My Dairy Note's

Life Style & Family Blog Indonesia

    • Home
    • About
    • Disclosure
    • Lifestyle
      • Books & Movie
      • Travel
      • Culinary
      • Fotografi
    • Midlife Series
      • Family
      • Wellness
      • Blogging
      • Techno
    • Career & Project Management
      • Project Management
All along, I thought a blog post should contain a loooo.....ng lines.  At least that's how I understand from seeing other's blog.  Funny thing is even I enjoy reading a book with a long paragraph, I can not have the same feeling when reading a long blog post.  Unless it is a very good one.

Probably that is a reason why I barely make a long post.  I always presume that people have the same habit as me; hesitate reading a long passage.

Until recently, when I accidentally found www.thetraveljunkie.org.  After browsing the website, I noticed instead of long paragraphs, he's only writing short lines.  Yet, the message was perfectly conveyed.

From the way I observe, www.thetraveljunkie.org directly put his ideas right from the beginning of the sentence.  He puts aside all the 'yadda yadda' intros and such. 😏



blogging tips


In fact, the guy who once featured in Kick Andy Show as Indonesian respected travel blogger, places a number of pictures.  The point is,  let the picture talk for themselves.  Me like it!  😉

The way this guy blogging, reminds me of Diana Rika Sari owner of Hot Chocolate and Mint website.  Both have the same way of presenting ideas; not a wordy post, instead they put a bunch of pictures.

So come to my sensing that blogging is personal.  Doesn't matter how you present it; short or long, wordy or not, full of a picture or less.  Once you think it covers all you want to say and ideas, do not hold you from hit the release button.

Indonesian famous writer Arswendo Atmowilot said writing is easy.  The thinking is difficult.

Happy blogging!





Share
Tweet
Pin
Share
14 comments

Semenjak tidak dibantu oleh ART, maka kewajiban memasak resmi saya emban.  Padahal tingkat kemampuan memasak saya terbilang minim.  Nggak ancur-ancur amat sih tapi juga tidak extra ordinary macam Om-Tante Chef yang tipi-tipi itu.  Yaeyalaah!

Indikator keberhasilan memasak saya cuma satu, selama bisa ditelan oleh Pak Suami dan anak-anak dengan ekspresi yang ikhlas dan makanannya habis, artinya masakan tersebut bisa diterima.  Dapet tambahan satu bintang lagi jika ada pesan sponsor, besok-besok minta dibuatkan lagi menu yang sama!  Untuk urusan dapur, level ekspetasi saya memang tidak tinggi kok.  Soalnya sadar diri banget. Hehe.




Faktor "sadar diri" ini juga yang mempengaruhi jenis masakan yang dibuat.  Intinya masakan tidak pakai ribet.  Sebisa mungkin keribetan dihindari mulai dari pemilihan bahan, persiapan hingga saat pengolahan.  Bisa dipastikan menunya berkisar pada tumis-tumisan, aneka sayur bening, makanan yang dikukus dan so pasti gorengan. 

Otomatis bahan makanan yang tersedia di lemari pendingin pun tidak jauh-jauh dari yang saya sebutkan di atas.  Salah satunya adalah nugget ayam siap masak, persisnya adalah Chicken Stick Premium keluaran So Good.  Kenapa So Good, simpel aja sih.  Selain terjamin faktor kehalalan dan higienitasnya.  Variannya banyak, nggak cuma rasanya yang oke khususnya untuk anak-anak. Dan pastinya; praktis!  Kalau mau tahu lebih banyak tentang So Good,  bisa dicek di www.sogoog.id





Ternyata praktis saja tidak cukup dalam memasak. Saya juga kudu pandai memilah cara penyajian hal ini untuk mengantisipasi kebosanan.  Jadi bisa saja bahan utamanya nugget ayam namun disajikan secara variatif.

Kreasi saya kali ini adalah assorted fritters alias aneka gorengan; yaitu kentang goreng sebagai sumber karbohidrat, nugget ayam untuk proteinnya dan unsur sayuran diwakili oleh brokoli yang akan dibuat ala tempura.  Disajikan dengan aneka saus cocolan seperti mayonaise berikut saos sambal, pas banget!





