Rumah Unik Butik Lulu Lutfi Labibi

by - November 14, 2017

Yen tak itung-itung, di tahun 2017 ini ternyata saya sudah tiga kali menjejak Jogjakarta.  Ketiganya dilakukan untuk occasion yang berbeda dan teman pergi yang nggak sama pula.


Kesamaan dari ketiga kunjungan adalah; mencoba kuliner lokal yang sedang hits plus mendatangi tempat wisata yang sedang 'in'.  Dari semua tempat yang dikunjungi, ada satu yang catch my attention.  Satu tempat unik yang saya datangi bersama rombongan teman-teman SMA.

Bagian Teras


















Mulanya saya senang hati saat rombongan diarahkan ke Kota Gede.  Mendengar namanya saja sudah membubungkan khayal akan lorong-lorong kota beraroma vintage.  Pastinya asik untuk foto hunting.  Namun khayalannya langsung terjerembab saat salah satu teman membisikkan bahwa tujuan kali ini adalah butiknya Lulu Lutfi Labibi.  Lho, jalan-jalan kok ke butik, emang ada yang mau shopping?



Lesehan di teras, serasa di rumah sendiri


Lagipula, siapa pula itu Lulu?  Lo nggak tahu, Na?  Itu lho, perancang baju yang terkenal.  Teman yang lain ikut menambahkan keterangan tentang orang yang dimaksud.  Still, I have no idea 😁

Begini salah satu resiko bepergian dalam rombongan.  Tidak mudah menyatukan keinginan, menyelaraskan ide.  Yowis, nikmati saja.


The Rumpies ^_^
Di kejauhan sana adalah mulut gang, Pasar Kota Gede


Hingga akhirnya shuttle bus berhenti di jantung Kota Gede.  Tak jauh dari pasar yang jalannnya pas untuk dua mobil, kendaraan kami berhenti.  Rupanya lokasi yang dituju masih harus ditempuh dengan jalan kaki.  Kami masuk ke sebuah gang yang lebarnya hanya cukup dilewati oleh satu kendaraan roda empat.  Ukuran yang terlalu kecil untuk shuttle bus yang kami pakai siang itu.


Sebelah kiri ruang display, sebelah kanan galeri

Di sepanjang gang, saya lihat aneka warna dan bentuk jendela serta pintu.  Jalanan yang kami lewati pun relatif bersih, no sampah dan bebas bau pesing sebagaimana yang sering dijumpai di 'jalanan gang'.  Bukti jika penduduk setempat menjaga benar kebersihan lingkungan.  Saat berjalan kaki itulah saya merasakan Jogja sebagaimana yang saya tahu.   Sesekali kami harus menepi, memberikan akses bagi pengendara motor yang melintas.

Rasanya tak jauh kami melangkah dari pinggir jalan, penglihatan langsung dihadapkan dengan tanah lapang -mungkin hampir sepertiga lapangan sepak bola- berikut deretan rumah joglo dengan ukuran besar di bagian belakangnya.  Bentuk tanah yang demikian rupa biasanya disebut ngantong.  Ada sebagian orang meyakini, model tanah seperti ini mendatangkan hoki bagi pemiliknya.  Wallahu alam.

Rombongan bergerak ke arah kiri lapangan.  Di sebelah kiri berdiri beberapa bangunan,  Bentuknya tidak besar dengan desain yang tidak kekinian.  Kesan teduh langsung menyambut mata karena selain memang dirimbuni banyak pepohonan, material kayu menguatkan suasana teduh yang diinginkan.  Teduh dan homy, tepatnya.  Well, begitu sih yang saya rasakan.




Sebagain dari kami ada yang mengarahkan langkah ke sebelah kanan.  Langsung lesehan di meja-meja rendah yang ditata rapih pada pelataran sebuah rumah joglo yang luas.  Nampak piring berisi jadah dan kacang dibungkus plastik dalam toples kaca bening model jadul.  Toples yang melemparkan ingatan akan toples milik mbah saya, dulu.

