My Dairy Note's

Life Style & Family Blog Indonesia

    • Home
    • About
    • Disclosure
    • Lifestyle
      • Books & Movie
      • Travel
      • Culinary
      • Fotografi
    • Midlife Series
      • Family
      • Wellness
      • Blogging
      • Techno
    • Career & Project Management
      • Project Management


Dengan pertimbangan kurva penderita #covid-19 belum landai, akhirnya Pemerintah memutuskan untuk extend PPKM Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) hingga 25 Juli 2021.  Bagi yang kangen berat sama traveling, mau-gak-mau kebijakan ini memupus harapan akan bisa ukur jalan lagi [baca bepergian].   Seperti yang seringkali dituliskan, saya bukan seorang traveler blogger profesional macam Mbak Trinity Sang Naked Traveler.  Namun saya senang menuliskan hal-hal seputaran bepergian dan menjelajah tempat baru.  Tidak sedikit postingan saya terinspirasi dari hasil jalan-jalan.  Karenanya paham betul dampak dari keputusan tersebut bagi travel blog.

Lalu apakah artinya gak akan buat postingan tentang traveling lagi?  Ternyata pikiran itu keliru.  Ada banyak topik yang bisa ditulis di website travel untuk update blog semasa pandemi covid19 ini.  Kita jajaki yuk opsi alternatifnya.

1. Menuliskan kegiatan jika sedang tidak bepergian.  

Pandemic atau tidak, tak selamanya juga seseorang on the road terus.  Pastinya ada masa dimana seorang traveler pun rindu akan rumah.  Ngga ada salahnya juga kan diceritain, ngapain aja tuh kalau kita #dirumahaja.

Berkaca pada diri sendiri, pada dasarnya saya orang rumahan.  Tidak dalam kondisi pandemi seperti ini pun, lebih suka di rumah.  Keluar rumah jika ada hal yang penting saja.  Cuma beda cerita jika terpaksa "dirumahkan" seperti sekarang.  Ternyata perlu stress release juga, lho.

Baca juga 7 Aktivitas Stress Release Yang Saya Lakukan Selama Pandemi

Pantai Gili Trawangan di waktu malam

2. Menuliskan travel bucket list

Everything starts with dreams!  Termasuk berangan-angan ke tempat favorit yang ingin dikunjungi.  Di satu sisi, ini baik karena masih mempunyai harapan bahwa dunia akan kembali membaik seperti sedia kala, yekan?  

Kalo buat saya, punya travel bucket list itu semacam optimisme.  Meski entah kapan dapat direalisasikan 😁

Sing penting ditulis aja dulu.  Menurut para psikologis menuliskan tujuan dan target akan membantu kita melihatnya secara lebih eksplisit.  Menurut saya itu valid.  Karena saat menuliskan travel bucket list, biasanya saya berdasarkan referensi -entah bacaan atau pengalaman teman- yang bisa diandalkan.  Pemilihan tempat biasanya didasarkan akan rasa keingintahuan kita juga, bukan?


Ibaratnya, menuliskan travel bucket list sudah merupakan bagian dari proses mewujudkan impian.  Dari sejumlah travel bucket list yang saya posting bertahun-tahun lalu, alhamdulillah sudah satu tercapai; yaitu Lombok Gili Trawangan.  Lainnya belum heheheh, insya Allah menyusul.

Mumpung bermimpi masih gratis, marilah kita mulai menuliskan impian kita.  Yuk!



3. Share your favorite travel apps

Tidak mesti travel application, lho ya.  It can be anything; travel blogs atau travel website yang kontennya informatif, dapat dijadikan referensi yang membantu kita dalam merancang perjalanan merealisasikan poin no. 2 di atas 😉

Di jaman digital yang most likely orang pada punya blog dan juga senang traveling, maka informasi tentang traveling berlimpah.  Tinggal kita cari aja.  Dalam hal ini saya ngga fanatik dengan satu website.  I'm open minded about all of them.  Justru dari membaca multiple blog ini, saya bisa punya informasi lebih.  Kekurangan informasi di blog yang satu, akan dilengkpai oleh blog lainnya.  

Google Maps juga salah satu aplikasi andalan.  Peta digital ini sangat membantu dalam menemukan lokasi, terutama jika destinasi masih dalam jangkauan internet.


Paket internet dari penyedia operator juga penting.  Gimana cerita bisa akses GMaps tanpa kuota internet, yes?  Biasanya saya bandingkan paket internet dari operator selular tempat saya berlangganan apakah mempunyai kerja sama dengan opsel negara tujuan.  Apakah lebih ekonomis dibanding membeli kartu sekali pakai di tempat tujuan, misalnya? 

Oiya, satu lagi, online currency converter.  Ini penting karena menyangkut isi dompet hehehe.

Baca juga 7 Cara Telepon Murah Dari Luar Negeri


4. Tulis tentang essential item yang dibawa traveling

Nah, ini juga bisa jadi topik seru untuk update travel blog kalian.  Kenapa?  Konon traveling bisa menyiratkan karakter seseorang.  Dalam hal bepergian yang notabene meninggalkan rumah in terms of period of time, pastinya ada barang-barang yang kita bawa, selebihnya ditinggalkan.  Dengan kata lain, level of kerempongan akan terpampang nyata di situ 😁

Bagi yang sering bepergian, pastinya punya  item-item wajib bepergian.  


5. Menuliskan the best/the most memorable trips

Semua perjalanan liburan, mau kemana pun tujuannya dengan siapapun perginya, selalu menyenangkan dan punya cerita yang tak terlupakan.  Namun pergi berdua saja dengan anak ternyata jadi pengalaman yang berbeda.

Maka update blog yang baru lalu saya tulis week end gateway ke Singapura pergi berdua saja dengan Si Sulung which is absolutely an awesome journey!


