My Dairy Note's

Life Style & Family Blog Indonesia

    • Home
    • About
    • Disclosure
    • Lifestyle
      • Books & Movie
      • Travel
      • Culinary
      • Fotografi
    • Midlife Series
      • Family
      • Wellness
      • Blogging
      • Techno
    • Career & Project Management
      • Project Management


Assalamu alaikum Reader, ketemu lagi dipostingan kedua di tahun 2020 😁

Saya mau sharing pengalaman tentang motret [lagi!] niii.  Terinspirasi dari kegiatan di akhir pekan belum lama ini yang saya gunakan untuk belajar motret.  Betul sekali, seharian tadi bisa dikatakan saya motret terus.  Baru terasa lelahnya menjelang petang.  Entah karena sudah lama tidak "angkat" kamera, segala rupa objek di rumah jadi korban jepretan.  Memangnya di rumah bisa motret apa?  Kenapa ngga di luar rumah, coffee shop misalnya, atau bahkan ke luar kota?  Ini mirip pemikiran saya dulu banget yang ternyata keliru!  😂

Banyaknya gambar makanan atau suasana kafe resto yang diposting di sosial media oleh para penggiat foto belakangan ini memberikan kesan bahwa potret itu harus melulu makanan.  Belum lagi informasi untuk belajar fotografi umumnya diselenggarakan di kafe atau resto.  Tidak heran juga jika pada akhirnya menggiring opini bahwa belajar motret itu harus food related.  Padahal ngga juga.

Belajar motret dapat dilakukan di mana saja termasuk di rumah.  In fact, there's a lot of things at home yang bisa dijadikan challenge object foto.

Mau tahu benda atau objek apa saja di sekitar rumah yang dapat dijadikan bahan untuk belajar motret?

Children (Anak-anak)

Yep, that's right.  Your own kids!

Lebih spesifiknya lagi adalah framing kegiatan keseharian mereka di rumah. Apalagi jika usianya masih kategori bocah yang notabene aktif bermain, menjurus tidak bisa diam hahaha.

Selain mengabadikan polahnya, di saat yang bersamaan saya jadi belajar teknik panning (memotret objek bergerak).  Apparently put a moving object in a frame is very challenging.






Butuh praktek berulang kali hingga dapat menghasilkan gambar panning yang sempurna baik.  Seringnya objek bergerak berujung pada gambar yang blurry.  Tantangan lazimnya foto outdoor adalah perubahan intensitas cahaya dalam hitungan detik.  Di saat bersamaan, tidak ingin ketinggalan momentum.

Walaupun sudah mengaktifkan fitur continuous shooting pada kamera dan setting sesuai kondisi matahari, tetap saja hasilnya tak seragam seperti terlihat pada gambar di bawah saat saya mengabadikan Si Bungsu bermain bola.

Selain bereksperimen dengan kondisi lighting yang dinamis, manfaat lainnya adalah eksplorasi fitur lain yang tersedia di kamera sebagai bagian dari pengenalan dan pendalaman kamera itu sendiri.



Food (Makanan)

Walau masih seputaran makanan, berikut adalah beberapa gambar yang saya hasilkan dari studio "odong-odong" di rumah 😀.

Objeknya beragam, mulai dari bahan mentah hingga yang sudah siap santap.  Tak sedikit beli makanan jadi, namun ada juga hasil dari dapur sendiri.  Yang ini niat pake banget karena seringnya saya malas dibanding rajinnya 😋.

