-webkit-border-radius: 100px; -moz-border-radius: 100px; border-radius: 100px; #linkwithin_logolink_0 {display:none;}

MEA, Peluang atau Ancaman?

Maret sudah di penghujung bulan, tak terasa tiga bulan sudah MEA berlangsung.  Merasakan bedanya?  Enggak.  Atau mungkin tepatnya belum.  Padahal gaung era MEA sudah dimulai dari semenjak tahun 2015.  Namun tampaknya aktivitas berjalan seperti biasa.  Ketika counting down mejelang tahun 2016, tanpa kita sadari pintu perdagangan bebas antar sesama anggota ASEAN sebenarnya perlahan dibuka.   

MEA-peluang-atau-ancaman


Sebenarnya apa MEA itu?  Kenapa diberlakukan MEA di kawasan Asia Tenggara.  Secara konsep, MEA atau Masyarakat Ekonomi ASEAN tidak jauh berbeda dengan MEE (Masyarakat Ekonomi Eropa).  Tujuannya melindungi kepentingan ekonomi negara-negara yang tergabung di dalamnya.  

Dengan menerapkan perlakuan khusus antar sesama teman seregional, semisal penghapusan bea cukai atau keringanan pajak, diharapkan membangun situasi kondusif bagi kemajuan ekonomi negara ybs. Artinya bakalan masuk produk-produk selain produk lokal bersanding di etalase pusat perbelanjaan.  Kebijakan MEA lainnya adalah SDM (Sumber Daya Manusia).  Tenaga kerja dari Singapura, Malaysia atau Filipina misalnya bebas kerja di Indonesia.  Begitu juga sebaliknya.  Tenaga kerja Indonesia ngga Cuma berjaya di dalam negeri tapi juga eksis di luar negeri.

Ancamankah atau peluang?



Tergantung dari sudut mana kita melihatnya.  Dalam ilmu manajemen, ada istilah SWOT.  Initial acronym yang artinya Strength (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Opportunity (Kesempatan), Threat (Ancaman).  Teori ini umumnya diaplikasikan sebagai pendekatan dalam menilai suatu hal.  Mengajak pelaku manajemen untuk berpikir kritis, melakukan analisa secara fair, tidak condong berpihak pada satu sisi saja.  Karena korporasi dalam hal ini can not make everybody happy.  Indikator kesuksesan dilihat dari laporan keuangan yang ujung-ujungnya adalah duit.

Balik lagi ke SWOT, apakah MEA merupakan ancaman atau peluang bagi kita, Indonesia pada khususnya.  Secara pribadi, saya menilai Indonesia belum sepenuhnya siap. Tepatnya, kesadarannya belum sepenuhnya ada.  Mungkin karena kebiasaan berpikir gimana nanti, bukannya nanti itu bagaimana.  Alhasil seperti fire fighting, di mana ada api ke situlah air diarahkan untuk memadamkan.  Bukan mempersiapkan perlengkapan apa yang diperlukan jika ada kebakaran.  Ibaratnya demikian.

Contoh kecil, di immigration both Bandara Dong Mueang dibedakan sesuai jenis passport.  Foreigners, diplomatic, air crew, priority dan ASEAN line.  Dengan membaca judulnya saja, setiap individu akan langsung membariskan diri dalam antrian sesuai jenis passport yang dimilikinya.  ASEAN line pastinya untuk pemegang passport sesama anggota negara ASEAN.  Bagaimana dengan Bandara Soekarno Hatta?  Di Terminal 3 Soetta, terlihat dua counter pemeriksaan imigrasi untuk semuga jenis passport –kecuali air crew-.  Mau passport warna merah kek, passport biru kek, passport hijau dengan lambang Burung Garuda kek, semuanya antri sesuai kedatangan.  Permasalahannya bukan di pembedaannya melainkan treatment.  Itu baru satu hal.  Bagaimana dengan yang lainnya?

Jika kita hanya diam tak melakukan sesuatu, alamat kita bakalan Cuma jadi penonton.  Ujung-ujungnya panik.  Wah, orang udah bisa ini itu, kita kok masih begini aja?  Dipikir-pikir apa hebatnya Singapura hingga bisa dianggap baromoter kemajuan di Asia Tenggara.  Padahal ngga punya sumber daya alam, hanya mengandalkan jasa yang nggak jauh dari servis broker.  Luas negaranya nyaris sebesar Jakarta.  Singpura 716 km2  sedangkan Jakarta 740 km2.

Jadi sebelum diterjang panik, mari kita SWOT-kan si MEA ini.

