My Dairy Note's

Life Style & Family Blog Indonesia

    • Home
    • About
    • Disclosure
    • Lifestyle
      • Books & Movie
      • Travel
      • Culinary
      • Fotografi
    • Midlife Series
      • Family
      • Wellness
      • Blogging
      • Techno
    • Career & Project Management
      • Project Management


Dari kami tiga bersaudara, saya yang terakhir pakai kacamata.  Kedua kakak saya bahkan sudah memakai alat bantu optik ini untuk beraktivitas semenjak mereka duduk di bangku sekolah.  Pada akhirnya saya pun harus “menyerah” menggunakan kacamata melalui cara yang bisa dibilang nggak enak.

Di suatu sore seusai pulang kerja, tetiba saya dihantam rasa pusing yang luar biasa.  Dunia rasanya tak henti berputar even when I close my eyes. Saking pusingnya, saya sampai memuntahkan isi perut.  Hampir seminggu terkapar di tempat tidur tanpa bisa melakukan apapun.  Jangankan berjalan sebab semua tampak oleng, tidurpun gelisah karena pusing yang mendera.  Saat itu saya ngga paham jika yang saya alami adalah vertigo.

Gegara pusing disertai nyeri yang luar biasa itu, karena memang seumur-umur baru pertama kali mengalami, saya langsung konsul ke ahli syaraf.  Saat periksa medis, dokter bertanya sejak kapan saya mengalami gejala tersebut berikut kebiasaan kesehariaan. 

“Pagi hari biasa saja, Dokter.  Sakitnya baru dirasakan di sore hari.” 

“Sehari-hari, Ibu bekerja dengan komputer?” adalah pertanyaan Pak Dokter yang mulai menyibak misteri selama ini kenapa sakit yang bermula dari pening namun saya abaikan hingga diakhiri oleh vertigo.

Apalagi setelah sang dokter meneruskan kalimatnya dengan “Saya kasih rujukan untuk periksa mata.”  Jeng-jeng-jeenng, in that moment I knew I had to wear a glasses.  Something wrong with the eyes, not with my head.

Pemeriksaan di spesialis mata menegaskan keharusan memakai kacamata.  Pffttt, bye-bye mata normal!

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Makin terasa terlebih saya punya kegemaran melakukan aktivitas outdoor, seperti berenang dan hunting foto.  Pake kacamata ribet, ngga dipake ngga lihat apa-apa!  Berasa ribet tuh saat hunting foto outdoor; mata silau kalau ngga pake kacamata hitam.  The moment mau motret, kudu ganti kacamata biasa.  Suatu waktu, pernah kehilangan moment.  Repot rasanya.  
Setelah memakai kacamata, saya jadi lebih perhatian dengan mata.  Perlahan tapi pasti saya mulai membangun kebiasaan merawat mata.


Detach from screen

Menurut survei American Eye-Q 2014 AOA, 71 persen orang dewasa menghabiskan hingga tujuh jam per hari menggunakan komputer atau perangkat genggam. Dan 66 persen konsumen menggunakan smartphone, komputer, atau perangkat genggam lainnya untuk membaca, bukan yang dicetak.

Screen apapun, baik telepon genggam maupun computer/laptop. 

Kebiasaan berlama-lama menatap layar komputer kini mulai dibatasi.  Kalau dulu “duurr” bisa berjam-jam, sekarang secara berkala Saya “memaksakan diri” mengalihkan pandangan atau off from screen; Biasanya every 1 or 2 hours.  Itupun ternyata sudah termasuk kelamaan, idealnya every 20 minutes. Jadi jangan pake nunggu hingga terasa mata lelah, mata sepet, mata pegel apalagi hingga mata kering maupun mata perih.

Saat detach ini saya pakai untuk memindahkan fokus dengan melihat objek jarak jauh.  Tujuannya melatih mata dari menatap dekat menjadi melihat jauh.  Jika berada di kantor, saya juga akan menjauh dari meja, itung-itung melemaskan otot kaki karena duduk terus, sambil berjalan seputaran lantai.  Biasanya saya akan menghampiri sisi jendela untuk berdiri sejenak setelah duduk sekian lama sambil menikmati pemandangan di luar sana. 

Efeknya lumayan menyegarkan.

Konsumsi “see” food

Kalau ini bukan kebiasaan sih, karena dari dulu saya termasuk picky dalam hal makanan.  Setelah berkacamata plus ditambah factor usia, saya makin perhatian dengan apa yang saya konsumsi. 
Sayuran hijau dan berwarna seperti wortel maupun buah-buahan makin rajin disantap begitu juga dengan beragam jenis ikan.  Menurut dokumen medis, sea food yang idea menunjang kesehatan mata sih salmon. Tapi mahal, Siiissst #kekepindompet.

Tidak begitu sulit menerapkan kebiasaan memilah “see food” secara notabene praktis melanjutkan pola konsumsi yang sudah terbentuk lama.

Cek kesehatan (mata) rutin

Sudah pahamlah jika tubuh kita adalah kesatuan rangkaian.  Sakit di satu bagian, efeknya bisa kemana-mana.  Sebagaimana halnya cerita saya tentang vertigo, ternyata efek dari mata yang diforsir.  

Pemeriksakan kesehatan secara menyeluruh (medical check-up) menjadi mitigasi deteksi penyakit yang berdampak pada organ tubuh lainnya.  Ditambah faktor U alias umur hehehe, cek kesehatan jadi investasi penting.

Ngga cuma itu.  Mengunjungi optician adalah bagian baru setelah saya berkacamata.  Kacamata ngga enak dipakai –terlalu kencang atau longgar, langsung pergi ke optician langganan.

Apalagi jika terasanya englihatan buram, dahulukan ke optician.  Ada kekhawatiran jika ukuran penglihatan (plus or minus) berubah, wah berabe banget.

Hal-hal yang seperti itu membuat saya punya jadwal rutin untuk periksa mata, tujuannya “just in case”.  Murni untuk perawatan.
Beneran deh, baru terasa sekarang jika dapat melihat dengan penglihatan normal tanpa alat bantu adalah nikmat Allah yang tak terhingga.  Rejeki yang seringnya kita take it for granted.

