My Dairy Note's

Life Style & Family Blog Indonesia

    • Home
    • About
    • Disclosure
    • Lifestyle
      • Books & Movie
      • Travel
      • Culinary
      • Fotografi
    • Midlife Series
      • Family
      • Wellness
      • Blogging
      • Techno
    • Career & Project Management
      • Project Management
"You have to taste a culture to understand it"

---

Di kalangan traveler dunia, Bangkok adalah surganya makanan pinggir jalan.  Tidak hanya dari sisi keragamannya, makanan pinggir jalan atau Bangkok street food, juga dikenal akan rasanya yang menggoyang lidah serta harga yang ramah di kantong.

Maka saat mengunjungi negara Gajah Putih ini beberapa waktu yang lalu, kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk membuktikannya.

Live like a local, eat like a local.  Well actually, we were more to eat like a local rather than live like them, hehe!  Pardon my Keminggris mode 😎

Beli air mineral di pedagang minuman asongan depan komplek Grand Palace


Alasan lain milih street food?

Dengan makan di jalanan sudah pasti kita akan berinteraksi dengan orang lokal secara langsung.  Menyantap hidangan yang diracik oleh penduduk asli mendekatkan pada akses mencicipi rasa yang lebih otentik.

Singkatnya, ini adalah cara mudah kami sebagai pendatang untuk mengenali karakter suatu masyarakat lewat makanannya. Thus membuat perjalanan ke suatu tempat yang baru menjadi bermakna.  Tidak sekedar datang, foto-foto dan bhay!  

Bisa jadi ini terdengar idealis.  Namun demikianlah adanya.  Ada pesan moreal yang ingin kami 
-a.k.a orang tua- sampaikan pada anak-anak melalui kegiatan berlabel family trip.  Alhamdulillah, setiap perjalanan keluarga yang kami lakoni berkesan di hati.  Selalu ada cerita dan pengalaman seusai trip.  Pembuktian lain untuk sebuah kata bijak; buy experiences, not things.

Apakah jalan-jalannya saja yang memberikan pengalaman?  Urusan makanan juga jadi pengalaman tersendiri.  Saat bepergian ke tempat yang tidak minim menerapkan faktor kehalalan makanan, kita dituntut untuk mempunyai kemampuan memilih makanan yang sesuai tanpa menghilangkan hasrat bertualang rasa.  

And we did it!  We were eating (Bangkok street food) like a local.


Raw Oyster (Hoi Nang Rom Song Kreun)

Eksplorasi kuliner dimulai di malam pertama kedatangan dengan mencicipi kerang mentah di pusat jajanan malam di Sukhumvit Road yang rupanya tidak jauh dari tempat kami menginap.

Kerang mentah, YAY or NAy?!

It was a YAY!

Satu porsi kerang mentah ditata bersama daun selada air dan kemangi di atas es batu beralaskan stryfoam.  Mungkin maksudnya untuk menjaga kesegaran daging kerang yang berwarna putih.  Dedaunan ternyata bukan hanya berfungsi estetika sebagai garnish.  Tapi memang untuk di-emplok bersama kerang mentah.  

Jadi cara makannya begini; ambil daun, tambahkan kerang sebagai isian.  Bentuk serupa bungkusan.  Lalu cocol dengan aneka rasa dip sauce; asin-manis-pedas-asam.  Sllrrpp!
Raw Oyster (Hoi Nang Rom Song Kreung)

Tom Kha

Di tempat yang sama, kamipun mencicipi Tom Kha.  Apakah Tom Kha ini masih kerabat Tom & Jerry? jayus 😂

Gampangnya, Tom Kha ini adalah Tom Yang Goong.  Bedanya, Tom Yam berkuah bening sedang Tom Kha berkuah santan.  Miriplah dengan Sayur Asem dan Sayur Lodeh.  Isiannya sama, kecuali penggunaan santan (coconut milk) sebagai kuah.

Selain dengan nasi, Tom Kha biasa disajikan dengan bihun rebus.

Malam itu kamipun memesan satu ekor ikan bakar yang langsung ludes.

