My Dairy Note's

Life Style & Family Blog Indonesia

    • Home
    • About
    • Disclosure
    • Lifestyle
      • Books & Movie
      • Travel
      • Culinary
      • Fotografi
    • Midlife Series
      • Family
      • Wellness
      • Blogging
      • Techno
    • Career & Project Management
      • Project Management


The reason behind of dairy was inspired by dairies food.  
Dairies have kinds of derivatives but it doesn't lose its original flavor.  Milk for instance. 
Milk -as we all know- is valuable for health and goods for all ages. 
Same thing I would like my blog to be. 
 It has various topics and useful without limitation for the reader.

***
Day 3 - #blogchallenge

Melanjutkan #blogchallenge dari #BPN30dayChallenge2018.  Tema hari ketiga adalah "Kenapa memilih nama blog yang digunakan sekarang?"

Pertanyaan biasa tapi jawabannya bisa panjang.  Karena dari semua tahapan memulai ngeblog, ternyata memilih nama blog memakan waktu yang membuat saya merenung lama.  Galaunya setengah mampus,  mirip-mirip saat memilih nama anak dulu.  Walaupun lebih galau memilih pasangan, eaaa!

Dan ngga kepikiran juga pakai nama sendiri untuk blog.  Tambahan lagi, di saat saya mulai ngeblog, rasanya masih jarang yang menggunakan nama pribadi sebagai nama blog.  Email address aja masih banyak yang pakai nama al4Y.  Mungkin saat itu kesadaran akan branding belum seperti sekarang.  Masa dimana ngeblog is just for fun! 😁

Walau berawal dari blog is for fun tapi sudah ada keinginan blog ini memuat beragam informasi yang bermanfaat, siapun pembacanya.  Persis seperti yang saya jabarkan di bagian About Me.  Dan entah kenapa yang terlintas di kepala adalah "susu".  

Dari pengajaran guru jaman TK/SD jaman baheula, kita sudah diberi pengertian jika susu merupakan minuman dengan kandungan gizi yang menyehatkan tubuh.  Begitu pula dengan saya; susu adalah menu sarapan pagi wajib dan surprsingly masih lanjut sampai sekarang.  Bisa dibilang, susu sudah menjadi bagian dari hidup saya selama ini.  Dan ndilalah, anak-anak juga doyan.  Cairan putih lezat ini selalu stand-by di lemari pendingin.  Ngga ada susu, bisa heboh seisi rumah.  Sampe segitunyaa!

Buat saya, susu itu juga multi fungsi.  Selain diminum langsung, susu dapat dijadikan campuran makanan dan jadi penganan yang enak.  Bikin makaroni schotel, pakai susu.  Buat puding roti, ada susunya juga.

Derivatif susu juga nggak kalah lezat. Emang sih, ini subyektif banget.  Tapi gimana ya, saya doyan pake banget!  Mulai dari keju hingga yoghurt.  Susu terkandung dalam coklat (who doesn't like chocolate?).  Es krim jadi enak karena ada susunya!  See?  Dan semua yang saya sebutkan adalah makanan kesukaan saya 😆

Begitulah jika seorang pehobi makan disuruh membuat nama.  Filosofinya ngga jauh-jauh dari isi perut wkwkwk.  Untung nama anaknya jauh dari unsur makanan 😂

Berangkat dari pemikiran "mulia" tersebut maka lahirlah MY DAIRY NOTE's, laman yang sedang Anda baca.

Selama blog ini ada; harapannya siapapun yang membaca beragam postingan yang ada di laman ini akan mendapatkan informasi yang bergizi bermanfaat.  Sebagaimana manfaat susu untuk kesehatan.  Yeaay!!

Selamat datang di MY DAIRY NOTE's dan sering-sering mampir ya!

Happy reading 😁


Share
Tweet
Pin
Share
8 comments

Books, movies, taking a picture and traveling is what I wrote the most.  
As you could find as a category in this blog.



Sebagai blogger penganut aliran random yang istilah kekininannya life style blogger, saya memiliki kebebasan untuk menulis apa saja. Yeay!! 

Terkesan dengan sebuah film; posting di blog. Habis halan-halan seru bareng temen, langsung ditulis.  Nemu tempat ngopi di Bogor yang dekornya bagus untuk moto-moto pun gak luput jadi tulisan. Intinya, apapun yang masuk dalam radar "interest" saya dan nulisnya juga bikin semangat,  bisa jadi materi blog post.  It feels so deliberating 😄   

Nah, topik apa saja yang masuk dalam radar "interest" saya?

1. Travel

Melihat ke belakang, ini adalah momentum saya nge-blog khususnya tentang perjalanan.  Tahun 2011, belum lama ngeblog dan berbekal pengalaman liburan keluarga bawa balita, saya memberanikan diri jadi guest writer di salah satu blog tukang jalan.  Surprisingly, tulisannya diterima.  Saking senengnya, sampai sekarang saya simpan link-nya.  Ini artikelnya.

Selain termovitasi untuk terus menulis ngeblog, travel story menjadi salah satu tema blog yang saya sukai.  

Buat saya tema Travel ngga selalu cerita perjalanan ke luar kota atau ke luar negeri; walaupun mulanya begitu.  Saat menemukan pemahaman konsep travelnya Montaigne, bahwa the pleasure of travel means self-exploration; and as resource of memories and experience, maka menikmati destinasi wisata air terjun atau tentang taman kota sudah bisa jadi ide.   

2. Kuliner

Emang dasarnya tukang makan, makan apa di mana pun ditulis.  Mulai dari jajanan enak pinggir jalan hingga restoran, tak luput dari ulasan.   

Kegemaran menulis tentang kuliner Bogor ternyata jadi keuntungan tersendiri.  Saat ada teman yang bertanya tentang rekomendasi tempat makan di Kota Hujan tempat kami berdomisili, saya tinggal kasih url link blog post sendiri.  Lumayan buat naikin page view hehehe.