Di saat itulah saya baru menyadari jika rumah sekaligus butik ini ternyata unik.  Rupanya keunikan rumah Lulu ini sudah diketahui khalayak terutama penggemar karya-karya Lulu.  Waalaah, ketahuan kurang gaulnya, nih!

sumber foto: instagy.com/user/lululutfilabibi/media/3


Sumber foto: dewimagazine.com
Setiap bangunan memiliki desain dan peruntukan yang berbeda.  Bangunan yang terlihat di sebelah kiri tadi rupanya salah satu ruang kerja sang desainer.  Bersebelahan dengan bangunan tersebut, yang berupa teras, tempat biasa Mas Lutfi menerima tamu-tamunya.



Salah satu rumah di Kampung Pekaten

Nggak cuma di situ.  Bagian dalamnya makin unik.  Ruang display baju karya sang desainer dibiarkan bebas bergantungan di sebuah ruangan panjang yang kaya sinar matahari karena sebagian ruangnya full kaca.  Di seberang ruang display terlihat ruang galeri.  Dua ruangan tersebut dipisahkan oleh kolam panjang berisi teratai.   Sebuah jembatan kayu kecil menghubungkan keduanya.

Tenggelam dalam rasa penasaran akan uniknya rumah tersebut, saya memilih untuk menjelajah area di sekitaran sementara kawan-kawan lain sibuk memilah pakaian sang perancang.



Masih (salah satu) rumah di Kampung Pekaten


Kembali ke bagian muka dan melintasi lapangan di muka rumah joglo yang diperuntukan sebagai restoran, indra penglihatan saya tertumbuk pada bangunan lain di seberang lapangan.  Walaupun bukan joglo, tapi sama  menyuguhkan nostalgi akan rumah lama.  Lagi-lagi mereka menjadi korban bidik kamera saya.





Entah berapa lama saya habiskan, mengeksplor lingkungan di sekitaran rumah sang desainer.  Saking asiknya membidik, saya sampai lupa waktu dan kehilangan kesempatan wefie bareng sang perancang di akhir kunjungan hari itu.  Belakangan saya baru tahu jika mas desainer yang membumi itu adalah langganan selebrities ibukota.  Yaahh, walau tak membeli hasil rancangnya, minimal saya  punya jejak rekam pernah berfoto bersama sang pemilik butik.

Jika wajah beberapa teman sumringah karena membawa karya Mas Lutfi.  Hati saya membuncah  karena berhasil menyimpan sepotong kecil wajah Kota Gede dalam flash disk kamera.  What a lovely surprise!

Jogjakarta seakan tidak pernah lelah memberikan kejutan.  Acapkali saya ke kota ini, selalu ada yang baru disuguhkan untuk memanjakan; tidak saja indra pengecap tapi juga mata bahkan emosi.  Kejutan yang kadang berani tampil mandiri, tak jarang sembunyi dan harus kita cari terlebih dahulu.  Seperti rumah butik unik Lulu Lutfi Labibi yang seolah tertimbun keriuhan Pasar Gede, di dalam gang dan tanpa penunjuk bahwa di dalam Kampung Pekaten, ada suasanan asri yang menyegarkan.


_________



====

Trivia fact:
- Lulu Lutfi Labibi is one of talented Indonesian designer, origin from Jogjakarta, first winner of Lomba Perancan Mode (LPM) 2011.
- He is known for his draping techniques, similar with Japanese style.  He is using local cloth such lurik, batik or mix of both.  His creations is allowing his customer for mix & match even it is not a pair.
- For further, visit his fan page https://www.facebook.com/lulu.lutfilabibi


You May Also Like

32 comments

  1. Aku dulu pernah punya rumah tak jauh dari situ. Tapi aku jual n cabut ke sumatra ikut suami krn trauma gempa hebat waktu itu. Aku blm pernah ke Lulu. Dia memang lagi hits sekarang. Dulu kukira perempuan. Kisahnya jg inspiratif krn lama jatuh bangun di jkt tp stlh designnya menang malah balik jogja & sukses scr komersil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dia back home setelah menaklukkan ibu kota ^_^

      Delete
  2. Ternyata cowok ya, rumahnya ayem tentrem bangeet..temanku juga ada teh desainer busana muslim di Kaliurang, rumahnya juga model lama gini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saru sama nama depannya, ya?
      BTW rumahnya adem tenaaaan!