Potato Spiral Fried


Assorted Fritters
Rupanya masyarakat Thailand seneng gorengan juga, lho.  Terlihat dari food stall kaki lima yang menjajakan aneka jenis gorengan.  Mulai dari kentang, lumpia, pangsit goreng; sea food seperti udang, fish ball, hingga sosis.  Walaupun kami penyuka sosis (and they looked tempting), mengingat ngga ada keterangan yang meyakinkan keraguan maka sosis pun "skip" dari daftar wajib coba.

Untuk gorengan, pilihan jatuh pada kentang goreng yang ternyata jadi favorit.  Saking favoritnya, hingga kembali ke Jakarta pun, Si Bungsu berburu Kentang Spiral.  Namun acap mencoba, komentarnya selalu sama; "Kok, rasanya ngga seperti yang di Bangkok ya, Mah?"

Satu buah kentang dipotong sedemikian rupa hingga berupa spiral lalu digoreng.  Hebatnya, kentang yang hasil akhirnya crispy tersebut, dipotong sedemikian rupa dalam ketebalan yang sama tersambung dari dari awal hingga akhir.

Setelah digoreng, diberi bumbu semacam perasa.  Harganya? 10 Baht sahaja.

Aneka Buah Potong

Kenapa memasukkan buah dalam Bangkok Street Food padahal Indonesia pun memiliki banyak jenis buah 'kan?

Karena food stall buah adalah salah satu street food yang akan sering dijumpai.  Di setiap sentra makanan, food court atau semacamnya, penjual aneka buah pun pasti akan terlihat di sana.



Alasan kedua; karena rasanya.  Entah kenapa, buah-buahan di Bangkok ini rasanya lebih juicy.  Contoh nih, nanas yang jamaknya berasa asam-asam manis di Jakarta, di sana kok manis segar.

Sebagai penggemar buah-buahan, kesempatan banget jajan buah selama di Bangkok.  Harganya murah, potongannya gede-gede dan gak pernah dapetin buah yang "zonk".  They all perfect!

Alasan terakhir; dijamin halal 😊

Aneka Buah Potong

"Cooking and eating in a foreign country may be the surest, truest way to its soul"


Banana Egg Prata or Banana Egg Pancake (Roti Gluay)

Foto dulu dengan penjual Banana Egg Prata



Penjual kaki lima ini kami temui sepulang makan malam di Sukhumvit Road.  Gerobaknya yang sepi pengunjung dan penampilannya yang berbeda dibanding orang-orang Bangkok pada umumnyalah yang mendorong kami mendekatinya malam itu.  Saat kami menyapanya dengan salam universal Islami, senyumnya lebar menyambut.  Terlebih saat melihat hijab saya.

Dengan keterbatasan bahasa kami coba berkomunikasi.  Rupanya dia berasal dari daerah perbatasan Thailand - Malaysia.  "Borneo", ujarnya seraya menuding dirinya.  Lalu jari telunjuknya diarahkan pada Suami, maksudnya bertanya dari mana kami berasal.  Kami tak bertukar nama, hanya bertukar cerita dari mana kami berasal.  Terpatah dia mengungkapkan rasa senangnya bertemu kami.

Berkat dia, kami merasakan enaknya martabak kulit tipis berisi potongan pisang matang ditaburi keju dan susu.  Dudulnya, kami makan sesuatu tanpa tahu namanya!  😂

Sepulangnya dari Bangkok, saya penasaran googling untuk cari tahu apa makanan tersebut.  Cara Bapak itu menyiapkan kulit prata mengingatkan saya akan tukang martabak telor di Jakarta.  Jadi nggak salah 'kan jika feeling saya mengatakan "martabak isi pisang" itu bukan makanan asli Thailand? 

Rasa penasaran saya terbayar.  Ternyata memang bukan origin Thailand, namun mampu merasuk cita rasa penduduk lokal hingga akhirnya Roti Gluay didapuk menjadi must try Bangkok Street Food.