3. Techno

Seperti yang jelaskan di sini bahwa setelah ngeblog, banyak hal yang saya pelajari; baik nyomot dari hasil forum diskusi, membaca artikel how-to hingga nonton video tutorialnya untuk kemudian saya praktekan.

Nah, hasil membaca dan praktek itulah yang saya buat menjadi blog post dengan label Tips & Tutorial.   Dengan harapan, sekiranya ada teman-teman blogger mengalami kesulitan serupa, bisa langsung dapat solusinya.  

Sedangkan label Techno adalah kumpulan post saya sebagai seorang techno enthusiast.  Apa aja isinya?  Makanya baca, ya!  😁


4. Fotografi

Prinsipnya sama dengan tema Techno, hanya beda tema.  Postingan yang saya labeli dengan Fotografi  ini didominasi oleh pengalaman saya belajar motret plus all related matters to photography.

Dan sudah memberanikan diri untuk posting tentang BTS (Behind The Scene) dan tips motret walau masih sedikit.  Semoga ke depannya makin banyak, ya.  Aamiin.


Jadi benar adanya.  Ibarat toko, maka blog adalah etalase ruang pamernya.  It reflects the man behind the screen 😉

Happy blogging!

===

#BPNDay2
#bloggerperempuan #BPN30dayChallenge2018

Share
Tweet
Pin
Share
4 comments



When people asked why do they blogging.  The most common answer would be, "...because I like writing."

Is only "writing" good enough for blogging? It depends; it might yes or not.

Despite the fact someones like writing or not; when it comes to blogging, The Marketing Guru Seth Godin classifies 4 criteria:
  • First, people who have ideas -even a simple one- and wants to write them down.
  • Second, people who have dazzling thoughts to share with others.
  • Three, those who eagerly convey a truth
  • and last, Four, someone who is determined their passion in persistent.
And where am I on those four groups?  Let's have a look one-by-one.


  • Am I having dazzling thoughts to share?  Err....difficult to say as I am not there yet LOL.
  • Do I convey a truth about something?  I am not a saint or priest, so I left this option open.
  • Looking at a number of blogs posts so far, check my Blog Archive, I could tell I hardly convince you if I'm a persistent blogger.
So yep, I am in criteria #1!

I am an ordinary working-mom who likes sharing ideas.  Well, not only ideas.  Sometimes I also write stories or even just opinion.  I thought it's a waste if they're only sitting on my minds.  No harms for sharing a good piece, yes?

Is happiness the only thing that keeps me blogging?  

Apparently not.


Story To Tell

Everyone has a story to tell. It may sound cheesy but it's the truth.

When I'm sharing mine, I hope it is entertaining and inspirational at the same time. Hopefully, I have accomplished the goal.

Learning Cycle

Do you think writing is enough for blogging? Well sorry, my friend, it is not. It takes a lot -again-a LOTS more than just writing. Moreover, we don't have a background in computer science.

There is a moment when you start to realize why your blogger's fellow post got viral while yours is not. And you surprise why others have high pageview but not yours. Next, you are questioning why your blog post never recognizes by Google engine and sit as #1.

It will end up with an exhaustive list, which happens to me as well. And all those are conditions that relate to technical issues such as algorithms and SEOs. A specific discipline to learn about.

What did I do to answer those why(s)?

None other than learning. I browse and read countless articles about blogging tips, particularly from overseas. When Youtube hike, I watched the video tutorial too. I even subscribe to free online courses.

Did I do that at the same time? Certainly nope.

My learning pace just like a baby step; one at a time. I choose a subject by interest or by problems occurs due to blogging. Normally "problems" success in forcing me to learn thoroughly, seek a solution to make 😃.

Without knowing, we become a tech-savvy. 😎

Blogging time @kukicafebogor  

Communities and Networking


The learning cycle has bridged me with communities.  This group of people with same interest become my learning pot and my social engagement.

Moreover, we need to join the crowd to get involved with the conversation.  No, it is not for us to look "cool" but it is more to keep us updated.


Self Esteem

Remember Maslow's Theory?

After fulfilling their basic need, a man will satisfy their hunger for self-esteem and actualization.  People have a million ways for a showcase.  Somehow blogging is not only fashionable for me, but also self-proven.  

It took me by surprise that I can write and people read it.  It may in my gene but I just didn't know it.  So I may take it for granted if I waste this gift from God.  Agree?

Monetizing

Among all senses people are blogging these days, I think this is the most compelling reasons.  When I started blogging eight years ago, it was purely for the sake of fun.  Never cross my mind this online journal will provide me with many opportunities.  When one agency dropped an email, pursuing me to work with them, everything changed.  Ever since blogging is not the same as it was before.

Blogging takes me to the land I've never imagined.  From product influencer to a reviewer; invited by a restaurant and hotel to share the experience of using their services.  Those are a few privileges I could enjoy as a blogger.

Is that all?  As if one door opens and leads me to another one.  Blogging embraces me to another form of passion for photography.  Eventually, these are the dynamite duo when you know how to play with them.  For those who blog knows the mantra; content is the king.  Therefore writing skill is crucial.  If we are able to embellish our website with stunning images, it surely boosts the result.


When I looked back, I was amazed by how far blogging has put me where I am standing now.  Yet, wondering where it will take me next.

Nevertheless, I always come back to where I belong; writing to share.

===

#BPNDay1
#bloggerperempuan #BPN30dayChallenge2018

Share
Tweet
Pin
Share
8 comments

Perjalanan ini dilakukan sebelum terjadinya bencana alam gempa yang menimpa Lombok pada Agustus 2018 
----

Dibalik asumsi awam yang acapkali berkomentar "Enaknya, bisa jalan-jalan!"  Seringnya lingkup perjalanan dinas itu adalah bandara-hotel-tempat meeting-hotel (lagi)-bandara lalu pulang.  Membosankan?  Kadang-kadang.  Lebih tepatnya; melelahkan.  Apalagi jika pertemuan dinas memakan waktu yang tidak sebentar.  Bisa jadi rapat dari pagi hingga petang.  Sudah sore, mau jalan-jalan ke mana?

