My Dairy Note's

Life Style & Family Blog Indonesia

    • Home
    • About
    • Disclosure
    • Lifestyle
      • Books & Movie
      • Travel
      • Culinary
      • Fotografi
    • Midlife Series
      • Family
      • Wellness
      • Blogging
      • Techno
    • Career & Project Management
      • Project Management
Saya harus berterima kasih pada kawan saya, Lusi Tris (www.beyourselfwoman.com).  Atas 'racun'nya lah maka blog post tentang BTS [Behind The Scene] ini dibuat.


Kali ini ngga akan nulis panjang.  Harapannya, gambar-gambar berikut sudah "berbicara".  Let the picture talk for themselves 😁


Harap diingat, saya bukan profesional photographer.  Saya cuma ibuk-ibuk yang doyan motret 😅.  Saking doyannya motret, segala rupa dijepretin, eh maksudnya difoto.  Thus, kepandaian fotografi saya pun masih basic banget.  Jadi harap maklum jika ditemukan kekurangan sana-sini 🙈


Kita mulai yuk!


Contoh #1

behind the scene with reflektor 


Konsep sama, cuma letak objeknya aja yang dirubah-rubah.  Hasilnya seperti berikut.  


Behind the scene using reflector

Behind the scene using reflector

behind the scene using reflector


Properti
Bunga plastik, kertas buram broken white sebagai alas, diffuser.

Teknis
Kamera menentang sumber cahaya.  Tujuannya untuk mendapatkan efek dreamy soft.
Untuk mendukung efek tersebut, makanya saya pakai fixed lens 1.8, 50mm yang bukaannya lebar.
Oiya, untuk motret ini saya pakai kamera DSLR.

Others
Image terakhir Foto Daun, saya pakai untuk dijadikan thumbnail post ini.



Contoh #2

behind the scene using reflector


Ini hasilnya

behind the scene using reflector

Properti
Masih kertas buram broken white sebagai alas, diffuser dan uang logam.

Teknis
Karena malas mengeluarkan kamera DSLR, saya pakai camera phone (Samsung Galaxy J7 Pro).
Saya memakai manual mode, menon-aktifkan auto mode.
Exif data F1.7 - 1/248s - ISO 400 - No flash



Contoh #3

behind the scene using reflector


Ini hasilnya

behind the scene using reflector


Properti
Masih kertas buram broken white sebagai alas, dengan objek uang logam & uang kertas.
Diffuser ditempelkan di jendela.

Teknis
Ini lagi rajin dan niat, makanya DSLR dikeluarin.
Untuk objek jarak dekat, saya prefer pakai fixed lens.  Hasilnya agak kebiruan karena derajat Kelvinnya saya rendahin.  Makin tinggi angka Kelvin, hasilnya akan cenderung kekuningan.

Others
Image Contoh #3 dan Contoh #2, saya pakai untuk ilustrasi post ini.



Contoh #4


Properti
Roti sobek kismis beserta teman-temannya

Teknis
Masih di atas meja kerja, peletakan diffuser persis seperti Contoh #3, merapat jendela.
Difoto dengan DSLR pakai lensa kit.  Sudut pengambilan gambar dari berbagai angle.
Semi flat lay (bawah) - Eye Level (kiri atas) - 45 degree (kanan atas)




Diffuser

Secara teori, diffuser berfungsi untuk menyebarkan cahaya dan memberikan efek yang 'lembut'.

Untuk latihan di rumah, saya suka banget pakai diffuser putih ini.  Karena efeknya dapat "menyebarkan" cahaya terutama jika sumber cahaya berada di samping dan di belakang.  Saya cenderung menyukai foto-foto yang terang.  Penggunaan alat ini membantu saya mendapatkan hasil foto yang saya suka; terang, kaya cahaya.  

Bagi saya yang lebih senang motret dengan cahaya natural, diffuser ini terasa sekali manfaatnya. Selain optimal dengan cahaya matahari, saya bisa membuat foto dengan efek dreamy (lihat Contoh #1) tanpa memakai bantuan filter dreamy effect atau aplikasi foto editing (Photoshop atau sejenisnya).

Segitu aja dulu sharing BTS-nya.  

Jika Readers minat cari tahu blog post lain seputaran fotografi, bisa silahkan blog walking ke sini.

Nanti kita sambung lain waktu ya.  Semoga bermanfaat.  Salam jepret!


Tips:
Untuk mengganti diffuser dapat digunakan kertas kalkir.  Ini jenis kertas yang umum dipakai untuk menggambar teknik.  Kontur kertas mirip kertas roti namun lebih tipis menerawang.  Kertas kalkir dapat diperoleh di toko buku.



Share
Tweet
Pin
Share
26 comments
Nggak salah pilih tempat waktu janjian sama Evrina (www.evrinasp.com) untuk praktek motret; yaitu Kuki Cafe Bogor.  Padahal mulanya hanya untuk menyiasati meeting point yang "sama-sama enak" untuk kita berdua. Evrina dari arah Utara, sedang saya dari bagian timur Bogor. By feeling aja menyebutkan Kuki Cafe karena kita berdua belum pernah ke sini sebelumnya.

Dari luar, penampakan cafe ini tidak jauh berbeda dengan rumah-rumah besar lainnya berarsitektur jaman baheula.  Jl. Halimun memang dahulunya merupakan area perumahan elite.  Didominasi oleh golongan Indo Belanda atau kaum high rank penduduk lokal.  Papan nama Kuki Cafe pun dipasang di seberang jalan, bukan di halaman cafe.  Pintu pagar yang dibuka lebar saja yang menyatakan bahwa tempat itu untuk umum.

Kuki Cafe Bogor yang punya jam operasional di atas pukul sebelas ini selain cafe ternyata juga menjual aneka kue kering.  Dari pertama masuk, pengunjung akan disuguhi pemandangan toples berisi kue-kering, disusun di atas rak kayu aneka rupa.  Warna kukisnya yang dominan pastel, mengingatkan saya akan tema shabby chic.  Girly banget.