Sea Food

Semacam kebiasaan tak tertulis jika bepergian ke tempat yang rawan akan "halal" maka opsinya antara makanan vegetarian atau sea food.  Kriteria yang sama saat memutuskan untuk mencoba penjaja kaki lima di salah satu ruas Jalan Sukhumvit.

Ada banyak penjual kaki lima maupun restoran yang dipenuhi pengunjung; baik lokal maupun orang asing (baca: bule) yang kami lalui sebelum akhirnya berhenti di salah satu food stall.  This one serve sea food only and they all look fresh.  Mereka juga menyediakan aneka sayuran yang dibentuk seperti sate dalam ukuran yang relatif jumbo, menurut saya.

Yang dimaksud dengan sate sayuran ini adalah campuran antara paprika merah-hijau-kuning, tomat, dan bawang bombay.  Cara memasaknya dengan dipanggang.  Ada lagi sate jamur.  Ukuran jamurnya pun besar-besar.  Malam itu saya memilih udang bakar dan jamur bakar plus nasi putih.  Sepiring Pad Thai untuk Si Sulung dan Khao Pad kegemaran Si Bungsu.  Suami?  Dia pilih ikan bakar.

Dan ternyata, jamur bakarnya enak lho.  Saya sampai nambah lagi hehe.

Penjual sea food kaki lima yang ramah

Aneka fresh sea food

Sama seperti di Jakarta, mereka pun menggelar dagangannya di trotoar.  Bedanya, kehadiran si food stall tidak menutupi ruas trotoar sehingga pejalan kaki masih dapat bebas melintas.  Gerobak dagangan dan meja diatur memanjang bersisian.  Hebatnya lagi, no sampah dan tidak bau.  They look clean.

Bisa jadi hal tersebut membuat pengunjung nyaman hingga tak sedikit orang bule -yang setahu saya sangat picky dalam hal makanan (maksudnya makan di pinggir jalan)- berbaur dalam kelompok penikmat Bangkok street food.

Karena mereka hanya menjual makanan saja, minumannya kami beli terpisah di mini market.  Dan ini jamak di Bangkok.  Jadi jika ingin bertualang rasa di pinggir jalan Bangkok, pastikan bawa minum sendiri.  Minimal air mineral.  Inget, ngga sedia air teh, ya!  😂

Kho Niao Mamuang or Sticky Mango Rice alias Nasi Ketan Siram Kuah Santan pakai potongan mangga




(Ki) Daun Kemanginya gede banget! - (Ka) Makanan di atas meja persembahan

Papaya Salad

Maaf yang ini ngga ada gambarnya karena gak sempet kepotret.

Walaupun sering makan ini di Jakarta, tapi rasanya belum afdol jika belum mencicipi di negeri aslinya.

Maka saya pun membelinya di penjual kaki lima.  Cara pembuatannya mengingatkan saya akan tukang rujak bebeg.  Bawang merah dipotong-potong.  Dikasih jeruk nipis, gula merah, masukin serutan pepaya mengkal.  Saat si babang ambil cabe rawit, saya kasih tanda untuk tidak melakukannya.  Setelah itu diaduk-aduk, selesai.

Babang Papaya Salad ini, alih-alih pakai gerobak, dia hanya menggunakan pikulan.  Tidak menyediakan kursi.  Jadi konsepnya take away. Maka pesanan saya pun masuk ke dalam wadah stryfoam kotak.  Tidak lupa diberikannya sendok.

Masalah baru dirasakan saat pembayaran karena sama-sama ngga ngerti bahasa.  Ngga ada pula papan harga.  Si Babang kagak ngarti Inggris.  Saya boro-boro paham bahasa setempat kecuali "sawadee kaa".  Ciloko!  Gimna bayarnya?

Ngga kurang akal, akhirnya saya sodorkan tangan berisi uang logam.  Sebagai isyarat agar Si Babang ambil sendiri uangnya sesuai harga dagangannya.  Diambilnya 10 Baht.  Saya sampe melongo.  Ngga salah nih, porsi Papaya Salad segede stryfoam yang biasa dipakai untuk bubur ayam sarapan saya kalo di Jakarta dihargai segitu?

