-webkit-border-radius: 100px; -moz-border-radius: 100px; border-radius: 100px; #linkwithin_logolink_0 {display:none;}

Piknik Irit ala MyDairyNote


Apa yang terbayang kalo denger kata ‘piknik’ ?

Acapkali mendengar kata piknik yang terbayang dalam benak saya adalah duduk di hamparan rumput nan luas sambil bermain dan ngemil-ngemil cantik makanan yang dibawa dalam keranjang bambu.  Dengan bekal roti isi, berbagai biskuit, minuman segar beserta buah-buahannya.  Tidak lupa buku bacaan dan radio kecil untuk menambah kemeriahan.   Supaya adem, lokasi menghamparkan tikarnya di bawah pohon nan rindang.  Menikmati keteduhan dibelai angin sepoi-sepoi.  Ideal banget ya ?  Atau ini efek kebanyakan baca bukunya Enid Blyton yang sukses bikin saya terngiler-ngiler saking suksesnya beliau mennggambarkan suasana piknik ala Lima Sekawan ?  Bisa jadi.

Tapi seringnya kenyataan tidaklah sama dengan impian, hihihi.  Dari semua piknik yang udah dilakonin, nggak ada tuh seperti yang digambarkan di atas.  Boro-boro sempat siapin makanan segitu banyak dan lengkap.  Ada beberapa hal penyebabnya; utamanya adalah waktu dan biaya.  Menyiapkan begitu banyak makanan, sudah pasti perlu persiapan khusus.  Mulai dari belanja bahan hingga membuatnya.  Padahal udah tahu ‘kan kalau cooking is not my thing !  Selain faktor malas,  seringnya piknik kami berjalan tanpa direncanakan alias dadakan. 



Gaya piknik gw beda banget kalo dibandingkan dengan piknik a'la Emak gw.  Ibaratnya gw gaya koboi, sebaliknya beliau aliran well prepared.  Semua disiapkan terutama makanan, to make sure anak-anak dan suaminya ngga kelaparan.  Semua penganan home made secara Emak gw emang doyan masak.  Mulai dari snack, nasi berikut lauk dan ngga ketinggalan sambel + ikan + asin plus lalapan.  Belum termasuk minuman plus perangkat makan.  Repot ya ?  But I guess it was fun for her.  Mengingat juga, ketika itu jajanan belum sebanyak seperti sekarang.

Beda banget dengan gw sekarang.  Di tempat piknik sudah bisa dipastikan banyak tukan jualan.  Tinggal kitanya selera atau tidak.  Kalau ingin selera yang lain, cukup beli makanan sesuai selera.  Pernah sekali waktu, tetiba pengen main ke Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua.  Pagi itu langsung aja kita capcuss.  Untuk makanannya, beli nasi rames di rumah makan nasi Padang plus makanan ringan seperlunya dengan pertimbangan jika beli di TSI selain harganya relatif lebih tinggi, juga antisipasi antrian pembeli jika beli di sana.  Sesampainya di lokasi wisata, cukup gelar tikar dan kita nikmatilah nasi bungkusnya.  Simpel banget ya ?  Hihihi.

Jadi jika liburan kami siapkan jauh-jauh hari, maka piknik bagi kami adalah suatu tindakan impulsiv, tanpa persiapan.  Itulah bedanya liburan dengan piknik bagi kami.  Kalau destinasi liburan biasanya relatif jauh dan memakan waktu berhari-hari plus bermalam segala.  Maka piknik adalah 1-day trip, pergi pagi sore hari udah balik lagi di rumah.  Makanya lokasi piknik ngga jauh-jauh dan biayanya pun relatif lebih ekonomis.  Cucok bagi yang menekankan hukum ekonomi pengiritan tapi tetep pengen seneng-seneng menghilangkan kejenuhan.  Untungnya tinggal di kota tujuan wisata seperti Bogor ini, tersedia banyak opsi untuk piknik.  Tinggal sesuaikan saja isi kocek dengan lokasi yang dituju. 

Nah, tempat mana saja yang bisa dijadikan target piknik jika liburan di Bogor ?
Ini tempat-tempat yang pernah dan sering jadi sasaran piknik dadakan kami.


Perkebunan Teh Gunung Mas


Kakak Cantik masih imut

Ketika Kakak Cantik masih balita, di akhir pekan kami sering dadakan pergi ke Kebun Teh.  Sekedar menghirup udara puncak pagi hari sambil menyesap teh hasil perkebunan PTPN VIII sambil menyenangkan Kakak Cantik naik kuda sewaan di sekitaran perkebunan.  Menjelang makan siang sudah on-the-way lagi ke rumah.  Saat itu, perjalanan ke Gunung Mas bisa ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam, belum macet seperti sekarang.  Karena faktor kemacetan pula, hanya sesekali saja sekarang kami ke tempat ini.



