Rumah Tanpa ART

by - July 09, 2015

rumah tanpa art


Jadi fix, sudah setahun ini kami hidup tanpa ART [Asisten Rumah Tangga].  Si Mbak yang sudah kerja hampir 3 tahun itu, mengundurkan diri setelah Lebaran tahun lalu.

And surprisingly, we able to manage so far !  We live normal as we used to be.  Bedanya Cuma ngga ada si Mbak aja.  Dan ternyata it wasn’t horrible as we thought before.  Seisi rumah masih makan teratur mengingat cooking is not my thing ^_^.  Masih ada baju bersih di lemari masing-masing dan rumah masih rapi teratur tidak seperti kapal pecah.  Bisa saja kami mencari ART baru, namun berdasarkan berbagai pertimbangan, kami memutuskan untuk tidak melakukannya.

Jadi, apa saja yang sudah kami lakukan hingga survive sampai hari ini ?

Persiapan mental.  Ini penting karena menyangkut sikap dan mindset.  Setelah bertahun-tahun ada yang melayani, tetiba harus melakukan segala sesuatunya juga bukan hal yang mudah.  Tidak hanya untuk saya selaku IRT, hal ini berlaku juga untuk seisi rumah.  Termasuk di sini memberikan pengertian kepada anak-anak bahwa situasi di rumah akan berubah dan membutuhkan partisipasi mereka.   

Pembagian tugas.  Semua anggota keluarga mendapat tugas tanpa kecuali, termasuk Suami Ganteng.  Mengingat kesibukan kami lainnya seperti pekerjaan dan anak-anak harus sekolah di pagi hari –kecuali di hari libur-, maka ada tugas rutin harian dan ada pula tugas mingguan.  Misalnya, mencuci piring setelah makan malam adalah kewajiban Kaka Cantik.  Saya kebagian menyapu rumah tapi mengepel lantai dilakukan oleh Kaka Cantik.  Membereskan tempat tidur menjadi tanggung jawab masing-masing pemilik kamar. 

Outsourcing.  Ngga Cuma kantoran aja lho yang pake sistem outsourcing atau pengalihan tugas.  Rumah tangga pun perlu menerapkan mekanisme ini.  Outsourcing di rumah kami terbatas pada laundry dan antar jemput anak.  Untuk cuci setrika, kami menggunakan jasa laundry kiloan.  Hanya pakaian dalam serta pakaian yang membutuhkan perlakuan khusus saja yang kami tangani sendiri.  Because everybody knows ‘kan, betapa makan tenaga dan waktu aktivitas laundry ini.  Dari semua pekerjaan rumah, ini juga yang paling saya hindari.  Pengalihan tugas kedua adalah antar jemput anak ke sekolah termasuk ke tempat les.  Alhamdulillah, kami punya tukang ojek yang bisa diandalkan.

Groceries Day.  Atau belanja keperluan dapur, saya jadwalkan seminggu sekali ke pasar.  Pembelanjaan dikalkulasi berdasarkan kebutuhan memasak satu minggu ke depan.  Selain tidak wira-wiri ke pasar, dengan cara seperti ini, bahan-bahan dapur yang dibeli disesuaikan dengan rencana menu apa yang akan dihidangkan kemudian.

Manajemen Dapur.  Kira-kira demikian saya menyebutnya.  Maksudnya sih, begini.  Dalam memasak pun saya pakai planning.  Tidak lain demi kepraktisan.  Contoh, jika menu sarapan pagi yang diinginkan anak-anak adalah nasi goreng, maka malam ini saya giling bumbunya agar besok pagi tinggal memasaknya saja.  Urusan bumbu pun tak bisa diabaikan.  Tahu sendirilah, masakan kita itu kaya akan bumbu dan bawang termasuk the must item dalam ingredients.  Pekerjaan mengupas bawang ini kenyataannya makan waktu juga.  Untuk menyiasatinya, saya mengupas sejumlah tertentu bawang dan disimpan dalam wadah kedap udara.  Sewaktu-waktu diperlukan, bawang sudah siap diiris ^_^

Optimalkan Teknologi.  Teknologi di sini tidak sebatas pada kulkas, rice cooker atau microwave saja.  Alat-alat masak seperti toaster, hand blender dan panci tekan pun dioptimalkan penggunaannya.  Terus terang, ada beberapa barang yang pemakaiannya saya minimalisir ketika ada ART dengan pertimbangan handling care.  Tidak jarang, mereka kurang hati-hati dalam menggunakan barang-barang tersebut walaupun sudah diperingati berkali-kali.  Maka ketika tak ada ART, peralatan tersebut yang berjaya.