Dan begitu kaki melangkah ke area cafe, pengunjung akan disambut oleh suasana yang hangat.  Penempatan lampu kuning dengan furnitur didominasi kayu, mungkin itu penyebabnya.  Khususnya di dinding bagian depan; berderet lampu bohlam sinar kuning dengan kabel yang menjuntai panjang.  Ada sebuah jendela berbentuk lingkaran bersanding dengan kusen jendela persegi panjang dengan bagian ujung bawah disejajarkan dengan tinggi floating table yang menempel pada dinding.

Saya bukan seorang arsitektur.  Namun permainan garis dan lengkung, seperti bentuk bingkai jendela yang bulat, lalu bentuk jendela yang setengah lingkaran, bukanlah gaya bangunan kekinian.  Semuanya mengingatkan saya akan arsitektur art deco.  Model-model bangunan seperti ini banyak dijumpai di kota-kota "lama" seperti Bandung dan Semarang.  Sebut saja Hotel Savoy Homan, Villa Isola; keduanya berada di Bandung.







Sambil praktek, Saya dan Ev -begitu saya biasa memanggil Evrina (www.evrinasp.com)- memesan makanan.  Sepiring salad dan juice buah naga yang saya order ternyata cukup cantik untuk menjadi objek foto.  Sebelum semuanya ludes pindah ke perut.

Entah karena lokasinya yang tidak tepat di jalan raya maka suasana siang itu tidak terlampau ramai.  Atau mungkin Kuki Cafe semacam akan ramai menjelang sore, mirip tempat yang ini.

Tapi jika Readers butuh tempat mitap yang minim kebisingan, this place is the one.

Buat yang mau foto-foto, Kuki Cafe juga patut diperhitungkan lho mengingat ruangannya kaya akan sinar bahkan  dalam ruangan sekalipun.  Pilih saja spot di sisi-sisi jendela like we did. Walau lay-out ruangan sederhana, tapi kita bisa kok punya foto-foto cantik di sini.






====

Kuki Cafe Bogor

Share
Tweet
Pin
Share
24 comments
Terminal 3 SHIA (Soekarno Hatta International Airport) yang diresmikan penggunaannya Agustus 2017 lalu, dapat menampung 25 juta orang.  Sudah banyak artikel mengangkat keunikan dan kelebihan Terminal 3 ini.  Dari yang luasnya lebih besar dibandingkan Terminal 3 Changi hingga postingan yang mengulas fasilitas yang disediakan oleh pihak pengelola.  Yang paling gress adalah Railway [kereta] yang mengoneksikan SHIA ke commuter hub di tengah Ibukota; Manggarai dan Sudirman Baru.  Singkat cerita, semua fasilitas disediakan untuk kemudahan ke dan dari airport.

Tapi ada lho, hal lain dari Terminal 3 SHIA ini.  Keunikan ini dapat dinikmati terutamanya oleh pengguna Terminal 3 di bagian kedatangan.  Bagi yang hendak bepergian juga dapat melihatnya namun sayangnya hanya di beberapa lokasi saja.  Dari sejumlah penerbangan yang mendaratkan saya di Bagian Kedatangan di Terminal 3 SHIA, mural-mural ini lebih banyak terlihat menghiasi dinding area kedatangan.

Apa, mural?!

Iya, mural.

Jadi SHIA yang luasnya 331.101 meter persegi mempunyai banyak ruang yang beberapa diantaranya difungsikan sebagai ruang pamer; baik lukisan maupun foto.  Semuanya mengetengahkan kekayaan keragaman Indonesia, baik keindahan alamnya maupun hasil kriya lokal Indonesia.

Tidak hanya itu.  Dinding terminal yang didominasi warna putih itu ada juga yang dihiasi oleh lukisan mural.  Keuniknya, mural-mural tersebut selalu berada dimana tabung pemadam api portabel berada.  Selain mengalihkan kesan "siaga" atas keberadaan fire extinguisher tersebut,  justru malah memudahkan untuk diingat di titik mana saja portabel tabung pemadam api itu dapat diakses di saat diperlukan.

Keren ya, idenya! 

mural unik terminal 3 Bandara Soetta

mural unik terminal 3 Bandara Soetta

Mural unik Terminal 3 Bandara Soetta

Mural unik Terminal 3 Bandara Soetta

Mural unik Terminal 3 Bandara Soetta

Mural unik Terminal 3 Bandara Soetta

Mural Unik Terminal 3 Bandara Soetta

Mural unik Terminal 3 Bandara Soetta

Mural uni Terminal 3 Bandara Soetta


Ngga cuma bagian dalamnya saja yang keren.  Bagian luarnya pun tak luput dihiasi payung warna-warni seperti ini.  It looks playfull!

Payung warna-warni ini selain menarik dipandang mata, juga tetap memenuhi kodratnya untuk memayungi orang-orang khususnya yang berjalan dari tempat parkir ke area penjemputan di lantai dasar.


A post shared by Ratna Amalia (@ratna17amalia) on Dec 14, 2017 at 11:54pm PST


Tertarik berkunjung ke Terminal 3 SHIA?

Sekaligus mencoba Soekarno-Hatta Airport railway seperti yang diposting kawan saya Donna Imelda di sini, opsi baru moda transportasi menuju bandara kebanggaan kita 👍

Share
Tweet
Pin
Share
35 comments
Bepergian ke luar negeri ternyata bukan semata persiapan administrasi seperti passport - penginapan - tiket pesawat dan visa [jika diperlukan]; ada hal krusial lain yang perlu disiapkan yaitu mempunyai mata uang negara tujuan.  Untuk yang satu ini bisa kita peroleh di bank atau di tempat penukaran uang (money changer).

Sayangnya tidak semua bank dan money changer menyediakan mata uang yang diinginkan.  Jika sulit mendapatkan mata uang negara tujuan, solusinya membawa mata uang yang diterima di mana saja.  Dan nggak tahu kenapa mata uang tersebut adalah Dolar Amerika.  Dalam hati sebenarnya saya pribadi menyimpan tanya; hal apa yang membuat mata uang Negeri Paman Sam itu sebegitu merajanya.