6. Menuliskan kesan-kesan akan suatu tempat/perjalanan

Pulang dari bepergian, selain memory card penuh foto, biasanya pikiran saya terisi kembali dengan hal-hal baru.  Traveling semacam feeding my soul and mind.  Dari hasil mengamati selama perjalanan, banyak pelajaran yang saya dapatkan, beragam "sense" yang saya rasakan.  Semuanya terekam dalam ingatan dan jadi lumbung ide yang tak berkesudahan.  Rasanya tambah lagi perspektif baru.

Dari sini biasanya saya menulis banyak hal.  Entah menuliskan tentang perjalanan itu sendiri atau buah pikiran hasil traveling.

Baca juga Seoul Snap: Capture The City Vibe


7. Freezing moment; what and how to take better photos during traveling

Salah satu alat gak ketinggalan dibawa saat traveling berempat adalah tripod.  Meski repot tapi lihat hasilnya lebih puas dibanding minta tolong orang lain.  Mungkin ini resiko pakai DSLR, kurang praktis dan tidak sedikit yang terintimidatif dengan kamera jenis ini 😂

Saat mendokumentasikan perjalanan, saya selalu usahakan tidak sekadar, selfie sana-sana lalu bhay!  Saya berupaya menangkap momen, memperhatikan surrounding sambil mencari detil-detil unik.  Saya percaya setiap tempat punyak ciri khasnya sendiri.  Kekurangannya adalah, saking fokusnya dengan detil-detil tersebut dan gak mau kehabisan gambar, akibatnya baru sadar kalau ngga punya foto diri sendiri 😆


Belakangan saya belajar untuk minta diabadikan juga oleh orang lain.  Terlepas dari hasilnya, saya tetap appreciate karena punya rekam jejak dari setiap tempat yang dikunjungi.

Baca yang ini deh; Getting Around Myeong-Dong


8. Jadi turis di "rumah" sendiri 

Acapkali kita terbentur mindset sendiri.  Jalan-jalan identik dengan bepergian jauh.  Staycation selalu dikonotasikan dengan menginap di hotel.  Padahal kenyataannya tidaklah demikian.  Baca lagi yang saya quote dari The New York Times tentang staycation.

Terjebak di dalam kota sendiri karena pandemi, jadikan sebagai momentum untuk mengenali kota di mana kita tinggal.  Jelajahi untuk cari tahu kawasan menariknya; seperti Suryakencana untuk Bogor atau hal unik di sepanjang Braga bagi yang tinggal di Bandung.  Opsi lain,  cari ruang publik terbuka seperti taman kota, siapa tahu bisa piknik gratis?  


9. Menuliskan topik tentang makanan [favorit] saat traveling

Buat saya, traveling is about places-people-and food [for sure!].  All together bundled into traveling experience itself.  Anyhow, apalah artinya people without food, yes?

Maka dari itu, topik makanan ini beberapa kali jadi bahan postingan untuk update blog.  Jika memungkinkan [baca halal] saya akan mencobanya.  Kalaupun tidak, cukup potretnya aja yang menghiasi blog ini.  Ini berdasarkan trip ke Bangkok dan Seoul.  


Beberapa pengalaman dengan makanan selama traveling saya kemas menjadi postingan dan dibuat segmen khususnya dengan label culinary.  Chek it out!


Terakhir, 

10. How traveling can help your mental health

Riset the American Psychological Association menunjukan, mereka yang sering berpergian mampu menangani stres dengan lebih mudah. Berpergian memungkinkan kita untuk sementara waktu menarik diri dari lingkungan dan situasi yang membuat kita tertekan. Hal tersebut yang membantu kita untuk mengurangi tekanan, mendapatkan beberapa pandangan dan memusatkan kembali pikiran.

Disamping recharging pikiran dan jiwa, buat saya traveling adalah media kontemplasi, mostly belajar mengenai diri sendiri.

Seperti update blog berikut yaitu pemikiran buah hasil sejumlah solo traveling. 



Akhirnya lewat postingan ini ijinkan saya mengingatkan kembali jika saya bukan blogger perjalanan profesional.  Hanya blogger biasa yang punya keinginan untuk tetap update blog semasa pandemi covid19 ini dengan topik yang berkaitan dengan perjalanan. 

Tulisan inipun demi peremajaan blog setelah sekian lama ngga update.   Tulisan yang dibuat dengan mengingat lagi perjalanan yang pernah dilakukan.  Ide dari jalan-jalan bagai sumur tanpa dasar, selalu ada yang timbul, tak pernah habis.  Dan foto-foto perjalanan sebagai pengikat ingatan itu.

Harapannya, saran-saran di atas dapat saling menginpirasi.  Penting untuk menjaga agar pikiran tetap fokus,  bikin hati tenang dan Insya Allah bermanfaat untuk naikin imunitas.

Salam sehat!





Share
Tweet
Pin
Share
10 comments


#dirumahaja karena Covid-19 memang membosankan, ya?

Jika tak pandai mengelola stress management, akibatnya malah tidak baik untuk kesehatan diri sendiri bahkan ke orang-orang di sekitar kita.  Padahal di tengah situasi pandemic ini, imunitas tubuh jadi faktor krusial.

Akhirnya setelah selesai dengan pekerjaan, di suatu sore saya dan Paksu memutuskan menghirup udara segar sejenak.  Tentunya dengan menerapkan prokes donk.

Tapi bingung juga, mau kemana?  Lalu terlintas Taman Budaya Sentul.  

Mengapa memtuskan ke sana?

Selain tidak jauh dari Bogor, di tempat banyak dijumpai kafe resto bernuansa alam yang sejuk.  Asyik untuk ngopi sore sambil santai.  Selain menjanjikan ambience yang berbeda dengan kafe resto di perkotaan, kafe resto di sana banyak yang mengusung konsep open air di alam terbuka.  Suatu hal yang menjadi pertimbangan dan banyak dicari oleh pengunjung kafe.  Tak heran jika Sentul belakangan jadi sasaran kunjung para pemburu kafe.  

Dari hasil rekam lensa kamera, Taman Budaya Sentul menurut saya ibarat hidden gems Bogor.  Banyak opsi kafe resto yang bisa dipilih pengunjung.  Niat sekedar ngopi-ngopi cantik; ada Kulo, Kopi Oey, Popolo dan baru-baru ini hadir pula Kopi Nako di sana.