Blinking The Eyes

Kemajuan teknologi digital diyakini sebagian besar orang sebagai salah satu "keajaiban dunia" abad kini.  Banyak hal yang dulunya muskil, sekarang jadi nyata.  Salah satunya mengakses entertainment semisal nonton film

Kemudahan mengakses layar kaca baik hand phone, tablet dan smart gadget lainnya -apalagi buat movie lover seperti saya ini- tanpa disadari menjadikan kita seorang binge-watching.
Apa sih binge-watching itu?   

Binge-watching adalah kegiatan menonton film atau sebuah tayangan antara dua sampai enam episode berturut-turut, tanpa jeda. Jika satu episode-nya saja berdurasi sekitar 1 jam, bisa jadi ia menatap monitor selama 6 jam berturut-turut. Bayangkan tontonan drama Korea yang minimal terdiri dari 16 episode.  Berapa jam habisnya?!

Yang mengejutkan, jumlah penyuka kegiatan ini juga sangat banyak. Reader’s Digest mengungkapkan sebuah survey menunjukkan angka sebanyak 61% orang di dunia yang kerap melakukan binge-watching. 

Kebiasaan menonton dalam jangka waktu lama tersebut ternyata cenderung membuat kita untuk blinking (mengerjapkan) mata.  Padahal secara medis, mengerjapkan mata meningkatkan kenyamanan mata.

Mengapa demikian?

  • Saat kita mengerjapkan mata, bagian mata akan meremas kelenjar mata dan menghasilkan cairan yang kaya protein. 
  • Cairan tersebut selain berfungsi sebagai pelumas alami mata, membersihkan kotoran pada bola mata.
  • Selain itu, zat yand dilepaskan membantu menjada kelembaban mata dari penguapan terlalu cepat.  Berkedip membersihkan permukaan mata puing-puing dan menyiram air mata segar di atas Singkatnya, berkedip akan melindungi mata dari iritasi dan memberikan efek nyaman pada mata sehingga permukaan mata tetap sehat.

Tapi namanya juga manusia, tempatnya lupa apalagi jika diburu deadline atau ada permintaan "keses" dari Pak Boss, manalah bisa mengalihkan pandangan dari layar komputer.  Alhasil detach from screen maupun mengerjapkan mata is totally forgotten!

Nah, di saat-saat genting seperti itulah alat bantu semacam Insto Dry Eyes jadi penting.  Sebetulnya Combiphar memproduksi dua macam obat tetes mata steril; yaitu Insto Regular dan Insto Dry Eyes.  Yang terakhir dikhususkan sebagai air mata buatan dengan kandungan bahan aktif yang dapat mengatasi kekeringan pada mata sekaligus sebagai pelumas pada mata.

Jadi kalau berasa mata sepet, pegel apalagi sampe perih; simply pakai 1-2 tetes Insto Dry Eyes pada setiap mata (atau sesuai anjuran dokter).  Dengan kemasan 7.5 ml cukup mungil untuk ditaruh di dekat meja kerja atau masuk ke dalam tas.

Simpel 'kan?





Share
Tweet
Pin
Share
5 comments


Saat ini tidak sedikit orang yang menjalankan usahanya berawal dari hobi.  Ditunjang dengan teknologi internet yang membebaskan manusia bekerja dari batasan waktu dan lokasi, maka
hobi jadi bisnis tidak lagi sekadar keniscayaan.

Tapi apakah faktor hobi saja sudah mumpuni untuk merubahnya menjadi usaha?

Apparently not.

Dari sekian banyak hal pendukung, passion adalah salah satu "koentji" nya sebagaimana dijelaskan Carolina Ratri dalam Bab 1 di buku terbarunya Hobi Jadi Bisnis ini.  And I can't agree more.  

Semenjak saya berkecimpung di dunia kreatif -blogging & fotografi- saya melihat sendiri kawan-kawan yang full passionate akhirnya berhasil menjadikan hobinya menjadi bisnis.  Termasuk Carra (that's how I called her), sang penulis dan juga blogger yang saya "kenal" lewat Komunitas Emak-emak Blogger.



Walau tak pernah jumpa langsung (don't you think we should really meet, sometime?), bisa dibilang kami cukup sering berbalas kabar di dunmay.  Termasuk kabar akan kehadiran buku ini; Hobi Jadi Bisnis.

Dalam kacamata saya, buku teranyar ini mempunyai benang merah dengan buku Carra sebelumnya "Blogging: Have Fun and Get The Money".  Both is statement of the action how she turns her hobby into money.  For real.

Seperti terpampang nyata di Bab 4 bagaimana membuat rencana aksi, merealisasikan agar hobi menjadi ladang penghasilan.  

Semua penjabarannya simpel, dijamin ngga akan bikin kening berkerut.  Jika sering blog walking ke website sang penulis, pastinya sudah familiar akan gaya bahasa Carra; lugas kadang menjurus witty.  😁

Bagi saya, membaca buku ini semacam membaca artikel online-nya neng Carra.  Website dengan niche teknis penulisan a.k.a blogging.  Satu diantara 29 hobi berpotensi bisnis (Bab 3) yang ditekuni Carra selama ini.

Buku Hobi Jadi Bisnis ini sudah bisa diperolah toko buku di kota-kota Anda.  Atau pesan online lewat www.StilettoBook.com berikut akun sosmed StilettoBook.

Saya sendiri memperolehnya setelah memberikan voting pemilihan "the most fitting book cover".  Jadi sebelum buku ini turun cetak, sang penulis meminta urun saran pemirsah di akun Facebooknya dengan menampilkan beberapa -kalo gak salah 4 macam- design book cover.   And I was lucky enough to be one of the voter winner.

Jadi ada 'kontribusi' saya juga dalam kelahiran buku ini walau cuma sebatas milih cover buku doank, hehe.

Thank you atas bukunya, Carra.  Look forward to more books coming 😉



Share
Tweet
Pin
Share
7 comments


"Mama kapan mulai bikin kue Lebaran?"

"Selain Kaastengel dan Nastar, Mama bikin kue apalagi?"

___

Apa yang terlintas saat mendengar Skippy Peanut Butter?  Yap, betul!  Roti selai kacang alias sandwich peanut butter.  Seringnya dijadikan teman sarapan bersama segelas susu atau secangkir kopi hangat saat pagi hari.

Herannya, dari jaman kecil hingga sekarang ini, memoles roti dengan Selai Skippy ini, rasanya kok tidak pernah bosan.  Belakangan kreatifitas mengonsumsi selai kacang made in Amerika ini bertambah.  Terutama pada jam-jam kritis saat perut bagian butuh camilan.

