My Dairy Note's

Life Style & Family Blog Indonesia

    • Home
    • About
    • Disclosure
    • Lifestyle
      • Books & Movie
      • Travel
      • Culinary
      • Fotografi
    • Midlife Series
      • Family
      • Wellness
      • Blogging
      • Techno
    • Career & Project Management
      • Project Management
Rasanya tidak ada orang Indonesia yang ngga doyan keripik.  Makanan yang dalam bahasa Inggrisnya dikenal sebagai ‘chips’ ini banyak ragamnya.  Seingat saya waktu kecil  dulu, almarhumah Mama juga sering menyediakan cemilan di rumah namun jaman itu jenisnya masih terbatas pada jenis umbi-umbian seperti  kentang dan singkong selain tempe atau pisang.  Makin ke sini, ketika teknologi sudah semakin maju plus kesadaran masyarakat akan hidup sehat meningkat, maka jenis keripik jadi lebih bervariasi.  Jadi sekarang sudah ada tuh keripik yang berbahan dasar sayur atau buah seperti keripik nangka dan keripik bayam. 

Inovasi nggak berhenti sampai di situ.  Masih inget ‘kan dengan fenomena keripik singkong pedas dengan level kepedasan yang berbeda ?  Si penjual dengan cerdiknya menyediakan rasa keripik mulai dari yang tidak pedas, sedang pedasnya sampai yang super pedes-des-des !  Karena si penjual menyadari bahwa walaupun khas cemilan Indonesia tapi ngga semua orang tahan dengan rasa pedas seperti saya.  Bukannya ngga suka pedas, tapi sadar diri aja kalo lidah saya ini ngga sanggup makan makanan yang pedasnya to the max –istilah anak saya yang ABG-.  Selain lidah yang ngga sanggup, perut juga langsung “berontak” kalau menkonsumsi makanan pedas.  Makanya saya jadi terlihat ”picky” dalam memilih cemilan (kenyataannya memang “picky”, hehe).  Padahal kami termasuk keluarga yang suka banget ngemil apalagi cemilan yang kerenyes-kerenyes pada saat dimakan.  Terkadang saking pengennya ngemil tapi stok di rumah habis, kerupuk yang sejatinya untuk temen makan pun jadi sasaran.  Dan ketika saatnya makan, rasanya ada sesuatu yang ‘hilang’.  Ya apalagi kalau bukan si kerupuk tadi, haha !

Share
Tweet
Pin
Share
6 comments
Tanpa saya sadari, saya ternyata menyukai memfoto jendela.  Mungkin karena falsafah dari jendela itu sendiri.  Tanpa perlu melihat langsung ke dalam, through the window we able to have a glance on what inside looks like.

Penilaian saya akan suatu bangunan bisa drop to the minimum level just by looking the window.  Apalagi kalo sampai lihat dari dekat kualitas kusen tidak seimbang dengan kualitas bangunannya. Sampai segitunya sih ?!  Hihihi.

Window is the eye of the buildings.
Selayaknya mata, jendela hati manusia where you can read somebody's mine.
So, it always fascinating to see how window can give dramatic impression to the beauty of the building.


Share
Tweet
Pin
Share
10 comments
Minggu lalu berkunjung ke rumah teman yang istrinya baru melahirkan anak ke-3.  Ceritanya, setelah menunggu cukup lama, akhirnya sang teman dikaruniai putri kecil melengkapi 2 jagoan yang mau menginjak remaja.  Aroma khas bayi beserta tangisan bayi menyambut kami setelah hampir satu setengah jam menempuh perjalanan dari Bogor ke Bekasi.  Rupanya adik Kinan, begitu nama sang bayi, sedang dimandikan oleh ibunya.  Melihat kesibukannya mengurus bayi jadi ingat pengalaman sendiri ketika menjadi ibu baru sekian tahun yang lalu.

Ketika hamil pertama dulu rasanya “katro” sekali.  Buta, ngga ngerti apa-apa.  Bener-bener sendirian rasanya mengingat ibu saya sudah almarhum ketika itu.  Tidak ada tempat bertanya yang bisa dipercaya.  Informasi belum seperti sekarang yang bisa diakses lewat internet kapan saja dan di mana saja.  Buku panduan kehamilan juga belum sebanyak sekarang. 