Perlu tempat yang menyajikan menu berat bisa langkahkan kaki ke Finch atau Wigeon.  Ingin burger?  Bisa cobain Art Burger.  Bahkan Kedai Kita Bogor pun buka outlet di sana.  Lengkap banget pilihannya.

Atau hanya ingin sekedar sight seeing sambil hunting motret dalam kota seperti yang saya lakukan, juga bisa.  Ada untungnya juga ke sini saat pandemi, nggak banyak orang.  Hasil fotonya jadi 'bersih' orang hehehe. Walau di beberapa tempat masih terlihat orang-orang yang serius di depan laptop, bahkan dari curi dengar sedang meeting.  Tetap dengan prokes ya, duduk berjarak dan masker 'on' di wajah.  Mungkin mereka merasa bosan seperti saya.  

Demikian selayang pandang ke Taman Budaya Sentul sore itu.  Lumayan sebagai pengobat jenuh dan jadi bahan postingan retjeh macam ini 😁


















Share
Tweet
Pin
Share
1 comments


Assalamu alaikum semuanya.  Semoga dalam kondisi baik-baik, ya.

Ngomongin soal traveling, punyakah cerita perjalanan yang paling berkesan?  Saya punya!
Yaitu liburan ke Bali berdua Mama sebagai hadiah kelulusan SMP.  Ceritanya di masa itu, dari kami berlima, cuma saya yang belum pernah ke Bali.  Kedua kakak saya sudah ke Bali bersama kawan-kawannya.  Sebagai anak cowok mereka nggak punya exit permit issue.  Lain ceritanya dengan saya, Si Bontot perempuan.  Mau kemana-mana perlu surat ijin keluar dan pengawalan khusus jika diperlukan, hahaha.  Begitulah nasib anak perempuan satu-satunya di keluarga.  Untuk Mama, ke Bali diajak Apak saat beliau dinas ke Pulau Dewata.  Tinggallah saya yang belum mengecap Tanah Bali.  Dari dulu, Bali memang nggak ada matinya.  Tujuan liburan fenomenal bahkan untuk orang Indonesia.  Ibaratnya, belum liburan kalau belum pernah ke Bali.

Singkat cerita, akhirnya kami berdua ke Bali.  Bali di pertengahan 1980-an (bisa ngira-ngiralah yaw, berapa umur saya hehe) pastinya beda dengan sekarang.  Semuanya masih serba manual, boro-boro ada aplikasi travel online.  Tempat wisata pun belum semarak.  Destinasinya standar; Tanah Lot, Kintamani, Pura Besakih dan Pantai Kuta.  Ubud masih kampung yang belum dilirik wisatawan.  

Meski hanya berdua kami tidak mengikuti tour.  Alih-alih terikat dengan rombongan, kami pilih paket daily tour sendiri.  Jadi hari ini ikut tour arah Bedugul.  Keesokan hari jika ingin santai, kami off-kan dulu tournya.  Dan arrangement seperti ini berdasarkan hasil diskusi kita berdua.  Iya, selama perjalanan itu, otomatis kami jadi banyak diskusi.  Tidak sedikit pendapat saya yang “didengar” Mama. Sikap Mama yang demikian membuat saya jadi merasa “dewasa”.  Yang biasanya perjalanan liburan dikomandani oleh Apak, kali ini kami berdua yang pegang peranan.  Efeknya ternyata beda sekali lho, jadi lebih terasa unsur adventure-nya.  Selain itu,  Saking berkesannya liburan berdua Mama ke Bali, hingga tertanam keinginan untuk melakukannya lagi di kemudian hari. 

Selain jadi ajang bonding hubungan saya dengan Mama yang kemudian membuat relationship seperti “teman”, liburan berdua Mama ternyata jadi pengalaman yang sangat emosional di kemudian hari.  Karena tidak lama saya lulus SMA, Mama berpulang ke pangkuan Ilahi. 

"Hanya" dikasih waktu sebentar sama Mama, jadi menimbulkan dendam.  Jika punya anak nanti, betul-betul ingin memaksimalkan hubungan ibu dengan anak.  Pengen jadi ortu yang asik seasik kanal berita https://www.ibupedia.com/.  Salah satu ikhtiarnya adalah bercita-cita traveling berdua anak saja!  Saat saya sampaikan keinginan tersebut pada Paksu, alhamdulillah dia memahami dan mengijinkan.

Sama Mama di Bali 
 "What the daughter does, the mother did" 

Maka dari itu manakala Si Sulung punya permintaan untuk “dihadiahi” traveling jika diterima di perguruan tinggi negeri, permintaannya kami setujui.  Itupun dengan syarat tambahan jika masuk PTN melalui jalur undangan.  Qadarullah Si Sulung masuk PTN tanpa tes.  Semua doa dan ikhtiar dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. 

Saat penentuan tujuan, akhirnya diputuskan Singapura.  Pertimbangannya karena harga tiket ke Singapura lebih murah dibanding Bali.  Well, not nice but it’s true.  Selain faktor keamanan di Negara Merlion ini cukup baik, saya juga sudah familiar karena beberapa kali tugas ke sana. 

Perjalanan ke Singapura itu benar-benar dibuat tanpa pretensi apa-apa.  Saya yang acapkali mempersiapkan itinerary dengan matang seperti perjalanan ke Bangkok lalu, kali ini sangat santai.  Urusan pencarian tiket saya serahkan pada Si Sulung.  Kata kuncinya, cari tiket seekonomis mungkin.  And she did her part great.  Saya tinggal urus penginapan.  Dari sekian banyak pilihan akhirnya kami memilih 5Foot Way.Inn.  Hostel ekonomis dengan fasilitas yang lumayan untuk budgetted travel kali ini.