A post shared by Ratna Amalia (@ratna17amalia) on Jun 19, 2016 at 7:50am PDT



Mulai dari besaran neraca keuangan suatu negara [termasuk negara kita] dan sudah pasti perhitungan hutang luar negeri.   Biaya wisata pun termasuk ONH (Ongkos Naik Haji) tak luput dari kondisi tersebut; dinyatakan pula dalam mata uang Amerika.

Hal ini sempat saya alami dalam suatu perjalanan dinas ke Vietnam.  Rupanya Vietnam bukan tujuan favorit wisatawan Indonesia.  Hal tersebut berdampak pada sulitnya membeli mata uang negara tersebut.  Mau tak mau maka Dolar Amerikalah yang masuk dompet untuk ditukar kemudian dengan Vietnamese Dong sesampainya di sana.

Repot?

Buat saya, sangat merepotkan.


Belum lagi bicara selisih; Rupiah membeli US Dollar.  Lalu US Dollar tersebut dijadikan Dong Vietnam.  Walau bagi sebagian orang, selisih jual-beli penukaran valuta dijadikan sebagai keuntungan bahkan mata pencaharian, perbedaan nilai tukar semacam ini seringnya membuat senewen dibanding lega hati.

Oleh karena itu saat membaca bahwa Pemerintah Indonesia melalui Bank Indonesia bersama-sama dengan Bank Negara Malaysia dan Bank of Thailand sepakat memberlakukan Local Currency Settlement (LCS) Framework sebagai upaya mendorong penggunaan Baht, Ringgit dan Rupiah dalam transaksi perdagangan serta investasi tentunya; menurut saya hal tersebut merupakan suatu upaya menuju #CintaRupiah.

Mengapa?

Karena LCS memungkinkan transaksi dilakukan dalam mata uang masing-masing negara di mana setelmen transaksinya dilakukan di dalam yurisdiksi wilayah negara masing-masing.  Transaksi seperti ini pernah saya alami saat mengunjungi Singapura pertengahan tahun kemarin.  Saat hendak membayar dengan kartu kredit, sang kasir bertanya apakah saya akan membayar dalam Rupiah atau dengan Dollar Singapore.




Karena belum pernah mengalami hal semacam ini sebelumnya, saya malah balik tanya, "Memangnya bisa seperti itu?"  yang dijawab oleh si kasir dengan keterangan nilai pembelanjaan akan tercetak dalam Rupiah sesuai nilai tukar terhadap SGD pada hari itu, jika saya memilih charging dalam Rupiah.  Wow, keren!

Setahu saya jika kita berbelanja dengan kartu kredit di luar negeri, maka saat transaksi dilakukan dengan menggunakan local currencies.  Konversi dalam nilai Rupiah baru akan diketahui setelah bank yang mengeluarkan kartu menerima tagihan dari merchant.

Nilai yang dibebankan baru akan diketahui oleh pemilik kartu kredit saat menerima lembar tagihan.  Adanya interval waktu antara saat belanja dengan saat bank menerima tagihan dari merchant  kurang lebihnya akan berbeda mengingat nilai konversi yang fluktuatif.  Terlebih Rupiah yang dikenal labil dan masih terseok merangkak naik pasca krisis moneter persisnya krisis tahun 1998.  Masih lekat di ingatan banyak orang manakala Rupiah terjun bebas, kala itu nilai Rupiah sempat melemah lima kali lipat terhadap USD.

Para pemegang Dolar Amerika seolah kejatuhan bulan.  Berbondong mereka menjual dolarnya dan meraup rupiah.  Konon semenjak itu USD menjadi salah satu alat investasi yang dilirik selain logam mulia.  USD diminati banyak orang, padahal tindakan semacam itu malah makin menjerumuskan rupiah.  Kok begitu?  Ya namanya juga mekanisme pasar dimana berlaku Hukum Penawaran dan Permintaan (Supply & Demand).  Jumlah barang yang diminati otomatis akan merangkak naik harganya.  Mau perlahan mengatakan "sayonara" pada rupiah tercinta?

Pastinya tidak!

Ada banyak cara menyatakan #CintaRupiah dan ini cara saya, dimulai dari hal yang paling utama yaitu kesadaran.  Tanpa sebuah rasa yang bernama kesadaran, tak akan pernah tumbuh kembang rasa cinta itu.


#CintaRupiah = Kesadaran Legitimasi Kedaulatan

Setelah menonton video pendek berikut di Youtube saya makin berpikir bahwa setiap lembar uang kertas dan uang koin itu adalah penjelajah nusantara yang sebenarnya.  Dalam diamnya, mereka berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.  Padahal dibalik heningnya, mereka meriuhkan transaksi perdagangan tidak hanya suatu daerah saja bahkan seluruh nusantara.




Ibarat pejuang, mungkin sebutan pejuang tangguh perlu disematkan pada mereka.  Keberadaan mereka menandakan legitimasi kedaulatan Republik ini.  Di mana Merah Putih berkibar, disitulah Rupiah semestinya digunakan sebagai alat tukar. 

Beribu kilometer ditempuh, menyeberangi lautan, menempuh jalan yang tidak selamanya mulus aspal.  Dari kota hingga daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal semuanya tak luput dari jangkauannya.  Jika kita ingin bicara pemerataan di Indonesia, salah satunya ditandai dengan mudah tidaknya ditemukan Rupiah.


#CintaRupiah = Kesadaran untuk Apresiasi atas Hasil Kerja Bersama

Film pendek berdurasi dua menit di atas jelas memperlihatkan proses panjang perjalanan mata uang bernama Rupiah.  Banyak tahap yang dilalui.  Mulai dari konsep desain, kualitas pemilihan bahan, percetakan, packing, hingga distribusi dengan pengawalan ketat.

Sadarkah kita jika semuanya memakan waktu, biaya dan tenaga yang tidak sedikit.  Berapa banyak sumber daya manusia dengan latar belakang keahlian dan keilmuan yang terlibat?  Mampukah kita mengatakan terima kasih pada hasil kolaborasi tersebut?  Mendatangi mereka satu-persatu?