SKI Tajur
Lokasi ini masih sepelemparan batu dari rumah.  Awalnya Sumber Karya Indah ini terkenal sebagai factory outlet tas.  Saking maraknya bisnis tas, daerah Tajur jadi terkenal sebagai sentra tas. Pengunjungnya dari berbagai daerah.  Nggak heran, sering terlihat kendaraan roda empat dengan nomor polisi dari luar Kota Bogor.  

Flying fox dan berkuda di SKI Tajur

Karena pengunjung banyak yang datang dalam formasi keluarga, maka lambat laun pihak SKI menyediakan juga wahana wisata.  Alhasil pengunjung dimanjakan dengan konsep ibunya sibuk belanja, anak-anak pun asik bermain.  

Ada banyak permainan yang disediakan di sana; mulai dari flying fox, berkuda, perahu air dan yang teranyar wahana water park.


Curug Cilember



Salah satu keistimewaan yang dimiliki oleh Kota Hujan ini adalah air terjun.  Banyak ditemukan air terjun ditemukan di Kota Hujan ini mengingat Bogor terletak di kaki antara dua gunung besar yaitu Pegunungan Gede Pangrango dan Gunung Salak.  

Dari sekian air terjun yang terdapat di Bogor, favorit kami adalah air terjun Cilember yang terletak di kawasan Cisarua, Puncak.  Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 Km dari jalan raya, kita bisa mencapai lokasi hampir seluas 6 hektar ini yang juga merupakan w ana wisata hasil kerjasama antara Perum Perhutani Unit III dengan PHBM Jawa Barat. 

Uniknya, di Cilember ini terdapat 7 [iya tujuh !] air terjun.  Makin kecil nomornya, makin tinggi letak jeram airnya.  Keunikan lainnya, di sini terdapat Taman Kupu-kupu yang juga berfungsi sebagai tempat penangkarannya.  Dengan fasilitas yang disediakan pengelola, tempat ini menjadi salah satu lokasi camping komplit dengan MCK yang memadai.

Ngga mau camping ?  Ada juga pondokan yang disewakan pengelola.  Untuk masuk kawasan air terjun, pengunjung dikenakan HTM sebesar sepuluh ribu rupiah [kalo tidak salah] dan karcis seharga lima ribu untuk masuk ke area Taman Kupu-kupu.



Situ Gede CIFOR

Situ (Danau -- Bahasa Sunda), Gede (Besar -- Bahasa Sunda) sedangkan CIFOR (Center for International Forestry Research) adalah Pusat Penelitian Kehutanan Internasional.  Kenapa disebut Situ Gede CIFOR ?  Karena letaknya berdekatan dengan kantor CIFOR, tepatnya di daerah Dramaga.

Situ Gede tempatnya persis di sisi hutan Dramaga.  Begitu memasuki kawasan ini, kebisingan angkot Kota Bogor seolah teredam, tak terdengar hiruk-pikuknya sama sekali.  Padahal Situ Gede ini hanya berjarak sekitar 3 KM dari Stasiun Bubulak yang riuh.

Kandang rusa di Situ Gede

Berjalan di dalam hutan mini mirip menjejak kaki di Kebun Raya Bogor, de ja vu.  Sesekali terdengar lenguhan suara rusa yang dikembangbiakkan di sana.  Pengunjung diperkenankan memberikan makanan pada rusa yang ditangkar dalam kandang terbuka yang dilingkupi pagar kawat.

Dikarenakan kondisinya, Situ Gede selain menjadi tujuan harian rekreasi penduduk juga acap dijadikan lokasi pemotretan dan shooting film.  Waktu kami ke sini, terlihat sekelompok murid sekolah yang sedang berkegiatan dengan mengenakan seragam Pramuka.

Hanya sepuluh KM dari pusat Kota Bogor, kita sudah bisa menikmati hamparan air seluas hampir 6 hektar ini tanpa dipungut biaya.


Taman Kencana
Naik kuda di Taman Kencana

Selain taman raksasa Kebun Raya Bogor, Kota Hujan ini juga punya banyak taman-taman kecil.  Taman Kencana adalah salah satunya.  Bagi yang pernah ke Makaroni Panggang, pastinya tahu lokasi taman yang relatif deket banget dengan KRB ini.

Apa yang menarik dari Taman Kencana dan menjadikannya sebagai salah satu tempat terbuka favorit?  Alasan pertamanya, dulu gedung kampus Kedokteran Hewan IPB terletak di sini karenanya banyak ditemukan tempat jajanan dan tempat nongkrong khas mahasiswa.  Walaupun kemudian kegiatan civitas akademik dipusatkan di Dramaga, tempat jajanan di sini tetap ada bahkan nambah.