Di hari keberangkatan, begitu PakSu drop off kami di Terminal Bus Damri, artinya petualangan ibu dan anak pun dimulai hingga 3 hari ke depan.  Yup, kami memilih berakhir pekan di Singapura.  The trip was short of like week-end gate away.  Dalam hati, sebetulnya saya sangat excited.  Bepergian adalah pengalaman yang indah; ketika saya pergi solo, rasanya memuaskan; saat bersama teman-teman, itu menyenangkan; tapi dengan anakku saja, rasanya luar biasa!

Dan sejarahpun berulang.  Rasanya de ja vu.  Bedanya, saya jadi si ibu, bukan Ratna si anak remaja.  Dalam perjalanan tersebut, rasanya bukan sekedar anak dan ibu, melainkan teman seperjalanan.  She is my travel buddy.  I have to listen my travel mate to make this trip fun and joyful.  And so she is.  

Wefie alas kaki di MRT

Ikutan lesehan sama orang-orang ini sambil makan es krim potong Uncle


Traveling berdua ke Singapura kita isi dengan hal-hal retjeh.  Pepotoan di Haji Lane, wandering around sekitaran tempat penginapan di China Town, window shopping sepanjang Orchard Road, nongkrong di pertokoan Orchard sambil makan es krim potong, belanja oleh-oleh di Mustafa Centre, keliling kota Singapura pakai MRT, keliteran gak jelas di Marina Bay.  Ngga ada itinerary yang jelas.  Spontaeous aja.  Pokoknya
; girls just want to have fun!  

Mirip seperti perjalanan saya dengan Mama ke Bali, kali ini pun kami banyak bertukar cerita dan diskusi bahkan ide.  Si Sulung ini memang anaknya matematis, punya kecenderungan untuk berhitung.  Begitu pula saat akan bertransaksi, dia yang jadi juru hitung.  Memberikan pandangan agar saya mencari toko lainnya saat dinilainya harga barang yang dimaksud dianggap terlalu tinggi.  Dengan caranya yang demikian saya jadi tahu trik menekan biaya makan di Singapura yang memang sudah terkenal tinggi biaya hidupnya.  

Dalam hati saya sangat bersyukur karena diberi kesempatan oleh Allah untuk merealisasikan keinginan saya: traveling berdua dengan anak.  Lewat perjalanan ini, saya jadi makin memahami pola pikir dan sikapnya.  Karena hanya berdua saja, sikapnya pun jadi lebih independen.  Insya Allah nanti saya bisa melakukan hal yang sama dengan adiknya.  Atau Paksu bepergian berdua saja dengan Anak Lanang, mungkin?

Walaupun sebetulnya semua perjalanan liburan mau kemana pun tujuannya dengan siapapun perginya, selalu menyenangkan dan punya cerita yang tak terlupakan.  Namun pergi berdua saja dengan anak akan menjadi kenangan khusus bagi saya.  Semoga juga untuk dia.

“The greatest legacy we can leave our children is happy memories.”
- Og Mandino - 

***

 Tulisan ini diikutsertakan dalam Ibupedia Blog Competition - Share Your Parenting Story 

Share
Tweet
Pin
Share
16 comments
Tips Ampuh Kangen Traveling Karena Masih #dirumahaja


Kangen seseorang, tinggal telpon atau kirim chat.

Nah, kalau kangennya traveling sedangkan kondisi masih seperti sekarang dimana diberlakukan pembatasan sana-sini, apa donk yang mesti dilakukan?

Saya memang bukan travel blogger.  Cuma emak-emak paruh baya yang senang travel.  And happens to be kesukaan saya dan Paksu akan bepergian ini alhamdulillah menular juga pada anak-anak 😉

Biasanya setahun sekali kami sempatkan untuk liburan keluarga; baik merambah Indonesia nan luas ini atau jika ada rejekinya ke luar negeri, walaupun baru ke Singapore dan Bangkok 😁

Maka salah satu yang bikin kami baper #dirumahaja dikarenakan pandemi adalah [drum roll] traveling!

Manakala perjalanan tak dapat direalisasikan, kerinduan itupun perlahan coba diredam dengan cara ini.

1. Throwback travel stories

Menceritakan kembali kejadian-kejadian yang kami alami bersama semasa liburan jadi sering kami lakukan.  Entah itu kelucuan, kejadian menegangkan saat kami tersasar (yep, traveling kurang seru kalo ga pake nyasar haha) atau bahkan kenorakan kami.

Jika diingat kembali, ternyata sekarang menjadi cerita yang menghibur dan cukup untuk melepas tawa sejenak.

Retelling throwback stories semacam itu ternyata selain baik untuk menggali lagi kenangan, sekaligus ajang pembelajaraan bagi kami sekeluarga.  Mendapatkan lesson-learned dari setiap catatan perjalanan dan di waktu yang bersamaan menciptakan optimisme akan kondisi yang lebih baik di mana kita berempat bisa traveling lagi!


2. Buka lagi foto-foto traveling 

Throwback momen traveling selain lewat cerita, seringnya juga dengan melihat lagi dokumentasi hasil jalan-jalan.  Karena saya senang motret, maka kebanyakan momen-momen perjalanan terframe dalam gambar.  Ada juga beberapa berupa video klip namun jumlahnya tak sebanyak foto.

Sambil menyelam minum air, itu juga yang dilakukan saat melihat kembali foto-foto itu.  Selain merefresh memory, sekalian saya rapikan file digital tersebut.  Seleksi mana yang mau dicetak, gambar mana yang mau disimpan, atau mungkin hapus yang tidak perlu.  Singkatnya melakukan file photo management.  Lumayan 'kan, menghemat memory external disk.

Melihat lagi foto-foto perjalanan juga ternyata menyegarkan ingatan, lho.  Saking segarnya, sampai bisa bikin tulisan baru.  Contohnya blog post tentang Taman Sempur  dan suka-duka akan traveling.  Keduanya saya tulis semasa pandemi berdasarkan melihat lagi foto-foto lama.  Foto-foto tersebut ampuh melahirkan lagi ingatan dan rasa yang pernah ditimbulkan karena perjalanan itu sendiri.

