.  Gegara dia, angkatan kami jadi ikutan belajar gelembungin permen karet.  Para remaja cowok ramai-ramai berpotonganan rambut jambul dengan semi gondrong di bagian belakang; somehow mirip syle rambutnya Roger Tyler, vokalis Band Duran-Dura!  Kalau pun bagian gondrongnya terpaksa dipotong karena razia di sekolah, minimal bagian jambul masih bisa dipertahankan.  Ngga ketinggalan, tas bertali panjang yang diselempangkan, mirip postman style gitu deh.

Setelah booming menjadi serial di majalah remaja Hai, cerita yang dianggap mewakili remaja di jamannya itu pun naik kelas jadi buku.  Anehnya, walau hobi membaca, gue ngga sampai mengkoleksi serial ini.  Sempet baca sih, satu-dua bukunya.  Itupun hasil minjem temen, hehehe.

Dari hasil baca buku pinjeman itu, Gue jadi paham jika sang pengarang Hilman Hariwijaya pandai ”menghidupkan” tokoh Lupus sehingga tidak sedikit yang berpendapat bahwa Lupus memang benar adanya. Bahkan beranggapan Hilman adalah personafikasi Lupus yang sesungguhnya.  Tidak sedikit remaja cewek yang saking kesengsemnya sama si Lupus sampai bela-belain cari SMA Merah Putih!  Ketika Lupus tak bisa ditemukan wujudnya, maka Hilman sang pengarang lah yang jadi serbuan para fansnya.

Walau Gue gak termasuk Lupus fans club, Tuhan berbaik hati memberikan kesempatan pada Gue untuk bertemu langsung dengan Hilman.  Tidak lain karena tugas negara eh, tugas sekolah.  Jadi waktu SMA dulu, Gue ngga bisa diem gitu.  Ada yang dilakukan.  Kalo bisa semua kegiatan sekolah diikutin.  Selain kepengurusan OSIS, Gue juga menceburkan diri di redaksi majalah sekolah.

Dari keterlibatan di majalah sekolah yang diberi AKSARA itulah, gue jadi paham ribetnya ngurusin majalah mulai dari milih tema untuk tiap edisi, cari nara sumber (biasanya wawancarain temen-temen sendiri), ngetik naskahnya yang jaman segitu masih pake mesin tik yang segede meja itu.  Pe-er banget saat ngetik, ehh pita mesinnya putus atau pita habis.   Alhasil tangan jadi kotor kehitaman sehabis mengganti dengan pita baru.   Jaman segitu belum ada laptop untuk ngetik syantique!  Editing, ngatur lay-out majalah, matching-in naskah sama gambar, nguber-nguber team ilustrasi yang notabene para cowok dimana mereka mendahulukan main bola padahal deadline udah deket.  

Yang terakhir, nganterin naskah siap naik cetak ke percetakan.  Biasanya hal ini kami lakukan bergantian antar teman redaksi yang lain, tak lain untuk cerewetin si Bapak tukang cetak supaya majalah bisa terbit tepat waktu.  Yah, semacam cheer leader percetakanlah walau seringnya sih telat terbit, hahaha! 

Yang tidak kalah pentingnya: jualin majalah ke kelas-kelas sekaligus penagihan.  Lengkap sudah tugas gandanya; dari reporter, tukang ketik naskah sampe jadi debt collector.  Semua dilakonin.  And I found the experience was priceless!

Balik lagi ke lap...eh Lupus.  Hasil rapat memutuskan akan mengetahkan Lupus sebagai feature.  Eh, kok berani-beraninya, anak sekolahan putih abu-abu (bukan judul sinetron ya !) mewawancarai seorang Lupus maksudnya Hilman.  Ini tidak lain karena -Shinta- salah satu teman redaksi bertetangga dan kenal baik dengan Hilman.  Berdasarkan KKN yang positif tersebut maka kami pun memberikan diri untuk mewawancarainya.