Jika tak ada roti saya,  selai kacang yang punya variant chunky (ada sensasi rajangan kacang) saya oles di atas plain crackers ditaburi coklat meses.   Rasanya?   Sama enaknya; bikin nagih 😉

Roti habis, biskuit pun ludes?  Seapes-apesnya, ngelamotin (bahasa opo iki?) sesendok selai kacang sahaja udah bikin bahagia hehehe.  Sesederhana itu.

Kefanatikan saya akan selai kacang yang masuk dalam jajaran produk unggulan Unilever ini ternyata menular pada anak-anak.  Jadi bisa dipastikan, selai Skippy selalu ada di dapur rumah kami.   

(Ki) Chunky Peanut Butter - (Ka) Creamy Peanut Butter
Kenapa Skippy Peanut Butter ?

Rasa
Jika makanan, pasti urusannya adalah rasa.  Flavour Memory saya akan selai ini tidak berubah dari dulu hingga kini.  Bedanya sekarang mereka punya varian chunky yang memberikan sensasi serasa mengunyah kacang, padahal awal mulanya produk ini hanya tersedia dalam bentuk creamy saja.  Yet, overall it taste the same.

Untuk ukuran selai, rasa manisnya pas -not too sweat- berpadu dengan gurihnya rasa kacang.  It's perfect sesuai selera saya.

Tekstur
Pernah mencoba selai kacang merek lain.  Saat dibuka ada lapisan minyak di bagian atas lalu mengering di bagian bawah.  Well, not for this one.  The peanut butter perfectly blend from the beginning to the last drop!

Ternyata ada cara lain untuk menikmati Skippy Peanut Butter yaitu dengan menjadikannya sebagai bahan membuat kue kering.  Mumpung timingnya pas, menjelang Lebaran, saya akan membuat Cashew Fudge Cookies sebagai salah satu varian kue untuk Hari Raya nanti.  Perpaduan selai Skippy yang gurih dengan choco chips, sudah kebayang rasanya yang juara!



Berikut bahan-bahan yang diperlukan untuk resep kue kering Skippy.

Bahan:
  • 150 gr margarin
  • 150 gr tepung gula
  • 2 butir telur
  • 250 gram tepung terigu protein sedang
  • 1/4 sendok teh baking powder
  • 150 gram cokelat kacang mede (misal, Silverqueen) cincang kasar.   Bagian ini resepnya saya modif sedikit.  Kenapa?  Karena bahan-bahan inilah yang stand-by di lemar dapur saya 😁
    • Cokelat kacang mede (misal, Silverqueen) saya ganti dengan:
      •  150 Skippy Peanut Butter, sesuai selera apakah Creamy atau Chunky.  Di resep ini saya pakai Creamy Skippy Peanut Butter
      • Chocolate chips, jumlahnya sesuai selera.
      • Almond (cincang kasar), jumlah sesuai selera.  Jika menggunakan Chunky Skippy Peanut Butter almond bisa ditiadakan atau dipakai sedikit saja.





Cara Membuat:



  1. Kocok margarin dan gula tepung hingga tercampur.  Tambahkan telur satu per satu dan Skippy Peanut Butter sambil dikocok rata.  
  2. Masukkan tepung terigu dan baking powder sambil diayak dan diaduk rata.
  3. Tambahkan choco chips dan almond.
  4. Sendokkan adonan di loyang yang dioles margarin.  Oven hingga matang dengan suhu 160 derajat Celcius.




Tips:


  • Panaskan oven terlebih dahulu.  Saya biasanya menyalakan oven sebelum mempersiapkan bahan-bahan.  Saat kue selesai dicetak, oven sudah mencapai suhu yang diinginkan.
  • Usahakan jangan terlalu lama mengocok margarin dan gula agar kue tidak melebar ketika dioven.
  • Hati-hati menggunakan cokelat yang mudah meleleh.  Untuk memudahkan pengadukan, dinginkan dulu cokelat yang mudah leleh di lemari pendingin.




Ternyata benar bahwa Skippy Peanut Butter tidak melulu untuk olesan roti.

Teman-teman punya ide membuat olahan makanan dengan selai kacang Skippy juga?  Sharing di kolom komentar ya!!

Selamat berkreasi 😉


Share
Tweet
Pin
Share
14 comments
disclaimer; this is NOT a sponsored post.
The post is written based on personal experience.


Perjalanan ke Singapura kala itu; short trip dengan budget terbatas.  Maka akomodasi yang dipilih adalah hostel.

Ada banyak pilihan dengan keyword budget hostel Singapura.  Dari semua temuan itu, saya langsung perpikat oleh penampakan 5footway.inn

Pencarian belum henti di situ karena hostel butik ini tersebar di empat lokasi; China Town 1, Boat Quay, Ann Siang dan China Town 2.  Dari kesemuanya, saya memilih 5footway.inn China Town 1.

Kenapa?

1. Karena lokasinya

Karena saya familiar dengan kawasan ini dan bisa dibilang this area is my favorite part in Singapore.  Ini penting mengingat trip ini hanya kami berdua; my daughter and me. 

5 foot way.inn persis terletak di jantung keramain China Town.  Aksesnya super duper mudah.   Dari Bandara Changi, just take MRT dan beli karcis dengan tujuan China Town.  

Sesampainya di Stasiun China Town, ikuti arus menuju China Town.  Lalu naik tangga keluar stasiun.  Keluar pintu MRT, jalan kaki sekitar 150 meter, the place is in your right.  Begitu yang tertera di keterangan yang saya ingat dalam konfirmasi email pemesanan.

Berbekal pengalam ke China Town sebelumnya, saya sudah bisa memperkirakan bahwa menemukan hostel ini tidaklah sulit.

Dan memang tidak sulit.  Yang "agak" sulit adalah mencari pintu masuk hostel.  Harapannya saya akan menemukan tulisan besar 5footway.inn terpampang di deretan ruko yang dicat warna-warni sepanjang China Town.  

Namun yang nampak malah lapak pedagang kaki lima.  Ternyata pintu masuk 5footway.inn berada di salah satu barisan belakang lapak-lapak tersebut!