Cara masaknya gampang aja, kok!

Bahan (1 porsi):

  • 10 potong So Good Chickin Strip Premium
  • 150gr kentang siang masak
  • 150gr brokoli, cuci bersih, potong sesuai selera
  • 150gr tepung tempura
  • Sedikit air
Bahan pelengkap:
  • Mayonaise, selera
  • Sambal cocolan, selera

 Cara penyajian:

  • Goreng So Good Chickin Strip Premium dan kentang hingga matang.  Goreng secara bergantian.
  • Campur tepung tempura dengan air hingga menjadi adonan yang halus.  
  • Masukkan potongan brokoli ke dalam adonan tempura lalu goreng.  Tepung tempura sebaiknya tidak terlalu tebal, cukup tipis-tipis saja.
  • Setelah matang, siap disajikan.








Biasanya menu ini saya sajikan untuk menu sarapan atau bekal sekolah.  Tapi tak jarang pula dijadikan sebagai camilan untuk cemilan Si Bungsu yang memang lagi seneng-senengnya makan.

Praktis bukan?





Share
Tweet
Pin
Share
16 comments

first, clean-up my dusty blog 😁

The truth is I hate myself for the inconstancy on blogging.  I used to like it, however, lately I am posting none.  If you ask why I could come up with a list of reasons but at the end, it is a matter of an excuse.



I am not sure what exactly is holding me from writing, as a matter of fact, I have few things to post.  And they are now in pipeline as a draft waiting to publish.

So I guess, taking picture still able to retain my laziness.  For which I could show to everyone of being productive 😎.  I lafff taking pictures with my 70D yet cannot bring this lovely ~900gr Canon everywhere.

In that situation, a camera phone can in charge of the absence of DSLR.  With all its limitation, a camera phone can be an angel.  Camera phone is a savior when it is too heavy for a conventional camera.  Thanks to technology and the magic of editing application, we could have a pretty awesome picture with a camera phone.  Amazing, is isn't?

Here, I compile pictures taken with a camera phone at Warung Nako.  Not-so-recently-opened cafe and resto in Bogor.   Enjoy!


Share
Tweet
Pin
Share
23 comments


Eh, saya sudah cerita belum kalo saya ini native Bogor alias urang Sunda asli?  

Jadi nih, Bapak dan Ibu saya berasal dari Suku Sunda tepatnya Bogor.  Tak heran jika sedari dulu mereka berdua sudah berangan-angan untuk menikmati masa pensiun di tanah kelahiran apalagi sekian lama meninggalkan tanah leluhur.  Maklumlah, tugas Almarhum Bapak membuat kami sempat nomaden -nyaris- menjelajalahi nusantara (tsah!).  Alhamdulillah, keinginan tersebut terlaksana.  

Walaupun tidak berdomisili di Kota Hujan, namun orang tua kami tetap mengakrabkan Bogor dalam kehidupan sehari-hari.  Mulai dari membiasakan berbicara dalam Bahasa Sunda, hingga membiasakan lidah kami dengan kuliner khas Bogor seperti Soto Kuning, Soto Mie, Toge Goreng, Es Pala dan tentunya oleh-oleh khas Bogor; talas, asinan dan pisang. 

Mungkin gara-gara itu akibatnya hingga kini, banana become one of my favorit fruit.  Dari sekian jenis pisang yang sering dijadikan buah tangan mendiang Ibu saya dulu sehabis bertandang dari Bogor; favorit saya adalah Pisang Ambon.  Apalagi Pisang Ambon Lumut.

Jangan tanya kenapa diberi nama Pisang Ambon padahal adanya di Bogor! 😂

Buat lidah saya, pisang ambon lumut made in Bogor itu nggak ada yang ngalahin.  Udah mah warna hijaunya kinclong keren, ukurannya juga cihuy.  Makan satu udah mampu bikin kenyang.  Next time ke Bogor dan hendak mencobanya; minta pada penjualnya "Pisang Ambon Lumut".

