-webkit-border-radius: 100px; -moz-border-radius: 100px; border-radius: 100px; #linkwithin_logolink_0 {display:none;}

Pangandaran, The Unplanned 700Km Trip

Perjalanan kali ini tanpa rencana.  Tadinya berpikir saya ngga bisa cuti.  Maka ketika pihak manajemen di mana saya sedang terlibat proyeknya mengumumkan bahwa semua kantornya akan ditutup terhitung dari Natal hingga Tahun Baru, hip-hip-hura lah kami semua.  Artinya bisa berlibur (lagi !) bareng anak-anak di liburan semester sekolah ganjil ini.

Tapi mau ke mana ?  




Yang sudah-sudah, family trip selalu well planned karena saya tahu jadwal libur.  But not this one !  Begini nih jika last minute notification.  Mana peak season lagi !  Bisa dipastikan tempat wisata penuh dan tidak  mudah dapat penginapan.  Namun Suami Ganteng optimis, "Kita go show aja, kalo aku capek nyupir nanti berhenti di jalan, sambil cari tempat penginapan."  

So, there we go !

Ditambah dengan jumlah day-off yang terbatas, menurut kami menjelajah sekitaran Jawa Barat saja tapi bukan ke Bandung karena buat kami Kota Kembang itu sudah kurang nyaman untuk tempat plesiran. Tujuan pertama adalah Sumedang, mengunjungi uwak dari pihak ayah saya.  Sudah lama kami tidak bersilaturahmi kepada para sepuh di sana.  Dari Sumedang let's see ke mana langkah kaki menuju, eh...ke mana roda mobil berputar tepatnya :)


Bogor - Sumedang via Puncak ditempuh dalam waktu 6 jam !  Bukti jalanan padat efek libur panjang dan betapa under estimate nya kami atas kota Sumedang yang tidak lagi sepi sebagaimana ingatan masa kecil dulu.

Belum ke Sumedang namanya jika tidak makan tahu bongkengnya yang terkenal itu. Kerinduan makan tahu khas kota ini terobati keesokan harinya.  Menu sarapan pagi itu adalah tahu yang baru digoreng.  Tahu panas fresh from penggorengan plus lontong nan legit sambil dicocol sambal dan kecap.  Teh tawar hangat dalam teko besar berikut gelas-gelas sudah disiapkan di setiap meja untuk penawar dahaga.  Tak terasa potongan tahu, lontong dan teman-temannya pun pindah dalam perut lapar kami.

Tararahu....tararahuuu !!


Begini cara "menggaris" tahu untuk mendapatkan ukuran yang sama

Dengan perut berisi tahu, kami pun meluncur pasti ke Pangandaran.  Yup !  Akhirnya kami memilih salah satu pantai di Selatan Jawa untuk mengisi liburan kali ini.  The decision just came up last night. And by next morning, we hit the road.  Pangandaran, here we come !


Lelaki di dapur tahu

Jarak sekitar 200 Km dari Sumedang menuju Pangandaran via Wado kami tempuh hampir sekitar 6 jam. Waktu tempuh yang cukup lumayan bikin pegel itu adalah kombinasi antara padatnya kendaraan dan antrian kendaraan karena adanya ruas jalan yang sedang diperbaiki. Jadi memang betul, infrastruktur sangat kritikal bahkan untuk menunjang urusan 'senang-senang' alias liburan sekalipun.  Kalau pariwisata Indonesia mau maju, perbaikan transportasi baik jalanan maupun kendaraannya adalah salah satu yang harus diprioritaskan. (Weh, maaf ada curcol ^_^ ).

Ketika tiba di Pangandaran, kami dibuat kaget melihat Pangandaran yang sekarang tampak lebih cantik menyapa pelancong.  Tempat penginapan banyak yang terlihat masih baru dengan desain masa kini; minimalis dan efisien.  Termasuk Hotel Menara Laut tempat di mana kami menginap. 


Menara Laut Hotel

Melihat tata ruang Pantai Pangandaran kini mengingatkan saya akan Jalan Raya Pantai Kuta Bali.  Hotel-hotel baru banyak dibangun di sepanjang ruas barat Pantai Pangandaran.  Usaha perapihan ini dilakukan setelah Pangandaran dirusak Tsunami, efek atas Gempa Bumi Yogyakarta Mei 2006 5.9 pada skala Richter di Mei 2006 lalu.  