Rupanya kasus tamu yang bingung mencari pintu masuk seperti saya bukanlah kali pertama yang terjadi.  Petugas front desk yang menerima kami siang itu hanya tersenyum maklum.  Sambil menyerahkan acces card penginapan yang juga merupakan kunci kamar, petugas hotel yang cukup ramah menerangkan kebijakan deposit sebesar SGD 10 sebagai jaminan yang akan dikembalikan saat check out.




Bukan salah pintunya, sih.  Karena bisa dipastikan bangunan permanen atau ruko yang elok dipandang itu lebih dulu ada dibanding lapak 😁

Ketika tidak nampak tanda-tanda akan keberadaan si hostel, sempet kena panic attack, siy.  Duh, ngga lucu nih kalo kena tipu.  Mana cuma pergi berdua anak lagi!

Akhirnya keluarkanlah ilmu TPS (Tanya Penduduk Setempat).  Jari telunjuk orang yang saya tanya tentang keberadaan si hostel mengarah ke satu titik yang ternyata hanya berjarak beberapa meter sahaja dari tempat kami 🙈

Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga.  Seandainya tidak ada lapak-lapak yang menutupi toko-toko, mungkin sedari tadi papan nama 5 footway.inn sudah terbaca hehe.



2. Karena fasilitasnya

Hostel ini menyediakan beragam varian kamar dengan konsep dormitory.  Khusus dorm, satu kamar berkapasitas 6 orang.  Yang gak punya masalah tidur bareng lawan jenis, bisa memilih Mix Dorm.  Kalau jengah, ada khusus female dorm, kok.

Selain dorm, tersedia private room dengan kapasitas 3 orang dan 4 orang bahkan untuk 2 orang.  Sedang solo traveling dan gak pengen tidur bareng orang asing?  Jangan khawatir, tersedia pilihan kamar dengan single bed juga, kok.

Untuk short trip ini, saya memilih private twin room dengan pertimbangan keamanan dan kenyamanan.  Rasanya kagok aja kalau harus bergabung dengan orang yang tak dikenal walaupun emang harus bayar lebih tinggi dibanding kamar tipe dorm.  Ternyata kenyamanan itu, emang ada ada "harganya" ya, siiist!

Biasanya nginep di tempat dengan fasilitas lift tinggal dorong koper, begitu angkat koper sendiri naik tangga, baru berasa deh megap-megapnya!  Mana space-nya kecil lagi.  Di situ saya baru paham, betapa tingginya nilai 'ruang' a.k.a. property di Singapura.  Untungnya kamar pilihan kami ada di lantai 2 jadi nggak terlalu terasa capeknya, Thanks God!

Atas: our room, bunk-bed twin room
Kiri: Power socket & night lamp box, hostel's access card
Kanan: washing basin, hair dryer, nampak shared bathroom di belakang

Begitu pintu kamar terbentang lebar, terlihat ruangan kira-kira seluas 8 m² berlantai parket berisikan 1 bunk-bed, sebuah bangku dan lemari.  Errr, tepatnya loker.  All are in white; the room, the bed including pillow, blanket and sheet.  Aircon is working properly, terbukti dari suhu dalam kamar yang langsung sejuk.  Beda banget dengan suhu di koridor hostel.  But the shocking part was .... drum roll.... kamarnya tak berjendela!  Fix, kamar ini memang hanya untuk kami istirahat 😆

Tidak seperti bantalnya yang tidak terlalu 'membel' floppy (?), matrasnya ternyata menjanjikan akan kenyamanan tidur.  Hal penting lainnya, they are clean and smell fresh.  Paling gak bisa deh tidur dengan semilir aroma tak sedap.

Hal yang saya anggap "juara" dalam kamar adalah fasilitas night lamp & power outlet box yang menempel di dinding sesuai letak bunk-bed.  Si kotak menempel pada dinding sesuai ketinggian ranjang bagian bawah dan atas.  Penempatan yang demikian sangat memudahkan tamu hostel yang menempati bunk-bed bagian atas karena tidak perlu susah payah turun untuk mencapai power outlet.  Jika lampu utama kamar dimatikan namun salah satu masih ada yang ingin melakukan aktivitas di tempat tidur; membaca buku, cek email misalnya maka masing-masing dapat menyalakan night lamp.  What a brilian idea!

Buat saya yang baru bisa tidur dengan kondisi gelap, desain seperti ini membantu sekali.  Dan begitulah yang kami lakukan.  Tidur saya tak terganggu manakala saya sudah ke alam mimpi sedangkan anak saya masih sibuk dengan gadgetnya karena lampu yang menyala hanyalah night lamp dari box di upper bunk bed.   Every body gets what their want 😁

Untuk kamar, seperti yang dikatakan, all visitors use shared bath room.  Di lantai kami, ada dua kamar mandi yang ukurannya (sumpeh!) mini banget.  Masih lebih besar ukuran kamar mandi belakang di rumah keknyah, hehe.  Ukuran kamar mandi ini kurang dari satu meter persegi.  Kita harus agak mundur jika membuka pintu lipat kamar mandi.  Tuh, pintunya aja dilipat.  Bukan pintu sebagaimana umumnya.  Bisa dibayangkan 'kan?

Tapi ukuran kamar mandi yang mini itu gak masalah karena seperti ruangannya, kamar mandinya pun bersih.  Sudah tersedia shower/shampoo gel berikut hair dryer.  Buat yang gak bawa toileteris pribadi, your problem is solved.  Kecuali sikat gigi dan odol.  Ini kudu bawa sendiri.

Ngga bawa handuk?  Rogoh kocek lagi SGD 2 untuk sewa handuk selama nginep di sini.

Free Breakfast, yeay!

Saat pertama ke Singapura beberapa tahun yang lalu, nginepnya di hotel gede tapi harga kamar belum termasuk sarapan.  Begitu tahu harga kamar di 5footway.inn ini sudah termasuk sarapan padahal harganya beda jauh, saya jadi kaget.  Kok bisa begitu?

Bandingkan dengan Indonesia di mana setiap penginapan, mulai dari yang murah-meriah apalagi yang mewah, by default memasukkan fasilitas sarapan walaupun sekadar teh manis berikut nasi goreng ceplok telor yang rasanya ngga karu-karuan 😁

Toaster and coffee maker.
Maaf gambarnya gak presisi, maklum dipotret saat "peak hour" 😁
Menu sarapan di sini pun sederhana; "hanya" roti berikut aneka selai, cereal, susu-kopi-teh berikut buah sudah membuat perut kenyang.  Mau ambil berulang kali pun tak ada yang melarang.  Ketentuannya hanya dua; habiskan makanan yang sudah diambil serta cuci peralatan makan masing-masing.