Jika dulu mengonsumsi pisang hanya dimakan biasa; sekarang saya punya beberapa cara dalam menikmatinya.


Sarapan

Satu buah pisang saya potong kecil. Campur dengan cereal atau bijirin yang full kacang.  Beri susu non-fat.  Lalu taburi dengan kismis.  Jika ada stok strawberry, maka potongan strawberry ikut bergabung dalam mangkok.

Selain rasanya yang segar (manis dan masam dari strawberry), sarapan model begini juga kaya serat yang berasal dari bijirin serta kismis.  Walaupun manis, pisang termasuk buah dengan indeks glikemik rendah. Gula darah tidak melonjak drastis saat kita mengonsumsinya.

Satu porsi ukuran mangkok yang biasa dipakai oleh mamang penjual bakso sukses menahan rasa lapar saya hingga 2-3 jam dari saya menghabiskannya saat makan pagi.

Camilan

Udah lewat 40 tahun membuat saya makin sadar diri akan kesehatan.  Termasuk untuk urusan cemilan.  Walaupun sesekali masih konsumsi gorengan, tapi mulai rajin menggantinya dengan buah.  

Jika persediaan pisang masih ada, maka pisang pun jadi sasaran untuk ganjal perut.  Entah itu cemilan sore atau malam hari.   Dan ternyata ini baik untuk kesehatan mengingat pisang juga kaya serat yang baik untuk pencernaan.

Kebiasaan lainnya, saya tidak menyimpan pisang di dalam lemari pendingin.  Sayangnya kebiasaan yang satu malah mempercepat proses kematangan pisang.  Pisang yang terlalu matang biasanya membuat tekstur buah menjadi lunak.  

Nah, pisang yang seperti ini biasanya saya oleh menjadi kue pisang atau banana cake.  Masalahnya, proses kematangan pisang lebih cepat dibandingkan dengan tingkat kerajinan membuat kue yang lama-lama kok makin menurun?  😖

Emangnya pernah rajin baking?  Hihihi

Mungkin Talubi, si outlet oleh-oleh khas Bogor yang kondang itu, tahu banget bahwa di jaman now ini masih banyak populasi ibu-ibu malas baking macam saya maka dibuatlah produk baru yaitu Pillsbury Banana Cake.

Meskipung produknya diberi nama kebarat-baratan, namun tetap mengandalkan bahan lokal khas Bogor yaitu pisang; buah kesukaan saya.  Yeay!

Jika New York Banana Cheese Cake berbentuk segitiga maka si Pillsbury ini memanjang segi empat.  Kombinasi tidak sebatas pada nama yang western bersanding dengan bahan kue lokal.  Duet pun diaplikasikan pada rasa Pillsbury Banana Cake yang menjelma menjadi empat varian rasa seperti ini.




Pillsbury Banana Cake Strawberry Choco Keju
Kombinasi pisang dan strawberry makin terasa terutama pada bagian kue dengan topping coklat rasa strawberry.
Jika ingin campur-tangan keju, maka tinggal potong bagian kue dengan topping keju.
Smart decision, yes?


Pillsbury Banana Cake Original Meses Keju
This is my fave!
Pengakuan saya sebagai penggemar pisang, keju dan coklat garis keras.
I assume, no need further explanation on describing the original taste of those ingredients.
Ditambah lagi dengan aroma pisang yang menguar saat unboxing.
Pokoknya maknyuuus..



Pillsbury Banana Cake ChocoPandan Keju Mint
Saya menemukan kesulitan dalam mendeskripsikan varian berikut.
Saat kotaknya dibuka, aroma pandan berlomba dengan aroma pisang.  
Jika digigit bagian mint, maka rasa segar daun mint meminimalkan rasa pisang yang notabene bahan dasari kue.
Unique is probably the proper word for this one.