      Delete
  3. aku udah lama naksir lihat rumah designer bertangan dingin ini . Tiap temen ke yogya pasti seringnya mampir ke sini kadang hanya untuk sekedar selfie ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mana tuan rumahnya ramah pulak. Gak heran suka ada yang ke situ cuma untuk pepotoan aja.

      Delete
  4. tempatnya asiik... bikin betah banget, bolehlah kalau ke jogja mampir kesana, meskipun cuma numpang selfie ahhay...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tempatnya emang Instragamable banget, kok.

      Delete
  5. Aku penggemar mas Lulu melalui IG nya mbak, desain2nya unik dan berkarakter. Tapi belum berani main kesana hihihi, info harganya juga dong mbak kisaran berapa? thanks for sharing

    ReplyDelete
    Replies
    1. Desainnya memang unik. Maaf untuk harga aku juga ga terlalu update. Soalnya kemarin ngga ikutan belanja ^_^

      Delete
  6. aku belum pernah ke Yogya mbak, tapi aku penah lihat IG nya mas Lulu, desainnya unik2 ya :)

    ReplyDelete
  7. Kalau aku udah berkali-kali ke Jogja karena memang kampung halaman di sana, hehe.

    Suka banget sama desain interior dan eksteriornya, paduan tradisional dan konsep bangunan terbuka. Sayangnya nggak ada cafe atau kamar menginap ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejauh yang aku tahu ngga ada kamar untuk menginap. Kalau sekedar tempat untuk makan dan minum, ada di bagian muka.

      Delete
  8. Wah, ternyata saya kurang gaul ya. Saya juga baru tau sedikit tentang mas lutfi ya dari postingan ini.

    Terima kasih sudah berbagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samaan berarti, kurang gaul juga kayak aku ^_^

      Delete
  9. Lulu Luthfi ternyata cowok ya. Pernah lihat peragaan busananya, pakaiannya tradisional Jawa semua. Lihat rumah ini bikin kangen pulang ke Jawa.

    ReplyDelete
  10. saya juga gak tau siapa lulu itu.

    tapi rumahnya cantik dan artistik sekali, bikin betah ya tinggal di rumah seperti itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang jadi tahu donk, siapa Lulu? hehehe

      Delete
  11. Waaah saya follow beliau di Instagram udah lama. Rumahnya emang cantik banget ya. Seneng lihatnya :)

    ReplyDelete
  12. Rumahnya antik..rumah lama.Sudah jarang sekarang yang punya rumah model gini meskipun di pelosok desa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin untuk alasan itu maka Lulu menetap di Jogja. Yang ginian susah nemu di Jakarta :)

      Delete
  13. Lah gue juga kagak tau siapa itu Lulu, ahahaha... Ya begitu lah yaa kalau jalan rame2 .. :D

    -Traveler Paruh Waktu

    ReplyDelete
  14. Aku sempat mau mampir ke sana pas ke Jogja tempo hari, tapi masih ragu apakah butiknya dibuka buat umum yang cuma mau lihat-lihat atau sekedar nongkrong. Itu yang ada bangku warna-warni sebenarnya ada cafenya apa cuma khusus buat menerima tamu yang datang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo nongkrong di pendopo depan sih boleh aja. Yang kursi warna-warni adanya di bagian dalam butik. Rasanya sih nggak untuk umum kalo yang ini.

      Delete
  15. cantikkk... udah lama aku follow IG nya mas lulu, foto2nya tradisional tapi modern, sukaaa. Suka juga sama setiap sudut di rumahnya. Menarik. Mesti bikin janji dulu nggak mbak kalau mau ke butiknya? takutnya tertutup untuk umum :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo dari pengalaman kemarin, kita go show. Tapi kalo cuma gak beli, aku nggak tahu apakah umum boleh masuk ke dalam butik. Kalo cuma di pendopo luar aja sih, kayaknya boleh-boleh aja.

      Delete

Hai ^_^
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya di blog ini.
Silakan tinggalkan komentar yang baik.
Mohon maaf, komentar anonim maupun yang sifatnya spam, tidak akan dipublikasikan.
Keep reading and Salam !