Di jadwal yang telah disetujui, kami berkunjung ke rumah Hilman. Wawancara dilakukan seusai jam sekolah.  Supaya gak malu-maluin, daftar pertanyaan sudah disiapkan.  Kamera poket isi film 24 pun siap beraksi (belum ada kamera digital apalagi ponsel berkamera, hadeeuuh ketahuan jadulnya !).  Biar kelihatan lebih profesional, Shinta yang notabene tetangga Hilman pun tumben-tumbennya bawa recorder.  Pokoknya, everything is ready!

Alhamdulillah wawancara berlangsung seperti yang diharapkan.  Dari sesi tersebut Gue jadi paham jika Hilman itu aslinya pemalu.  Mengaku introvert, ga banyak bicara.  Sekalinya bicara, suaranya haluuus sekali, cenderung pelan.  Kami sampai harus mencondongkan badan menajamkan telinga untuk mendengarkan jawaban-jawaban si penulis Lupus tersebut. Jauh beda dibanding karakter rekaannya; Lupus yang ngocol nan ceria itu.

Sore itu kami (Titi, Shinta dan gw) pulang ke rumah dengan puas hati.  Tugas wawancara berlangsung baik.  Rasanya sudah seperti wartawan profesional.  Rencananya, hasil wawancara akan kami olah besok sepulang sekolah.

Manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan.  Siang seusai sekolah, kami bertiga (Shinta-Titi-Gue) terbengong-bengong di ruang OSIS yang merangkap ruang redaksi.  Tak berkedip menatap tape recorder milik Shinta.  Berulang kali diputar ulang tapi yang terdengar cuma suara Shinta ketika bertanya berdasarkan daftar pertanyaan, sesekali terdengar suara tukang jualan keliling yang kemarin lewat di muka rumah Hilman.  Tapi sama sekali ga kedengeran suara jawaban sang pengarang. Alamak !  Kami jadi teringat wawancara kemarin, bagaimana kami harus memanjangkan telinga untuk mendengar setiap jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.   Woalaaahhhh, saking pelannya suara dia sampe rekamannya pun gak kedengaran  !

Semangat tinggi kami bertiga langsung drop.  Memandang sedih tape recorder dan kertas kosong yang sudah terpasang di mesin tik.  Kerjaan siang itu gak bisa selesai karena kami hanya mengandalkan tape recorder.  Tidak satupun dari kami yang menyalin secara tertulis jawaban-jawaban Hilman. Speechless abis.  Akhirnya diambil keputuskan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.  Wawancara harus diulang, gak ada pilihan lain.  Biar malunya nggak berjamaah, maka hanya Shinta sendiri yang datang lagi ke rumah Hilman soalnya ‘kan tetanggaan, hihihi.  Untungnya sang pengarang tidak keberatan dan majalah sekolah edisi Lupus pun terbit sesuai rencana.

Entah karena faktor itu atau bukan, dari kami bertiga, saat ini hanya Shinta yang benar-benar nyemplung jadi kuli tinta di salah satu majalah wanita terkemuka.  Titi sudah disibukkan oleh klinik khusus anak-anak di Bandung dan Gue?

Gue memilih jadi pegawai yang sesekali menulis di media blog, hehehe.

Makanya begitu baca di media tentang Lupus Reborn, ingatan Gue pun kembali ke wawancara memalukan itu sambil wondering, kira-kira sekarang ini Hilman kalo bicara masih pelan atau nggak ya ?

Semesta seolah mendengar pertanyaan gue. Setelah sekian puluh purnama tidak berkabar, kalau tidak salah sekitar tahun 2018, ada undangan dari Shinta untuk bertemu lagi dengan sang Penulis.  Maka di suatu siang, beberapa mantan Tim Aksara bertatap muka kembali dengan Hilman “Lupus” Hariwijaya.  

Menurut kalian, kira-kira suaranya masih sama kayak dulu atau berubah?