Pangandaran kini lebih merias diri dibanding sebelumnya.  Begitu memasuki kawasan wisata, pengunjung dikenai dana retribusi daerah sebesar Rp 35,000 per kendaraan roda empat. Dari gerbang selamat datang tadi menuju ke arah pantai kita diberi dua pilihan; ke kanan arah menuju Batu Karas, ke arah kiri akan membawa kita di jalan Pantai Barat Pangandaran -The heart of the beach- , yaitu jalan lurus panjang mengikuti garis pantai Pangandaran.  




Papan Selancar

Di sebelah kanan jalannya, laut Pantai Selatana terlihat membentang.  Dalam bentangan pasir pantai yang kehitaman, berjejer kios penjaja baju-baju pantai.  Susunan kios berikut jenis dan warna-warni baju yang dipajang mengingatkan saya akan Pasar Seni Kuta Bali.  Para penjaja baju berbaur dengan bar yang memutar lagu-lagu reggae dengan suara yang memekakkan telinga.  

Di beberapa tempat terlihat juga beberapa wisman bergelaran sedang menjemur diri.  Ditambah dengan terlihatnya satu dua kios  jasa pembuat tattoo, benar-benar serasa Kuta pindah ke sini ! Walaupun belum seramai Kuta, namun atmosfir "keriaan" nya mulai kental terasa.  Yang membedakannya dengan Bali adalah di sini mudah ditemui papan penunjuk toilet umum beserta mushalla.  Oh ya, kita juga bisa menyusuri pantai dengan menaiki kuda sewaan.  Sesuatu banget deh, kalo kata Syahrini ^_^

Kehidupan pantai makin meriah dengan jejeran warna-warni papan selancar yang disewakan. Hilir mudik ATV baik oleh anak-anak maupun orang dewasa.  Belum lagi sepeda becak yang biasanya dikendarai bersama oleh keluarga.  Belum tahu sepeda becak ?   Kurang lebih seperti ini penampakannya, seperti image yang saya pinjam berikut.


Credit

Kian larut, aktivitas masih belum menunjukkan tanda-tanda kelelahan.  Pangandaran serasa belum mau surut untuk beristirahat.  Suara musik makin keras terdengar.  Berbagai macam bentuk dan warna sepeda becak makin menambah kemeriahan malam.

Jika dilihat di Google Maps, Pangandaran merupakan teluk di mana bagian baratnya berada di bagian selatan pulau Jawa yang langsung berhadapan dengan Samudra Hindia, samudra yang terkenal dengan ombaknya yang kurang ramah itu.  Sedangkan bagian timurnya berhadapan dengan Pulau Nusakambangan.  Tidak seperti belahan barat, ombak di sisi timur ini lebih tenang.  Malahan boleh dibilang tidak berombak karena sisi timur dilindungi oleh Cagar Alam Pangandaran +/- 500HA.  Cagar alam ini yang konon juga melindungi bagian timur ketika Tsunami tahun 2006 lalu sehingga kerusakannya tidak separah sisi bagian barat.

Heading to snorkling spot

Kawasan hutan lindung ini selain mempunyai banyak jenis flora khas hutan tropis juga memiliki aneka fauna.  Rusa, monyet, biawak, landak dan aneka burung terlihat bebas berkeliaran.  Bagi penyuka gua, di sini pun terdapat berbagai macam gua seperti Gua Keramat atau Gua Parat, Gua Panggung dan Gua Jepang.  

Setiap gua mempunyai cerita dan keunikan tersendiri.  Gua Jepang misalnya, gua buatan manusia dengan ketinggian 1,5m ini menandai pendudukan tentara Jepang di Jawa ketika Perang Dunia II dahulu. 