When they were a baby : (L) Adek Ganteng  (R) Kakak Cantik
Share
Tweet
Pin
Share
4 comments
Siapa yang nggak mau kerja di rumah ?  Kebanyakan orang yang saya temui punya keingingan untuk kerja dari rumah.  Sekarang ini, kerja dari rumah bisa dibilang adalah impian semua orang tak terbatas usia dan jenis kelamin; terutama yang hidupnya di kota besar eh, tepatnya kota macet seperti Jakarta.

Karena Jakarta itu aneh; jarak tempuh belum tentu linier dengan waktu tempuh.  Kalo lagi macet gilak, jarak kurang dari 1 KM bisa ditempuh dalam waktu 2 jam.  Yang bikin tambah bete, ga jelas alasan kemacetannya apa !  Apalagi jika ditambah faktor hujan alamat bisa parkir berjamaah di jalan raya.  Guyuran hujan saja sudah bisa bikin kemacetan nan panjang apalagi ditambah banjir.

Tidak sedikit juga yang berpikir jika bekerja dari rumah bisa sesuka hati alias ga pake aturan. Setelah saya lakonin, ternyata itu salah besar saudara-saudara !  Rupanya, kerja di rumah pun ada aturannya dan berikut ini adalah hal-hal yang biasa saya praktekan.  Alhamdulillah membantu saya beraktivitas dari rumah :


Share
Tweet
Pin
Share
17 comments
Ternyata mengambil foto di tengah kerumunan sangat berbeda dengan menjepret obyek diam.  Selama ini seringnya memfoto orang-orang yang emang niat difoto alias foto narsis.  Kalau orang yang mau difoto narsis to the max (hallah !) ga usah diperintah kadang udah nyosor gaya duluan.  Hampir sama dengan memfoto pemandangan atau landmark di lokasi tertentu misalnya, karena obyeknya yang diem, justru kitanya yang harus aktif bergerak untuk cari angle yang baik.  



Maka ketika lihat kerumunan manusia sebanyak itu untuk menonton Perayaan Cap Go Meh di Jl. Suryakencana, mendadak bingung.  Kalo sampe ga dapet tempat yang strategis, bisa-bisa nanti yang kefoto cuma kepala-kepala hitam lautan manusia ajah.  Akhirnya mata jelalatan cari tempat-tempat yang lebih tinggi sampe coba naik trotoar segala. Namun kurang puas karena pijakannya kurang solid, ngeri jatuh.  

Share
Tweet
Pin
Share
14 comments
"Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia. Istilah ini berasal dari dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama (Cap = Sepuluh, Go = Lima, Meh = Malam). Ini berarti, masa perayaan Tahun Baru Imlek berlangsung selama lima belas hari.
Perayaan ini dirayakan dengan jamuan besar dan berbagai kegiatan. Di Taiwan ia dirayakan sebagai Festival Lampion. Di Asia Tenggara dikenal sebagai hari Valentine Tionghoa, masa ketika wanita-wanita yang belum menikah berkumpul bersama dan melemparkan jerukke dalam laut - suatu adat yang berasal dari Penang, Malaysia."
http://id.wikipedia.org/wiki/Cap_Go_Meh 
***

Ada dua versi terkait Cap Go Meh yakni versi petani dengan versi orang intelektual. Versi petani Cap Go Meh menandakan perayaan Imlek telah berakhir, keesokan harinya sudah kembali ke ladang atau sawah untuk bekerja sehingga berakhirlah perayaan Imlek pada Cap Go Meh itu. 

Sementara versi intelektual, Cap Go Meh merupakan perayaan dengan nilai ritual di mana para tatung/loya atau dewa membuka kembali stempel para tatungnya yang telah ditutup sebelum perayaan Imlek sebelum dibuka kembali setelah 15 hari terhitung Imlek. Karenanya ada anggapan para tatung atau dewa turun atau kembali ke bumi sehingga perlu diadakan arak-arakan tatung.

Terlepas dari versi mana yang dipakai, kabarnya ketika Dinasti Han memerintah dahulu, perayaan ini tertutup hanya untuk kalangan istana saja.
***

Share
Tweet
Pin
Share
5 comments
Kalau kemaren review film yang ada unsur buku atau penulisan.  Sekarang mau ngomongin film yang mengetengahkan masak-memasak sebagai temanya.

Dibanding memasak, saya lebih hobi makan, hehehe.
Tapi bukan berarti ga bisa masak lho.  Untuk masak yang praktis-praktis aja, masih bisa lah.  Selama masakan saya masih bisa dinikmati orang serumah dan ga bikin mules, itu udah cukup buat saya.