Untuk kondisi seperti ini, biasanya saya menyiasatinya dengan merancang waktu kedatangan sehari lebih cepat atau extend stay, minimal 1 hari sesudah pekerjaan selesai.  Namun seringnya saya memilih opsi pertama.

Keuntungan dari H-1 adalah saya punya spare waktu untuk eksplorasi daerah yang saya kunjungi.  Tentunya dengan mengumpulkan referensi entah pada kawan yang sudah pernah berkunjung ke daerah yang dimaksud.  Atau kumpulkan informasinya melalui browsing.  Minimal mendatangi spot-spot setempat yang iconic.

Maka saat beberapa waktu yang lalu mendapatkan tugas untuk menghadiri workshop di Lombok dengan agenda yang padat; saya langsung koordinasi dengan kawan-kawan lainnya mulai dari menetapkan jadwal penerbangan yang sama hingga memilih tempat wisata yang bisa kami kunjungi dalam sehari.  Berbekal pengalaman ke Lombok sebelumnya, saya bisa mempunyai gambaran tempat wisata khas Lombok apa saja yang  feasible diakses dalam waktu relatif pendek.


Memangnya Lombok punya ciri khas apa, sih?  

Pulau yang luasnya sekitar 19 ribu KM²  ini didominasi oleh Suku Sasak dengan mayoritas beragama Islam.  Keindahan pantainya tidak kalah dengan kepulauan lain yang berada di timur Indonesia. Bahkan pemerintah daerahnya berambisi untuk menjadikannya sebagai Bali Ke-2.  Siapa yang tahu pesona Gili Trawangan, Gili Menok dan Giri Air?

Dan rute sehari berikut ini sudah mencakup tempat wisata yang mewakili ciri-ciri Lombok tersebut.

Desa Sade

Dapat dikatakan Desa Sade yang luasnya sekitar 5,5 hektar ini adalah tempat wisata yang paling dekat lokasinya dari Bandara Internasional Praya, Lombok Tengah.  Beralamat di Desa Rembitan, desa yang didaulat sebagai Desa Wisata di tahun 1989 ini berjarak sekitar 8 KM dari Praya dan dapat dijangkau dalam waktu 20 menit.

Sesaat menapaki gerbang desa, kita akan segera dihampiri oleh seorang "tour guide lokal" yang biasanya merupakan penduduk setempat.  Saya pribadi menghargai kehadiran mereka.  Mengunjungi tempat wisata ini tanpa pendampingan ibarat berjalan dengan peta buta.  Kita gak akan tahu keunikan apa saja yang dimiliki oleh desa yang ternyata memiliki ketentuan jumlah rumah tidak boleh melebihi 150.  Pokoknya, nggak akan rugi deh.

Apakah berbayar?  Seikhlasnya saja.  Mereka tidak menentukan tarif.  Donasi dari pengunjung akan masuk ke kas desa untuk kemaslahatan bersama.

Contohnya; kali pertama mengunjungi dusun asli Suku Sasak pada tahun 2015, gapura desa masih under construction.  Begitu juga dengan balai pertemuan desa.  Pada kunjungan kedua ini, dua bangunan tersebut sudah berfungsi sebagai mestinya.

(Ki) Gapura Desa Sade (Ka) Aneka aksesoris


(Ki) Broken Door - (Ka) Gentong Tempat Berwudu


(Ki) The Alley - (Ka) Just Me 😎

Lapak Suvenir


Pohon Cinta, tempat pemuda-pemudi Desa Sade memadu janji 

Aksesoris

Kain tenun motif Suku Sasak

Wefie with the Gank di pelataran Mesjid Desa Sade

Foto lagi di depan Rumah Adat Desa Sade


Pantai Tanjung Aan, Mandalika

Selepas dari Desa Sade, perjalanan dilanjutkan ke arah selatan yaitu kawasan Mandalika.  Keunikan kawasan yang langsung berbatasan dengan Samudera Hindia ini kita dapat mengunjungi beberapa spot yang bersinggungan dengan laut diantaranya Pantai Kuta (iya, Lombok juga punya Kuta),  Tanjung Aan, Pantai Aan, Bukit Merese dan Batu Payung.  

Suka berburu sunset?  Coba arahkan tujuannya ke Merese Hill Sunset.

Yang saya sukai dari tempat wisata ini adalah suasananya yang tenang.  Cocok banget bagi para pencari ketenangan.  Letak Pantai Aan di teluk membuat ombak yang menepi tidaklah beringas.  Deretan pohon kelapa jauh menjorok ke daratan.  Menyisakan jarak yang luas dari bibir pantai hingga lokasi parkir.  

Dua kali saya ke sini, selalu disambut ketenangan yang sama.  Betah rasanya berlama-lama.  Apalagi jika bersama kesayangan.  Uhuk!

Sea view dari atas Bukit Merese


Wefie with the Gank ^_^

Di atas Bukit Merese


Masjid Islamic Centre Mataram

Matahari sudah tergelincir ke peraduan saat kendaraan mengarah ke Kota Mataram yang letaknya sekitar 60KM di Lombok Barat.  

Sebelum melepas penat di penginapan, kami sempatkan beribadah salat Magrib di Masjid Islamic Centre Mataram, rumah ibadah kebanggaan masyarakat Pulau Seribu Masjid.  