Seperti yang pernah saya tulis di sini, food fotografi itu melelahkan terlebih jika kita melakukannya semua sendirian.  Mulai dari cooking preparation, mengolah sang makanan, sekaligus menjadi food stylist plus fotografernya.  Padahal cucian kotor hasil memasak beserta situesyen rumah yang pabalatak akibat jadi studio dadakan masih menanti untuk dibereskan.  Singkatnya; merepotkan tapi anehnya ngga bikin saya kapok! 😂




Gardening or plants


Dibanding makanan, item ini yang relatif jarang saya pakai untuk belajar motret.  Mungkin karena saya lebih senang mengunyah dibanding berkebun 😅

Tidak hanya bunga hidup, bunga kering dan kembang artificial dari plastik pun tak jadi masalah untuk bahan latihan foto.  Malah untuk keperluan props [baca: properties] saya sampai nyetok beberapa macam tanaman plastik xixixi.




[your favorite] Books

Punya buku bacaan favorit?

Ngga ada salahnya sesekali diabadikan, yess?





Miscellaneous

Menurut kamus Bahasa Inggris, artinya bermacam-macam.  

Kenapa saya kategorikan sebagai "miscellaneous"?

Karena memang objeknya segala rupa barang yang saya temukan di rumah di luar 4 kategori yang sudah saya tulis sebelumnya di atas.   Apa saja itu?  Mulai dari parfum,  tempelan kulkas oleh-oleh dari teman & kerabat, uang 'retjeh', sepatu, alat makan, label tag bahkan jemuran; semuanya sudah pernah saya framing 😬!







Hanya empat hal itu saja yang bisa dipakai untuk belajar motret dari rumah?

Cencu cydak 😉

Masih panjang daftarnya.   Dimulai dari dapur dengan bahan masakan seperti sayur-mayur beserta bumbu masaknya.  Pindah ke ruuangan favorit di rumah, mainan anak-anak, alat masak bahkan alat tulis (stasionaries).  Masih mentok ide?  Biasanya saya akan berkelana di lautan gambar Instagram dan Pinterest .  Usai berselancar di dua platform sosial media yang sarat image ini, akan muncul inspirasi untuk belajar motret dengan konsep yang baru.

Jadi sahihlah bahwasanya kita dapat meningkatkan kemampuan motret dengan memakai benda yang sehari-hari kita jumpai dengan mudah di sekitaran rumah. 

Pendek kata, all can be an object for us in mastering photography.  So give it a try!



"The question is not
what you look at,
but what you see."

-Henry Thoreau-


Share
Tweet
Pin
Share
16 comments


Baru sadar kalau saya ternyata "anak pasar" 😄

Terbukti dari sejumlah postingan tentang pasar terpampang nyata di blog ini; entah itu hasil blusukan saat berkunjung ke daerah maupun di luar nagari.  Walaupun yang terakhir ini baru "seuprit" jumlahnya dan masih di kawasan Asia saja.  Impiannya?  Ingin blusukan juga ke pasar tradisional manca negara dooonk #tolongbantuAamiinkan 😇

Jika ada yang bertanya; kenapa pasar?

Because this is one of the best ways to see, hear, smell, touch, taste, and experience local culture.  Local or traditional market is a great place to find local goods, yummy foods and people to watch.

It is also a place enabling us to interact with locals and for sure great photos opportunities.

Agree?

Dan hasil blusukan ke sejumlah pasar yang sudah dikunjungi, saya rangkum di sini;

  • Jogjakarta; blusukan di Pasar Beringhardjo.
  • Solo; nostalgia Pasar Triwindu.
  • Bogor; a walk in neigborhood Jl. Surya Kencana
  • Jakarta; Petak Sembilan Glodok.
  • Pangandaran: Pasar Ikan Pangandaran
  • Bangkok; Chatuchak Week End Market, bukan hanya tempat belanja
  • Singapore: strolling around Chinatown
  • Korea; Getting Around in Myeong Dong
Adakah yang sudah dikunjungi atau bahkan jadi tujuan favorit MenTemen?  Share with me 😉



Share
Tweet
Pin
Share
30 comments
Melakoni rutinitas dalam kurun waktu tertentu, entah sebagai orang kantoran, ibu rumah tangga, pekerja lepasan bahkan pelajar pun; akan berujung pada satu titik yaitu jenuh.  Yang membedakan adalah "how we deal" dengan kejenuhan tersebut. Tiap orang punya cara masing-masing.