Dari semua film yang sudah saya tonton, ternyata tema memasak ini ngga sebanyak tema buku seperti yang tulis sebelumnya.


Ratatouille

Mimpi menembus segala batasan.  Selagi ada kemampuan, do whatever it takes and you'll achieve it.  Rasanya itu pesan yang ingin disampaikan film animasi ini.  Seekor tikus -yup, tikus- hewan pengerat yang biasanya dimusuhi oleh manusia apalagi jika hubungannya dengan makanan malah jadi berteman bahkan berkolaborasi dalam memasak. Si Tikus bahkan hijrah ke  Paris untuk meraih cita-citanya.  Padahal dalam dunia nyata, masakan dan tikus adalah hal yang tidak boleh bersatu bukan ?

Remy si tikus jenius punya cita rasa tinggi dalam hal kuliner.  Tidak seperti tikus lain yang pemakan segala, rakus dan jorok; sifat Remy lebih selayaknya manusia.

Moral story of the movie is good.  I would say this is one of inspiring  movie not only for kids but for all of us who has A dream.  Go for it !  Chase your dream, no matter what !
As an animation movie lover, what I enjoy the most is French's taste in this film.  The songs, the accent, voila !

Bon appetite, mon ami ...



Share
Tweet
Pin
Share
10 comments
Newer Posts
Older Posts

Follow Me

Email Facebook LinkedIn Pinterest

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  October 2025 (1)
      • Personal Branding Konsultan Project Management: 3 ...
    • ►  August 2025 (1)
    • ►  July 2025 (1)
    • ►  June 2025 (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  June 2022 (2)
  • ►  2021 (12)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (2)
    • ►  May 2021 (1)
    • ►  February 2021 (1)
    • ►  January 2021 (4)
  • ►  2020 (7)
    • ►  December 2020 (2)
    • ►  October 2020 (1)
    • ►  April 2020 (2)
    • ►  March 2020 (1)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (17)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  October 2019 (2)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  May 2019 (2)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (4)
  • ►  2018 (25)
    • ►  December 2018 (4)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  October 2018 (3)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (5)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (1)
    • ►  February 2018 (2)
    • ►  January 2018 (3)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December 2017 (5)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  October 2017 (1)
    • ►  September 2017 (2)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  June 2017 (1)
    • ►  April 2017 (1)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (1)
  • ►  2016 (37)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  July 2016 (3)
    • ►  June 2016 (4)
    • ►  May 2016 (2)
    • ►  April 2016 (9)
    • ►  March 2016 (8)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (6)
  • ►  2015 (75)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  September 2015 (6)
    • ►  August 2015 (5)
    • ►  July 2015 (19)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  April 2015 (7)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (9)
    • ►  January 2015 (5)
  • ►  2014 (39)
    • ►  December 2014 (2)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  October 2014 (2)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  August 2014 (5)
    • ►  July 2014 (2)
    • ►  June 2014 (3)
    • ►  May 2014 (4)
    • ►  April 2014 (2)
    • ►  March 2014 (2)
    • ►  February 2014 (5)
    • ►  January 2014 (7)
  • ►  2013 (36)
    • ►  December 2013 (5)
    • ►  November 2013 (5)
    • ►  October 2013 (2)
    • ►  September 2013 (5)
    • ►  August 2013 (1)
    • ►  June 2013 (1)
    • ►  May 2013 (4)
    • ►  April 2013 (6)
    • ►  March 2013 (3)
    • ►  February 2013 (2)
    • ►  January 2013 (2)
  • ►  2012 (28)
    • ►  December 2012 (2)
    • ►  November 2012 (3)
    • ►  October 2012 (3)
    • ►  September 2012 (4)
    • ►  August 2012 (4)
    • ►  July 2012 (5)
    • ►  May 2012 (1)
    • ►  April 2012 (1)
    • ►  March 2012 (1)
    • ►  February 2012 (1)
    • ►  January 2012 (3)
  • ►  2011 (28)
    • ►  December 2011 (2)
    • ►  November 2011 (3)
    • ►  October 2011 (1)
    • ►  September 2011 (1)
    • ►  August 2011 (4)
    • ►  July 2011 (2)
    • ►  June 2011 (4)
    • ►  May 2011 (1)
    • ►  April 2011 (4)
    • ►  March 2011 (3)
    • ►  January 2011 (3)
  • ►  2010 (2)
    • ►  December 2010 (1)
    • ►  June 2010 (1)

Created with by BeautyTemplates