Bangunan masjid paling megah diantara lima ribu masjid yang tersebar di Lombok dan Sumbawa, berdiri di atas lahan 6 hektar.  Masjid yang dilengkapi eskalator ini mempunyai menara menjulang setinggi 114 meter.  Dari menara inilah konon jika cuaca cerah pada siang hari, kita dapat melepas pandangan ke seluruh pulau. 

Sedangkan pada malam hari, penggunaan lampu dengan warna yang beraneka menambah semarak penampakan masjid pada malam hari.  Itulah keunikan tempat ibadah yang juga ditetapkan oleh pemerintah daerah sebagai tujuan wisata religi Pulau Lombok.







Share
Tweet
Pin
Share
12 comments
"You have to taste a culture to understand it"

---

Di kalangan traveler dunia, Bangkok adalah surganya makanan pinggir jalan.  Tidak hanya dari sisi keragamannya, makanan pinggir jalan atau Bangkok street food, juga dikenal akan rasanya yang menggoyang lidah serta harga yang ramah di kantong.

Maka saat mengunjungi negara Gajah Putih ini beberapa waktu yang lalu, kami pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk membuktikannya.

Live like a local, eat like a local.  Well actually, we were more to eat like a local rather than live like them, hehe!  Pardon my Keminggris mode 😎

Beli air mineral di pedagang minuman asongan depan komplek Grand Palace


Alasan lain milih street food?

Dengan makan di jalanan sudah pasti kita akan berinteraksi dengan orang lokal secara langsung.  Menyantap hidangan yang diracik oleh penduduk asli mendekatkan pada akses mencicipi rasa yang lebih otentik.

Singkatnya, ini adalah cara mudah kami sebagai pendatang untuk mengenali karakter suatu masyarakat lewat makanannya. Thus membuat perjalanan ke suatu tempat yang baru menjadi bermakna.  Tidak sekedar datang, foto-foto dan bhay!  

Bisa jadi ini terdengar idealis.  Namun demikianlah adanya.  Ada pesan moreal yang ingin kami 
-a.k.a orang tua- sampaikan pada anak-anak melalui kegiatan berlabel family trip.  Alhamdulillah, setiap perjalanan keluarga yang kami lakoni berkesan di hati.  Selalu ada cerita dan pengalaman seusai trip.  Pembuktian lain untuk sebuah kata bijak; buy experiences, not things.

Apakah jalan-jalannya saja yang memberikan pengalaman?  Urusan makanan juga jadi pengalaman tersendiri.  Saat bepergian ke tempat yang tidak minim menerapkan faktor kehalalan makanan, kita dituntut untuk mempunyai kemampuan memilih makanan yang sesuai tanpa menghilangkan hasrat bertualang rasa.  

And we did it!  We were eating (Bangkok street food) like a local.


Raw Oyster (Hoi Nang Rom Song Kreun)

Eksplorasi kuliner dimulai di malam pertama kedatangan dengan mencicipi kerang mentah di pusat jajanan malam di Sukhumvit Road yang rupanya tidak jauh dari tempat kami menginap.

Kerang mentah, YAY or NAy?!

It was a YAY!

Satu porsi kerang mentah ditata bersama daun selada air dan kemangi di atas es batu beralaskan stryfoam.  Mungkin maksudnya untuk menjaga kesegaran daging kerang yang berwarna putih.  Dedaunan ternyata bukan hanya berfungsi estetika sebagai garnish.  Tapi memang untuk di-emplok bersama kerang mentah.  

Jadi cara makannya begini; ambil daun, tambahkan kerang sebagai isian.  Bentuk serupa bungkusan.  Lalu cocol dengan aneka rasa dip sauce; asin-manis-pedas-asam.  Sllrrpp!
Raw Oyster (Hoi Nang Rom Song Kreung)

Tom Kha

Di tempat yang sama, kamipun mencicipi Tom Kha.  Apakah Tom Kha ini masih kerabat Tom & Jerry? jayus 😂

Gampangnya, Tom Kha ini adalah Tom Yang Goong.  Bedanya, Tom Yam berkuah bening sedang Tom Kha berkuah santan.  Miriplah dengan Sayur Asem dan Sayur Lodeh.  Isiannya sama, kecuali penggunaan santan (coconut milk) sebagai kuah.

Selain dengan nasi, Tom Kha biasa disajikan dengan bihun rebus.

Malam itu kamipun memesan satu ekor ikan bakar yang langsung ludes.

Potato Spiral Fried


Assorted Fritters
Rupanya masyarakat Thailand seneng gorengan juga, lho.  Terlihat dari food stall kaki lima yang menjajakan aneka jenis gorengan.  Mulai dari kentang, lumpia, pangsit goreng; sea food seperti udang, fish ball, hingga sosis.  Walaupun kami penyuka sosis (and they looked tempting), mengingat ngga ada keterangan yang meyakinkan keraguan maka sosis pun "skip" dari daftar wajib coba.

Untuk gorengan, pilihan jatuh pada kentang goreng yang ternyata jadi favorit.  Saking favoritnya, hingga kembali ke Jakarta pun, Si Bungsu berburu Kentang Spiral.  Namun acap mencoba, komentarnya selalu sama; "Kok, rasanya ngga seperti yang di Bangkok ya, Mah?"

Satu buah kentang dipotong sedemikian rupa hingga berupa spiral lalu digoreng.  Hebatnya, kentang yang hasil akhirnya crispy tersebut, dipotong sedemikian rupa dalam ketebalan yang sama tersambung dari dari awal hingga akhir.

Setelah digoreng, diberi bumbu semacam perasa.  Harganya? 10 Baht sahaja.

Aneka Buah Potong

Kenapa memasukkan buah dalam Bangkok Street Food padahal Indonesia pun memiliki banyak jenis buah 'kan?

Karena food stall buah adalah salah satu street food yang akan sering dijumpai.  Di setiap sentra makanan, food court atau semacamnya, penjual aneka buah pun pasti akan terlihat di sana.



