Hanoi, City of Lakes (Part 2)

by - November 13, 2013

(nerusin oleh-oleh Hanoi yang ini)

The Beauty of the City
There's always a good thing within, even in a dirt !  Makanya bagian ini saya beri heading Ying Yang.  Karena selalu ada hal-hal manis sebagai penyeimbang.
  1. Ibarat trend, I found Hanoi as a vintage city.  
  2. Sudut-sudut kota dihiasi oleh bangunan yang kental unsur arsitektur Perancisnya.  East meets West menghasilkan bangunan yang cantik.  Mengingatkan saya akan bangunan art deco yang kalo di Indonesia masih bisa ditemukan di kota-kota lama seperti Bandung atau Malang.  Buat yang suka melihat-lihat bangunan-bangunan kuno, silahkan masukkan Hanoi dalam daftar must place to visit.  
  3. Banyaknya bangunan kuno yang berdiri utuh bahkan masih berfungsi umumnya untuk kegiatan pemerintahan menunjukkan jika mereka bisa memelihara dan menghargai peninggalan.
  4. Uniknya, di dalam kota juga ditemukan bangunan semacam kuil seperti yang saya temukan di pinggir danau kawasan Old Town.
  5. Nampaknya Old Town ini adalah melting pot nya kota Hanoi.  Pada malam hari, kita bisa menjumpai banyak wisman di kawasan ini.  Atmosfir internasional sangat terasa manakala kita mendengar beragam bahasa percakapan mengawang di udara; Swedia, Belanda, Perancis juga Bahasa Indonesia (nah, itu pastinya gerombolan kami, hihihi).  Selain tempat penginapan, terdapat pilihan tempat makan seperti caffe dan restoran di kawasan Old Town.  Lagi-lagi nafas Perancis kental terasa di sini.  Dari cara penyusunan meja kursi di selasaran resto persis di tepi jalan, mengingatkan saya akan film klasik  Midnight in Paris.   Wanna see an interesting night life in Hanoi ?  Definitely come to Old Town !
  6. Hanoi makin menarik karena dikelilingi banyak danau dan aliran sungai.  So they will be a beautiful scenery during the night; permukaan air danau memantulkan cahaya lampu kota.  Cantik banget !
  7. Bertentangan dengan kondisi jalanan, Hanoi punya banyak taman di tengah kota. Parks by the lake, awesome !
    Old Town di malam hari
    sayang gambarnya blur

    The Most Shocking Parts !

    Yang Pertama.    Lain ladang lain belalang.  Lain tempat, lain pula budayanya.  Maka sempet kaget waktu disuguhi pemandangan yang gak lazim dijumpai di Indonesia.  Yang ini mengenai PDA alias Public Display Affection especially among young people. You can see local couple is kissing in public area. Yupthey're kissing dan tampaknya taman-taman yang banyak dijumpai menjadi tempat favorit memadu kasih. Saya dan kawan agak norak [atau lebih tepatnya 'heboh'] waktu pertama kali melihatnya.  Is it for real ?  Rasa kaget kemudian berubah menjadi iseng.  Setelah tersadarkan bahwa hal tersebut merupakan hal biasa dilakukan di tempat umum, perasaan salah tingkah malah berganti menjadi keisengan; kaminya yang celingukan "cari" pemandangan sejenis di sekitaran taman, hehehe.


    Yang Kedua.   Setiap perjalanan selalu punya cerita yang tak terlupakan.  Begitu juga dengan trip Hanoi ini. Gimana bisa lupa, jauh-jauh datang ke sana; mau makan malah diusir sama petugas ketertiban. Semacam Saspol PP gitu deh kalo di Indonesia. Berawal dari keinginan mencoba local food untuk menu makan malam. Mengingat hari sudah agak larut, maka diputuskan cari tempat makan di seputaran hotel saja. Ternyata di belakang hotel terdapat danau (sayang, gak tahu nama danaunya).  

    Di tepian danau kami melihat jejeran meja kecil berikut tikar.  Rupanya kaki lima lesehan bukan punya Jogja semata.  So having street hawker dinner by the lake seemed like a good idea !  Kapan lagi makan malam di pinggir danau, mana cuaca mendukung lagi.  Baru saja duduk dan hendak memesan makanan tiba-tiba sang penjual menghampiri kami sambil berbicara dengan nada gusar sambil lho...lho...kok properti meja dan tikarnya diangkut ?  Belum selesai rasa heran kami, dari jauh terlihat petugas membawa pentungan.  Nada suaranya lebih gusar dari si penjual.  Butuh beberapa saat untuk sadar bahwa sedang terjadi penertiban dan kaki lima yang kami datangi kena gusur !  Masya Allah !!  Gak mikir panjang lagi, kami pun ikut berlarian dan baru berhenti setelah tak terdengar lagi suara orang yang marah-marah tadi.  Ya ampunn, apes banget sih !  Mau makan kok malahan digusur Trantib !  Hihihi.  Benar-benar pengalaman tak terlupakan di negara orang.  Rupanya bukan hanya di Indonesia saja ada pedagang kaki lima yang tidak tertib.  Di negar lain juga ada kok.  Termasuk peraturan dilarang berjualan di area tepi danau.  Woalaahhh...