Pillsbury Banana Cake Choco Oreo
Rasanya nyaris mirip dengan varian original.
Perbedaannya selain pada topping keju yang diganti dengan crumble biskuit Oreo, porsi coklat dalam adonan kue sangat terasa

***

Sudah disimak baik-baik keterangan dari masing-masing seri Pillsbury Banana Cake?

Naahh, sekarang Readers bisa tetapkan varian mana dari Talubi ini sebagai oleh-oleh khas Bogor yang mau dicoba.

Tidak tinggal di Bogor pun Readers masih dapat mencicipinya karena jajanan kuliner Bogor ini menerima delivery order.  Penganan dari oleh-oleh khas Bogor Talubi tetap baik dikonsumsi dalam jangka waktu empat hari -walau tanpa pengawet- dari masa produksi, dengan catatan jika produk disimpan dalam suhu ruang.


New York Style PREMIUM Banana Cheese Cake bisa Readers dapatkan di Outlet TALUBI :
> Jl Padjajaran 20M, Bogor
> Jl Sholeh Iskandar 18B, Bogor
> Jl Raya Gadog Sebelah Vimalla Hills , Puncak Bogor

Untuk informasi lebih lanjut :
Bika Bogor Talubi
WA : 0888-4829-626
Line : @bikabogor
(Produk dapat dikirim menggunakan Jasa jne yes /grab/gojek )

===

Note: garnish (strawberry segar dan daun mint) hanya untuk keperluan foto produk saja dari pihak blogger.

Share
Tweet
Pin
Share
23 comments
Ternyata berdomisili di kota yang menjadi destinasi wisata itu mirip love and hate relationship; nyebelin tapi bikin bahagia menjurus ke rindu.  Walaupun menurut Dilan, rindu itu berat 😂

Nyebelin khususnya di akhir pekan atau libur panjang.  Karena dapat dipastikan kondisi traffic padat merayap, tak jarang ngga bergerak.  Kemacetan yang mencapai tingkat dewa itu terus-terang membuat illfil untuk keluar rumah.  Di saat-saat semacam itulah sering terlontar ucapan (lebih tepatnya adalah keluhan); mau ngapain sih, orang-orang ini ke Bogor?

Lalu senangnya di bagian mana?


New York Style PREMIUM Banana Cheese Cake
Senangnya adalah banyak spot wisata yang jaraknya dapat dijangkau tanpa perlu menginap, cocok sekali sebagai alternatif staycation.  Tujuan berwisata lebih beragam, terlebih belakangan liburan sudah menjadi bagian gaya hidup.  Bahkan konon, liburan kini sudah menjadi kebutuhan.  Sering denger gurauan "kurang piknik" ?  Nah!

Wisata masa kini pun tak melulu datang ke suatu tempat sekedar leyeh-leyeh menikmati waktu bersama keluarga atau mengagumi keindahan alam saja.  Memanjakan indera pengecap mengenyangkan perut pun masuk dalam kategori wisata.  Istilah jaman now adalah wisata kuliner atawa wiskul.

Dan Bogor punya semua itu!  

Mulai dari wisata alam hingga wisata perut, lengkap ditemukan di Bogor.  Tak heran, selain destinasi wisata, Bogor pun kini banyak dijumpai pusat oleh-oleh dengan makanan khas Bogornya.

Termasuk Bika Bogor Talubi yang belum lama ini mengeluarkan varian baru yaitu New York Style Premium Banana Cheese Cake.


New York Style PREMIUM Banana Cheese Cake


Ada dua Rasa yang dikeluarkan oleh Bika Talubi untuk serial New York Style PREMIUM ini yaitu Banana Cheese Cake; yaitu Mocacino cheese cake yang mencampurkan kopi dengan cokelat.  Varian lainnya adalah Cheese Cream Original.  Keduanya dibandrol di angka Rp 38.000 

New York Style PREMIUM Banana Cheese cake memiliki Banana Cake ditengahnya yang terbuat dari pisang asli sehingga memiliki tekstur lebih lembut dari cake pisang lainnya, kuantitas pisangnya pun tidak sedikit.   Aroma pisang dan cream cheese langsung menguar begitu kita buka kotak pembungkusnya.  Tingkat kemanisan yang pas dan legitnya pisang asli terasa sekali di lidah.