Ternyata, foto ampuh juga ya jadi ladang ide selain pengobat rindu.  Semacam lihat foto pacar semasa muda dulu, uhuk!


3. Menonton film dengan genre traveling

Seperti yang saya tulis bagaimana mengusir stress release di masa pandemi, diantaranya dengan menonton film.  Hampir dua tahun ini, tak terhitung sudah berapa film yang ditonton.  Diantaranya genre tentang traveling.

Maka dari itu saya senang nonton saluran NatGeo (National Geographic).  Ada beberapa series yang saya ikuti seperti John Torode (Australia), Gok Wan (Chinese English) dan David Rocco (Canadian).  Mereka adalah chef yang ternama di negaranya dan somehow mereka  mengemas tema kuliner dengan traveling menjadi satu tontonan yang menarik.  

Alasan saya menyukai program mereka karena ketiganya punya kesamaan konsep.  Mereka tidak melulu datang ke suatu tempat, icip-icip lalu pergi.  Selain berinteraksi dengan penduduk lokal, mereka juga mengulas sejarah kuliner daerah setempat.  Ada unsur budaya, sosial, sejarah berikut humanioranya.  Something that I like.

Selain drama Korea, saya juga nonton reality show jalan-jalan besutan negeri Ginseng yang dilakoni oleh para aktor.  Yang saya sukai dari program variety ini selain konsep liburan yang berbeda, pemilihan destinasinya pun nggak umum.  




Ambil contoh konsep liburan ala backpacking dan membebaskan para pesertanya untuk mengatur agenda liburan ditayangkan oleh serial Traveler.  Di musim pertama, Traveler menjelajah sejarah dan budaya Kuba.  Musim yang kedua, mereka mengetengahkan keindahan Argentina ala backpacker.

Lain halnya dengan seri Trans-Siberia Pathfinders.  5 orang aktor yang wajahnya sering wira-wiri di drama Korea, diminta melakukan perjalanan kereta api terpanjang di dunia dari Vladivostok ke Moskwa.   Bagaimana mereka melewati waktu-waktu yang panjang serta membosankan dalam kereta berikut pengalaman menyinggahi  beberapa bentang alam luar biasa di Rusia seperti Danau Baikal, Pulau Alhorn dan berbagai kota kecil di sepanjang jalan; bagi saya it's a insightful trip!

Alhasil usai nonton Trans-Siberia. saya jadi terinspirasi untuk trip Trans-Siberia.  Seru 'kali ya? 


4. Membaca buku dengan tema traveling 

Saya pernah updates status dengan menuliskan "Reading to feeding my brain, and traveling to feed my soul."  Dan demikianlah adanya.  Kalau lama ngga baca buku, buntu pikiran rasanya.  Sama halnya jika tak plesiran.  Karena sepulang dari traveling biasanya saya merasa happy, banyak ide hasil inspirasi cuci mata sepanjang perjalanan, punya koleksi foto baru dengan view yang berbeda dari biasanya, punya stok bahan cerita yang bisa dibagi entah. Pendek kata; menyenangkan!

Dengan keterbasan yang disebabkan pandemi, persisnya sih jadi ngga leluasa bepergian, maka yowes dicukupkan saja dengan membaca.  

Tips Ampuh Kangen Traveling Karena Masih #dirumahaja

Karena hobi membaca dan suka travel, maka genre bacaan sayapun tak jauh dari keduanya.  Ada beberapa buku hasil tulisan travel writer yang masuk dalam koleksi.  

Selain mendapat pengetahuan baru akan suatu tempat di bagian bumi ini, tulisan mereka mengajarkan saya akan humaniora.  Membantu saya membentuk perspektif baru menyesap suatu perjalanan.  Tak jarang saya temukan filsafah kehidupan diantara goresan-goresan para penulis itu.  What an awesome journey of mind!

5. Menikmati Lingkungan Sekitar 

Merehatkan sejenak raga dan pikiran dari rutininas dengan liburan atau traveling sebetulnya hal yang biasa dilakukan sebelum pandemi merebak.  Adanya pandemi banyak aktivitas sosial dibatasi demi meredam penyebaran wabah.  Kita pun merasa terpasung dengan kegiatan yang sama dari hari ke hari dengan ruang gerak yang tak leluasa lagi.

Toh pada dasarnya manusia perlu bersosialisasi, tak suka dikungkung.  Dapat dipahami jika kita sesekali perlu keluar dari rutinitas dengan menikmati lingkungan.  Adanya social restriction membuat kita kudu pandai memilah tempat dan kegiatan.  Selain jalan pagi keliling perumahan, saya memilih bersepeda untuk menikmati lingkungan sekeliling.  Dan tentunya tetap mengikuti prokes ya.  Tetap bermasker dan hanya berdua Paksu atau anak-anak.  

Rute gowes dan tempat beristirahat pun dipilih yang sepi dan aman.  Kalau toh, berhenti di tempat makan, kami akan bergegas pergi begitu orang-orang mulai berdatangan.  Tak jarang, jika kelelahan, spontan menepi di sisi jalan, menikmati bekal minum air putih di bawah pohon rindang hehehe.

Semuanya dibawa simpel namun tetap mawas diri.  

Selain olah tubuh dengan bersepeda, saya dan Paksu pun bisa dapat pemandangan cantik-cantik seperti foto berikut.  Terik matahari dan napas ngos-ngosan terbayar sudah rasanya.  Untungnya tinggal di daerah pinggiran Ibukota, untuk menikmati semua itu, gowesnya ngga perlu jauh-jauh.  Me happy!  

Ngga salah deh kalau bersepeda termasuk dalam kategori olahraga rekreasi!

Tips Ampuh Kangen Traveling Karena Masih #dirumahaja

Tips Ampuh Kangen Traveling Karena Masih #dirumahaja


Having all said, itulah yang kami lakukan dua tahun terakhir ini dalam upaya mengikis kangen traveling yang terpendam karena pandemi covid.

Walau sensasinya memang tak sama dengan traveling, minimal bisa mengobati rasa rindu itu.