Maka menjaga setiap lembarnya adalah hal yang paling realistis untuk dilakukan.  Mempertahankan bentuk fisiknya agar tetap sempurna sebagaimana saat kita memperolehnya pertama kali.

Sebagai penyuka "uang baru" saya sampai menandai mesin ATM mana saja yang selalu menyediakan uang yang masih bagus.  Memilih dompet pun saya sesuaikan agar kondisi uang tetap terjaga kerapihannya.

Bagi pemegang mata uang asing, termasuk traveller pastinya sudah mahfum etika memegang Dolar Amerika.  Uang kertas yang dilipat saja alamat si Mr. Washington bakal ditolak money changer atau bank.  Ditemukan coretan sedikit, nilai tukarnya jatuh.  Apalagi jika kondisinya rusak.

Jika kita bisa patuh untuk tidak merusak mata uang asing lalu mengapa kita tidak dapat menerapkannya pada Rupiah?

Cara lain mengapresiasi karya adalah dengan menjaga originalitas.  Maka dengan tidak menduplikasikannya adalah bentuk nyata #cintaRupiah.

Sebetulnya pihak otoritas keuangan sudah melakukan antisipasi; menggunakan bahan yang sulit dipalsukan, memampangkan nomor seri serta memasang benang pengaman pada uang kertas, beberapa contohnya.

Upaya lain adalah dengan mengganti desain uang secara berkala.  Pun mengubah bentuk uang dari uang kertas menjadi logam.  Sebagaimana yang diterapkan pada pecahan lima ratus Rupiah.

Beberapa waktu yang lalu, kita pernah terbiasa dengan lembaran bernominal 500 Rupiah.  Saat ditemukan banyak pemalsuan terhadap nominal tersebut, maka diambil tindakan mengganti bentuknya dari uang kertas menjadi uang logam.

Kebijakan lain yang diterapkan untuk meminimalisir pemalsuan Uang Rupiah adalah dengan menstimulasi pembayaran non-tunai seperti yang diberlakukan pada pengguna jalan toll bebas hambatan.


uang logam Republik Indonesia
Pecahan uang logam yang berlaku di Republik Indonesia

#CintaRupiah = Peduli Rupiah

Bentuk kepedulian yang paling terasa adalah memperlakukan uang logam.  Mungkin karena nilainya yang 'tidak signifikan' seringkali si receh ini diabaikan.  Padahal tanpa seratus Rupiah pun, nominal seribu tidak akan genap seribu 'kan?

Yang biasa saya lakukan adalah mengumpulkan uang-uang logam di tempat khusus dan akan saya gunakan ketika berbelanja.  Tidak sekali dua kali saya mengalami dimana uang kembalian diganti dalam bentuk permen.  Dengan alasan tidak ada kembalian uang receh.  Ironisnya hal tersebut sering terjadi di toko-toko waralaba.

Padahal jelas dikatakan dalam Pasal 25 Ayat 1 UU No. 7 Tahun 2011 menyebutkan 

"...bahwa setiap orang dilarang merusak, memotong, menghancurkan, dan/atau mengubah Rupiah dengan maksud merendahkan kehormatan Rupiah sebagai simbol negara."

Kadang saya berkhayal di mana suatu saat uang logam tidak dipandang sebelah mata.  Mencontoh negara tetangga Singapur di mana uang logam sama manfaatnya dengan uang bernominal besar.  Tidak hanya untuk bertransaksi, uang logam tersebut masih dapat digunakan untuk membayar biaya komunikasi sambungan internasional di telepon umum koin.




#CintaRupiah = Kesadaran Bhineka Tunggal Ika

Sama seperti sebelumnya, Uang Rupiah tahun emisi 2016 juga menampilkan 12 wajah pahlawan nasional.  Di sisi lain, menggambarkan keragaman budaya daerah termasuk wisata alam Indonesia.

Bukan tanpa maksud Uang Rupiah didesain sedemikian rupa.  Utamanya sebagai pengingat bahwa Indonesia dapat berdiri berdaulat hingga kini atas upaya banyak orang; lintas agama, beda budaya, baik lelaki maupun perempuan.

Indonesia adalah negara yang heterogen.  Indonesia tidak hanya lautan, tapi ada sawah, gunung dan ngarai.  Indonesia tidak hanya Jawa; ada suku seperti di Maluku, Irian, Sumatera dan Bali.  Semuanya bersatu dalam kemajemukan di bawah naungan Merah Putih dengan satu nama, yaitu Indonesia.

Sebagaimana ditegaskan oleh Presiden Jokowi di acara peluncuran Uang Rupiah tahun emisi 2016;


“Setiap lembar Rupiah adalah bukti kemandirian Indonesia, kemandirian ekonomi kita di tengah ekonomi dunia. Dan di dalam setiap lembar Rupiah kita tampilkan gambar pahlawan nasional, tari nusantara, dan pemandangan alam Indonesia sebagai wujud kecintaan budaya dan karakteristik bangsa Indonesia"





Foto dari http://www.infoyunik.com/2015/09/lima-lokasi-wisata-yang-ada-di-mata.html

Cinta memang perlu pembuktian agar tidak hanya lisan semata, jadi slogan saja.  Upaya serta  himbauan pemerintah akan #CintaRupiah memang harus mendapat dukungan dari semua elemen.  Menghadirkan #CintaRupiah di setiap transaksi adalah konkritnya.


Tulisan ini diikutsertakan dalam 
BANK INDONESIA BLOG AND VIDEO COMPETITION
kerja sama 
PT. NET MEDIATAMA TELEVISI (NET Media) dan BANK INDONESIA



***

Referensi:

  • http://www.infoyunik.com/2015/09/lima-lokasi-wisata-yang-ada-di-mata.html
  • http://www.bi.go.id/id/ruang-media/siaran-pers/Pages/sp-11122017.aspx
  • Wikipedia
  • https://www.youtube.com/user/BankIndonesiaChannel/videos
  • http://www.infoyunik.com/2015/09/lima-lokasi-wisata-yang-ada-di-mata.html
  • http://www.presidenri.go.id/berita-aktual/mencintai-rupiah-berarti-mencintai-kedaulatan.html
Share
Tweet
Pin
Share
16 comments


Di kalangan para IGers alias pemilik Instagram, trending akhir tahun adalah Best Nine.  Untuk tahun ini #2017BestNine.  Yaiyalah, masa juga 2020, beluman lagi!