Selain nonton film atau membaca buku, travelling adalah salah satu kiat saya membunuh jenuh.  Namun pilihan terakhir ini agak sulit dilakukan sering-sering.  Mengapa travelling?  Karena travelling dapat jadi ajang memuaskan hobi lainnya yaitu motret.  Selain "oleh-oleh" baju kotor, banyak gambar hasil perburuan selama travel yang memenuhi memory card saat kembali ke rumah.  Buat apa foto sebanyak itu?  A lot of things I could do with those picts.  Selain sebagai dokumentasi keluarga, dapat dipakai untuk menunnjang konten blog dan tentunya untuk dipajang di Instagram #udah follow saya belon? 😄

Sayangnya travelling ini selain faktor waktu yang terbatas -maklum masih orang gajian dengan jatah cuti yang terbatas 😋- biaya menjadi pertimbangan yang paling memberatkan.  Ngga mungkin juga 'kan saya travelling sendirian walaupun sebenarnya saya tidak bermasalah melakukan solo traveling namun ada pasangan dan anak-anak yang perlu "dipikirkan" hahaha.

Baca juga Alasan Mengapa Harus Melakukan Solo Travelling.


Walau ada keterbatasan; jangan dijadikan sebagai penghalang keinginan travelling.  "Sempit" rasanya mendefinisikan jika jalan-jalan "hanya" berupa perjalanan keluar negeri kota.  Berkeliling kota di tempat kita berdomisili, mengunjungi spot-spot yang menarik ternyata sudah berhasil mendatangkan excitement tersendiri bahkan ide.  

Dan untuk Kota Bogor, rasanya tiada tempat yang lebih menarik dibanding Jalan Surya Kencana.

Menurut sejarahnya, ruas jalan ini merupakan sentra niaga sekaligus sebagai pecinan oleh pemerintah kolonial Belanda.  Walaupun wilayah tersebut kini tak lagi dimonopoli oleh etnis Cina namun keberadaan Vihara Dhanagun sebagai "kepala naga" yang bersebelah dengan Pasar Bogor yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi pusat kegiatan perayaan Imlek, masih mengukuhkan trade mark nya sebagai kawasan pecinan.  Mungkin karena alasan itu Pemerintah Kota Bogor mengukuhkannya sebagai Kawasan Heritage di tahun 2016 yang lalu.

Baca juga Telisik Imlek di Pecinan Bogor

Dari pengamatan jalan-jalan ini, keramaian Jalan Surya Kencana ini hanya terpusat di beberapa titik.  Yang pertama di depan Pasar Bogor.  Makin ke tengah -atau mengarah ke selatan- tingkat keramaian menurun bahkan bisa dibilang sepi, terlihat dari rumah-toko yang tutup.  Geliat kesibukan baru terlihat kembali menjelang Gang Aut.  Menurut saya justru di sinilah sentra kuliner Jalan Surya Kencana berada.

Hanya kuliner sajakah yang bisa kita dapatkan di Jl. Surya Kencana?

Ternyata banyak hal menarik lho yang saya dan Rani (iya, saya ditemani blogger pemilik www.tukangulin.com) temukan saat menyusuri ruas jalan yang membentang sepanjang 2.8 km dan masih menjadi pusat Kota Bogor ini.  


Sentra Kuliner

Bermula dari perluasan pemukiman etnis Cina dari Kampung Pulo Geulis. Kini metamorfosis jadi destinasi wisata kuliner.  Mulai dari kudapan hingga makanan berat bisa ditemukan di sini.  Jika merindu kuliner tradisional Bogor, datangi saja tempat ini.  Beberapa warung makan legendaris bertengger di sana.  Sebut saja Soto Kuning Pak Yusup dan Asinan Gedung dalam yang sudah tersohor.