Hellow traveling, we miss you....


Share
Tweet
Pin
Share
14 comments


 "Nggak terasa kita udah 2 tahun ya, makan siang bareng seperti begini."  ujarku siang itu saat kami sedang menyantap makan siang bersama.  Ya, semenjak pandemic melanda, otomatis kita semacam "tahanan" di rumah sendiri.  Segala aktivitas nyaris semua dilakukan dari rumah, termasuk kegiatan belajar-mengajar dan bekerja pun dipusatkan dari rumah.  

Kami yang sehari-harinya sibuk dengan kegiatan masing-masing saat siang hari dan baru berkumpul lagi di rumah saat menjelang petang, sudah dua tahun ini selalu bersama selama 24 jam sehari.
Makan siang bareng yang biasanya "dipusatkan" harian setiap malam dan akhir pekan, maka kini acara makan bersama menjadi rutinitas keseharian.  

"Stress nggak sih, Ma?" tanya anakku sulung.  "Aku kok rasanya begitu" lanjutnya lagi.  "Ya, jangan dibuat stress lah" hiburku.  "Mama aja berusaha ngga mikirin.  Dibawa seneng aja, malah kadang enak, ngga perlu macet-macetan di jalan" imbuhku lagi.

Jika tidak pandai menyiasati, ternyata pandemi ini dapat membuat siapa saja stres dan cemas. Terlebih ketika melihat berita yang ditayangkan di televisi atau media sosial. Padahal, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik.  Maka meluangkan waktu untuk melakukan hal menyenangkan atau relaksasi serta menghabiskan waktu berkualitas bersama orang terdekat, menjadi penting adanya.

Setelah saya review ulang, berikut adalah kegiatan yang bisa dibilang sering dilakukan selama masa pandemi ini.


Nonton Film Streaming

Seperti yang Readers tahu, salah satu hobi kami sekeluarga adalah nonton film.  Di masa normal, minimal sebulan sekali kami sempatkan untuk hunting film baru di bioskop.  Kebiasaan yang satu ini otomatis terenggut manakala Corona merebak.

Untungnya sekarang banyak aplikasi nonton film secara streaming; macam Netflix atau Viu.  Alhasil keinginan menonton masih dapat disalurkan.  Malah lebih ekonomis mengingat tidak ada biaya beli HTM plus pop-corn yang jika dikalkulasi [ternyata] lumayan juga angkanya #mamakkekepindompet.
Provider film-film streaming itupun seakan memahami kebutuhan para viewernya dengan menyajikan aneka film; mulai dari serial, drama Korea (for sure!) termasuk film dokumenter.  Tinggal pandai-pandainya kita memilih program yang sesuai dengan value yang kami ajarkan pada anak-anak mengingat di rumah masih ada bocah di bawah umur 17 tahun 😎


Youtube-ing

Selain website film streaming, Youtube adalah kanal tontonan online yang saya sambangi.  Di sini seringnya saya mencari klip musik kesukaan, aneka tutorial hingga kajian agama.  

Salah satu hasil dari berselancar di kanal Youtube, saya jadi tahu Youtuber-youtuber yang sesuai dengan selera saya.  Pan-kapan saya tulis deh di blog ini.  Semangat, Ratna! 💪


[Adult] Colouring

Seperti yang sudah diulas di sini, kegiatan mewarnai sebetulnya hobi dari dulu yang sempat hiatus lama.  Dengan datangnya pandemi, saya jadi punya waktu untuk melakukannya lagi.  Adult coloring jadi alternatif kegiatan yang membantu saya melewati periode membosankan semasa pandemi ini.  Semacam stress release juga, harusnya ya?  Heheheh.


Exercise

Semenjak corona Covid-19 merebak, kita memang diharuskan lebih banyak berada di rumah. Tak bisa dipungkiri kalau kita makin banyak menggunakan gawai selama di rumah saja.

Gawai memang mampu menghadirkan beragam hiburan apalagi di tengah kondisi seperti sekarang ini. Namun sebenarnya, ada alternatif kegiatan lain yang bisa mengusir stres atau rasa jenuh tanpa perlu membuka gawai.  


Ditambah dengan banyaknya artikel kesehatan yang menekankan pentingnya untuk tetap aktif secara fisik demi menjaga kesehatan dan stamina tubuh sebagai ikhtiar penangkal virus, beberapa kegiatan hobi berupa olahraga jadi menyeruak. Salah satu olahraga yang banyak dijadikan hobi baru adalah gowes alias bersepeda.

Sebetulnya ini bukan hal baru, terutama bagi Paksu yang memang hobi bersepeda sedari dulu.  Lain halnya untuk saya.  Yang tadinya menekuni yoga bahkan ikut kelompok yoga online, tapi lama-kelamaan bosan juga karena yoga online di dalam rumah terus, akhirnya memutuskan untuk bersepeda [juga].  Selain gowes, terkadang saya dan Paksu juga jalan pagi.

Jika jadwal kami berempat memungkinkan luang, sesekali kami sempatkan juga untuk gobar alias gowes bareng.  Biasanya momen ini dipake juga sebagai ajang Gocapan atau Gowes Cari Sarapan hahaha.  Tentunya dengan cari tempat yang sepi, tidak banyak orang.

Anggap saja kami sedang berekreasi, satu hal yang sudah lama tidak kami lakukan.


Rute yang dipilihpun biasanya rule blusukan, ke kampung-kampung atau pinggiran kota.  Jadi masih dapat pemandangan yang hijau menyegarkan seperti ini.


Gardening

Kegiatan fisik lainnya yang saya lakukan adalah... *drum roll* mengurus tanaman atau gardening!  Definisi "mengurus" tanaman versi saya adalah menyiram dan sesekali memberikan suplemen agar tanaman tumbuh baik.  

Dan inipun bukan karena wabah hobi hits dadakan kala pandemi hehehe.  Walaupun mulanya saya tidak tertarik dengan yang satu ini.  Lain halnya dengan mendiang Mama yang memang bertangan dingin.  Lha wong saya "miara" kaktus aja mati kok!  Padahal katanya kaktus termasuk tumbuhan free maintenance.