Alasan kedua; karena rasanya.  Entah kenapa, buah-buahan di Bangkok ini rasanya lebih juicy.  Contoh nih, nanas yang jamaknya berasa asam-asam manis di Jakarta, di sana kok manis segar.

Sebagai penggemar buah-buahan, kesempatan banget jajan buah selama di Bangkok.  Harganya murah, potongannya gede-gede dan gak pernah dapetin buah yang "zonk".  They all perfect!

Alasan terakhir; dijamin halal 😊

Aneka Buah Potong

"Cooking and eating in a foreign country may be the surest, truest way to its soul"


Banana Egg Prata or Banana Egg Pancake (Roti Gluay)

Foto dulu dengan penjual Banana Egg Prata



Penjual kaki lima ini kami temui sepulang makan malam di Sukhumvit Road.  Gerobaknya yang sepi pengunjung dan penampilannya yang berbeda dibanding orang-orang Bangkok pada umumnyalah yang mendorong kami mendekatinya malam itu.  Saat kami menyapanya dengan salam universal Islami, senyumnya lebar menyambut.  Terlebih saat melihat hijab saya.

Dengan keterbatasan bahasa kami coba berkomunikasi.  Rupanya dia berasal dari daerah perbatasan Thailand - Malaysia.  "Borneo", ujarnya seraya menuding dirinya.  Lalu jari telunjuknya diarahkan pada Suami, maksudnya bertanya dari mana kami berasal.  Kami tak bertukar nama, hanya bertukar cerita dari mana kami berasal.  Terpatah dia mengungkapkan rasa senangnya bertemu kami.

Berkat dia, kami merasakan enaknya martabak kulit tipis berisi potongan pisang matang ditaburi keju dan susu.  Dudulnya, kami makan sesuatu tanpa tahu namanya!  😂

Sepulangnya dari Bangkok, saya penasaran googling untuk cari tahu apa makanan tersebut.  Cara Bapak itu menyiapkan kulit prata mengingatkan saya akan tukang martabak telor di Jakarta.  Jadi nggak salah 'kan jika feeling saya mengatakan "martabak isi pisang" itu bukan makanan asli Thailand? 

Rasa penasaran saya terbayar.  Ternyata memang bukan origin Thailand, namun mampu merasuk cita rasa penduduk lokal hingga akhirnya Roti Gluay didapuk menjadi must try Bangkok Street Food.


Sea Food

Semacam kebiasaan tak tertulis jika bepergian ke tempat yang rawan akan "halal" maka opsinya antara makanan vegetarian atau sea food.  Kriteria yang sama saat memutuskan untuk mencoba penjaja kaki lima di salah satu ruas Jalan Sukhumvit.

Ada banyak penjual kaki lima maupun restoran yang dipenuhi pengunjung; baik lokal maupun orang asing (baca: bule) yang kami lalui sebelum akhirnya berhenti di salah satu food stall.  This one serve sea food only and they all look fresh.  Mereka juga menyediakan aneka sayuran yang dibentuk seperti sate dalam ukuran yang relatif jumbo, menurut saya.

Yang dimaksud dengan sate sayuran ini adalah campuran antara paprika merah-hijau-kuning, tomat, dan bawang bombay.  Cara memasaknya dengan dipanggang.  Ada lagi sate jamur.  Ukuran jamurnya pun besar-besar.  Malam itu saya memilih udang bakar dan jamur bakar plus nasi putih.  Sepiring Pad Thai untuk Si Sulung dan Khao Pad kegemaran Si Bungsu.  Suami?  Dia pilih ikan bakar.

Dan ternyata, jamur bakarnya enak lho.  Saya sampai nambah lagi hehe.

Penjual sea food kaki lima yang ramah

Aneka fresh sea food

Sama seperti di Jakarta, mereka pun menggelar dagangannya di trotoar.  Bedanya, kehadiran si food stall tidak menutupi ruas trotoar sehingga pejalan kaki masih dapat bebas melintas.  Gerobak dagangan dan meja diatur memanjang bersisian.  Hebatnya lagi, no sampah dan tidak bau.  They look clean.

Bisa jadi hal tersebut membuat pengunjung nyaman hingga tak sedikit orang bule -yang setahu saya sangat picky dalam hal makanan (maksudnya makan di pinggir jalan)- berbaur dalam kelompok penikmat Bangkok street food.

Karena mereka hanya menjual makanan saja, minumannya kami beli terpisah di mini market.  Dan ini jamak di Bangkok.  Jadi jika ingin bertualang rasa di pinggir jalan Bangkok, pastikan bawa minum sendiri.  Minimal air mineral.  Inget, ngga sedia air teh, ya!  😂

Kho Niao Mamuang or Sticky Mango Rice alias Nasi Ketan Siram Kuah Santan pakai potongan mangga




(Ki) Daun Kemanginya gede banget! - (Ka) Makanan di atas meja persembahan

Papaya Salad

Maaf yang ini ngga ada gambarnya karena gak sempet kepotret.

Walaupun sering makan ini di Jakarta, tapi rasanya belum afdol jika belum mencicipi di negeri aslinya.

Maka saya pun membelinya di penjual kaki lima.  Cara pembuatannya mengingatkan saya akan tukang rujak bebeg.  Bawang merah dipotong-potong.  Dikasih jeruk nipis, gula merah, masukin serutan pepaya mengkal.  Saat si babang ambil cabe rawit, saya kasih tanda untuk tidak melakukannya.  Setelah itu diaduk-aduk, selesai.

Babang Papaya Salad ini, alih-alih pakai gerobak, dia hanya menggunakan pikulan.  Tidak menyediakan kursi.  Jadi konsepnya take away. Maka pesanan saya pun masuk ke dalam wadah stryfoam kotak.  Tidak lupa diberikannya sendok.