Heritage

Ternyata Jalan Suryakencana adalah sebuah ruas jalan tua yang merupakan bagian dari De Grote Postweg yang dibangun sekira 1808 atas perintah Gubernur Jenderal Daendels. De Grote Postweg memasuki Buitenzorg—nama lama Bogor—dari jalan yang kini jadi Jalan Ahmad Yani, berlanjut hingga Jalan Jenderal Sudirman, membelok ke Jalan Juanda, bersambung ke Suryakencana hingga ke Ciawi.

Dapat dikatakan jalan ini adalah denyut nadi Kota Bogor dari semenjak jaman Prabu Siliwangi hingga kini. Dari literatur sejarah, hari jadi Bogor merupakan tanggal ditasbihkannya Sang Prabu menjadi raja yang diperkirakan jatuh pada tanggal 3 Juni 1482. 


Sepanjang saya amati saat menyusuri Suryakencana, masih ada beberapa rumah-toko bergaya Tionghoa yang mempertahankan bentuk aslinya. Penandan yang paling kentara adalah bentuk hiasan atapnya. Serasa jomplang melihat saksi bisu ini harus berimpit dengan bangunan-bangunan baru yang lebih menjulang.


Dalam hati menyayangkan.  Sebagai penyuka bangunan-bangunan lama, saya kurang setuju dengan tindakan merubuhkan gedung-gedung tua.  Dibandingkan dengan negara-negara lain yang berhasil menjaga peninggalan historisnya seperti  kawasan heritage Geylang atau Chinatown di Singapore, Indonesia bisa dibilang jauh ketinggalan.  Mereka sukses merawat bahkan dapat mengemasnya menjadi komoditi wisata.  Saking dikenal oleh mancanegara, Bukit Pasoh Road di Chinatown bahkan masuk dalam scene film The Crazy Rich Asian!

Coffee Shops

Rupanya ruas Surya Kencana tidak melulu menyuguhkan kuliner tradisional Bogor.  iGeliat gerai kopi lokal juga merasuki wilayah ini.  Saya hitung ada 3 coffee shops kekinian yang bisa saya temukan; Cyrano, Fanaticoffee dan Kopi Lalu.  Kecuali Kopi Lalu yang hanya menyediakan kopi saja di ruang yang tidak terlalu besar, dua lainnya berkonsep resto & coffee shop.  Sudah banyak reviewnya di dunia maya, silahkan digoogling.

Dari semuanya, kami sempatkan menghalau dahaga sekaligus lelah di Kopi Lalu.  Letaknya pas di perempatan Gang Aut, titik di mana saya dan Rani sepakat menyudahi jalan kaki kami siang itu.

Foto Kanan: Pencitraan Rani masuk ke Cyrano yang sebetulnya masih tutup



Hotel




The only hotel besar di kawasan ini.  Letaknya kira-kira di tengah ruas Jalan Surya Kencana.  Letaknya menjorok ke dalam, memberikan arena parkir yang cukup luas di halaman depan serta menjanjikan kenyamanan bagi tamu hotel karena tidak persis di sisi jalan.

Selain berada di muara kuliner khas Bogor, 101 Hotel juga menyuguhkan akses penuh pada kerlip lampu city view Bogor di malam hari.  

Mural

Semacam hidden gems nemu mural di tengah Kota Bogor.  Belum seartistik mural-mural ketjeh di Melaka atau Haji Lane siyy, namun lumayanlah.  

Urban mural ini kami temukan di bagian tengah ruas Jalan Surya Kencana tak jauh dari Hotel 101.  Seperti yang saya jelaskan di atas, di area ini tidak seriuh dekat Pasar Bogor maupun Gang Aut.  Banyak rumah toko yang tutup menjadikan bagian ini lebih sepi.  Diantara rumah-rumah toko dan gang-gang kecil itulah ada bagian pintu atau dinding yang dijadikan kanvas mural.