Ki-ka
Hilman – Shinta – Sri “Atiek” Saraswati - gue




(Teruntuk teman-teman Aksara SMA 7889; Shinta Tetriana & Putri "Titi" Anggun, Wibowati “Bowie”, Bernie “Beben” Medise, Sri “Atiek” Saraswati, almarhumah Siska “Chika” Anggia Tarmelia.  Para illustrator Novi dan Ochie).


Share
Tweet
Pin
Share
8 comments

http://www.life-in-spite-of-ms.com/multiplesclerosispictures.html
Courtesy Image of Life In Spite of MS
Myelin atau muscle memory adalah lapisan yang menyelubungi rantai sel mata rantai informasi pada jaringan sistem syaraf manusia.  Ia berfungsi meningkatkan kecepatan arus informasi jaringan sistem manusia dan menyebarkannya ke seluruh jaringan otot.  Semakin tebal lapisan itu berarti semakin tinggi kecepatan arus informasinya, semakin mahir gerakannya.
(Myelin, hal. 107, Rhenald Kasali)

“Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang kali. Dengan demikian, kecemerlangan bukan tindakan, tetapi kebiasaan.”
(Aristoteles)

Artinya, kalau mau menghasilkan tulisan yang baik, maka harus banyak menulis, menulis dan menulis.

Dan saya pun menulis, lagi.
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Beli majalah ini cuma karena ngiler lihat bonus diary-nya.  Sebetulnya yang mau dibeli majalahnya atau bonusnyahhh ... !!

Never mind.  A hobbyist will do anything for the collection, won't they ?

Namanya juga jurnal keluaran majalah mode jadi memuat berbagai info seputaran kecantikan dan fashion termasuk prediksi trend 2013.  

So, I got both.  The journal and the valuable articles.  All in one.  Lucky me !


Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Anak umur 6 tahun ini bertanya, "Romantis itu apa, Ma ?"


Hadeeuuuhhhh....
Ada yang bisa bantu  gak ya ?!

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Ada teman yang komentar tentang blog ini; katanya judul dengan isi ga sinkron. 


Nama blognya pake "dream" tapi isinya kebanyakan artikel tentang jalan-jalan.

Nama blognya pake "dream" tapi cerita juga tentang keluarga.
Nama blognya pake "dream" tapi ada artikel tentang teknologi praktis. 


Buat saya tidak jadi masalah.



Karena saya memang the dream catcher ^_^



Karena saya memang punya mimpi untuk menjelajah Indonesia bahkan tempat-tempat eksotik lain di luar Indonesia.


Share
Tweet
Pin
Share
3 comments

Bo'ong banget kalo suka nulis tapi ga punya buku harian atau diary.  Kalaupun ga punya khusus buku diary, minimal buku tulis biasa tapi berfungsi sebagai buku harian.

Jaman kecil dulu, Hello Kitty dan Little Twin Star adalah yang paling TOP.  Heheheh, ketahuan deh berasal dari generasi mana :) 

Modelnya pun macam-macam.  Mulai dari yang kertasnya wangi permen sampai yang pake gembok lengkap dengan kuncinya.  

Saya termasuk golongan yang ga bela-belain beli diary karena seringnya dikasih orang, minimal kado ulang tahun.  Tapi ga tahu kenapa lebih suka agenda kantor yang dibawa Bapak.  

Share
Tweet
Pin
Share
5 comments
Sebenernya ini postingan bulan Oktober 2011 lalu, belum sempet aku publikasikan di blog ini.


Biar telat asal diposting ya....hhh...


Week end yang waktu itu betul-betul sibuk.


Hari Sabtu ada offline meeting dengan para d'BCN-er.  Hari Minggunya datang ke acara Wirausaha Wanita Mandiri-nya Femina di Hotel Ritz Carlton tanggal 23 Oktober 2011.