Manfaatkan Layanan Delivery Order.  Ada kalanya kami bosan dengan masakan rumah.  Atau ada jenis makanan yang jika dipersiapkan sendiri, effortnya tidak seimbang dengan hasilnya.  Misalnya saja soto jeroan.  Yang suka makanan ini hanya saya dan Suami Ganteng.  Jika di restoran, cukup satu porsi untuk kami berdua.  Untuk jenis-jenis makanan tertentu seperti ini, biasanya kami membeli dibandingkan memasak sendiri di rumah.  Karenanya kami punya database nomor telepon restoran atau tempat makan di mana kami biasa beli. 

Dan setelah setahun tanpa layanan ART, saya dan Suami Ganteng merasakan banyak manfaatnya terutama perubahan sikap pada anak-anak.  Mereka jadi mandiri, terbiasa melakukan tugas rumah.  Adanya resistensi di awal atau masih kerap harus diingatkan, adalah hal wajar.  Justru kehadiran kami sebagai orang tua yang harus tiada bosan mengingatkan mereka.  After all, pekerjaan rumah itu merupakan survivol education untuk anak-anak.  Ketika suatu saat mereka harus hidup sendiri, jadi anak kost misalnya, maka mereka sudah dibekali dengan pengetahuan dasar how to cook, how to clean and so and so.

Adek Ganteng yang tahun ini naik ke kelas 3 SD, sudah pandai membereskan tempat tidurnya sendiri dan cuci piringnya sehabis makan.  Bahkan memasukkan baju ke lemarinya.  Walau tidak serapih seperti yang saya ajarkan, at least he knows how to do it.

As for me, ketrampilan masak saya lebih baik.  I didn’t say my cooking is good, though.  But everybody in the house that the tast is gets better and better.  Yippy ! 

Rumah tanpa ART adalah sebuah pilihan.  Jika opsi itu yang diambil maka keberhasilannya merupakan hasil kerja sama seluruh anggota keluarga.


Picture title from Pexels with personal modification.

You May Also Like

11 comments

  1. Kereeeen :D
    Aku di rumah juga udah nggak pakai ART sejak 3 tahun lalu hehe. Semangaaaat~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahhh, dirimu lebih keren, Mak. 3 tahun tanpa ART dengan 2 krucils ^_^

      Delete
  2. ada enaknya juga sebetulnya tanpa ART. Gak cape hati hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah, itu juga salah satu alasannya, hihihi

      Delete
  3. itu pilihan aku juga, sejak nikah aku gak pakai ART sampai sekarang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, berapa lama tuh, mak Lidya ? Salut.

      Delete
  4. Tos aah mak.. kiat2mu juga slama ini aku praktekkin. Tambahin boleh ya mak, untuk memasak aku sengaja bikin bumbu dasar putih, merah cukup untuk masak buat seminggu, lalu pas mau masak tinggal sreng2 deh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih juga atas tambahannya, mak Woro. Aku gak keberatan kalo dibikinin bumbu-bumbunya juga tuh ^_^

      Delete
  5. aku juag malah sejak anak2 masih umur tiga tahun aku suruh pembantuku pulang , he, he. Dan di rumah aad pembagian kerja setelah anak2 sekolah, aad yang nyapu, ngepel , begitu juag aku dan suami berbagi tugas. Anak2 sekolah dari kecil sudah berani naik angkot sendiri, aku hanya mengajarkan dua kali mereka sudah berani. Masak aku, selalu masak pagi , jadi saat anak2 pulang aku belum pulang kerja untuk makan siang mereka sudah ada tinggal ngangetin saja

    ReplyDelete
  6. aku juga tanpa art mbak jadi hanya gantian aja ama suami yang kebetulan kerja sore

    ReplyDelete
  7. Wah.. Salut dgn ibu2 macam kamu ini mbak, klo skrg aq msh butuh ART tp mmg hrs pny persiapan ya klo sewaktu-waktu ARTnya gada.

    ReplyDelete

Hai ^_^
Terima kasih sudah berkunjung dan membaca tulisan saya di blog ini.
Silakan tinggalkan komentar yang baik.
Mohon maaf, komentar anonim maupun yang sifatnya spam, tidak akan dipublikasikan.
Keep reading and Salam !