Caving Tour Gua Parat

Dari semua gua yang ada, kami hanya memasuki dua gua saja yaitu Gua Parat dan Gua Panggung.  Yang paling unik adalah Gua Parat.  Perjalanan masuk gua dimulai dari kawasan hutan lindung dengan ujung gua berhadapan langsung dengan pantai.  Begitu kita memasuki gua dari yang tidak terlalu besar langsung dihadapkan dengan suasana gua yang gelap pekat.  Tapi jangan khawatir, pemandu wisata gua sudah siap dengan senter yang bisa kita sewa Rp 10,000 per senternya.  Berbekal lampu kita bisa melihat stalaktit dan stalakmit dengan berbagai bentuk.  Ada yang bentuknya seperti gajah hingga dinamakan batu gajah.  Ada pula yang berpunuk seperti unta alhasil disebut sebagai batu unta.  Jika beruntung kita bisa bertemu dengan landak yang membuat sarang di lubang-lubang dalam Gua Parat ini.  Unfortunately, we were not lucky enough ;(

Pemandangan dari Gua Panggung


Gua kedua yang kami kunjungi adalah Gua Panggung.  Disebut Panggung karena di dalamnya terdapat tempat seperti panggung yang konon dahulunya dipakai untuk sembahyang para wali atau orang-orang yang akan naik haji ke Mekah.  

Dibandingkan Gua Parat, Gua Panggung ini lebih kecil dan hanya memiliki satu akses saja, tidak tembus seperti Gua Parat.  Juga tidak terdapat stalakmit atau stalaktit.  Gua ini seperti lubang yang menjorok ke dalam dengan dinding pintu masuk gua yang tinggi.  

Keunikan gua-gua tersebut berikut pemandangan cagar alam yang khas, membuat lokasi ini sering dijadikan sebagai tempat shooting film atau sinetron khususnya yang bergenre horor.  Jika Anda berkunjung ke sana tidak di musim libur, mungkin Anda berkesempatan melihat aktivitas tersebut.  Mengingat kemarin bertepatan dengan holiday session, maka produksi shooting dihentikan untuk sementara waktu, demikian keterangan pemandu wisata gua yang mendampingi kami.

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa kedatangan kami ke Pangandaran adalah keputusan yang impulsif.  Termasuk memilih hotel, alhamdulillahnya dapet tempat yang sesuai keinginan dan budget.  Termasuk juga ketika menentukan mau ngapain aja kita selama di lokasi.

Berdasarkan informasi, jika hendak melakukan water activities, disarankan kita datang ke Pasir Putih yang letaknya di sebelah timur mengingat ombaknya lebih tenang.  Kami pikir lokasinya jauh ternyata hanya sepelemparan batu saja jaraknya.  Tempat yang dituju bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari tempat kami menginap.  

Pemandangan dari pintu Gua Panggung

Setelah kurang dari 10 menit berkendara, tibalah kami di Pantai Timur.  Maksud hati hendak bertanya di mana kami harus memarkir mobil sebab bingung melihat kendaraan diparkir begitu saja di lapangan luas, padahal ternyata lahan itu adalah bagian tempat parkir dari cagar alam, ternyata orang yang kami tanya malah menawarkan jasa penyewaan perahu.  

Dengan ramah Diran -begitu namanya- menawarkan jasa sebesar Rp 300,000 untuk berperahu sepanjang teluk yang terlindung cagar alam, menunjukkan spot snorkling, memandu snorkling.  Untuk pemakaian berapa lama ?  Terserah kita, saudara-saudara !  Mau snorkling atau berperahu sampe eneg juga boleh.  Jelas ga nolak dong !

Di sini belum terasa perbedaan perlakuan terhadapa turis lokal dan wisman seperti yang pernah rasakan di beberapa daerah wisata di dalam negeri. Moga-moga untuk seterusnya, ya !  #ngarep.  Penduduk lokal yang kami temui semuanya ramah menyapa. Tidak pelit informasi.  Tidak pula memaksa dalam menawarkan dagangannya.  Keep it that way, folks !

Pose dulu sebelum naik perahu


Jadilah hari itu kami berpetualang a'la anak nelayan.  Setelah puas hati snorkling, kami pun menjajal aktivitas air lainnya.  Dengan pertimbangan usia Adek Ganteng yang masih unyu-unyu dan kemampuan berenangnya yang masih minim, untuk faktor keselamatan, pada operatornya kami minta safety ride mode aja.  Karena jika penumpangnya dewasa semua -sebagaimana olah raga rafting- di akhir riding pasti penumpangnya akan dibuat nyebur alias perahu tiupnya digulingkan.  Walaupun semuanya dilengkapi pelampung dan kesannya kurang seru buat yang udah gede-gede, tapi keselamatan tetap harus diprioritaskan 'kan ?