Bagaimana cara mendapatkan sembilan gambar terbaik selama 365 hari kemarin, apakah harus kita hitung sendiri secara manual?  Hellow, rasanya hari gene mesin hitung kalkulator aja udah jarang dipake ya?

Simply input akun IG kita ke https://2017bestnine.com lalu klik bagian GET and you just .... wait 😁.  Sabar ya, jwenk, secara pemilik Instagram ngga cuma kita seorang.  April tahun 2017 yang lalu saja, Instagram mengumumkan jika pengguna aktif jasanya sudah mencapai 700 juta! Jadi wajar ika perlu beberapa saat untuk mendapatkan 9 gambar kita yang paling banyak di-like selama 2017.  Lha wong akeh men, kok 😂

https://2017bestnine.com/

Kalau tahun lalu saya cuma iseng cari tahu #2106BestNine, tidak demikian halnya dengan #2017BestNine.   Ada unsur kesengajaan dengan dengan alasan perbandingan.

Betul, saya ingin membandingkan impresi untuk akun Instagram.  Hasilnya?

2017 Best Nine saya lebih tinggi dibandingkan 2016.  Apa karena lebih sering di Instagram, lalu blogging saya jadi ancur ya?  Sampai-sampai buat resolusi blogging untuk tahun depan 😂


@ratna17amalia


VerSus





Diperhatikan dari postingan, in general tema masih berkisar pada makanan dan keseharian.  Yang terlihat mencolok adalah  jumlah foto yang diposting dan jumlah like.

Pentingkah itu?

Tergantung.

Jika ingin membangun branding dengan menggunakan media Instagram, atau pengembangan usaha semacam online shop, I am pretty sure you will put high concern on those figures!  Termasuk perbandingan jumlah followers.

Untuk saya sendiri, objektifnya belum sampai kesitu.  Baru sebatas, ooh ternyata saya memang lebih aktif di IG.  Perihal jumlah like yang meningkat hampir tiga kali lipat dibanding 2016, menurut analisa abal-abal saya hal tersebut disebabkan oleh:

1. Penggunaan hashtag # 

Awal ber-Instagram, saya abai dengan #.  Kemudian nggak sengaja baca artikel tentang kegunaan memakai hashtag.  Ngga pengen cuma baca aja, saya coba praktekin.

Dalam rangka kegiatan komunitas (baca nomor 2), sudah pasti harus nurut pakai hashtag sesuai ketentuan.  Oiya, sebelum lanjut, fungsi hashtag (#) adalah untuk memudahkan pencarian sesuai keperluan.  Hashtag dapat berupa hobi, interest, topik pembicaraan dsb.  Mirip-mirip kategori dalam bloglah.  Di samping Instagram, Twitter adalah aplikasi sosmed yang juga sering memakai hashtag.

Keuntungan hashtag yang lain adalah kita bisa terhubung dengan bukan follower atau yang follow kita selama kita memakai hasthtag yang sama.

Untuk mudahnya, cari hashtag yang sudah populer digunakan.  Readers dapat searching di aplikasi Instagram sendiri atau browsing di internet jika ingin lebih menambah hashtag.  Jadi betul tuh artikel yang saya baca.  Hashtag memang diciptakan untuk memudahkan pencarian orang-orang yang punya kepentingan atau interest yang sama .

Buktinya ada beberapa image saya yang di-like oleh pemilik akun bukan Indonesia, padahal saya menulis kepsyen dengan menggunakan Bahasa Indonesia.  So the person simply like the image regardless the description.

Seiring dengan makin sering upload foto di Instagram, saya juga bikin hashtag sendiri.  Hihihi, gaya bingits?  Saya beri judul #ratnaphotoworks.   Sesekali dicoba, ya!  Promosi 😁


2. Berpartisipasi dalam Instagram Community Engagement 

Secara spesifik bentuknya adalah upload foto sesuai tema yang disyaratkan oleh komunitas.  Beberapa komunitas foto di Instagram yang saya ikuti adalah Upload Kompakan, Motret For Fun, Motret Bareng.


Segitu aja sharing #2017BestNine dari saya.

Oiya, sudah keluar hasil 2017BestNine kepunyaan Readers?  Mau tahu juga donk!

BTW udah udah follow akun IG saya? 😘😘

Share
Tweet
Pin
Share
29 comments
"Ukuran pisangnya presisi banget, ya?  Warna kuningnya sama semua.  Hebat banget bagian Quality-nya, bisa seragam begini."  Dalam hati, tumben banget Pak Suami kasih komentar panjang begitu.  Wong masakan buatan istri seringnya hanya dikomentari sebatas lumayan (a.k.a. mendekati "enak").

"Itu bukan pisang, tapi kue bika" jawabku menjelaskan.


wisata kuliner Bogor; oleh-oleh khas Bogor



"Masak, sih?" tanya Pak Suami masih tak percaya.

Kusendokkan sepotong besar untuknya cicipi.  Dikunyahnya perlahan, matanya menerawang seolah mencari penegasan; apakah benar pisang atau kue yang ada dalam mulutnya.

"Well?" tanyaku.

"Enak" jawabnya.  Lho? 

Jawaban diluar ekspetasi karena yang saya tunggu apakah menurutnya itu kue atau buah 😁.  Namun harus diakui kebenarannya.  Karena dari semula kotak Bogor Banana by Bika Bogor Talubi itu dibuka, aroma wangi pisang menguar seantero ruang makan yang memang tidak besar.

Tidak hanya menarik perhatian Pak Suami, kue yang bentuknya unik seperti buah pisang yang dibelah dua itu diberi topping parutan keju dan hiasan lelehan coklat membuat penampilan Bogor Banana memang sooo tempting!