Lalu kenapa juga saya melakukannya?  Tidak lain karena prihatin lihat koleksi tanaman Mama yang nggak keurus.  Daripada terbengkalai, akhirnya saya tergerak untuk merawatnya.  Jadi ini bukan hobi dadakan, ya.  Jenis tanamannyapun  bukan tanaman hias harga sultan.  

Tanaman hias yang menghijaukan dan bikin adem halaman rumah kami didominasi oleh tanaman jadul seperti suflir, lidah buaya dan kuping gajah mini.  Belakangan saat saya menemukan kenikmatan memelihara tanaman, barulah saya menambahkan beberapa varian baru.  Itupun masih dengan catatan, tanaman with low maintenance.   Hahahaha, teteuub yaaa...


Reading

Kebiasaan ini mah ngga perlu dibahas panjang X lebar, ya?

Bagi teman-teman Readers yang suka drop by ke blog ini, pasti sudah tahu hobi saya ini karena terkadang saya juga mereview buku.  Silahkan ke mari.  

Kalaupun saya masukkan dalam list, karena nampaknya saya paling konsisten melakukannya.  Pandemic or not, I'm still reading a book.  Reading is to feeding my soul and brain.  

Rangkaian kata selain membantu mengungkapkan perasaan secara verbal, bisa menjadi jimat ampuh membawa diri menjauh dari suasana sekitar.  Tenggelam dalam rangkaian kata mengayakan imajinasi.  Tak mengapa membaca fiksi yang fiktif, mengelanakan jiwa manakala raga hanya bisa berdiam di rumah.   Merehatkan diri sejenak dari ketidakpastian serta kecemasan yang disebabkan pandemi.


Perbedaannya, jikalau dahulu browsing bacaannya di toko buku.  Kini saya melakukannya secara daring walaupun tidak sepenuhnya ebook.

Karena frekuensi "jajan" buku berkurang, alhasil saya menkorek-korek lagi koleksi buku lama yang selama ini belum sempat dibaca 😆


Blogging

Kenapa jadi ngeblog [lagi] selama pandemi?  

Tidak lain karena saya jadi punya waktu "lebih" untuk kontemplasi.  😉

Mobilitas yang mendadak turun -dalam artian ngga perlu travel time ke tempat kerja- ternyata berpengaruh ke fisik.  Walau cuma duduk manis di mobil, itu melelahkan lho.  Dengan kondisi "ngantor" di rumah, jatah travel time tadi semacam waktu luang.  Di waktu luang inilah, rasanya otak jadi relaks.  Bawaannya jadi banyak gagasan untuk bahan tulisan.  Thus, ada waktu untuk menuangkannya menjadi blog post.  

Seperti tulisan yang sedang Readers baca sekarang ini.  Iya, saya menuliskannya berdasarkan obrolan dengan anak-anak saat makan siang hari itu.  Pembicarran yang menggerakkan saya untuk mereview lagi, selama pandemi ini, saya ngapain aja.  

Diluar pekerjaan -alhamdulillah masih dapat amanah di tengah situasi yang menantang ini- dan kegiatan domestik [baca memasak & beberes rumah], itulah 7 hal yang bermanfaat sebagai stress release yang saya lakukan selama pandemi.  Upaya membentuk imunitas tubuh sebagai benteng pertahanan kesehatan dan kewarasan 😎 

How about yours?


Share
Tweet
Pin
Share
6 comments



Assalamu alaikum semwaah!  

Setelah pemalesan berkepanjangan di tahun 2021, saya nulis lagi nih walau dengan sambil menata kemageran hehehe.

Mumpung masih bulan Syawal 1442, ijinkan saya menghaturkan Selamat Hari Raya Idul Fitri.  Mohon maaf jika kemaren pernah mampir tapi belum ada postingan baru.  Biarlah ge-er berasa blogger ngetop 😂

Tidak terasa ya, ini kali kedua kita merayakan Lebaran dalam suasana Covid-19.  But hey, life goes on.  Semoga tahun depan kita masih dipertemukan dengan Ramadhan dan melewatkan suasana Hari Raya di situasi yang lebih baik dari sekarang dan pandemik pun berlalu, aamiin!

Setelah dua tahun dalam pandemik, adakah hobi yang sudah jarang dilakukan namun sekarang digiatkan kembali?  Kalau saya; ada!

Selama masa pandemi ini, usai bekerja daring dan kesibukan kegiatan domestik; seringnya yang saya lakukan adalah membaca buku, nonton streaming dan sesekali workout; seringnya gowes bareng suami.  Beragam bacaan disambangi, mulai dari buku hingga mencoba ebook.  Segala aneka drakor ditonton.  Bosan drakor, merambah ke film India.  Diantaranya, sesekali saya selingi kegiatan motret dengan inspirasi objek yang ditemukan sehari-hari di rumah agar kepekaannya tidak hilang dan self-learned editing.


Tapi ya begitulah manusia.  Over killed melakukan semuanya, lama-kelaman jadi bosan.  Akhirnya  saya melirik tumpukan pensil warna, spidol beserta cat air yang selama ini terbengkalai.  Ada 2 buku adult coloring series yang menanti untuk "dikerjain" 😄

Setelah sekian lama, saya menemukan kembali keasikan mewarnai.  Disertai alunan soft music, I could drawn myself with color for hours!  Asiknya maksimal.  Saking semangatnya, dalam semalam saya pernah menyelesaikan dua halaman!


Membantu Otak untuk Fokus (Mindfullness)

Perpaduan musik dengan warna, membuat saya relaks namun tetap konsentrasi di saat yang bersamaan.  Berusaha agar tarikan pensil warna tidak melampui garis sementara bidang warna tidak luas merupakan tantangan tersendiri.  Walaupun harus konsentrasi, mewarnai tanpa keluar garis tidak akan membuat stres.  Bahkan clinical counselor Leslie Marshall mengatakan bahwa aktivitas tersebut dapat membuka lobus frontal otak; yaitu pusat pengaturan dan pemecahan masalah pada otak, dan membut pikiran lebih fokus.  Whoaaa...