Tidak cocok dengan menu sarapan 5footway.inn?  Mereka jual mie instant cup ukuran jumbo aneka rasa seharga SGD 10.  Saking jumbonya, menurut saya harusnya jadi mie bowl instant. 😊

Area makan adalah area paling sibuk dan ramai khususnya pada jam sarapan 7-10 pagi.  Di luar itu tempat ini relatif sepi, biasanya hanya didatangi oleh tamu hostel untuk mengakses public desktop yang tersedia di area yang sama.

3. Karena harganya 

Kami menginap di sini selama 3 hari, Kamis hingga Sabtu.  Room rate selama 3 hari tersebut bukan flat rate.  Berhubung Jumat-Sabtu adalah week-end, otomatis rate-nya lebih tinggi dibanding hari Kamis.  Namun jika dirata-ratakan, per harinya harga private room with twin bed (bunk-bed) berkisar Rp 500 ribu (jika di-rupiahkan) dan sudah termasuk pajak plus dapat sarapan pulak!


So again, ada banyak budget hostel di Singapur.  Namun jika ingin benar-benar merasakan ambience China Town Singapur yang sesungguhnya dengan kriteria penginapan aman, lokasi strategis serta harga terjangkau; bisa mencobanya di 5footway.inn China Town 1.

***

For further information, go to official website https://5footwayinn.com/

Share
Tweet
Pin
Share
17 comments


Foto selfie acara dari Konferensi Pers - SGM Eksplor - Gerakan sosial “Aksi Nutrisi Generasi Maju” , sontak menuai tanggapan kocak dari beberapa kawan blogger.  “Mbak, emangnya punya bayi lagi datang ke acaranya SGM?”   

Bukti bahwa SGM memang identik dengan susu bayi dan balita.  Padahal acara yang digelar tanggal 20 Maret 2019 di Hotel Hermitage, adalah ajakan terbuka atau kampanye SGM Eksplor pada masyarakat untuk mendukung masa depan anak Indonesia.  Sebagai produsen susu formula local, SGM Eksplor yang juga kategori bisnis dari Danone Specialised Nutrition menyadari pembentukan Generasi Emas Indonesia harus dimulai semenjak anak usia dini.  Apakah usia dini hanya mencakup bayi dan balita?



Menurut Maria Montessori, seorang ahli fisika dan pendidikan berkebangsaan Italia yang terkenal akan metode pendidikan pengembangan, usia dini terdiri dari tiga tahap.  Tahap 1 adalah masa penyerapan otak, usia 0-6 tahun.  Tahap 2, usia 6-12 dan dikenal sebagai masa kanak-kanak.  Terakhir, masa remaja di rentang 12-18 tahun. 

Jadi ngga “meleset” juga saya hadir di acara yang dilengkapi press conference, mini performance dan talk show ini; mengingat saya masih punya si bungsu yang berusia 12 tahun.  Benefit lain menghadiri undangan SGM Ekspor bersama Moms blogger lainnya, saya dapat tambahan informasi sesuai kompetensi nara sumber.  Mulai dari ahli gizi, sosiolog, perwakilan Kemenko PMK hingga pengalaman artis Alyssa Soebandono menjadi ibu muda dari dua buah hatinya.

2045 Generasi Emas Indonesia

Setelah memberikan sambutan sekaligus opening yang disampaikan oleh Bapak Arif Mujadidin sebagai perwakilan pihak Danone, ternyata aksi sosial ini datang dari kesadaran SGM akan jalan panjang yang mesti dilalui dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia di tahun 2045 nanti.  

26 tahun dari sekarang, Indonesia akan dipimpin oleh generasi yang saat ini berada di usia dini.  Mempersiapkan hidup manusia dan masyarakat Indonesia secara umum bukan hal mudah dan tidak dapat dilakukan secara instan.  

Anak-anak yang berkualitas datang dari orang tua yang berkualitas pula.  Maka termasuk didalamnya mempersiapkan calon-calon ayah-ibu dengan kondisi tubuh yang memiliki gizi seimbang.  Terutama wanita sebagai calon ibu generasi yang akan datang.

Dari grafik penduduk Indonesia saat ini tercatat 33 juta anak usia dini.  Di dalamnya terdapat anak saya, putra-putri kita, anak-anak Indonesia.

Mereka inilah yang akan menjadi penggerak roda kemajuan bangsa, demikan imbuh Ibu Meida Octarina, Asisten Deputi Ketahanan Gizi, Kesehatan Ibu dan Anak, Kesehatan Lingkungan Kemenko PMK.

Pentingnya nutrisi bagi anak

Apa yang pertama kali terlintas saat mendengar kata nutrisi?  Saya, sebagaimana orang awam kebanyakan akan berpikir nutrisi adalah makanan bergizi.  Sesuai dengan definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia.  Penekanannya lebih pada unsur jasmaniah dibanding rohani.  

Padahal menurut dr. Nurul Ratna Mutu Manikam, terlalu sempit jika nutrisi hanya dikaitkan dengan makanan saja.  Walaupun nutrisi yang terkandung dalam makanan sangat berperan khususnya pada masa tumbuh kembang anak.  Apalagi belakangan masyarakat dihebohkan dengan masalah stunting, yaitu gangguan pertumbuhan pada anak yang disebabkan oleh gizi kronis.

Sebagai seorang dokter gizi klinis, beliau mengingatkan bahwa nutrisi rohani pun penting dalam masa tumbuh kembang anak sebagai bekal mengembangkan potensi mereka sebagai generasi.  Dicontohkan oleh beliau, makan bersama sebagai kegiatan yang nampaknya sepele dan sederhana namun sebetulnya mempunyai manfaat yang luar biasa. 

Saat makan bersama, anak memperhatikan kebiasaan adab makan (table manner) Ayah-Ibu.  Menikmati beragam hidangan yang disajikan.  Umumnya anak-anak kurang atau bahkan tidak menyukai makanan berserat.  Melalui makan bersama, Ayah-Ibu bisa menjelaskan manfaat sayuran bagi tubuh.  

Terjadinya dialog antara ayah-ibu-anak, artinya terjalin komunikasi antara anggota keluarga.  Di saat yang bersamaan, diskusi meja makan menjadi media rangsang kemampuan anak untuk mengemukakan pendapatnya. 