Maka jadilah sore akhir pekan yang mendung itu, kami ngeriung di meja makan sambil menikmati Bogor Banana.  Ditemani minuman hangat kesukaan masing-masing, tak terasa satu kotak berisi enam potong Bogor Banana kami habiskan berempat.


oleh-oleh khas Bogor


Jadi, apa itu sebenarnya Bogor Banana?

Bogor Banana adalah kue bika berbahan pisang asli hasil inovasi terbaru Bika Bogor Talubi.  

Iya, kue bika.  

Hasil alam Kota Hujan Bogor yang sarat hasil perkebunan seperti talas, ubi, pisang lah yang  membuat pemilik Bika Bogor Talubi tak henti berkreasi dengan bahan-bahan yang sudah disediakan oleh tanah subur yang letaknya di kaki Gunung Salak. 

Pemilihan nama Talubi pun tidak lepas dari hal tersebut.  Alih-alih membuat kue bika yang umumnya full tepung [terigu], Talibu mengoptimalkan talas dan ubi sebagai bahan dasar produknya.  Tak salah jika Talas Ubi [Talubi] diusung sebagai brand oleh sang pemilik yang memulai usahanya tahun 2014.


oleh-oleh khas Bogor
Bika Bogor Nangka


Jadi di situlah keunikan Bika Bogor Talubi dibandingkan dengan kue bika yang dikenal pada umumnya.  Karena Bogor memang sudah semenjak lama dikenal sebagai gudangnya talas.  Tak salah jika Kue Bika Talubi ini disebut-sebut sebagai oleh-oleh khas Bogor.

Keuntungan menggunakan umbi-umbian selain aromanya yang khas, kadar manis umbi juga tidak semanis gula putih yang biasa dipakai dalam pembuatan kue.  Mungkin faktor tersebut membuat Bika Bogor Talubi tidak enek saat dikonsumsi.  

Seperti yang aku tuliskan di sini, salah satu resolusi 2018 adalah menjaga kesehatan.  Selain mengurangi konsumsi gula, banyak hal yang kini makin diperhatikan dalam pemilihan makanan; termasuk unsur pengawet makanan.  Bika Talubi ini tidak disarankan untuk dikonsumsi setelah lebih dari empat hari.  Artinya makanan bertahan sesuai usia maksimalnya, tidak ada upaya untuk dilebihkan keawetannya.


oleh-oleh khas Bogor; wisata kuliner Bogor
Bogor Banana

Selain Bogor Banana, ada varian lain yang bisa dicoba; yaitu Bika Bogor Talas, Bika Bogor Ubi Madu, Bika Bogor Nangka, Bika Bogor Cocopandan.

Ingin mencoba semua rasa juga bisa, lho.  Namanya Bika Bogor Mini; satu kotak berisi 10 potong kue bika dengan tiga varian rasa.  Semacam assorted bika dalam satu wadah dengan komposisi packing yang nggak bakalan membuat kue berantakan.

Jika Readers berniat membawa Bika Bogor ini sebagai oleh-oleh kuliner khas Bogor, dapat membelinya langsung di tiga outletnya di Jl. Raya Gadog sebelah Vimala Hills, atau di Jl. Pajajaran 20M dan lainnya di Jl. Sholeh Iskandar 18B.

Nggak mau repot antri?

Cuss pesan online via JNE YES/GRAB/GOJEK.


WA : 0888-4829-626 
Line : @bikabogor


oleh-oleh khas Bogor


Share
Tweet
Pin
Share
30 comments




Tidak terasa sudah di penghujung tahun.  Pada titik ini tidak sedikit dari kita yang merasa betapa banyak waktu terlewati tanpa pencapaian yang berarti.  Sampai-sampai ada yang beranggapan jika waktu hanyalah ilusi.  Waktu tidak diperlihakan dengan angka seperti yang ditunjukkan oleh jarum jam, namun dinyatakan oleh berapa banyak momen yang kita ciptakan.

Bicara momen, jujur harus diakui nggak sedikit momen yang sekarang ini cuma bisa saya sesali.  Salah satu penyesalan yang mau saya bahas adalah blogging.

Lho, kok tentang blogging?

Saat ini saya suka miris sendiri terutama jika melihat rekam jejak di Blog Archieve tahun 2017 yang [hingga saat saya menulis ini] hanya ada 14 postingan.  Bayangkan; hanya empat belas postingan!  Jika dalam setahun kita punya 12 bulan, artinya rata-rata saya posting satu blog post dalam dua bulan. Sesibuk itukah saya?


"Nobody is just too busy, it is just a matter of priorities"


Jawabanya adalah:   T.I.D.A.K.

Tepatnya; enggan yang berujung pada malas.

Iya, kemarin-kemarin saya sempat "gerah" dengan dunia maya yang didominasi berita hoax berikut celoteh haters.  Sedih rasanya melihat inovasi manusia yang disebut teknologi ternyata malah digunakan untuk menggali kubangan kebencian dan membangun tembok pemisahan.  Akhirnya saya pun memilih "menjauh".  Turns out it was not a good decision.  Lalu penyesalan tinggalah penyesalan.  Harusnya saya bisa lebih bijak dalam menyikapi kondisi eksternal tersebut and ignorance it was not supposed to be on the list.

So yes, I definitely need a resolution to overcome my blogging issues.  Tepatnya saya butuh resolusi blogging di tahun depan.   Terlebih di akhir November lalu saya dapat suntikan semangat dengan mengikuti workshopnya Blogger Perempuan tentang SEO.  Semoga early start tersebut bisa jadi mood booster blogging saya, ya! 😄

Nah, agar resolusi nggak cuma jadi mimpi yang ditulis di atas kertas semata, saya batasi resolusi blogging menjadi empat saja.  Ini dilakukan dengan kesadaran penuh bahwa 24-jam sehari harus dibagi dengan komitmen lain; pekerjaan sebagai konsultan, belum lagi sederet tanggung-jawab sebagai istri dan ibu, wow banyak!  Thus, mengingat usia yang bertambah berbanding terbalik dengan stamina.  Let's face it, alam gak bisa ditentang 'kan?