Water activities

Singkatnya, hari itu dipua-puaskan berbasah ria.  Ada berbagai kegiatan air yang mirip-mirip dengan banana boat namun dengan tingkat excitement yang berbeda antara satu dengan lainnya.


Pantai Pasir Putih, sisi Timur Pantai Pangandaran yang mengelilingi Cagar Alam Pangandaran

Lelah bermain, laparpun melanda.  Perut teriak-teriak minta diisi.  Saatnnya mencicipi sea food untuk mengganti tenaga yang hilang.

Ada banyak rumah makan baik dari warung kecil hingga tipe rumah makan yang menyajikan makanan laut, tapi mana yang OK baik dari rasa maupun harga (yang terakhir ini penting ! hehehe).  Jangan ragu untuk bertanya deh.  Penduduk sekitar dengan senang hati akan memberikan rekomendasi rumah makan yang mana yang sebaiknya dituju.  


Ternyata di Pangandaran juga punya cara menyajikan makanan seperti di Muara Angke Jakarta.  Selain memilih makan di restoran atau rumah makan.  Kita juga bisa belanja sendiri jenis ikan yang diinginkan di pasar ikan.  Di sini mereka memakai satuan kilogram. Selain menjual ikan, mereka juga menerima pesanan olahan makanan.  Jadi kita tentukan jenis masakan yang akan dipesan apakah dimasak goreng mentega atau saus asam manis.  Sayangnya mereka tidak menyediakan jenis "bakar-bakaran" alias tidak tersedia ikan bakar.  Namun hal itu tidak mengurangi kelezatan makan di siang itu.

(L) Ikan Bilis Goreng  (R) Calamari (?)

Ketika di pasar ikan, ada yang menarik perhatian saya.  Dari jauh mata saya sudah tertuju ke gundukan-gundukan kecil yang menggunung.  Saya pikir tumpukan ikan asin.  Setelah didekati ternyata itu adalah berbagai jenis hasil gorengan garing seperti calamari (cumi garing), ikan bilis goreng bahkan udang goreng.  

Penjualnya royal lho kasih sample.  Jadi kita bisa icip-icip sebelum membeli.  Dari hasil free sample, saya putuskan untuk membeli 1/4 Kg cumi garing.  Kelihatannya digoreng dengan teknik tertentu karena hingga kembali ke rumah pun, si cumi goreng masih renyah seperti keripik.  Buat saya, lebih tepat disebut sebagai keripik cumi karena hasilnya beda banget dengan cumi goreng seperti yang biasa ditemui selama ini.  Semoga aja ngga pake bahan pengawet ya, Bu ?! ^_^
Ikan segar di Pasar Ikan

Udang Asam Manis

Setelah menghinap 2 malam di Pangandaran, kami pun kembali ke Bogor. Ketika tiba di rumah, counter metre mobil hampir menunjukkan angka 700. Ternyata sudah sejauh itu kami berjalan.  
Lelah ?  Pastinya.
Senang ?  Alhamdulillah.
Perjalanan memang selalu punya banyak cerita.

The Unplanned Trip turned out to be an exciting trip for all of us.  
Tidak selamanya yang tidak terencana itu tidak baik atau sebaliknya.



7 comments:

  1. wah, makin pengen saya ke pangandaran. Terakhir, 10 tahun yang lalu kayaknya saya ke Pangandaran hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, Mak Chi.
      Terakhir dakuw ke sana juga waktu SD dulu diajak ortu. Sekarang kita yang ngajak anak-anak hehe

      Delete
  2. Wehhh Maakkkk, udangnya ikin ngeces :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi waktu makannya, makin ngecessss, hihihi

      Delete
  3. bikin serba pengen, pengen kesana, pengen makan :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sempatkan ke sana deh mak Icoel, Insya Allah seneng.
      Selamat berlibur ke Pangandaran yahh !!

      Delete
  4. Wah jadi pengen juga berlibur ke Pangandaran.

    ReplyDelete

Hai ^_^
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya di blog ini.
Silakan tinggalkan komentar yang baik.
Mohon maaf, komentar anonim maupun yang sifatnya spam, tidak akan dipublikasikan.
Keep reading and Salam !