Udah dari lama sering baca tentang acara Femina yang satu ini tapi baru sekarang bisa.  Selain faktor nara sumber yang hadir; ada Yoris bo !  Alhamdulillah dapet tiket plus -setelah dicek- ga ada agenda di tanggal ini alias masih kosong.  Perfecto !! 



dengan Yoris "The Creative Junkies"

Ada 4 nara sumber yang ditampilkan Femina sehubungan dengan tema hari ini; Dunia Usaha Tanpa Batas tapi aku mau fokus sama materi yang dibawain Yoris berdasarkan buku pertamanya, apalagi kalo bukan tentang kreativitas dalam berusaha (baca bisnis). 


Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Udah pernah nonton pertunjukkan selain bioskop ?
Bisa konser musik, teater pokoknya yang konsepnya un-plugged atau live deh.

Dalam sepanjang sejarah hidup, total pertunjukkan yang pernah saya lakukan ga banyak, ga lebih dari 10 jari.

Pengalaman pertama waktu kelas 2 SMA, diajak temen yang punya 2 tiket free past nonton lakon Figaro di GKJ.   Itu juga kebetulan; sang temen ngeluh kok ga ada ya yang mau nonton pertujukan teater padahal yang main Teater Koma.  Weit....jangan dilewatkan golden opportunity ini Ratna !  Ga mikir lagi, saya dengan sukarela menyerahkan diri untuk nemenin...hehehehe.  Mungkin waktu itu Cuma kita berdua penonton yang paling ”kecil”, anak SMA bok !  Ga ketahuan karena ga pake rok abu-abu.  Terbukti, pengalaman pertama memang selalu berkesan –mau baik atau nggak-.  Nonton Teater Koma di GKJ yang waktu itu baru direnovasi sungguh membekas dan jadi bikin adrenalin untuk nonton-nonton live performance yang lainnya.  Different sensation !

Yang kedua waktu jaman kuliah nonton konsernya Kenny-G di Stadion Sepak Bola Lebak Bulus.  Bela-belain nabung padahal uang kiriman bulanan juga ga banyak.  Maklum anak kos!  Karena banyak temen satu kos yang nonton, kita janjian pergi nonton bareng.  Dari siang udah heboh dandan.  Kenny-G gitu loch...audiencenya pasti pada wangi en keren.  Walau konser mulai jam 7 malam tapi kita udah stan-by di Stadion dari pukul 4 sore.  Antisipasi antrian masuk dan macet.   Walaupun tahun segitu (awal 90-an) kondisi jalan Depok – Lebak Bulus belum seperti sekarang.  Waktu itu Depok – BlokM rasanya jauh be’eng.  Kalo sekarang, berasa deket tapi macetnya minta ampun.

Singkat cerita, nonton konsernya sukses, hati senang dan pulang ke tempat kost ga pake ngumpet-ngumpet sambil ketok jendela teman untuk dibukain pintu.  Mengingat yang pergi segerombolan, kita dapet ijin pulang lewat jam malam dari ibu kost.  Malam itu, pintu rumah kost dibuka dengan senyum ibu kost. 

Ketiga, setengah ”diculik” temen kantor sehabis pulang kantor untuk nonton konsernya Dewa [lupa tempatnya di mana].  Sampai di tempat konser pun saya masih menggerutu karena have no clue at all siapa Dewa itu sebab si Dewa belum ngetobbb kayak sekarang, hihihi... 

Dari semua lagu yang dibawain Dewa, Cuma Kangen aja yang ear catching to me.  And I think, Ari Lasso was the most perfect ones who sing that song !  Sampai sekarang, kalo denger lagu Kangen ini memory langsung inget kejadin “nonton konser ga niat” nya Dewa.

Setelah itu beberapa kali nonton live music Friday Jazz Night di Taman Seni Ancol yang sayangnya sempet vakum lama tapi kabarnya “dihidupkan” lagi di awal tahun ini. 

Di panggung ini pula pertamakali lihat performansinya Glen Fredly yang waktu itu gabung sama Func Section dan bikin saya melongo.  Suaranya itu lho.…gila banget, apalagi waktu dia bawain lagu Ben milik Michael Jackson.  Buset, mirip abisss !!