Masalah baru dirasakan saat pembayaran karena sama-sama ngga ngerti bahasa.  Ngga ada pula papan harga.  Si Babang kagak ngarti Inggris.  Saya boro-boro paham bahasa setempat kecuali "sawadee kaa".  Ciloko!  Gimna bayarnya?

Ngga kurang akal, akhirnya saya sodorkan tangan berisi uang logam.  Sebagai isyarat agar Si Babang ambil sendiri uangnya sesuai harga dagangannya.  Diambilnya 10 Baht.  Saya sampe melongo.  Ngga salah nih, porsi Papaya Salad segede stryfoam yang biasa dipakai untuk bubur ayam sarapan saya kalo di Jakarta dihargai segitu?

Walau sudah kami santap berempat, tetep ngga habis juga itu Papaya Salad.  Jadi takjub dengan porsi di Bangkok yang jumbo-jumbo (menurut saya lho, yaa).

Rasanya?  Persis rasa rujak bebeg dengan tingkat keasaman yang lebih nampol!


(Ki) Food Stall pinggir jalan.  Bersih no sampah! - (Ka) Kelapa muda mini "ajaib"

(Ki) McD Sign Board.  That's how french fries wrote in Thai's word - (Ka) Nasi Goreng Thai a.k.a. Khao Pad

Fine Dine-in Farewell Dinner

Setelah mencoba aneka rupa makanan pinggir jalan, nggak ada salah memanjakan diri makan di tempat yang "bener" 😄

Di malam terakhir kami di Bangkok, adik sepupu Pak Suami yang sedang bertugas di Bangkok mengajak kami night sight-seeing ke Asiatique sekalian makan malam di Baan Khanita The River yang femes itu.

Menu yang disediakan terbilang umum seperti Pad Thai, Mango Salad, Tom Yam Goong.  Signature dish resto yang menyuguhkan pemandangan cantik malam hari Sungai Chao Praya ini adalah semacam Ikan Malas Kukus (jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia).   Ukuran ikannya (lagi-lagi) jumbo dengan daging yang lembut.  Saking lembutnya ngga perlu pake kunyah!

Seminggu di Negeri Siam, rasanya perjalanan kuliner kami cukup mewakili.  Walau tak semua, alhamdulillah sudah merasakan street food yang disuguhkan menggunakan styrofoam dengan harga yang bersahabat untuk kantong, hingga santap malam yang decent di restoran.

So yeah, the mission accomplished.  We had a trip not only about having pictures.  But it involved the cuisine and local taste; sweet, sour and spicy mix altogether.  

One day you visit Bangkok or Thailand; we hope you also will find those flavor and enjoy as much as we did.  

Thān h̄ı̂ xr̀xy na.

Fine dine in at Baan Khanitha by The River, Asiatique The Riverfront 

"If you reject the food, ignore the customs, fear the religion and avoid the people, you might better stay at home" 
James Micherer

Share
Tweet
Pin
Share
20 comments

Adalah si Bika Banana, tonggak kali pertama berkenalan dengan produk Talubi Bika.  Dilanjutkan dengan cheese cake dalam balutan New York Style PREMIUM Banana Cheese Cake , 
dimana sebelumnya sempat goyang lidah lewat Bika Talubi Pillsbury Banana Cake.  

Selesai hingga di situ?  Ternyata belum.

Masih mengusung kuliner berbahan lokal, Talubi Bika Bogor juga menyodorkan opsi lain mengonsumsi ketan hitam dan talas ubi.  Kedua bahan tersebut diolah menjadi Boston Brownie.  Ada dua varian yang ditawarkan; original dan rasa pandan.


Brownies Kukus Ketan Hitam Talas Bika Talubi Bogor
Brownies Kukus Ketan Hitam Talas varian rasa Pandan

Sensasi dimulai semenjak unboxing kemasan dimana aroma si Boston Brownie menyapa indera penciuman terlebih dahulu.  Disusul dengan komposisi indah memanjakan mata antara kontras warna hitam dari ketan hitam sebagai alas kue, kombinasi dengan lapisan berwarna ungu untuk talas ubi.   Atau bagian kue berwarna hijau pandan.  Masing-masing mewakili rasa varian Boston Brownie.

Mirip namanya yaitu "brownies" tekstur kue inipun padat walau tidak se-chewy brownies pada umumnya.  Rasa manis yang nonjok berasal dari bagian topping.  Yaitu kacang tanah cincang berkaramel di atas krim putih.



Boston Brownie, Brownies Kukus Ketan Hitam Talas dari Talubi Bika Bogor, oleh-olehnya Bogor
Brownies Kukus Ketan Hitam Talas varian Original

Buat saya; selain memberikan efek untuk co'el-co'el terus; ternyata berujung pada penilaian; "kok-enak?!"  😬

Untuk mengimbangi rasa manis Si Boston Brownies, menurut saya Brownies Kukus Ketan Hitam Talas dari Talubi Bika Bogor ini cocok jika dinikmati dengan teh tawar hangat atau minuman kekinian semacam lime-mint mojito seperti foto berikut.  Dengan kopi pahit panas?  Apalagi, pas banget!  Tapi ini selera lho, yaaa. 

Boston Brownie selain untuk konsumsi pribadi, pantas juga dijadikan sebagai oleh-oleh khas Kota Bogor.  Kemasannya yang menarik, terbuat dari kardus tebal jaminan tidak mudah rusak sampai tujuan.

Jadi penasaran, kreasi apalagi yang bakal dikeluarkan oleh Talubi Bika Bogor 😍


===


Available at
Jl. Padjajaran 20 M, Bogor
Jl. Sholeh Iskandar 18B, Bogor
Jl. Suryakencana no 278, Bogor
Jl. Raya Gadog sebelah Vimalla Hills Puncak Bogor



More info

Line: @bikabogor

Instagram: @bikabogor
Whatsapp: +628884829626



Share
Tweet
Pin
Share
24 comments
Hallow, Readers!