It takes a village to raise children

Merupakan pesan yang saya tangkap atas paparan Sosiolog UI, Daisy Indira Yasmine.  

"Menciptakan generasi maju adalah pe-er kita bersama.  Tidak semata tugas Pemerintah selaku regulator atau kewajiban orang tua semua.  Pihak akademisi serta pelaku industri (swasta) sejatinya melakukan sinergi guna membentuk suatu support system."



 Lalu bagaimana aksi nyata SGM Eksplor yang merupakan bagian dari PT. Sarihusada Generasi Mahardhika (Sarihusada) dalam aksi sosial #AksiNutrisiGenerasiMaju?

Dengan meng-upload satu foto di media social Facebook atau Instagram sama artinya dengan dukungan nutrisi berupa 1 kotak susu SGM Eksplor 1plus Madu ukuran 600 gr bagi Generasi Maju Indonesia.  

Tahap pertama yang digelar dari 1 Maret 2019 – 10 Juli 2019, ditargetkan sebanyak 33.000 kotak susu dibagikan kepada Generasi Maju Indonesia di wilayah Propinsi Jawa Barat.  

Untuk mendukung gerakan sosial ini, akan digelar kegiatan edukasi nutrisi di 5 kota besar yaitu Jogjakarta, Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan, demikian pungkas Astrid Prasetyo, Marketing Manager SGM Eksplor.

Informasi lebih lanjut untuk bergabung dalam aksi sosial ini dapat diakses pada laman berikut #AksiNutrisiGenerasiMaju


*0*
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Berkunjung ke pasar barang antik Triwindu Solo ibarat berburu masa lalu.  Hampir semua benda yang saya lihat di sana menghadirkan kembali nostalgi .  Untuk sejenak, saya merasa "pulang" ke rumah Bapak-Ibu.

Bagi yang belum tahu, Pasar Triwindu hanya selemparan batu jaraknya dari Pura Mangkunegaran, tepatnya di sisi sebelah selatan.  Pasar yang merupakan peninggalan Raja Pura Mangkunegaran kini menjadi pusat barang antik dan konon terlengkap di Jawa. Kelengkapan aneka ragam barang yang dijajakan tidak hanya dikenal oleh pehobi barang lawas domestik saja, penyuka barang antik mancanegara pun sering mencarinya hingga ke sini.

Keunikan barang-barang di Pasar Triwindu pun menarik perhatian masyarakat awam dan menjadikan Pasar Triwindu sebagai "must seen" tujuan wisata Solo yang sayang untuk dilewatkan.   Bagi penggemar fotografi, pasar yang saat berdiri diberi nama Pasar Windujenar ternyata asik dijadikan lokasi hunting foto.  Termasuk oleh saya yang di siang itu dimanjakan oleh banyak obyek menarik.

Semoga foto-foto yang disajikan ini bisa mewakili masa lalu yang dimaksud.




**0**

Share
Tweet
Pin
Share
49 comments

Nggak sengaja saya re-run film Queen of The Desert di salah satu tv kabel.  Rupanya film yang dibintangi oleh aktris cantik Nicole Kidman menceritakan perjalanan Gertrude Bell; seorang penulis dan arkeologis berkebangsaan Inggris yang hidup di awal tahun 1900-an.  Ketertarikannya pada eksotisme Timur Tengah tidak hanya menjadikan Gertrude menjadi sosok yang berkontribusi atas terbentuknya negara-negara seperti yang kita kenal sekarang, namun membuatnya menjadi seorang (solo) traveler wanita yang dikenal seantero jazirah Arab.

Saya ngga bisa bayangin apa yang dihadapi oleh seorang solo traveller wanita barat di awal abad 19, melakukan perjalanan melintas gurun pasir Tanah Arab yang tidak hanya keras iklimnya namun juga berbeda dalam segala hal; dari mulai agama hingga budaya.  Pastinya membutuhkan sikap adaptasi yang luar biasa.

Amerika Serikat saja yang dijadikan barometer standar kemajuan suatu negara, konon sepuluh tahun yang lalu aja masih beranggapan female solo travel sebagai hal yang tak biasa.  Warga Paman Sam ini pun perlu waktu untuk menata persepsi akan female solo-traveler sebagai suatu tindakan yang wajar sama halnya seperti yang dilakukan oleh solo-traveler pria.

Wajar aja sih jika orang merasa khawatir bepergian sendiri. Berkunjung ke suatu tempat yang semuanya serba asing berarti keluar dari zona nyaman.  Memangnya ada yang senang meninggalkan comfort zone ?

Saya pribadi pun mikir panjang kalo disuruh travel sendirian.  Jika pada akhirnya saya ternyata harus traveling tanpa teman, itu karena kondisi pekerjaan yang mengharuskan saya pergi sendiri-ri-ri!  Sudah urusannya bukan senang-senang, sendirian pulak!  Double trouble 😩

Anyhow, setelah sekian kali solo travel, turns out it is not intimidating as I thought before.  Sebaliknya, banyak hal yang saya rasakan dari solo traveling.


Selfproven a.k.a Mengandalkan Diri Sendiri.  When you said you can do it, then you can.

Apa yang diperlukan saat Anda harus pergi ke tempat yang penduduknya nyaris tak berbahasa Inggris, boro-boro internet, handphone pun masih barang langka.  Tiada lain adalah percaya diri yang gede banget!

Dan itulah kondisi di tahun 1996 saat perusahaan "menyuruh" saya untuk berkunjung ke kantor pusat di Seoul, Korea Selatan.  Tahun segitu,  drakor Winter Sonata aja belum lahir!  😂



Sesungguhnya saat tahu harus berangkat sendiri, tidak hanya saya saja yang khawatir, orang tua pun merasakan hal yang sama.  Alm Bapak saya sampai wanti-wanti agar saya melakukan lapor diri ke kedutaan sesampainya di negara tujuan.  Duh, sampe segitunya, pikir saya waktu itu.  Anyway nggak saya lakukan juga hehe.

Sebelum berangkat, atasan saya yang notabene Korea hanya mengatakan, someone will pick you up at the airport, sambil menyerahkan tiket dan info hotel.  Selebihnya, lo atur deh sendiri.  Nah luu!