Readers yang sempat membaca postingan ini pastinya tahu jika Bika Bogor Talubi selalu unik dalam inovasi produk.  Begitu juga halnya dengan si Banana Cheese Cake ini.  

Jika bentuk cake pada umumnya bulat atau segi empat, maka Banana Cheese Cake Bika Talubi Bogor ini berbentuk segi tiga.  Terdiri dari tiga layer.  Lapis paling bawah berupa puff pastry yang renyah sehingga membuat sensasi berbeda di setiap gigitannya; krenyes-krenyes gitu.  

Bagian tengahnya beruba banana cake baru disusul kemudian oleh si cream cheese sebagai topping.  Tinggal pilih rasanya; mau mocacino yang merupakan paduan kopi dan coklat.  Atau original cream cheese yang keju banget.


New York Style PREMIUM Banana Cheese Cake Mocacino

New York Style PREMIUM Banana Cheese Cake Mocacino

Khusus bulan Februari kemaren, Bika Talubi Bogor sampai mengeluarkan edisi khusus Banana  Cake Cream Cheese rasa strawberry dengan hiasan coklat putih.  Sooo kiyuuuuttt.  Untungnya saya masih sempat nyicipin varian khusus ini.  And yes, rasa strawberry juga berasa.  Beradu dengan legitnya pisang.  Kombinasi yang pas banget dinikmati bersama pake teh tawar hangat di tengah rincik hujan Kota Bogor.  Hmmmm...

Buat Readers yang tinggal di luar Bogor, bisa juga kok menikmatinya karena Bika Bogor Talubi sudah bisa dipesan online.  Jadi ngga usah nunggu punya kesempatan ke Bogor dulu untuk bisa menikmati bika Bogor oleh-oleh khas ini.  

Walau tanpa bahan pengawet, New York Style Premium Banana Cheese Cake ini dapat bertahan hingga 4 hari diluar kulkas dan 1 minggu di dalam kulkas.  

Cuus coba?

New York Style PREMIUM Banana Strawberry Cheese Cake 


New York Style PREMIUM Banana Cheese Cake bisa Readers dapatkan di Outlet TALUBI :
Jl Padjajaran 20M, Bogor
Jl Sholeh Iskandar 18B, Bogor
Jl Raya Gadog Sebelah Vimalla Hills , Puncak Bogor

Untuk informasi lebih lanjut :
Bika Bogor Talubi
WA : 0888-4829-626
Line : @bikabogor
(Produk dapat dikirim menggunakan Jasa jne yes /grab/gojek )

Share
Tweet
Pin
Share
23 comments
Henry Matisse said; creativity takes courage.  I think the same courage when the owner of the Third Wave turns his garage into a coffee shop.  Perhaps, Mr. Matisse also inspires Mark Zuckerberg or Steve Jobs or Bill Gates, who did the same thing; starting the business from a garage.

So, after managed two times visits; I definitely fall in love about with three things from this coffee shop.  Its Green Latte, poffertjes and interior design.

The first two because the latte and the cake are not too sweet.  For the interior design, it is simple yet catchy.  An Instagram-able enough to miss.  Just explore the angle around the place by yourself.

 Let these pictures speak for themselves.





Welcome view when you opened the door

The open kitchen and order section

Upstairs

View from the top


The alley






Come by during week day or right after they open on week end, those are times when the place is not packed so you could enjoy the place as if your own.

----

Third Wave Coffee Co Indonesia
No 1, Jl. Prof. DR. H. Andi Hakim Nasoetion, 
Tegallega, Central Bogor, 
Bogor City, West Java 16129

Open: 10AM - 10PM

Phone: 0815-8156-506


Share
Tweet
Pin
Share
29 comments
Selamat tengah bulan Februari, Readers! 😉

Belakangan sering dengar istilah staycation?

Istilah ini mulai populer di belahan bumi Barat saat terjadi krisis finansial.  Di Amerika Serikat, antara 2007-2010, krisis ekonomi membuat warga mengalihkan liburan ke sekitar tempat tinggalnya.