Yang salut dari acara ini adalah kita nonton ga pake bayar alias gratis.  Cuma bayar HTM masuk area Ancol doang.  Kapan lagi lihat jazzer ber-jamp ria di bawah sinar rembulan disamping pacar ?  Huhuy !!

Setelah menikah, yang namanya pertunjukkan Cuma sebatas nonton film di bioskop. 

Sekali waktu pernah ngajak suami nonton Michael Learns To Rock, dia malah nanya “Siapa tuh ?”

“Lagian rugi ah…bayar karcis ratusan ribu buat nonton orang yang masih belajar ngeband”.

Jia…hhhh, males banget ga sey denger komentarya.  Udah ga tahu siapa Michael Learns To Rock, 'nyela pula !! 

“Kalo The Beatles aku mau” sambungnya lagi.  Please deh…ngomongin grup band yang anggotanya ada yang almarhum.  Sama aja kayak mengharap Queen konser 'kaleee.

And story always ends-up the same untuk semua ajakan nonton ini atau lihat itu.

Sampai tadi pagi, di perjalanan menuju kantor. 

Seperti biasa kita tune-in di I-Radio dengerin duet kocak-seru Rafiq dan Putri Suhendro.  Tadi tuh mereka berdua mewawancarai Sardono W. Kusumo selaku sutrada untuk pergelaran Diponegoro Java War 1825-0000 yang akan digelar dari tanggal 11 – 13 November di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

All of the sudden; “Say, kita nonton pertunjukkan ini yuk.  Kayaknya bagus deh.  Ada Iwan (Fals) juga lho”.

Waw...!!!

Jarang-jarang dapat ajakan -di luar nonton bioskop lho ya- kayak gini.  Sambil inget-inget, kayaknya tadi malem ga mimpi apa-apa deh, hihi...

"Ayo.  Nanti aku browsing jadwal pertunjukkan sama HTM-nya deh" jawab ku sambil menawarkan diri.

Hey World, this would be my 5th experience wacthing Live Performance and the 2nd if together with him !



Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Yang tak bisa diulang
adalah waktu
Yang tak bisa ditarik kembali
adalah kata-kata
Yang tak bisa dihapus
adalah bayangan tentangmu
Yang tak termaafkan
adalah ketika kumelepasmu
dengan semua kenangan dan perasaan itu
Yang baru aku sadari
betapa sepuluh tahun itu ternyata
telah membekukan hasratku yang lain
karena kristal rasaku padamu

*for DT who divorced after 10-years of marriage*
 Sedih deh, denger cerita Suami Ganteng tentang temannya yang satu ini. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Kapan terakhir naik kereta?

Jaman kuliah dulu, setiap hari.  

Semenjak kerja, udah ga pernah naik kereta lagi.  Apalagi lokasi kantor lebih mudah dijangkau oleh si roda empat.  


Jadi setelah belasan tahun ga naik KRL, pagi tadi saya pake lagi transportasi yang satu ini karena paling praktis untuk tempat yang saya tuju.

Dengan membayar tiket seharga 11 ribu rupiah untuk tipe Express AC; penumpang dapat fasilitas AC (yang menurut saya cukup dingin).  Hal pertama yang bikin rada ga percaya, kereta betul-betul diberangkatan menurut jadwal alias on-time (huh....is it in Indonesia or where ?). Perjalanan 1 jam 20 menit dari stasiun Bogor ke stasiun Kota tidak terasa.  Penumpang yang relatif sedikit karena bukan hari kerja, membuat perjalanan lebih nyaman.


Ada yang menarik perhatian mata ketika melihat poster ini.  Ternyata untuk jenis kereta Express AC, disediakan gerbong khusus wanita dengan lokasi di gerbong pertama dan gerbong terakhir dari lokomotif.  

Betul-betul woman only. 