Selain percaya diri, saya juga membekali diri dengan nyali yang besar serta setumpuk doa, tidak lupa uang saku dari kantor berikut kartu kredit.  Dan solo traveling ke Negeri Ginseng pun dapat dilewati dengan baik, mengesankan malah.



Mastering survival.  It teaches you many things, including how to read a map.

Still from 1st solo trip.

I was picked up at the airport by a female colleague from Head Office.  She also took me to the hotel.  

On the following day, she picked me up at the hotel to go to the office.  Instead of a car, we used the subway.  She taught me how to use the subway (dia memahami kekatrokan gue yang seumur-umur belum pernah naik subway secara MRT aja baru ada di endonesah tahun seginih 😂).  She also asked me to memorize the route.  

Dan rasa excitement gue langsung lenyap ibarat diguyur air es saat dia mengatakan; "Ratna, it is important for you to remember the route from the hotel to the office because starting tomorrow you'll be on your own."  Dueeengngngng.

Gimana rasanya coba harus ngapalin rute subway yang ditulis pake huruf yang bahasanya aja nggak gue ngerti?  Jangan bayangin sign board di Seoul saat 1996 kayak Seoul hari gini, yak!  It was not as friendly tourism like today.  Korea Selatan belum seterbuka sekarang.  Boro-boro ada K-POP. 

Mount Souraksan

Maka tidak ada cara selain mengingat dan mencatatnya di notes (tuh, pentingnya bawa notes dan pulpen!).  Dari hotel, di stasiun ke berapa harus turun berikut namanya.  Dimana pintu keluarnya endesbre endesbre.

Dan nggak seru kalau tanpa ada kejadian nyasar.  Pernah salah ambil pintu keluar.  Pas nongol dari pintu subway yang underground, lha kok gedung kantor adanya di seberang?  Berarti harus nyeberang dong?  Tapi kok ngga kelihatan zebra cross atau jembatan penyembrangan?  Gimana nyeberangnya?  Panic attack!  Turun lagi ke under ground station.  Hal pertama yang dilakukan adalah bertanya.  Sampai mau nangis rasanya karena orang-orang yang ditanya gak paham Bahasa Inggris.  Matek gue!

Long short story, I finally managed to get the correct route.  Dari situ saya jadi belajar bagaimana menghalau panik dalam kondisi terdesak.  Seiring waktu dan frekuensi traveling meningkat, saya jadi punya kebiasaan baru untuk merekam/mencatat hal-hal yang bisa dijadikan tanda sebagai penunjuk jalan atau arah jika datang ke suatu tempat.  Hal lainnya, I learn how to read a map! 

Understanding yourself

Bagi saya, dua hal yang disebutkan di atas adalah pintu gerbang memahami diri sendiri.  Sejatinya, get to know yourself before you want to know others.  Apalagi jika kita pergi sendirian.  Siapa yang bisa kita andalkan selain diri kita sendiri.  Agree?

Traveling solo also sharpen the ability of listen to my heart and follow my intuition.

Saya bisa dengan santainya sendirian menikmati kota Manado di malam hari dengan rasa aman dari tempat makan yang berjarak sepuluh menit jalan kaki dari hotel.  Namun tidak demikian halnya saat saya berada di salah satu kota di Kalimantan (sorry, ga mau sebut kotanya 😬).  Saking tidak merasa di level kenyamanan yang saya miliki, setiap berkunjung ke kota itu, saya selalu pesan room service for dinner.  Nggak mau keluar jika hari sudah gelap.  Can you see the different?


Nami Island


Enjoy "Me time" 

What would you do during 8-hours flight or 2 hours waiting for transit or hours before boarding?  Actually many things.  Seringnya saya membaca buku -kalo pergi pasti saya bawa buku- atau strolling around the airport karena setiap bandara punya keunikan.  Nah, kalo lihat yang unik udah pasti jadi objek bidikan yang saya rangkum di tulisan ini.

Jarang banget ngobrol apalagi dengan orang asing, karena saya basicnya pemalu pendiam.  Uwooooooooo! 😝

Kala lain, waktu tunggu saya pakai untuk memikirkan hal-hal yang ngga sempat serius dipikirkan, maklum mamak orang cibuk hihi.  Semalas-malasnya, saya cuma duduk diam sambil memperhatikan sekeliling.  Ternyata seru juga lho merhatikan perilaku orang-orang di bandara bahkan bisa nguping obrolan orang lain!

Setelah sejumlah kali penantian boarding, saat ini saya sudah bisa merubah perasaan jemu menunggu itu menjadi salah satu "me time".

We might look alone but not lonely.  Keep yourself busy.  That's my mantra.



Self-discipline since you control & in charge of everything

Solo traveling artinya melakukan segala hal sendirian.  Sendiriannya ngga cuma sebatas angkat koper dan geret bagasi kesana-kemari, gak ada temen yang diajak bisa ngobrol.   Nope, it's not only that.  Hal lain yang harus diatur sendiri adalah managing waktu dan keuangan.  Telat bangun gak ada yang omelin, skip makan juga gak ada yang ngingetin.  Mau belanja sampe dompet jebol pun gak ada yang peduli.  Paling banter bayar kelebihan bagasi dan plus bayar cicilan kartu kreditnya, yekan?

It's really come back to ourself.  Kalau udah begini, gak ada yang perlu dimiliki selain disiplin diri.

Stick to the plan adalah wajib hukumnya!

Alarm bangun pagi diset pukul berapa atau minta morning call ke resepsionis.  Pengeluaran untuk makan sekian, walaupun ditanggung biaya perjalanan dinas, do not abuse donk.  Alokasi beli oleh-oleh sejumlah ini.  Shopping-shopping tipis oke lah minimal ada tanda mata dari negara ini atau rekam jejak di tempat itu 😁

Kebiasaan lain yang saya anggap penting, begitu naik kendaraan dari bandara ke hotel, otomatis pantau travel time yang ditempuh.  Walaupun bisa tanya ke pak supir but personal observation won't hurt, right?

Jadi saat waktunya pulang, kita sudah punya referensi sendiri berapa lama waktu yang diperlukan berikut kondisi trafficnya, apakah saat peak hour atau tidak.

Nami Island

Bebas, Time Flexibility karena Dapat Mengatur Perjalanan Sesuai Keinginan

Segitu disiplinnyakah lalu kapan seneng-senengnya?