Strength (Kekuatan)

Kenali kekuatan diri sendiri.  Kita bagusnya dalam hal apa di bidang apa.  Pertahankan kualitas tersebut sambil perkaya diri dengan tambahan ilmu seperti mengikuti workshop atau pelatihan.  Bila perlu validasi keahlian kita dengan mengambil sertifikasi internasional.  Jika sudah certified, artinya kita akan dikenal sebagai spesialis dalam keahlian tertentu.  

Buat yang ngeblog, kalau kemampuan nulisnya udah asik lalu hasil jepretan fotonya juga udah bagus, bisa coba bikin reportase video untuk perkuata konten.  Saya terus-terang masih belajar.  Tapi dari beberapa blog yang pernah saya kunjungi, tidak sedikit blogger yang melakukan hal ini di blognya.


Weakness (Kelemahan)

Nobody’s perfect.  Jika kita tahu di mana kekuatan kita, harusnya kita juga menyadari hal apa saja yang tidak kita kuasai.  Upgrade skill dengan investasi training.  Atau kita kolaborasi dengan teman yang sudah piawai dengan skillnya.  Kita pandai bikin kue tapi lemah dalam pemasaran.  Coba menjadi supplier toko kue yang sudah besar atau berpartner dengan jasa catering.  Orderan sudah pasti ada terus. 


Opportunity (Kesempatan)

Tidak semua orang punya kemampuan untuk membaca kesempatan walau sudah ada di depan mata. Karena saya punya prinsip opportunity doesn’t come twice, biasanya saya selalu mengambil kesempatan itu jika ada.  Dianggap opportunis?  Itu mah wajar.  Saya sendiri menyikapinya sebagai menjajal kemampuan.  Jika gagal, at least I’ve tried and I know where my failure was.  Di era MEA ini juga bisa jadi kesempatan bagi para blogger untuk unjuk gigi berkompetisi dengan blogger ASEAN.  

Udah pernah cari tahu, berapa banyak blogger Indonesia yang menulis dalam Bahasa Inggris selain Diana Rikasari dan Evita Nuh?  Not that many as far as I browsed.  Jika dua nama ini terkenal karena fashion blognya, mungkin sekarang momen yang tepat untuk buat blog berbahasa Inggris dengan niche yang berbeda.

Threat (Ancaman)

The biggest enemy is within ourselves.  Jadi kekuatan (Strength) yang kita miliki suatu saat bisa jadi senjata makan tuan jika kita tidak pandai melakoninya.  Orang bijak bilang, do not over confidence because it may kill you.  Mungkin lebih baik kita menyimak apa yang dilakukan para pesaing dan menirunya dengan konsep ATM (Amati, Tiru dan Modifikasi).  Toh, kita punya kompetensi yang sama.  If they can do it, so can I. 

Malaysia yang mayoritas penduduknya muslim juga berhijab.  Tapi mereka bukan Indonesia yang kaya dari Sabang Merauke.  Walau mereka klaim punya batik tapi teknologi batiknya tidak sama dengan seperti yang dilaku pembatik Jogja maupun Solo.  Malaysia tidak punya tenun ulos yang jika dibuat baju ternyata bisa keren seperti yang dikenakan oleh presenter Najwa Shihab ketika mewancarai anak-anak RI1. 

Pendek kata, stay positif.  You is what you think.  Kalo mikirnya negatif terus ya ancamanlah si MEA itu.

Mengutip Rhenald Kasali, kita harus bisa jadi change of agent.  Berawal dari diri sendiri sendiri.  Jika kita tidak bisa jadi roda penggerak perubahan, minimal jadi pelumas yang melancarkan jalannya perubahan.



Hari ke-1, 1 Day 1 Post Challenge

7 comments:

  1. serba susah kalau mikirnya negatif terus ya mbak

    ReplyDelete
  2. Wah keren, terpikir repro SWOT buat.hadapi MEA ini mbak. Iya sih jadikan reliant tambah maju aja ya buat kita

    ReplyDelete
  3. Maaf bukan repro maksudnya teori (typo)

    ReplyDelete
  4. Yess, setuju, jangan jadi penonton saja, nggak selalu enak.

    ReplyDelete
  5. You is what you think. Sukaaakkk! Salam kenal mba...

    ReplyDelete
  6. Saya mau coba berpikir positif aja. Menganggap MEA adalah peluang :)

    ReplyDelete
  7. Benar baget Mbak, kita harus dituntut lebih kreatif dalam era MEA ini, jika kita kreatif ini merupakan sebuah peluang buat kita. Salam kenal Mbak, silahkan maampir ke rumah ku juga ya! http://www.yellsaints.com/2015/09/menuju-era-etrepreneur-muda_4.html

    ReplyDelete

Hai ^_^
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya di blog ini.
Silakan tinggalkan komentar yang baik.
Mohon maaf, komentar anonim maupun yang sifatnya spam, tidak akan dipublikasikan.
Keep reading and Salam !