Apa kabar?

Setelah sebulan vakum, ini postingan pertama di bulan ke sepuluh di tahun ini.  Kali ini ingin berbagi mengenai pengalaman kesukaan memotret saya; yaitu How Taking Picture Through Glass.

Umumnya, memotret adalah mengabadikan objek langsung di depan kamera tanpa ada penghalang.  Lalu bagaimana jika target foto berada dibalik kaca?  Padahal kaca adalah medium yang permukannya akan memberikan dampak dua hal berikut; merefleksikan cahaya atau menghasilkan bayangan.  

Namun ternyata kaca, entah jendela toko dan jendela rumah, adalah benda yang sangat menarik. Sudah jelas bahwa kaca adalah medium yang memantulkan bagian dari cahaya sementara membiarkan sisanya bersinar; namun materi ini sering menjadi subjek fotografi. Refleksi cahaya dan refraksi menghasilkan kombinasi yang mengejutkan di luar dugaan. Bisa menjengkelkan namun di kali lain melahirkan gambar dengan efek misty atau bahkan foto yang berkesan misteri. Kali lain bisa menjadi sebuah foto dengan kesan yang romantis akibat titik-titik air hujan yang menempel di kaca jendela.



Almost perfect, isn't?  Titik-titik air hujan di atas permukaan kaca jendela seolah memberikan efek bokeh.
My daughter sitting inside the coffee shop while I took the picture from outside.
If only the yellow bulb was not there!

Eventually, taking photos through glass is about framing reflection and refraction.  Style yang dipakai nyaris di semua genre fotografi.

Konon ada tiga kategori yang menonjol dengan gaya memotret semacam ini; reportase, fashion dan portrait.  

Fotografer reportase memakai pantulan kaca jendela karena memungkinkan menampilkan dua narasi dalam satu frame.   Fotografer fashion juga menyukai gaya foto semacam ini.  Konsep yang kerap dipakai adalah foto wanita berpakaian elegan, duduk di kafe vintage adalah contoh yang klasik.  As a loving portrait style, yang saya sukai adalah kesempatan berada di bagian dalam melihat keluar, seperti saat mengamati pemandangan dari dalam kafe atau restoran.

Singkatnya tidak ada yang baru tentang mengambil foto melalui kaca. Many people does for many years already. What we need to bear in mind that taking pictures through glass essentially is taking two pictures in one. 😘

Demikian kira-kira rangkuman mengenai How Taking Picture Through Glass hasil browsing di internet.  Informasi yang saya ketahui belakangan; setelah sebelumnya beberapa kali "iseng" mencoba memotret dari balik kaca 😁

Mungkin bukan hal yang bisa dicontoh; idealnya baca teori dulu baru praktek.  Saya mengerjakannya terbalik; praktek dulu, teori kemudian 😋

Manfaatnya; saya malah jadi bisa menganalisa; langkah apa yang sudah saya lakukan dengan baik, dan apa yang masih perlu dibenahi.  After all, photography is about practising.  Yes?

So, here we go. 


Reversed (Gambar Terbalik)

What do you think of this?

Bayangan lampu yang "mengganggu" 😓

Reflection

Reflection atau pantulan kadang "menambah" image atau bayangan yang tak perlu bahkan rasanya sampai ingin dihilangkan.  Maksudnya, bayangan dapat mendramatisir foto, juga bisa membuat foto tampak "ancur" karena ada pantualn gambar yang "tidak semestinya". 😂 Seperti dua foto teratas berikut inil

Menurut saya, dua gambar berikut adalah kategori dengan bayangan yang "mengganggu".

Di sisi lain, pantulan memberikan efek hidup.  Bahwa obyek yang diabadikan tak sendiri, ada orang lain di sekitarnya.  

Pantulan pada foto seolah bercerita pada kita tentang pemandangan atau situasi dibalik jendela, tanpa kita harus berada di sana (2 scenes in one frame).



I wish there were no walking people over there so Messi won't have a 'human' on his face

Bayangan baju batik yang "distraction"
Candid this lovely couple



Aiming your focus

Hal yang mengasikkan memotret dari balik kaca adalah memilih fokus.  Kita punya opsi menetapkan Point Of Interest (POI).  Apakah bayangan sebagai background.  Ataukah objek di belakang kaca sebagai fokusnya.  It is your decision to make.

Saya punya kebiasaan membidik keduanya sebagai POI.  Untuk kemudian saya bandingkan hasilnya.  Gambar yang lebih "bercerita" biasanya yang saya pilih sebagai pemenangnya.  But remember, ini subjektif.  Lain  orang bisa jadi beda pendapat.  Tapi justru di situ letak tantangan berkreasi memotret dari balik kaca.  Be wild with your imagination.  Jangan membuat hal tersebut jadi kendala.  Yess? 😎

Gambar 'bocor'.  Baru sadar kalau ada yang lewat pake kaos merah lewat 😓


The paper tissue box was the target.

I wonder what it would be like if they color the brand image with blue or red?

Perfecto, no shadows, no lamps or bulbs.  No reflection either!
I was inside the room, took the chair at the terrace.
But something is missing.  A cup of coffee on the desk would be nice, don't you think?


Dari beberapa foto di atas, saya jadi belajar bagaimana memotret dari balik kaca yang sarat dengan refleksi.  Ditambah dengan mungut ilmu dari sana-sini, jadilah tips memotret dari balik kaca ini.

