-webkit-border-radius: 100px; -moz-border-radius: 100px; border-radius: 100px; #linkwithin_logolink_0 {display:none;}

Tambah Seru Dengan Si Ungu

Rasanya tidak ada orang Indonesia yang ngga doyan keripik.  Makanan yang dalam bahasa Inggrisnya dikenal sebagai ‘chips’ ini banyak ragamnya.  Seingat saya waktu kecil  dulu, almarhumah Mama juga sering menyediakan cemilan di rumah namun jaman itu jenisnya masih terbatas pada jenis umbi-umbian seperti  kentang dan singkong selain tempe atau pisang.  Makin ke sini, ketika teknologi sudah semakin maju plus kesadaran masyarakat akan hidup sehat meningkat, maka jenis keripik jadi lebih bervariasi.  Jadi sekarang sudah ada tuh keripik yang berbahan dasar sayur atau buah seperti keripik nangka dan keripik bayam. 

Inovasi nggak berhenti sampai di situ.  Masih inget ‘kan dengan fenomena keripik singkong pedas dengan level kepedasan yang berbeda ?  Si penjual dengan cerdiknya menyediakan rasa keripik mulai dari yang tidak pedas, sedang pedasnya sampai yang super pedes-des-des !  Karena si penjual menyadari bahwa walaupun khas cemilan Indonesia tapi ngga semua orang tahan dengan rasa pedas seperti saya.  Bukannya ngga suka pedas, tapi sadar diri aja kalo lidah saya ini ngga sanggup makan makanan yang pedasnya to the max –istilah anak saya yang ABG-.  Selain lidah yang ngga sanggup, perut juga langsung “berontak” kalau menkonsumsi makanan pedas.  Makanya saya jadi terlihat ”picky” dalam memilih cemilan (kenyataannya memang “picky”, hehe).  Padahal kami termasuk keluarga yang suka banget ngemil apalagi cemilan yang kerenyes-kerenyes pada saat dimakan.  Terkadang saking pengennya ngemil tapi stok di rumah habis, kerupuk yang sejatinya untuk temen makan pun jadi sasaran.  Dan ketika saatnya makan, rasanya ada sesuatu yang ‘hilang’.  Ya apalagi kalau bukan si kerupuk tadi, haha !

Jendela-jendela

Tanpa saya sadari, saya ternyata menyukai memfoto jendela.  Mungkin karena falsafah dari jendela itu sendiri.  Tanpa perlu melihat langsung ke dalam, through the window we able to have a glance on what inside looks like.

Penilaian saya akan suatu bangunan bisa drop to the minimum level just by looking the window.  Apalagi kalo sampai lihat dari dekat kualitas kusen tidak seimbang dengan kualitas bangunannya. Sampai segitunya sih ?!  Hihihi.

Window is the eye of the buildings.
Selayaknya mata, jendela hati manusia where you can read somebody's mine.
So, it always fascinating to see how window can give dramatic impression to the beauty of the building.