The New York Times menyebut staycation sebagai jawaban atas kerepotan liburan lewat perjalanan udara.  "Hal baru ini sebenarnya bukan hal baru, hanya saja belum pernah diberi nama," tulis harian tersebut.

Forbes dalam laporannya pada Mei 2012 menyebutan hal-hal yang bisa dilakukan saat staycation di rumah. Misalnya mengunjungi museum, pergi ke pantai atau kolam renang, bersepeda, menonton film, melihat pameran, berbelanja, tidur siang, hingga mengadakan kumpul keluarga atau teman dengan sistem potluck.

Saat nilai tukar poundsterling di Inggris yang merosot pasca-Brexit, gairah berlibur ala staycation meningkat.  Laporan Independent.co.uk, pada February 2017 tercatat sebanyak 8 juta warga Inggris merencanakan staycation untuk menghemat uang.

Di Indonesia sendiri "konon" staycation tidak semata untuk menghemat pengeluaran, melainkan untuk merasakan esensi dari liburan itu sendiri.

Ada banyak faktor kita memilih alternatif ini saat liburan.  Mulai dari tidak ada dana liburan, tingginya harga tiket transportasi apalagi di musim liburan, hingga jenuh dengan kepadatan jalan raya jika menggunakan kendaraan pribadi.  Atau bagi yang berusia lanjut, bertambahnya usia membuat bepergian jauh terasa melelahkan.

Teman-teman travel blogger pun saya perhatikan sering terlihat mengupdate satus di timeline dengan tema staycation.  Umumnya mereka mengangkat staycation di hotel atau tempat rekreasi.  Apakah staycation hanya berkisar tentang menghabiskan waktu di hotel lokal saja?  

Berikut alternatif kegiatan staycation di rumah:


  • Berenang di pusat kebugaran favorit atau wahana air
  • Menonton pertunjukan konser/teater atau pertandingan olahraga.  Suka jazz atau musik rock?
  • Mengadakan acara kumpul dengan teman/saudara
  • Mengunjungi museum atau pameran.  Siapa tahu bisa bertemu idola 😍
  • Berbelanja atau jalan-jalan di mal/pasar
  • Menonton film di rumah atau bioskop.  Beberapa film yang saya sukai ada di sini.
  • Membaca buku
  • Membersihkan dan menata ulang rumah.  Cek postingan berikut, siapa tahu terinspirasi.
  • Mencoba resep masakan.  Ini resep-resep favorit keluarga kami.
  • Eksplor lingkungan sekitar; seperti ini atau ini. 
  • Berpartisipasi di acara-acara komunitas.  Baca rangkumannya di sini.  
  • Piknik di taman keluarga sekitaran rumah.  Seru juga lho!


Jika diperhatikan daftar aktivitas di atas, sebenarnya dari dulu kita sudah biasa melakukannya dan relatif sederhana, bukan?

Aktivitas yang sederhana pun sudah dapat menyegarkan jiwa raga kita, kok.  Sama halnya dengan efek liburan ke luar kota atau ke luar negeri.

Kuncinya terletak pada keberhasilan kita membangun suasana agar terasa rileks, berkesadaran sekaligus melatih mindfulness.  Momen yang sedang dilalui benar-benar dinikmati.  Pikiran kita enggak ke mana-mana, satukan perspektif dan suasana hati serta pikiran yang mindful.  Demikian saran para pakar.  

Maka saat jiwa meresapi, raga pun akan merasakan rileksasi yang ditimbulkan.


Intinya, "berbelok dari rutinitas dan membuatnya menjadi liburan," begitu yang saya quoted lagi dari Forbes. 






Bersamaan dengan maraknya staycation di rumah; merebak pula JOMO alias the Joy Of Missing Out.  Atau kondisi dimana tidak ada interaksi dengan gadget terutamanya telepon genggam.  Telepon dipergunakan murni hanya untuk berkomunikasi lisan saja.

