-webkit-border-radius: 100px; -moz-border-radius: 100px; border-radius: 100px; #linkwithin_logolink_0 {display:none;}

Tips Menabung Cermat a’la My Dairy Note’s


Cermati.com


Tidak sedikit di antara kita yang punya rekening di bank tapi rekening tersebut hanya berfungsi sebagai media penerima pembayaran alias gaji.  Dengan anekdot “gajian sepuluh koma” yang maksudnya setelah tanggal sepuluh, terus koma; rekening tidak berfungsi sebagai tabungan seperti asumsi kita sebelumnya.  Ketika saya kecil dulu, punya rekening di bank itu artinya punya tabungan.  Termasuk kategori “horang kaya”, kelebihan duit.  Supaya aman, maka kelebihannya disimpan di bank. 

Waktu berlalu masa berganti, situasinya berbeda.  Sekarang semua orang hampir bisa dipastikan punya rekening di bank, secara udah bukan jamannya lagi bayar gaji memakai uang tunai.  Tinggal lihat saldonya, apakah memang termasuk kategori “horang kaya” tadi (ehm) atau rekening cuma tempat transfer gajian, titik.


Kompilasi hasil ngobrol dengan teman-teman, saya bisa menyimpulkan bahwa menabung itu ternyata erat kaitannya dengan kebiasaan seseorang.  Karena keinginan menabung itu tidak serta merta ada di setiap orang.  Supaya mengakar, artinya harus dibiasakan dari semenjak usia belia. 

Menabung Membangun Kemandirian
Sedari kecil, orang tua sudah mengajarkan saya untuk menabung.  Berawal dari menabung di celengan ayam jago yang terbuat dari gerabah itu.  Menginjak remaja di usia SMP dan SMA, uang saku diberikan bulanan di luar trasnport.  Cukup tidak cukup, uang jajan harus cukup dalam sebulan.  

Di periode ini, otak saya mulai mikir gimana caranya bisa beli-beli pakai uang sendiri sebab orang tua saya bukan tipe yang mengiyakan semua permintaan anak-anaknya, terlebih yang sifatnya untuk gaya-gayaan semata.  Dalam kondisi terjepit, orang suka jadi panjang akal.  Agar uang transport tetap utuh, terkadang saya jalan kaki dari sekolah ke rumah agar uang transport irit, jadi bisa untuk tambahan uang saku bulanan J

Sedari kecil, orang tua sudah mengajarkan saya untuk menabung.  Berawal dari menabung di celengan ayam jago.  Menginjak SMP dan SMA, uang saku diberikan bulanan di luar trasnport.  Cukup tidak cukup, uang jajan harus cukup dalam sebulan.  Di periode ini, otak saya mulai mikir gimana caranya bisa beli-beli pakai uang sendiri sebab orang tua saya bukan tipe yang mengiyakan semua permintaan, terlebih yang sifatnya untuk gaya-gayaan semata.  Dalam kondisi terjepit, orang suka jadi panjang akal.  Agar uang transport tetap utuh, terkadang saya jalan kaki dari sekolah ke rumah agar uang transport irit, jadi bisa untuk tambahan uang saku bulanan J

Dan konsep uang saku bulanan berlanjut hingga kuliah.  Saat itu uang bulanan sudah termasuk uang buku dan tetek bengeknya, di luar uang kuliah.  Waktu kuliah saya jadi anak kos, otomatis strategi pengaturan uang makin bervariasi.  Bayar kos, uang makan, uang buku dll.  Ketika sudah bekerja dan kemudian meneruskan kuliah lagi,  subsidi sudah distop ortu dan semuanya mengandalkan gaji saya semata.  Alhasil, begitu gajian, sebagian uangnya langsung dialihkan ke dalam tabungan yang berbeda.  Kenapa saya bedakan rekeningnya ?   Alasannya agar saya “lupa” kalau ada uang lain.  Pemisahan rekening dilakukan sebagai tindakan antisipasi agar uangnya tidak terpakai untuk hal-hal lain.   

Jangan Simpan di Satu Keranjang
Pengalaman mengelola uang sendiri dari semenjak remaja ternyata bermanfaat sekali ketika saya menikah dan berlaku sebagai menteri keuangan keluarga.  Saya yang sebelumnya sudah terbiasa melakukan perencanaan keuangan termasuk menabung, kali ini harus melakukannya dalam skala yang lebih kompleks.  Kali ini tidak terpusat pada saya sendiri namun ada anak, suami beserta kebutuhan-kebutuhannya.  

Pada dasarnya agar tahu berapa yang bisa kita tabung, penting diketahui di awal, berapa besaran kewajiban yang harus dikeluarkan.  Jadi yang saya lakukan secara garis besarnya sebagai berikut.

Identifikasi dulu pengeluaran rutin.  Contoh pengeluaran rutin seperti seperti belanja bulanan, tagihan listrik, dan air. Jika ada cicilan, saya masukkan juga dalam kelompok ini.  Juga zakat pendapatan.  Uang saku anak-anak juga ada dalam anggaran rutin ini.

Setelah mengetahui jumlah yang dapat kita tabung baru dialokasikan sesuai keperluan tabungan.  Di sini saya bedakan medianya; ada yang berupa rekening tabungan dan ada pula yang berupa celengan.

Celengan Qurban.  Setiap bulan rutin kami isi.  Tujuannya jika tiba Hari Raya Qurban, uangnya sudah tersedia.  Jika harga hewan yang kami beli masih lebih tinggi dari hasil tabungan, uang yang perlu kami tambahkan tidaklah terlalu banyak.  Selesai Qurban, celengan baru pun kami siapkan lagi untuk tahun berikutnya.  Alhamdulillah, hal ini sudah berjalan selama enam tahun, semoga untuk seterusnya.