Kita mulai bahas, ya!


#1 - Rajin Update Blog 

Seperti yang tulis di atas, rekam jejak ngeblog tahun ini bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan.  Cuma satu postingan setiap dua bulan, mending gak usah ngaku-ngaku blogger, deh!  Begitu kalo ngutip kata-katanya Neil Patel. 🙈

Rajin posting seolah mantra wajib yang dilakukan oleh para blogger guna menunjukkan eksistensinya.  Blogger yang nggak posting ibarat menggali kuburnya sendiri.  Kenapa?

Semisal toko, maka blog adalah etalase seorang blogger memajang hasil kreatifitasnya.  Etalase yang hanya memuat blog post yang "itu-itu" saja [alias gak diupdate] potensi besar akan ditinggalkan pembaca.  Lha, yang sering diupdate pun sulit menuai page view tinggi, apalagi blog with no updates?






Hal ini saya alami sendiri.  Grafik Google Analytic memvalidasi hal tersebut; session progres tahun ini terjun bebas dibandingkan tahun sebelumnya #hiks 😱.

Maka dari itu, rajin update blog is no questions anymore.  Walaupun saya yakin, hal ini bukan resolusi saya semata.  Ini bisa dikatakan adalah keinginan seluruh blogger sejagad dunia maya.  



#2 - Top Level Domain 

Saat rekan-rekan blogger yang saya kenal ramai-ramai menghijrahkan blognya dari blog gratisan menjadi TLD (Top Level Domain), keknya cuma saya yang masih pakai platform tak berbayar.  Apakah itu pertanda saya pelit?  😆

Padahal jelas-jelas founder Blogger Perempuan Network, Shintaries menuliskan bahwa kalo mau serius di dunia blogging, maka investasi is something to think about.  

Setelah berinvestasi waktu dengan menulis blog post, mungkin sekarang adalah waktunya saya mengakhiri masa galau untuk pindah dan mulai berinvestasi dengan menggunakan hosting berbayar.  Dengan begitu saya bisa daftar menjadi salah satu squadnya BPNetwork Partner hehehe.


"There's no such of I don't have time, we just have to make it"



#3 - Punya Kartu Nama

Jika ada yang beranggapan resolusi ketiga ini adalah resolusi receh dari seorang blogger, mungkin pikirannya akan berubah setelah tahu alasan berikut.

Tanda Pengenal Profesional 

Saat ini blogger bisa dibilang sebagai salah satu profesi jaman milenia.  Dalam banyak event, blogger disejajarkan dengan awak media main stream lainnya; meliput acara, mereview produk dan sebagainya.  Memberikan kartu nama pada pihak penyelenggara bisa jadi salah satu cara blogger agar namanya diingat oleh klien dengan harapan kerja sama yang berkelanjutan.  

Bukankah sekarang ini kartu nama merupakan tanda pengenal standar dalam berbisnis?

Media Promosi

Kawan blogger saya, Donna Imelda, membuat kaos aneka warna bertuliskan nama webnya.  Di kesempatan yang bersifat casual, bisa dipastikan Donna akan mengenakan kaos tersebut.  Khalayak mungking akan lebih ingat nama lamannya dibanding nama Donna sendiri.  Namun tujuannya  untuk berpromosi sudah tercapai.

Alih-alih membuat kaos seperti Donna, #My2018Resolution adalah kartu nama.  Kartu nama dengan deklasari diri sebagai blogger akan menjadi media promosi keahlian saya di bidang ini.  Sudah terbayang desain kartu nama yang akan saya pilih; clean & simple design [my favorite theme, ever!] dengan mencantumkan nomor telepon, url blog dan akun media sosial; so people will easily contacting me!



#4 - Menjaga Kesehatan

Insya Allah, dengan ijin Sang Pemilik Kehidupan, ketiga resolusi di atas bisa saya lakukan dalam kondisi kesehatan yang prima.  Doa minta sehat -disamping doa-doa lainnya- tak lupa dipanjatkan.  Kalaupun harus sakit , doanya adalah; "Ya Allah, kalau sakit jangan lama-lama".  Boleh 'kan doa begitu?

Sangat sadar diri kok, punya keinginan banyak sedangkan usia tidak lagi muda [uhuk!], saya harus pandai-pandai memilah aktivitas agar staminanya oke terus.  Oleh karena itu doa saja nggak cukup, harus ditambah ikhtiar.  



Pilih warna gonjreng, supaya semangat olah tubuhnya!


Lima tahun belakangan gaya hidup disesuaikan.  Dimulai dari soal makanan.  Sumber karbo tidak melimitasi pada nasi semata.  Tidak ada nasi, kentang atau roti pun jadi.  Perbanyak serat, sayur maupun buah.  Yang ini nggak masalah banget, secara saya memang sudah penyuka sayur.  

Membatasi konsumsi gula; biasanya kalau pesan jus di rumah makan, order tanpa gula.  Selain membatasi gula, protein daging merah pun dikurangi.  Seringnya diganti dengan ikan, tahu atau tempe.  Dan kebiasaan minum susu sedari kecil, alhmdulillah masih berlangsung sampai sekarang.  Alhasil anak-anak pun terkontaminasi dengan kebiasaan tersebut.  



Assorted salad, one of fave dish


Sebagai langkah monitor, apakah ikhtiar-ikhtiar tersebut hasilnya sesuai keinginan, maka setiap tahun rutin menghadiahi diri sendiri dengan melakukan medical check-up di klinik langganan.  Alhamdulillah selama ini hasilnya baik-baik saja.  

Yang masih terasa sulit adalah disiplin olah raga.  Malesnya itu yang suka nggak kira-kira, padahal Pak Suami udah maksimal maksa saya olah raga.  