Bagi saya justru dengan patuh pada waktu saya jadi punya prediksi berapa banyak spare time yang saya miliki.  Yang tidak kalah penting, nobody told me what I should do during that free time, yeay!

Walaupun berkonteks perjalanan dinas, saya punya kebebasan memilih jadwal keberangkatan dan kembali.  Saat ada 1-day transit di Bangkok dalam perjalanan pulang dari Hanoi, saya optimalkan waktunya untuk One Day Bangkok City Tour.  Hasil jalan-jalan tipis di Bangkok lainnya selama business trip ternyata bisa jadi tulisan yang saya rangkum di sini.

Kali lain, saya sengaja "meninggalkan" diri dari rombongan untuk menikmati Bandung lebih lama hanya karena ingin mengenang Braga.

Atau saat di Menado; sehabis rapat yang ternyata selesai lebih cepat dari dugaan, sisa waktunya saya pakai untuk ziarah ke makam Tuanku Imam Bonjol serta melihat patung Monumen Yesus Memberkati yang menjulang tinggi hingga 50m.

Work hard, travel hard.  Can have them both altogether is such a blessing for me 😎.


Gereja Blenduk, Semarang


Self Improvement of traveling

Sering solo traveling akhirnya menumbuhkan ketrampilan dalam hal traveling.  Mulai dari memilih flight schedule, buat itinerary -seringnya made on location-, punya kostum anti lecek, ukuran koper/tas sesuai lama hari bepergian hingga cara packing walaupun belum mahir lipet baju sampai kecil seperti yang udah beredar di Youtube.  I should learn someday though.

Pengalaman traveling juga saya jadikan referensi saat merancang family trip.  Tempat mana yang perlu dikunjungi, spot apa saja yang bisa diskip because it's not worthed to visit.

Iya, sampai saat ini saya masih melakukan swakelola dalam merencanakan liburan keluarga.  Mulai dari ordering ticket, booking hotel hingga membuat itinerary dilakukan sendiri.  Masih belum merasa perlu pakai tour hehehe.  Paksu sampai komen, kamu udah pantes jadi tour organizer.  Aaamiin.

Lha wong traveling jaman kekinian mah gampil-surampil; the world in one hand itu benar adanya.  Fitur peta, aplikasi terjemahan sampe rekomendasi tempat makan semuanya ada. Semuanya manageable dan mudah berkat internet.  Internet indeed is connecting people to the world.

Terakhir,

Understand the meaning of absence

Mungkin ini romantisme saya aja ya, sebaga ibu pekerja yang kadang harus meninggalkan anak-anak dan pasangan.  Berjauhan dengan kesayangan untuk sementara waktu malah menambah kesadaran betapa berharganya kebersamaan bersama keluarga.  I become a person who value the quality over quantity.

Agar tetap terkoneksi walau terpisah jarak, kami sampai punya kesepakatan pukul berapa melakukan video call.  Someone is going for a while, doesn't mean communication is off.

Lalu saya pun teringat akan kata-kata bijak pakde Thomas Fuller;

Absence sharpens love, presence strengthens it.  


Tanpa pernah solo traveling, terlepas liburan atau bekerja, pastinya saya tidak akan pernah merasakan hal-hal yang saya tuliskan di atas.

Setuju atau punya pendapat lain?



Share
Tweet
Pin
Share
66 comments
Newer Posts
Older Posts

Follow Me

Email Facebook LinkedIn Pinterest

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  October 2025 (1)
      • Personal Branding Konsultan Project Management: 3 ...
    • ►  August 2025 (1)
    • ►  July 2025 (1)
    • ►  June 2025 (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  June 2022 (2)
  • ►  2021 (12)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (2)
    • ►  May 2021 (1)
    • ►  February 2021 (1)
    • ►  January 2021 (4)
  • ►  2020 (7)
    • ►  December 2020 (2)
    • ►  October 2020 (1)
    • ►  April 2020 (2)
    • ►  March 2020 (1)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (17)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  October 2019 (2)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  May 2019 (2)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (4)
  • ►  2018 (25)
    • ►  December 2018 (4)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  October 2018 (3)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (5)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (1)
    • ►  February 2018 (2)
    • ►  January 2018 (3)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December 2017 (5)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  October 2017 (1)
    • ►  September 2017 (2)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  June 2017 (1)
    • ►  April 2017 (1)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (1)
  • ►  2016 (37)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  July 2016 (3)
    • ►  June 2016 (4)
    • ►  May 2016 (2)
    • ►  April 2016 (9)
    • ►  March 2016 (8)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (6)
  • ►  2015 (75)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  September 2015 (6)
    • ►  August 2015 (5)
    • ►  July 2015 (19)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  April 2015 (7)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (9)
    • ►  January 2015 (5)
  • ►  2014 (39)
    • ►  December 2014 (2)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  October 2014 (2)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  August 2014 (5)
    • ►  July 2014 (2)
    • ►  June 2014 (3)
    • ►  May 2014 (4)
    • ►  April 2014 (2)
    • ►  March 2014 (2)
    • ►  February 2014 (5)
    • ►  January 2014 (7)
  • ►  2013 (36)
    • ►  December 2013 (5)
    • ►  November 2013 (5)
    • ►  October 2013 (2)
    • ►  September 2013 (5)
    • ►  August 2013 (1)
    • ►  June 2013 (1)
    • ►  May 2013 (4)
    • ►  April 2013 (6)
    • ►  March 2013 (3)
    • ►  February 2013 (2)
    • ►  January 2013 (2)
  • ►  2012 (28)
    • ►  December 2012 (2)
    • ►  November 2012 (3)
    • ►  October 2012 (3)
    • ►  September 2012 (4)
    • ►  August 2012 (4)
    • ►  July 2012 (5)
    • ►  May 2012 (1)
    • ►  April 2012 (1)
    • ►  March 2012 (1)
    • ►  February 2012 (1)
    • ►  January 2012 (3)
  • ►  2011 (28)
    • ►  December 2011 (2)
    • ►  November 2011 (3)
    • ►  October 2011 (1)
    • ►  September 2011 (1)
    • ►  August 2011 (4)
    • ►  July 2011 (2)
    • ►  June 2011 (4)
    • ►  May 2011 (1)
    • ►  April 2011 (4)
    • ►  March 2011 (3)
    • ►  January 2011 (3)
  • ►  2010 (2)
    • ►  December 2010 (1)
    • ►  June 2010 (1)

Created with by BeautyTemplates