Celengan Koin.  Selain celengan Qurban, saya juga menyediakan celengan koin.  Semua koin hasil kembalian belanja dimasukkan ke sana.  Saya juga heran, kenapa si receh ini nyaris dianggap tidak berharga di negeri ini, bahkan oleh pengemis sekalipun.  Padahal kalau si receh ini dikumpulkan, tetep bisa dibelanjakan juga ‘kan ?


Tampilan www.cermati.com



Tabungan Tidak Boleh Diutak-utik.  Ini istilah saya aja, untuk dana yang ditempatkan di rekening khusus.  Dana di rekening ini peruntukkan untuk kondisi emergency.  Namun jika masih bisa ditangani oleh rekenening operasional, dana yang ada di tabungan ini tidak dipakai.  Belakangan jika jumlahnya sudah memungkinkan, ada bagian yang kami investasikan ke bentuk yang lebih menguntukkan dibandingkan jika disimpan dalam bentuk tabungan.   Tanpa kami sadari, saya dan suami jadi belajar menabung untuk berinvestasi.  Ingat dengan kata-kata bijak Tionghoa, jangan menaruh telur di satu keranjang, yes ?  Agar jika keranjangnya jatuh, telurnya tidak pecah semua.

Rekening Operasional.  Merupakan rekening yang trafiknya paling panjang karena arus dana yang masuk dan keluar terpusat di sini.  Menabung juga membuat saya cashless alias tidak pegang uang tunai.  Saya hanya menaruh uang secukupnya di dompet.  Jumlahnya cukup untuk operasional seminggu yang meliputi uang bensin dan makan siang.  Saya juga manfaatkan fasilitas debit dari bank yang saya pakai.  Kenapa ?  Karena saya meminimalkan berhutang.  Kartu kredit hanya dipakai insidentil saja, selama bisa tunai, saya upayakan untuk tunai. 

Weh, rekening tabungannya lebih dari satu ?  Apakah di bank yang sama atau berbeda ?  Kalau saya, Tabungan Operasional dan Tabungan yang tidak boleh diganggu dibedakan. Pertimbangannya begini.  Sekarang ini satu ATM bisa mengakses ke semua akun yang kita miliki di bank yang sama.  Selain karena faktor keamanan jika kartu ATM hilang misalnya, balik lagi ke filosofi jangan simpan telur di satu keranjang tadi. 

Lalu bagaimana menetapkan bank yang dipilih ?  Sekarang ada Cermati.com yang mengulas produk perbankan dan keuangan Indonesia.  Selain produk-produk perbankan, tersedia artikel terkait keuangan.  Nah, berdasarkan info tersebut, kita tetapkan bank mana yang mau kita gunakan.  Khusus untuk tabungan anak-anak, saya pilih yang mempunyai produk tabungan anak dengan sistem joint account.  Maksudnya joint account, pengambilan dalam jumlah tertentu harus mendapatkan persetujuan dari orang tua.  Jadi walau ATM dipegang oleh si anak, namun orang tua tetap dapat mengawasi aktivtas rekening tersebut.

Membiasakan Anak Menabung
Hikmah dari semua itu baru di kemudian hari saya rasakan dan saya pahami.   Walau sebetulnya ketika itu kondisi keuangan orang tua memungkinkan, namun mereka ingin membangun kesadaran diri agar anak-anaknya tidak menggampangkan.  Teladan yang kini saya terapkan pada anak-anak.  Sekarang masing-masing anak mempunyai tabungan.  Namun mereka harus mengisi tabungannya sendiri ?  Caranya seperti ini.

Untuk yang remaja, saya sudah terapkan uang saku bulanan.  Sama seperti saya dulu, cukup tidak cukup harus cukup ^_^.  Uang sakunya meliputi biaya transport, uang jajan termasuk biaya pulsa.  Jika si anak menginginkan hal-hal di luar keperluan sekolah atau keperluan mendasar, maka dia harus mengupayakannya sendiri.  Mau tidak mau, hal tersebut mengajarkan anak untuk berhemat.  Hasilnya ?  Dia dapat membeli handphone idamannya hasil menabung. 

Beda lagi dengan yang kecil.  Uang saku diberikan harian dengan catatan tidak boleh dihabiskan semuanya.  Setiap hari, si kecil harus memberikan laporan uang tersebut dipakai untuk membeli apa seharga berapa.  Sisanya masuk celengan.  Setelah celengan penuh, baru hasilnya disetorkan ke bank. 

Dengan menabung, seseorang jadi berhemat itu sudah pasti.  Menabung melatih pola pikir untuk merencanakan hal-hal yang kita inginkan dan membuat prioritas hal mana yang harus didahulukan.  Menabung juga melatih kesabaran dan mengajarkan bahwa dalam mencapai sesuatu harus ada prosesnya, tidak ada yang instan.  Karena menabung bukanlah tentang materi semata.  

"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Share Tips Menabungmu bersama Blog Emak Gaoel dan Cermati"



7 comments:

  1. Saya juga punya tabungan celengan, mbak :D

    ReplyDelete
  2. Aku termasuk orang yg masih pake celengan buat nabung hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Celengan itu termasuk everlasting item, Put

      Delete
  3. saya masih pake celengan buat nabung mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Celengan emang gak ada matinye, mbak ! ^^

      Delete
  4. celengan membantu banget kalau keabisan duit, hihi buat dikorek2 *dijitak mba ratna

    ReplyDelete

Hai ^_^
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya di blog ini.
Silakan tinggalkan komentar yang baik.
Mohon maaf, komentar anonim maupun yang sifatnya spam, tidak akan dipublikasikan.
Keep reading and Salam !