    Tak jauh dari tempat kami digusur, akhirnya kami menemukan sebuah tempat makan.  Masih pedagang kaki lima tapi kali ini ga pake acara digusur petugas Satpol PP ^_^.  Bertempat di sebuah lorong di antara dua bangunan yang berbau Perancis, telah disediakan beberapa meja kecil berikut kursi kecilnya semacam dingklik kalo orang Jawa bilang.  Sebuah meja sudah dipenuhi oleh sekelompok.  Dari bahasa yang digunakan kami simpulkan mereka orang lokal. Sambil mengobrol, terlihat mereka sangat menikmati makanan yang dihidangkan.  Penasaran kami perhatikan dulu, rupanya makanan disajikan dengan konsep shabu-shabu alias rebus-rebusan.  Sebuah panci ditaruh di atas kompor yang ditempatkan di tengah meja berikut mie dan sayur-mayur.  Pilihan yang pas untuk mengatasi hawa dingin yang bikin perut makin keroncongan.  


    Tapi masih ada PR lain yaitu memastikan bahwa baik kuah maupun yang disajikan halal untuk disantap.  Lagi-lagi bahasa menjadi kendala.  Tidak satupun diantara kami berempat yang tahu bahasa lokal untuk ayam atau daging sapi.  Bahasa tubuh nggak berhasil juga.  Maksud hati akan menggambar binatang yang dimaksud sayangnya mereka tidak punya kertas maupun alat tulis.  Belakangan kami baru tahu jika mereka hanya menyajikan satu menu saja, tidak seperti kaki lima di Indonesia yang punya lebih dari satu menu sampai harus punya list menu makanan.  Mungkin karena kesal, akhirnya si ibu yang punya warung menarik saya ke bagian belakang.  Di situ terlihat ada seekor ayam utuh.  Alhamdulillah, pikir saya, case closed.  


    Rupanya perjalanan menuju makan malam belum berhenti sampai di situ.  Saya dan kawan-kawan berpikir, sang ayam akan diolah dulu baru disajikan pada kami.  Ternyata salah saudara-saudara !  Jadi ya, cara penyajiannya sebagai berikut :

    • Panci diisi dengan air tawar biasa; ga pake garam, ga pake bumbu apa dan iya airnya juga bukan air kaldu.  
    • Ayam mentah yang nota bene juga tidak dibubuhi bumbu apapun cukup direbus gitu aja dalam air tawar tadi sampe mateng.
    • Sambil rebus ayam sampe mateng, cemplungin juga deh tuh segala rupa sayur plus mie-nya.
    • Oh ya, udah disebut belum kalo ayamnya utuh bulet, ngga disembelih, masih berjengger dan walaupun penerangannya ga terang benderang tapi masih bisa kelihatan oleh mata dakuw kalo kulit ayamnya ngga 100% mulus alias masih ada bulu-bulu yang ketinggalan.  Mirip bakal kumis cowok yang mau tumbuh itu lho !
    That's it !!  
    No dinner that night.  I'd rather skipped dinner than eating that kind of food.  Ngga tega rasanya nelen makanan seperti itu.  Malam itu saya baru bisa tidur setelah menghabiskan 3 potong roti yang dibeli di pastry hotel.  Saking "yaiks !" nya dengan jenis makanan itu sampe ngga mau tahu kira-kira apa namanya, hihihi.


    Another Trivia Facts

    Seperti yang diceritakan sebelumnya, jika kesulitan mencari makanan maka fast food resto atau mini swalayan seperti Circ*e-K atau Se*ven El*ven menjadi dewa penolong.  Selain harganya terjangkau, saya pun familiar dengan barang-barang yang dijajakan.  Herannya di Hanoi kok susah nemunya ?  Atau waktu saya ke sana, toko-toko yang saya sebutkan tadi belum beroperasi ya ?  Hihihi.

    Kalo ga beli oleh-oleh, bukan orang Indonesia namanya.  Kebiasaan yang penting-ga-penting ini membuat orang Indonesia dikenal sebagai pelancong yang suka belanja di manca negara.  Yang namanya oleh-oleh itu seolah "haram" hukumnya jika hanya diperuntukkan untuk sedikit orang mengingat sifat keguyuban orang Indonesia.  Selain keluarga besar seperti ortu, kakak-adik, om-tante.  Masih ditambah lagi teman kantor, teman nongkrong, teman rumpi, teman nge-gym, teman arisan dst dst.  Not mentioning; your partner !

    Namun ketika teman-teman yang lain sibuk mencari oleh-oleh, saya kok tidak tertarik untuk ikutan eforia tersebut.  Setelah saya perhatikan baik-baik, barang-barang yang dijual di tanah air masih lebih bagus, baik dari pemilihan jenis bahan maupun desain.  Jadi kalo menurut penilaian saya pribadi, jalan-jalan ke Hanoi lebih untuk kepuasan rohani alias pleasure of travel rather than buying oleh-oleh.  Ini menurut saya lho, ya !

    Jujur, kalau berkunjung ke negara lain saya biasanya menemukan hal-hal yang membuat saya terkesan bahkan kagum.  Khusus untuk Trip Hanoi, banyak hal yang membuat saya terkejut.  Walaupun demikian, perjalanan ini sama berkesannya dengan perjalanan-perjalanan lainnya.  Banyak hal baru yang saya temui.  Banyak hal yang bisa diceritakan.  It's just too bad that I didnt go to Halong Bay.... 

    You May Also Like

    0 comments

    Hai ^_^
    Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya di blog ini.
    Silakan tinggalkan komentar yang baik.
    Mohon maaf, komentar anonim maupun yang sifatnya spam, tidak akan dipublikasikan.
    Keep reading and Salam !