Sumber Cahaya

  • Sangat dianjurkan menggunakan natural light (sinar matahari).  Jangan memakai flash lamp.  
  • "Semburan" lampu flash hanya akan bikin "ancur" hasil foto 😎



Angle, sudut pengambilan gambar

  • Selektif memilih sudut pengambilan.  Mengingat kaca mempunyai kemampuan memantulkan, gambar yang akan diciptakan tidak hanya satu, melainkan dua (atau bahkan lebih).  Maka pilihlah dari sudut mana kita akan mengambil gambar.
  • Masih terkait poin di atas, semakin dekat jarak kita dengan objek foto, akan semakin baik.  Bahkan ada yang menempelkan lensanya ke permukaan kaca.  Upaya tersebut meminimalisir refraksi badan kita pada kaca yang mungkin akan mengganggu hasil foto.

Kondisi permukaan kaca

  • Pastikan permukaan kaca dalam keadaan bersih, tak ada noda.  Kecuali jika Anda ingin memanfaatkan sisa air hujan pada kaca jendela sebagai efek, misalnya.
  • Permukaan kaca dengan tulisan?  Manfaatkan sign yang tercetak pada kaca.  It could add a story to a picture, or tell where it was taken.

Focus

  • Kita dapat "bermain" dengan focus; obyek yang berada di balik kaca, bayangan yang jatuh pada kaca atau image lain yang sudah terbentuk pada permukaan kaca.  
  • Pendeknya, be creative.  Tidak ada salahnya untuk mencoba semua.  Try to be playfull.

Filter Polarizing

Jika ada kelebihana dana, mungkin bisa dipertimbangankan untuk membeli filter ini.  

Ada banyak filter dan si polarizing ini yang sering dipakai karena kegunaannya yang membantu mengurangi refleksi/bayangan, membantu menaikkan kontras gambar sekaligus memperkuas warna.  Investasi yang patut dipertimbangkan jika Reader memang punya niatan untuk serius menekuni (sering dapet orderan foto) motret dengan genre "bayang-bayang" ini.

Kalau buat saya, memiliki filter ini adalah upaya pamungkas.  Sebagai aksesoris tambahan, saat ini masih terasa sebagai hal yang tidak "urgent".  Toh, memotret dari balik kaca hanya saya lakukan sesekali, jika memang spot atau obyeknya saya anggap menarik untuk diabadikan.  Lagipulan lebih baik dananya dipakai untuk keperluan rumah tangga lainnya saja 😅#mamakpelit


Black Wardrobe

Upaya terakhir, pakai baju berwarna gelap saat kita memotret.  Hal itupun akan mengurangi pantulan kita pada obyek gambar.

Jadi sekarang paham 'kan,  mengapa tukang potret beserta crew yang sering kita jumpai di perhelatan pesta umumnya berkostum gelap a.k.a. hitam?



Owkey, next time if I took photos from the window, I will make sure doing what I've written above 😀.  Supaya bisa menghasilkan foto-foto seperti ini.  

Mau coba juga?



Image from Shutterstock.  I do not own these.

Share
Tweet
Pin
Share
36 comments
Newer Posts
Older Posts

Follow Me

Email Facebook LinkedIn Pinterest

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  October 2025 (1)
      • Personal Branding Konsultan Project Management: 3 ...
    • ►  August 2025 (1)
    • ►  July 2025 (1)
    • ►  June 2025 (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  June 2022 (2)
  • ►  2021 (12)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (2)
    • ►  May 2021 (1)
    • ►  February 2021 (1)
    • ►  January 2021 (4)
  • ►  2020 (7)
    • ►  December 2020 (2)
    • ►  October 2020 (1)
    • ►  April 2020 (2)
    • ►  March 2020 (1)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (17)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  October 2019 (2)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  May 2019 (2)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (4)
  • ►  2018 (25)
    • ►  December 2018 (4)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  October 2018 (3)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (5)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (1)
    • ►  February 2018 (2)
    • ►  January 2018 (3)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December 2017 (5)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  October 2017 (1)
    • ►  September 2017 (2)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  June 2017 (1)
    • ►  April 2017 (1)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (1)
  • ►  2016 (37)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  July 2016 (3)
    • ►  June 2016 (4)
    • ►  May 2016 (2)
    • ►  April 2016 (9)
    • ►  March 2016 (8)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (6)
  • ►  2015 (75)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  September 2015 (6)
    • ►  August 2015 (5)
    • ►  July 2015 (19)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  April 2015 (7)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (9)
    • ►  January 2015 (5)
  • ►  2014 (39)
    • ►  December 2014 (2)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  October 2014 (2)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  August 2014 (5)
    • ►  July 2014 (2)
    • ►  June 2014 (3)
    • ►  May 2014 (4)
    • ►  April 2014 (2)
    • ►  March 2014 (2)
    • ►  February 2014 (5)
    • ►  January 2014 (7)
  • ►  2013 (36)
    • ►  December 2013 (5)
    • ►  November 2013 (5)
    • ►  October 2013 (2)
    • ►  September 2013 (5)
    • ►  August 2013 (1)
    • ►  June 2013 (1)
    • ►  May 2013 (4)
    • ►  April 2013 (6)
    • ►  March 2013 (3)
    • ►  February 2013 (2)
    • ►  January 2013 (2)
  • ►  2012 (28)
    • ►  December 2012 (2)
    • ►  November 2012 (3)
    • ►  October 2012 (3)
    • ►  September 2012 (4)
    • ►  August 2012 (4)
    • ►  July 2012 (5)
    • ►  May 2012 (1)
    • ►  April 2012 (1)
    • ►  March 2012 (1)
    • ►  February 2012 (1)
    • ►  January 2012 (3)
  • ►  2011 (28)
    • ►  December 2011 (2)
    • ►  November 2011 (3)
    • ►  October 2011 (1)
    • ►  September 2011 (1)
    • ►  August 2011 (4)
    • ►  July 2011 (2)
    • ►  June 2011 (4)
    • ►  May 2011 (1)
    • ►  April 2011 (4)
    • ►  March 2011 (3)
    • ►  January 2011 (3)
  • ►  2010 (2)
    • ►  December 2010 (1)
    • ►  June 2010 (1)

Created with by BeautyTemplates