Hanya penumpang wanita atau wanita dengan anak-anak yang diijinkan untuk duduk di gerbong pertama dan terakhir.  Wanita dengan pendamping pria akan segera diarahkan dengan sopan oleh kondektur agar pindah ke gerbong lain.

Melihat kondisi kereta yang bersih, jok tempat duduk yang masih empuk ditambah sirkulasi pendingin yang masih prima pikiran jadi melayang ketika naik kereta besi di negera lain. Tapi ngelamunnya ga lama-lama karena announcer mengumumkan kereta akan berhenti di stasiun terdekat dalam bahasa Indonesia, hehehe....


Another experience di negeri sendiri.  Di satu sisi menimbulkan rasa optimis bahwa it's gonna get better.  Tapi juga berpikir akan nasib kondisi fasilitas umum lainnya yang berjalan terseok-seok karena ditunggangi banyak kepentingan. 



Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

Follow Me

Email Facebook LinkedIn Pinterest

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  October 2025 (1)
      • Personal Branding Konsultan Project Management: 3 ...
    • ►  August 2025 (1)
    • ►  July 2025 (1)
    • ►  June 2025 (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  June 2022 (2)
  • ►  2021 (12)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (2)
    • ►  May 2021 (1)
    • ►  February 2021 (1)
    • ►  January 2021 (4)
  • ►  2020 (7)
    • ►  December 2020 (2)
    • ►  October 2020 (1)
    • ►  April 2020 (2)
    • ►  March 2020 (1)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (17)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  October 2019 (2)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  May 2019 (2)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (4)
  • ►  2018 (25)
    • ►  December 2018 (4)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  October 2018 (3)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (5)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (1)
    • ►  February 2018 (2)
    • ►  January 2018 (3)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December 2017 (5)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  October 2017 (1)
    • ►  September 2017 (2)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  June 2017 (1)
    • ►  April 2017 (1)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (1)
  • ►  2016 (37)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  July 2016 (3)
    • ►  June 2016 (4)
    • ►  May 2016 (2)
    • ►  April 2016 (9)
    • ►  March 2016 (8)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (6)
  • ►  2015 (75)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  September 2015 (6)
    • ►  August 2015 (5)
    • ►  July 2015 (19)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  April 2015 (7)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (9)
    • ►  January 2015 (5)
  • ►  2014 (39)
    • ►  December 2014 (2)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  October 2014 (2)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  August 2014 (5)
    • ►  July 2014 (2)
    • ►  June 2014 (3)
    • ►  May 2014 (4)
    • ►  April 2014 (2)
    • ►  March 2014 (2)
    • ►  February 2014 (5)
    • ►  January 2014 (7)
  • ►  2013 (36)
    • ►  December 2013 (5)
    • ►  November 2013 (5)
    • ►  October 2013 (2)
    • ►  September 2013 (5)
    • ►  August 2013 (1)
    • ►  June 2013 (1)
    • ►  May 2013 (4)
    • ►  April 2013 (6)
    • ►  March 2013 (3)
    • ►  February 2013 (2)
    • ►  January 2013 (2)
  • ►  2012 (28)
    • ►  December 2012 (2)
    • ►  November 2012 (3)
    • ►  October 2012 (3)
    • ►  September 2012 (4)
    • ►  August 2012 (4)
    • ►  July 2012 (5)
    • ►  May 2012 (1)
    • ►  April 2012 (1)
    • ►  March 2012 (1)
    • ►  February 2012 (1)
    • ►  January 2012 (3)
  • ►  2011 (28)
    • ►  December 2011 (2)
    • ►  November 2011 (3)
    • ►  October 2011 (1)
    • ►  September 2011 (1)
    • ►  August 2011 (4)
    • ►  July 2011 (2)
    • ►  June 2011 (4)
    • ►  May 2011 (1)
    • ►  April 2011 (4)
    • ►  March 2011 (3)
    • ►  January 2011 (3)
  • ►  2010 (2)
    • ►  December 2010 (1)
    • ►  June 2010 (1)

Created with by BeautyTemplates