Walau sudah kami santap berempat, tetep ngga habis juga itu Papaya Salad.  Jadi takjub dengan porsi di Bangkok yang jumbo-jumbo (menurut saya lho, yaa).

Rasanya?  Persis rasa rujak bebeg dengan tingkat keasaman yang lebih nampol!


(Ki) Food Stall pinggir jalan.  Bersih no sampah! - (Ka) Kelapa muda mini "ajaib"

(Ki) McD Sign Board.  That's how french fries wrote in Thai's word - (Ka) Nasi Goreng Thai a.k.a. Khao Pad

Fine Dine-in Farewell Dinner

Setelah mencoba aneka rupa makanan pinggir jalan, nggak ada salah memanjakan diri makan di tempat yang "bener" 😄

Di malam terakhir kami di Bangkok, adik sepupu Pak Suami yang sedang bertugas di Bangkok mengajak kami night sight-seeing ke Asiatique sekalian makan malam di Baan Khanita The River yang femes itu.

Menu yang disediakan terbilang umum seperti Pad Thai, Mango Salad, Tom Yam Goong.  Signature dish resto yang menyuguhkan pemandangan cantik malam hari Sungai Chao Praya ini adalah semacam Ikan Malas Kukus (jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia).   Ukuran ikannya (lagi-lagi) jumbo dengan daging yang lembut.  Saking lembutnya ngga perlu pake kunyah!

Seminggu di Negeri Siam, rasanya perjalanan kuliner kami cukup mewakili.  Walau tak semua, alhamdulillah sudah merasakan street food yang disuguhkan menggunakan styrofoam dengan harga yang bersahabat untuk kantong, hingga santap malam yang decent di restoran.

So yeah, the mission accomplished.  We had a trip not only about having pictures.  But it involved the cuisine and local taste; sweet, sour and spicy mix altogether.  

One day you visit Bangkok or Thailand; we hope you also will find those flavor and enjoy as much as we did.  

Thān h̄ı̂ xr̀xy na.

Fine dine in at Baan Khanitha by The River, Asiatique The Riverfront 

"If you reject the food, ignore the customs, fear the religion and avoid the people, you might better stay at home" 
James Micherer

Share
Tweet
Pin
Share
20 comments
Not only the largest market in Thailand, Chatuchak also claimed as the world's biggest weekend market. WOW!  It has around 15,000 booth stalls this market seem to unite all buyable items.  From books to fashions.  From antiques to pop-art modern items and many more.  Basically, it has all things Bangkok can offer you.

The market which has operated since 1942 and only serves during the weekend (9 AM - 6 PM).  As a tourist attraction itself, it is a MUST seen spot to come.  Good news is, now Chatuchak has Friday Night market, from 10PM - 4AM.


Since our hotel close to the main road, so it was pretty easy to get here.  Simply use BTS and stop at Chatuchak Park MRT Metro Station.  It took approximately 30 minutes from Thonglor Station, where Salil Hotel located.

After strolling around, it turned out for me Chatuchak is not the only place for shopping.  It is also an interesting place for other things.  Here are 4 things you can do at Chatuchak Week End Market beside shopping



Walk Around (get yourself a map)

Not a big shopper or doesn't feel like to shop?  Just strolling and look around.  But remember, this market draws thousands of people every day.  Plus, Chatuchak is a huge place.  It is understandable if you easily feel lost among the crowd.

The hot and humid weather of Bangkok can also contribute to your frustration during a long walk.  Just for you to know, the market has 27 sections and arranged according to item category.  Do you think you want to see them all?  

So, pamper your self with comfortable shoes/sandals, cozy wardrobe, a map, and a bottle of water to keep you hydrated.  Bring along a hat or an umbrella if necessary.

A map is available in the entrance or download here https://shopjj.co/travelmag/maps/







Art Gallery (see the artisan doing their art)

Not only selling, we able to find the artisan also doing their work here.  It seemed they move the workshop to Chatuchak.

It was an interesting experience seeing them do the crafting.  I can not help myself for not taking pictures.  But we must pay attention because sometimes they do not want to be photoed.