JOMO diperkenalkan untuk mengimbangi kecenderungan orang pada saat ini yang ingin selalu terhubung dengan media sosia dan dinamika informasi.  Dorongan untuk selalu mengintip ponsel dan memantau pergerakan informasi serta media sosial menimbulkan berbagai ekses psikologis, mula dari ketergantungan, membandingkan kehidupan diri sendiri dengan orang lian, termakan hoaks, hingga terpapar konten negatif.

Nah, sudah siap untuk staycation akhir pekan ini?  Share ide staycation Readers di kolom komentar ya ^_^

***

References:
- https://www.forbes.com/sites/steveodland/2012/05/31/16-things-to-do-on-a-staycation/
- https://www.nytimes.com/2017/05/02/travel/how-to-make-the-most-of-a-staycation.html


Share
Tweet
Pin
Share
33 comments
Newer Posts
Older Posts

Follow Me

Email Facebook LinkedIn Pinterest

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  October 2025 (1)
      • Personal Branding Konsultan Project Management: 3 ...
    • ►  August 2025 (1)
    • ►  July 2025 (1)
    • ►  June 2025 (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  June 2022 (2)
  • ►  2021 (12)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (2)
    • ►  May 2021 (1)
    • ►  February 2021 (1)
    • ►  January 2021 (4)
  • ►  2020 (7)
    • ►  December 2020 (2)
    • ►  October 2020 (1)
    • ►  April 2020 (2)
    • ►  March 2020 (1)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (17)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  October 2019 (2)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  May 2019 (2)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (4)
  • ►  2018 (25)
    • ►  December 2018 (4)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  October 2018 (3)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (5)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (1)
    • ►  February 2018 (2)
    • ►  January 2018 (3)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December 2017 (5)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  October 2017 (1)
    • ►  September 2017 (2)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  June 2017 (1)
    • ►  April 2017 (1)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (1)
  • ►  2016 (37)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  July 2016 (3)
    • ►  June 2016 (4)
    • ►  May 2016 (2)
    • ►  April 2016 (9)
    • ►  March 2016 (8)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (6)
  • ►  2015 (75)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  September 2015 (6)
    • ►  August 2015 (5)
    • ►  July 2015 (19)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  April 2015 (7)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (9)
    • ►  January 2015 (5)
  • ►  2014 (39)
    • ►  December 2014 (2)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  October 2014 (2)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  August 2014 (5)
    • ►  July 2014 (2)
    • ►  June 2014 (3)
    • ►  May 2014 (4)
    • ►  April 2014 (2)
    • ►  March 2014 (2)
    • ►  February 2014 (5)
    • ►  January 2014 (7)
  • ►  2013 (36)
    • ►  December 2013 (5)
    • ►  November 2013 (5)
    • ►  October 2013 (2)
    • ►  September 2013 (5)
    • ►  August 2013 (1)
    • ►  June 2013 (1)
    • ►  May 2013 (4)
    • ►  April 2013 (6)
    • ►  March 2013 (3)
    • ►  February 2013 (2)
    • ►  January 2013 (2)
  • ►  2012 (28)
    • ►  December 2012 (2)
    • ►  November 2012 (3)
    • ►  October 2012 (3)
    • ►  September 2012 (4)
    • ►  August 2012 (4)
    • ►  July 2012 (5)
    • ►  May 2012 (1)
    • ►  April 2012 (1)
    • ►  March 2012 (1)
    • ►  February 2012 (1)
    • ►  January 2012 (3)
  • ►  2011 (28)
    • ►  December 2011 (2)
    • ►  November 2011 (3)
    • ►  October 2011 (1)
    • ►  September 2011 (1)
    • ►  August 2011 (4)
    • ►  July 2011 (2)
    • ►  June 2011 (4)
    • ►  May 2011 (1)
    • ►  April 2011 (4)
    • ►  March 2011 (3)
    • ►  January 2011 (3)
  • ►  2010 (2)
    • ►  December 2010 (1)
    • ►  June 2010 (1)

Created with by BeautyTemplates