-webkit-border-radius: 100px; -moz-border-radius: 100px; border-radius: 100px; #linkwithin_logolink_0 {display:none;}

Visit Jogja 2012: Day #3

Hari ke-3 menjadi Dora The Explorer.  Peta kesayangan makin lecek karena udah dibuka-tutup berulang kali.  Kalo mentok ga nemu arah, baru deh pake GPS manual alias nanya sama orang ;)

Hari ini juga bakalan jadi hari terakhir kami di kota Gudeg.  Keesokan hari harus kembali pulang and ready go back to routine !  Ewwhhhh....

Pagi-pagi we headed to east part of Jogjakarta to visit Prambanan Temple.  Yup, not the Borobudur as it has been visited few times already.

I will not talk much as I did yesterday.  Anyhow, pictures can tells more than thousand words, right ?













Tak jauh dari Candi Prambanan terdapat Candi Boko yang baru belakangan jadi tujuan para wisatawan.  Dikelola oleh manajemen yang sama dengan Candi Prambanan maka pengunjung ditawarkan 2 pilihan karcis masuk.  Yang pertama hanya membeli tiket masuk kawasan Candi Prambanan saja.  Namun jika kita membeli sekaligus tiket masuk ke Candi Boko, dikenakan biaya yang lebih murah yaitu Rp 45.000 per orang dibandingkan jika membeli secara terpisah.  Harga tersebut sudah termasuk shuttle bus ke dan dari Candi Prambanan - Candi Boko.  Tapi kalo mau pakai mobil sendiri juga ga masalah, hanya harga karcis tidak berkurang, hehehehe... Semacam karcis terusan gitu deh.


Akhirnya kami membeli karcis paket dan menggunakan mobil sendiri ke lokasi Candi Boko sebab tidak mau terikat waktu jam shuttle bus.  Jam terakhir operasional shuttle bus ke Candi Boko dari Candi Prambanan adalah pukul 3 sore.


Lokasi Candi Boko ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 Km arah Selatan Candi Prambanan.  Karena letaknya pas di puncak bukit maka pemandangan yang disajikan pun spektrakuler terlebih kabarnya di kala sunset; pemandangan kota Yogyakarta dan Candi Prambanan dengan latar Gunung Merapi.  Sayangnya, waktu itu masih 2 jam lagi menuju sunset.  View ini dimanfaatkan oleh pihak pengelola dengan mendirikan sebuah restoran yang dengan konsep open theatre.  Walaupun matahari masih sombong di angkasa tapi sudah terbayang pemandangan yang tersaji jika sang bola api itu menggelincir ke ufuk Barat.  Keren abisss pastinya.  Dari tempat yang sama masih terlihat Candi Prambanan yang menjulang.  


Dari semua candi yang pernah saya kunjungi, buat saya Boko itu unik.  Biasanya candi dibangun di tanah datar.  Atau jika candi itu tinggi seperti Borobudur, desainnya yang dibuat bertingkat menjadi seperti bukit.  Lain dengan Candi Boko yang betul-betul nangkring di atas puncak bukit.  Sang arsitektur candi pastinya sudah memikirkan salah satu fungsi bangunan sebagai benteng pertahanan selain sebagai istana dan tempat beribadah.  


Keunikan itu juga tertangkap oleh fotografer kondang Darwis Triadi yang hasil fotonya dapat dinikmati di sepanjang dinding lounge restoran Candi Boko.

Selesai melihat-lihat restoran kami yang menyatu dengan area parkir yang letaknya di leher bukit, kami berjalan menuju pintu masuk ke kompleks situs.  Dengan menunjukkan karcis, masing-masing kami diberi 1 botol air mineral.  Upsss....ada 2 kemungkinan niy; antara jalannya yang lumayan jauh dan bikin haus atau tidak ada yang berjualan di lokasi candi.


Ternyata dugaan itu ngga salah.  Cukup biking ngos-ngosan untuk sampai ke situs candi yang pertama kali ditemukan tahun 1790 oleh van Boeckhlotz itu.  Jalan yang menanjak ke atas bukit dibuat dalam bentuk undak-undakan.  Sepanjang pernjalan ke atas, disediakan tempat sampah, makanya terlihat bersih.  Saya lupa nanya berapa meter jarak dari pintu masuk sampai ke puncak tapi rasanya sih sekitar 15 menit ukuran jalan santai.  Makanya disediakan juga beberapa saung kecil untuk rehat sejenak.


Nafas yang ngos-ngos-an malah makin tercekat ketika disambut oleh pintu gerbang candi yang berdiri megah.  Untuk masuk ke area situs kita harus melewati 2 gapura.  Sebelum akhirnya melihat areal seluas kurang lebih 250.000 m2  yang ngga sanggup saya jelajahi semuanya.  Capek, bok !



Saya biarkan anak-anak menjelajahi area situs dengan ayahnya.  Perlahan saya menapak di hamparan rumput yang agak meranggas, sambil membayangkan kehidupan apa yang terjadi sekian abad yang lalu di tanah yang sama yang sedang saya pijak.  What a thrilled !!


Selintas saya perhatikan, jumlah pengunjung ke candi ini tidak seramai dibandingkan Borobudur maupun Prambanan.  Jika ingin melihat bentuk bangunan, tidak sebanyak dua candi yang saya sebut sebelumnya.  Selain pemandangan dari atas bukit, hanya sedikit bangunan purbakala yang masih bisa dinikmati di sini dan gapura candi sebagai landmarknya.  Kebanyakan Candi Boko didatangani oleh pemburu foto.



Cantiknya panorama di Candi Boko lebih merona di kala senja.  Kalau saja kami masih mau mengunggu satu jam lagi, mungkin salah satu senja terindah di bumi itu bisa terekam jejaknya dalam lensa kamera saya.

Kami serahkan senja yang cantik itu untuk menambah rona blooming pada pasangan pengantin yang hendak melakukan pre-wedding foto kala berpapasan dengan kami yang menuju pulang.

Baca juga:


No comments:

Post a Comment

Hai ^_^
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya di blog ini.
Silakan tinggalkan komentar yang baik.
Mohon maaf, komentar anonim maupun yang sifatnya spam, tidak akan dipublikasikan.
Keep reading and Salam !