No Photo sign also seen in several stalls.  Better to ask first make sure it is allowed for taking a picture.  That's how I did it anyway.

Shoe painter






Street Food (eat like local!)

You REALLY can not miss this.  Either inside or outside Chatuchak market, you can find food-drinks stalls even small cozy restaurants with live music.  But for us (me, hubby and kids) street food hawker is more interesting.

Don't worry, a majority of the street food seller able to communicate in basic English; such "how much?"  Or simply give a point to dishes you are interested in and giving a signal how many you're going to buy.  Besides, the price tag makes the transaction a lot easier.



 



Rujak (raw fruit salad)

Assorted fries




My son's fave: potato spiral


Enjoy Chatuchak Park (don't miss it!)

Need a rest after long walking in hot humid weather?  Despite going to malls around Chatuchak which is on foot away, we decided to rent a mat for 10 Baht and indulging ourselves with food & drinks bought from the street food hawker outside the park.  Food hawker is not allowed to put up their stalls inside the park.

Sitting in the park; watching people go by, surrounded by benign pigeons and seeing kids played at the playground, surely a rare experience.  It is not a usual things I could have.  Hard to believe the park locates right next to busy Kamphaeng Phet Road.

If we use BTS, we able to spot this 0.3 square KM Chatuchak Park from a distance when the sky train is about to approach the Chatuchak MRT Station.

With only sitting under the trees and feel the breeze; we almost forgot how hot Bangkok that day!





Surrounded with black friendly doves

The Play Ground


Minggle with local! 😎






Share
Tweet
Pin
Share
22 comments
Howdy Readers!

Does any of you will travel to Bangkok and need a cozy-comfort place to stay at the heart of the city?  Perhaps I could tell you a bit about the hotel we chose for our visit last time.

The choice was Salil Sukhumvit Soi Thonglor 1 Hotel Bangkok.  Even it is categorized as a mid-range hotel but thanks to www.agoda.com we had a good price (yippie!!).  Oftentimes checking on OTA was paid off 😅












If you wonder why we preferred Sukhumvit which is known as an exclusive district in Bangkok, instead of the famous Khao San Road?

That's because Salil Sukhumvit Soi Thonglor 1 Hotel locates just a short walk to the main Sukhumvit road and Thonglor BTS sky train station.  Which unfortunately Khao San Road is not.  Whereas we plan to optimize using public transportation like a train for strolling around the city.  The way I understand, using a bus in Bangkok is not as comfortable as a bus in Singapore.  As for taxi, even it is a metered taxi, don't be surprised if the driver insists on giving us a fixed rate.  Speaking of experience usually, they implied because they knew we are a visitor 😔

Even Sukhumvit is surrounded by fancy malls and business hotels,  it still a well placed to explore the city has to offer.  


Review on Salil Sukhumvit Hotel Soi Thonglor 1 Bangkok
Small dining room with assorted menus.  The interior design reminds me of colorful Greece
Salil Hotel is a group hotel, all are located in Sukhumvit.   There are Salil Thonglor Soi 1, Salil Soi 8, Salil Soi 11 and Soi 57.  The Thai use "soi" for indicating it is a branch of the main road, followed by a number.  Salil Soi Thonglor 1 means Salil at Thonglor road branch number 1.  Pretty much like that I guess 😆

And yes that's how the hotel is.  After hop out from BTS at Thonglor sky station on Sukhumvit main road.  We turned to a side road and walked for about 5 minutes.  We passed apartments and few fancy restaurants before we turn to a smaller road, not an alley though, and keep walking along the side before we found the Salil signboard. 

The further we walked from the main road, the less we heard the hustle noise.  Which were affirming that the hotel is offering the convenient place for our sleep during this trip.




I was fully relying on the website when chose this boutique hotel.  All promises written on the page is for real, alhamdulillah.  The services were good.  Staffs are friendly and helpful.  Food is acceptable.  No wonder Salil Soi 1 with 40 rooms of Superior, Premier and Deluxe receiving good rating and impressions from Trip Advisor.