Sempet gowes bareng Pak Suami, tapi gak kuat nanjak secara jalanan di sekitar perumahan saya lebih banyak tanjakan dibanding kontur tanah landai.  Lalu diajak jogging, ngga mempan juga dengan alasan ngga kuat napasnya.  Akhirnya saya memilih olah raga favorit yaitu berenang; lumayan bisa rutin seminggu sekali.  Jika dihitung, setiap berenang akumulasinya bisa sekitar 500 meter.  Sayangnya di Bogor nggak ada kolam indoor maka ketika musim hujan seperti ini, maka kegiatan berenang pun vakum.  Airnya dingin, bok!  Seandainya ada kolam indoor air panas #mengkhayal

Maka dengan terpaksa, selama musim hujan ini, saya pun kembali jogging.  Seterpaksanya saya akan memilih olah raga jalan kaki dengan durasi waktu yang lebih panjang.  Kesannya kok ngotot banget gerak badan, ya?  

Buat saya, menjaga kesehatan bukan urusan yang main-main.  Masih segar dalam ingatan bagaimana almarhum Bapak akhirnya tunduk oleh kanker, atau almarhum Bapak Mertua yang mengibarkan bendera putih setelah delapan tahun menggantungkan hidupnya pada mesin pencuci darah.  Dua pengalaman itu mengristalkan kesadaran pada saya; bahwa di kala sakitlah manusia baru menyadari "harga" sebuah kesehatan.

Sehat itu investasi yang harus dibentuk melalui treatment luar-dalam; olah fisik dan konsumsi asupan.





Apakah cukup sampai di situ?

Sebagai pelengkap, saya menyediakan suplemen multi vitamin Theragran-M untuk seisi rumah.  Kebetulan anak-anak sudah beranjak remaja, jadi suplemen yang satu strip berisi 4 tablet ini tidak terbatas untuk ayah-ibunya saja, bisa dikonsumsi kami berempat #emakirit 😁  

Jika ditanya alasan memilih Theragran-M keluaran PT. Taisho, alasannya selain karena produk ini sudah sudah diresepkan oleh para dokter selama 40 tahun lamanya makanya mudah didapat di toko obat dan apotek; kandungan kombinasi multivitamin (Vit A, Vit B, Vit C, Vit D, Vit E) berikut mineral esensial seperti Magnesium dan Zinc; terbukti meningkatkan, mengembalikan dan menjaga daya tahan tubuh. Pantaslah jika Theragran-M jadi pilihan vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan dan mengembalikan daya tahan tubuh setelah sakit.


Itulah empat langkah #My2018Resolution milik saya. Semoga istiqamah dalam menjalankannya di tahun mendatang, Aamiin.

Reader punya resolusi untuk tahun 2018 juga?  Ditunggu sharingnya di kolom komentar.

Oiya, selamat Tahun Baru ya!




***



Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh 
Blogger Perempuan Network dan Theragran-M
#TheragranM #My2018Resolution

Theragran by PT. Taisho Pharmaceutical Tbk
www.theragran.co.id








Share
Tweet
Pin
Share
90 comments
Newer Posts
Older Posts

Follow Me

Email Facebook LinkedIn Pinterest

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  October 2025 (1)
      • Personal Branding Konsultan Project Management: 3 ...
    • ►  August 2025 (1)
    • ►  July 2025 (1)
    • ►  June 2025 (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  June 2022 (2)
  • ►  2021 (12)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (2)
    • ►  May 2021 (1)
    • ►  February 2021 (1)
    • ►  January 2021 (4)
  • ►  2020 (7)
    • ►  December 2020 (2)
    • ►  October 2020 (1)
    • ►  April 2020 (2)
    • ►  March 2020 (1)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (17)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  October 2019 (2)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  May 2019 (2)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (4)
  • ►  2018 (25)
    • ►  December 2018 (4)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  October 2018 (3)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (5)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (1)
    • ►  February 2018 (2)
    • ►  January 2018 (3)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December 2017 (5)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  October 2017 (1)
    • ►  September 2017 (2)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  June 2017 (1)
    • ►  April 2017 (1)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (1)
  • ►  2016 (37)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  July 2016 (3)
    • ►  June 2016 (4)
    • ►  May 2016 (2)
    • ►  April 2016 (9)
    • ►  March 2016 (8)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (6)
  • ►  2015 (75)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  September 2015 (6)
    • ►  August 2015 (5)
    • ►  July 2015 (19)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  April 2015 (7)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (9)
    • ►  January 2015 (5)
  • ►  2014 (39)
    • ►  December 2014 (2)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  October 2014 (2)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  August 2014 (5)
    • ►  July 2014 (2)
    • ►  June 2014 (3)
    • ►  May 2014 (4)
    • ►  April 2014 (2)
    • ►  March 2014 (2)
    • ►  February 2014 (5)
    • ►  January 2014 (7)
  • ►  2013 (36)
    • ►  December 2013 (5)
    • ►  November 2013 (5)
    • ►  October 2013 (2)
    • ►  September 2013 (5)
    • ►  August 2013 (1)
    • ►  June 2013 (1)
    • ►  May 2013 (4)
    • ►  April 2013 (6)
    • ►  March 2013 (3)
    • ►  February 2013 (2)
    • ►  January 2013 (2)
  • ►  2012 (28)
    • ►  December 2012 (2)
    • ►  November 2012 (3)
    • ►  October 2012 (3)
    • ►  September 2012 (4)
    • ►  August 2012 (4)
    • ►  July 2012 (5)
    • ►  May 2012 (1)
    • ►  April 2012 (1)
    • ►  March 2012 (1)
    • ►  February 2012 (1)
    • ►  January 2012 (3)
  • ►  2011 (28)
    • ►  December 2011 (2)
    • ►  November 2011 (3)
    • ►  October 2011 (1)
    • ►  September 2011 (1)
    • ►  August 2011 (4)
    • ►  July 2011 (2)
    • ►  June 2011 (4)
    • ►  May 2011 (1)
    • ►  April 2011 (4)
    • ►  March 2011 (3)
    • ►  January 2011 (3)
  • ►  2010 (2)
    • ►  December 2010 (1)
    • ►  June 2010 (1)

Created with by BeautyTemplates