Mural di gang kecil
Terlepas apakah para pemilik bangunan tak menyukai keberadaan mural di property-nya namun hasil corat-coret kekinian dengan warna-warna atraktif tersebut membuat Jalan Surya Kencana lebih berwarna.


Mural di pintu toko
Penyusuran yang kami mulai sekitar pukul 8 pagi berakhir menjelang waktu makan siang.  Ruas Surya Kencana yang panjangnya kira-kira 3Km kami tapaki dengan santai penuh obrolan "berbobot" diseling curhat.  

Jalan-jalan tipis ini ternyata ampuh menghilangkan jenuh atas rutinitas.  Selain puas hati ber-quality time dengan salah satu kawan blogger yang walau satu kota jarang bersua, saya pulang dengan memory card berisi foto-foto baru dan punya ide untuk nulis blog post (lagi) seperti yang sedang Readers baca ini!  😉



Share
Tweet
Pin
Share
47 comments
Bluder Gulung Keju

Menyenangkan rasanya week end kemarin bisa foto-foto lagi setelah sekian lama kamera nganggur; kombinasi rasa malas dan gak ada ide motret.  Memanjakan rasa malas memang tidak baik.  

Kembali ke topik awal, bintang utama motret week end (lucuk juga jadi hashtag, ya?) kali ini adalah Bluder Gulung Tallubi.  Udah pada tahu Tallubi?  Ye betul; tepatnya adalah Bika Bogor Tallubi, toko oleh-oleh khas Bogor yang menawarkan beragam varian kue yang unik dan cocok dijadikan buah tangan khas Bogor.  

Tallubi ini memang dikenal inovatif dalam mengolah hasil bumi Bogor yang terkenal akan talas Bogor dan pisang.  Sebut saja kue bika berbahan talas, sejenis umbian-umbian yang melimpah di Bogor, itulah alasan mengapa namanya Bika Bogor Tallubi.  

Disusul dengan Brownies Ketan Hitam dipadu dengan talas Bogor, masih mengoptimalkan tumbuhan iconic Bogor tersebut.  Hasil bumi Bogor semacam pisang pun dimunculkan dalam New York Style Banana Cheese Cake dan Pillsbury Banana Cake.  

Alhamdulillah, ternyata saya sudah coba semua produk Bika Bogor Tallubi.  #rejeki blogger solehah 😎

Bluder Gulung Abon Mayo

Dan inovasi kekinian dari Bika Tallubi Bogor adalah Bluder Gulung.  Tidak seperti sebelumnya berupa kue, kudapan ini dihadirkan untuk memanjakan lidah para penggemar roti.  Ciri khas lainnya adalah teksturnya yang empuk dan terlihat berserat saat disobek.  

Sepintas terlihat mirip kue, padat montok.  Keempukannya langsung terasa saat memotong si Bluder Gulung yang bentuknya seperti bolu gulung.   Terlihat remah-remah berjatuhan sebagaimana yang ditemukan pada roti umumnya.  Ternyata tidak sepadat penampakannya.  Terlebih saat dikunyah.  So lembuuuut, selembut hatimu #eh

Maka selain jadi opsi baru sebagai oleh-oleh khas Bogor, buat saya Bluder Gulung Tallubi ini dapat dijadikan pilihan sarapan pagi karena ke-roti-annya ini.

Si Bluder Gulung lembut ini bisa diperoleh di gerai-gerai Tallubi.  Malas jalan?  Bisa minta babang kurir (JNE YES/Grab/Gojek) tentunya dengan menghubungi para mimin Bika Talubi Bogor di:

WA: 08884829626 
Line: @bikabogor 

Bluder Gulung Coklat

Maka setelah photo session usai, tiga varian rasa yaitu Bluder Gulung Coklat (Rp 29.000), Bluder Gulung Keju (Rp 32.000) dan Bluder Abon Mayo (Rp 38.000) langsung lumer di lidah saya dan anak-anak. 