Superior Twin Bed with extra bed for 4 of us 😁

Review on Salil Sukhumvit Hotel Soi Thonglor 1 Bangkok
Convy green large sofa at the reception.  Feel like your own living room

Review on Salil Sukhumvit Hotel Soi Thonglor 1 Bangkok
Free wifi and computer desk station at the lobby

Review on Salil Sukhumvit Hotel Soi Thonglor 1 Bangkok
Bookshelf with variants books and DVD movies.  You could borrow and enjoy them at your room




***

Salil Hotel Sukhumvit - Soi Thonglor 1
http://www.salilhotel.com/
44/14-17, Sukhumvit 53 (Paidee-Madee), Sukhumvit Road, Klongton Nua, Wattana, Bangkok 10110
(662) 662 5480-3

infosl2@salilhotel.com

Note: 
It is not a paid review.  I voluntarily post it because of personal satisfaction.

Share
Tweet
Pin
Share
15 comments
Older Posts

Follow Me

Email Facebook LinkedIn Pinterest

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  October 2025 (1)
      • Personal Branding Konsultan Project Management: 3 ...
    • ►  August 2025 (1)
    • ►  July 2025 (1)
    • ►  June 2025 (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  June 2022 (2)
  • ►  2021 (12)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (2)
    • ►  May 2021 (1)
    • ►  February 2021 (1)
    • ►  January 2021 (4)
  • ►  2020 (7)
    • ►  December 2020 (2)
    • ►  October 2020 (1)
    • ►  April 2020 (2)
    • ►  March 2020 (1)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (17)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  October 2019 (2)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  May 2019 (2)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (4)
  • ►  2018 (25)
    • ►  December 2018 (4)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  October 2018 (3)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (5)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (1)
    • ►  February 2018 (2)
    • ►  January 2018 (3)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December 2017 (5)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  October 2017 (1)
    • ►  September 2017 (2)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  June 2017 (1)
    • ►  April 2017 (1)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (1)
  • ►  2016 (37)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  July 2016 (3)
    • ►  June 2016 (4)
    • ►  May 2016 (2)
    • ►  April 2016 (9)
    • ►  March 2016 (8)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (6)
  • ►  2015 (75)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  September 2015 (6)
    • ►  August 2015 (5)
    • ►  July 2015 (19)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  April 2015 (7)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (9)
    • ►  January 2015 (5)
  • ►  2014 (39)
    • ►  December 2014 (2)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  October 2014 (2)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  August 2014 (5)
    • ►  July 2014 (2)
    • ►  June 2014 (3)
    • ►  May 2014 (4)
    • ►  April 2014 (2)
    • ►  March 2014 (2)
    • ►  February 2014 (5)
    • ►  January 2014 (7)
  • ►  2013 (36)
    • ►  December 2013 (5)
    • ►  November 2013 (5)
    • ►  October 2013 (2)
    • ►  September 2013 (5)
    • ►  August 2013 (1)
    • ►  June 2013 (1)
    • ►  May 2013 (4)
    • ►  April 2013 (6)
    • ►  March 2013 (3)
    • ►  February 2013 (2)
    • ►  January 2013 (2)
  • ►  2012 (28)
    • ►  December 2012 (2)
    • ►  November 2012 (3)
    • ►  October 2012 (3)
    • ►  September 2012 (4)
    • ►  August 2012 (4)
    • ►  July 2012 (5)
    • ►  May 2012 (1)
    • ►  April 2012 (1)
    • ►  March 2012 (1)
    • ►  February 2012 (1)
    • ►  January 2012 (3)
  • ►  2011 (28)
    • ►  December 2011 (2)
    • ►  November 2011 (3)
    • ►  October 2011 (1)
    • ►  September 2011 (1)
    • ►  August 2011 (4)
    • ►  July 2011 (2)
    • ►  June 2011 (4)
    • ►  May 2011 (1)
    • ►  April 2011 (4)
    • ►  March 2011 (3)
    • ►  January 2011 (3)
  • ►  2010 (2)
    • ►  December 2010 (1)
    • ►  June 2010 (1)

Created with by BeautyTemplates