Letaknya di perlintasan jalan ramai -bukan jalan protokol- membuatnya mudah diakses.  Belakangan malah banyak kafe tumbuh menjamur di kawasan ini.  Khusus akhir pekan, banyak kegiatan terpusat di sini.  Mulai dari jejeran mobil toko yang menjual dagangan makanan hingga fashion.  Tempat pertemuan berbagai komunitas, dari komunitas penyayang anjing, penggemar capoeira, sepatu roda, dsb.

Jangan lupa, selain moko [mobil toko] dan kedai makanan, aneka pedagang kaki lima juga meramaikan Taman Kencana.  Bahkan tukang kuda keliling dan sado pun ikutan mangkal.  Agenda kami kalo ke sini di akhir pekan adalah berburu jajanan dan diakhiri dengan naik kuda.  Hingga sekarang, Taman Kencana masuk dalam daftar perburuan jajanan.  Kecuali naik kuda, mengingat anak-anak udah ngga tertarik lagi, hehehe.

Adanya pepohonan di tengah taman membuat suasananya cukup nyaman.  Pernah kami ke sini dan gelar koran ala kadarnya sambil menikmati soto mie di sisi taman.  Nikmaaattt.


Halaman Rumah
Yang ini piknik super irit.  Ga perlu transport karena acaranya cukup gelar tikar di halaman rumah sendiri.  Awalnya iseng.  Bosan makan di meja makan, ingin sesuatu yang beda.  Akhirnya kami langsung buka tikar dan makanan pun pindah ke luar.



Mari makan !



Walau masih di rumah sendiri tapi suasanya beda.  Untungnya rumah kami bukan di pinggir jalan raya, jadi kami bisa menikmati makanan nggak pake debu.  

Nah, siapa bilang piknik harus selalu mahal ?

Sudah tahu spot mana yang dipilih untuk piknik Anda jika liburan di Bogor ?  Asal jangan di halaman rumah saya, yaaaaa ! ^_^

Oh ya, ada satu lagi nih incaran tempat piknik irit yang ingin kami sambangi yaitu Wisata Gunung Pancar.  Mupeng bingits lihat foto-fotonya seliweran di Time Line sosmed.  Kali ini, gw bakal bela-belain bawa ransum logistik sendiri.  Udah kebayang, sehabis makan terus gegoleran di bawah jejeran pohon pinus yang juga cantik untuk hunting foto.  Waaahhh !!


Image from here

Image from http://www.initempatwisata.com/


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog "Piknik Itu Penting".


21 comments:

  1. Di Taman Kencana ada kuda yah, baru tau. Belum pernah lihat padahal sering lewat kalau Sabtu.

    ReplyDelete
  2. Hahaha..Lima Sekawan-nya Enid Blyton itu bacaan favoriteku. Zaman dulu belum tahu dan penasaran banget sama sandwich dan limun jahe. :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang masih penasaran nggak sama sandwhich dan limun jahe ?
      xixixixi

      Delete
  3. Jajaran pines itu ada juga, mba...di sentul. Kapan deh aku posting fotonya....hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, dirimu udah ke sana ya ? Aku belum niy, I surely I will !

      Delete
  4. Itu anak2 gaya potonya lucu banget Mak hehehe

    ReplyDelete
  5. asik bgt pikniknya..

    good luck Ganya ya mba

    ReplyDelete
  6. Enyd Blyton? Lima Sekawan ? Hmmm ...
    *senyamsenyumngitungumur*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin waktu gw baca Enid Blyton, Ei lagi baca bukunya Mira W xixixixi

      Delete
  7. Wiiih, segerrr lihat poto2nya maaak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Foto kok seger, mak Nurul ? Yang seger tuh es, anyway terima kasih

      Delete
  8. Waah enak sekali ya gelar tikar di luar rumah trus piknik di depan rumah.Sayang sekali rumahku sempit dan gak punya halaman luas mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Efek foto jadi kelihatan luas padahal aslinya seumprit, mba Nunung.
      Lapangan bola masih lebih loaaassss ^_^

      Delete
  9. iya, ya. kayaknya udah beda jaman. Dulu mamah saya juga kalau mau piknik sampe bela-belain bikin lontong isi plus sambal kacangnya hehehe. Sedangkan saya gimana nanti aja, tinggal jajan. Kalaupun kerajinan bawa dari rumah, paling cuma bihun goreng. Lebih simpel ketimbang bikin lontong isi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata dikaw sama juga dengan diriku. Kirain gw doank, Chie :P

      Delete
  10. aku juga belum pernah tuh mak yang gunung pancar, mupeeeng....

    ReplyDelete
  11. terimakasih partisipasinya. maaf pengumuman diundur tgl 20 oktober. goodluck

    ReplyDelete

Hai ^_^
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya di blog ini.
Silakan tinggalkan komentar yang baik.
Mohon maaf, komentar anonim maupun yang sifatnya spam, tidak akan dipublikasikan.
Keep reading and Salam !