Memang selera sih, tapi dari ketiga rasa tersebut, buat saya Bluder Gulung Abon Mayo yang juwarak!  Rasa abonnya dominan dibanding si mayo, plus isian abon yang ngga pelit. 

Berani coba?






Share
Tweet
Pin
Share
6 comments


Semenjak mengakrabkan diri dengan fotografi, saya jadi mengenal istilah negative space.

in art, is the space around and between the subject(s) of an image. Negative space may be most evident when the space around a subject, not the subject itself, forms an interesting or artistically relevant shape, and such space occasionally is used to artistic effect as the "real" subject of an image

Dalam seni khususnya seni visual, yang dimaksud sebagai ruang negatif adalah ruang yang lebih di sekitar obyek utama. Rupanya ketertarikan akan negative space ini sudah dimulai dari semenjak lama.

Berbasis pengalaman yang pernah saya praktekkan, si negative space ini dapat dihasilkan dari penggunaan props yang minimalis atau sebagai akibat dari over exposure.

Foto minimalis pernah saya tulis di sini.  Sedangkan over exposure lebih tepat jika disebut sebagai "kesalahan" dalam merekam dokumentasi visual.  Kumpulan kesalahan tersebut, saya kumpulkan di sini.

Walau sebutannya negative space, namun ruang kosong ini banyak kegunaannya, lho.  Tiga contoh berikut sudah pernah saya lakukan.

1. Make your own calendar

Berangkat dari ingin memamerkan hasil jepretan, dua tahun yang lalu, saya pernah memproduksi eh, membuat kalendar meja dan saya jual ke teman-teman terdekat.  

Semuanya dikerjakan sendiri; mulai dari motret, foto editing, lay-out, design konsep, kurasi foto , mencari tukang, promosi, taking order hingga delivery.  Untuk proyek percoabaan ini, saya batasi produksi di angka 50 pieces dan habis! 😎

Capek?  Pastinya.

Dapet keuntungan berapa dari hasil jualan kalender? 

Alih-alih menghitung keuntungan ekonomi, saya sudah "cukup" bahagia mendengar komentar teman-teman akan kalender buatan saya.  Segala keriweuhan, kantuk efek ngedit sampai larut malam; musnah sudah.  Walaupun secara ekonomi belum bisa dikatakan "untung", ada rasa tersendiri yang membuahkan bangga en sing penting bagja alias happy!  Kepuasaannya nggak ketaker sama duit, ceileeee!

Ada pembuktian bahwa saya bisa membuat calendar yang layak jual.  Dan semuanya diawali dari keinginan sederhan "mendayagunakan" foto-foto yang bertema negative space 😎

Readers tak ingin kalender untuk keperluan komersil dan maunya kalendar yang lebih bersifat personal?  Bisa mencobanya menggunakan foto-foto keluarga.  Hasilnya kalendar tampil berbeda dan sekaligus jadi hiasan yang dekoratif.






2. Homemade thumbnail post

Readers juga ngeblog dan sering download free image from photo stockist untuk keperluan blogging?  Gak pa-pa juga sih kalo masih melakukannya.  Saya pun terkadang melakukannya 😄

Namun selama masih ada stok gambar hasil jepretan sendiri dan sesuai dengan konten yang sedang saya tulis, biasanya saya memilih menggunakan foto sendiri.  Selain mempercantik konten blog pribadi, kapan lagi pamer foto hasil jepretan pribadi 😄

Dan level kepuasannya itu maksimal warbiyasak!

Mengapa?
Karena rasanya double attack.  Mulai dari konten, gambar termasuk thumbnail semuanya dikerjain sendiri!









3. Digital Hari Raya Card

Kartu ucapan Hari Rarya seperti Lebarang menggunakan foto keluarga itu sudah biasa.  Coba sesekali membuat yang anti mainstream.

Pilih koleksi foto Readers di mana objek fotonya mewakili tema Hari Raya.

Contohnya foto dengan POI handle pintu yang saya ambil saat mengunjungi Lawang Sewu, Semarang ini.

Ruang kosong itu sebetulnya adalah over exposure karena foto diambil secara backlight.  Justru space itu dimanfaatkan untuk menulis greeting hari raya dengan menyematkan keyword pintu.  Jadinya nyambung 'kan?  #maksa hahaha

Kira-kira begitulah ilustrasinya.  Bisa dieksplore lagi, siapa tahu Readers malah memiliki ide-ide yang lebih briliant.



4.  Ada ide lain?

Sharing di kolom komentar, yoook! 😄


Share
Tweet
Pin
Share
6 comments
Newer Posts
Older Posts

Follow Me

Email Facebook LinkedIn Pinterest

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  October 2025 (1)
      • Personal Branding Konsultan Project Management: 3 ...
    • ►  August 2025 (1)
    • ►  July 2025 (1)
    • ►  June 2025 (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  June 2022 (2)
  • ►  2021 (12)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (2)
    • ►  May 2021 (1)
    • ►  February 2021 (1)
    • ►  January 2021 (4)
  • ►  2020 (7)
    • ►  December 2020 (2)
    • ►  October 2020 (1)
    • ►  April 2020 (2)
    • ►  March 2020 (1)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (17)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  October 2019 (2)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  May 2019 (2)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (4)
  • ►  2018 (25)
    • ►  December 2018 (4)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  October 2018 (3)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (5)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (1)
    • ►  February 2018 (2)
    • ►  January 2018 (3)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December 2017 (5)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  October 2017 (1)
    • ►  September 2017 (2)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  June 2017 (1)
    • ►  April 2017 (1)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (1)
  • ►  2016 (37)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  July 2016 (3)
    • ►  June 2016 (4)
    • ►  May 2016 (2)
    • ►  April 2016 (9)
    • ►  March 2016 (8)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (6)
  • ►  2015 (75)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  September 2015 (6)
    • ►  August 2015 (5)
    • ►  July 2015 (19)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  April 2015 (7)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (9)
    • ►  January 2015 (5)
  • ►  2014 (39)
    • ►  December 2014 (2)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  October 2014 (2)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  August 2014 (5)
    • ►  July 2014 (2)
    • ►  June 2014 (3)
    • ►  May 2014 (4)
    • ►  April 2014 (2)
    • ►  March 2014 (2)
    • ►  February 2014 (5)
    • ►  January 2014 (7)
  • ►  2013 (36)
    • ►  December 2013 (5)
    • ►  November 2013 (5)
    • ►  October 2013 (2)
    • ►  September 2013 (5)
    • ►  August 2013 (1)
    • ►  June 2013 (1)
    • ►  May 2013 (4)
    • ►  April 2013 (6)
    • ►  March 2013 (3)
    • ►  February 2013 (2)
    • ►  January 2013 (2)
  • ►  2012 (28)
    • ►  December 2012 (2)
    • ►  November 2012 (3)
    • ►  October 2012 (3)
    • ►  September 2012 (4)
    • ►  August 2012 (4)
    • ►  July 2012 (5)
    • ►  May 2012 (1)
    • ►  April 2012 (1)
    • ►  March 2012 (1)
    • ►  February 2012 (1)
    • ►  January 2012 (3)
  • ►  2011 (28)
    • ►  December 2011 (2)
    • ►  November 2011 (3)
    • ►  October 2011 (1)
    • ►  September 2011 (1)
    • ►  August 2011 (4)
    • ►  July 2011 (2)
    • ►  June 2011 (4)
    • ►  May 2011 (1)
    • ►  April 2011 (4)
    • ►  March 2011 (3)
    • ►  January 2011 (3)
  • ►  2010 (2)
    • ►  December 2010 (1)
    • ►  June 2010 (1)

Created with by BeautyTemplates