Relaksasi 

Setelah seharian memperhatikan angka yang bikin otak ngebul, playful dengan warna yang tidak melibatkan angka ampuh "mengistirahatkan" kepala ini.  And I feel good afterward.


Membebaskan Imajinasi

Selain melatih kepekaaan akan warna, dengan mewarnai saya merasa lebih kreatif.  Bereksperimen dengan warna mulai dari padu-padan warna hingga tabrak warna.  Tidak selamanya daun itu hijau, bunga berwarna merah atau pink, gunung berwarna hijau atau laut berwarna biru.  



Dalam mewarnai bidang, saya juga juga menggunakan beragam alat pewarna.  Untuk mendapatkan efek warna yang lembut, biasanya saya menggunakan pensil warna.  Dan memakai spidol agar warnanya lebih tegas.  Untuk bidang yang lebih luas, saya coba pakai cat air.  Heboh, ya?  Saking hebohnya, meja kerja pun jadi berantakan! 😆



Colouring Skill

Sama halnya dengan pengalaman saya dalam fotografi, aktivitas colouring ini saya jadi terpacu untuk cari tahu teknik mewarnai yang baik.  Cara menggoreskan pensil guna mendapatkan hasil arsiran yang sama ternyata itu "sesuatu banget" (meminjam istilah anak sekarang).  Karena tebal-tipisnya warna  memberikan hasil yang berbeda.  

Atau bagaiman memberikan arsiran bayangan guna mendapakan efek dimensi.  Kalau yang ini, saya mengingat kembali faktor pencahayaan dalam fotografi.  Ternyata masih ada korelasinya ya?

Teknis lainnya adalah pemilihan alat pewarna.  Memilih alat tulis warna ini -baik pensil maupun spidol- mengingatkan saya akan memilih lipstik, hahaha.  Kenapa?

Karena warna yang terlihat pada bungkusnya belum tentu hasilnya akan demikian.  Jika belum dicoba, kita ngga tahu apakah hasilnya sebelum dan sesudah diterapkan pada bidang, apakah akan plek-ketiplek mirip.  Karena tak jarang meleset dari bayangan!  Alhasil jadi tahu mana merk yang hasilnya sesuai keinginan dan mana yang tidak.


Dekoratif

Buat saya, mewarnai jadi mirip fotografi; ada hasil yang membuat saya "puas" dan ada pula yang bisa sampai puas banget! Dari beberapa hasil, level of kepuasannya berbeda.  

Gambar dengan kepuasan maksimal seringnya saya pandang-pandang sampai kepikiran untuk dijadikan hiasan dinding.  Well, kenapa nggak, yekan?  

Walaupun mungkin artinya saya harus merobeknya dari buku Colouring Adult tersebut 😂

Jadi itulah alasan kenapa menyukai colouring adult.  Mungkin ada yang menganggapnya "retjeh" tapi colouring adult sudah masuk dalam daftar alternatif kegiatan yang membantu saya melewati periode membosankan semasa pandemi ini.

Salam (tetap) sehat dan jangan lupa prokes!


Share
Tweet
Pin
Share
11 comments


Sebagai pembaca buku, inginnya segera menyelesaikan buku yang sedang dibaca.  Sayang rasanya jika mesti jeda ditengah cerita yang seru.  Ibarat sedang nonton drama Korea dan ketegangan sedang memuncak, eh harus ditunda ke episode berikutnya.  Bete.

Kalau sudah demikian, pengennya itu buku dibawa kemana pun, walau kadang "merepotkan".  Mengingat buku mudah lecek, basah jika kena air bahkan rusak karena usang.  

Walau demikian hingga kini saya tetap tidak beralih ke ebook.  

Katakanlah saya old fashioned tapi saya punya alasan sendiri mengapa hingga kini tidak menggunakan buku elektronik.  

Inilah alasan saya tidak beralih ke ebook.


The aromatic paper

Selalu hadir kesenangan tersendiri manakala nostril-nostril mencium aroma spesifik yang menguar dari buku baru.  Kemudian jemari membukanya dengan hati-hati seolah kertas adalah benda rentan mudah pecah.  Membalikkan halaman demi halaman sama mengasikkannya dengan mencari tahu isi cerita. 

Belum lagi bunyi khas yang tercipta manakala jemari membalikkan setiap helai kertas.  Suara yang mungkin lemah terdengar dalam keramaian, namun jadi semacam nada tersendiri di lengangnya sepi.

Karena buku cetak memiliki halaman yang bagus dan lembut untuk disentuh. Maka kertas membuat membaca jadi kegiatan yang menyenangkan secara fisik.   Pengalaman fisik saat membaca buku akan tersimpan dalam otak manusia sehingga saat kita membuka kembali dan menyentuhnya, memori itu akan terpicu untuk mengingat kembali.


Buku itu menyenangkan

Setelah menatap layar komputer di tempat kerja sepanjang hari, bagaimana otak dan mata bisa rileks ketika dirumah harus menatap layar lain untuk membaca ebook?

Karena setiap saat memandangi layar gawai dapat membuat mata dan otak menjadi cepat lelah. Peneliti dan yang dilakukan di Swedia pada tahun 2005 menunjukkan bahwa membaca di layar memakan habis energi jauh lebih banyak dibanding membaca dari kertas. Sinar LED yang muncul juga dapat menganggu pola tidur dan membuat tidur menjadi tidak berkualitas.

Bayangkan betapa santainya meringkuk di rumah tanpa harus menatap layar.  Priceless!




The book is mine

Yang ini posesif banget, hahaha.

Tapi betul 'kan, kita bisa memiliki buku selama yang kita mau hingga mewariskannya pada anak atau memberikannya pada seseorang yang kita anggap akan menghargai buku dengan baik.

Proses "menyentuh" buku ternyata juga melibatkan seluruh panca indera.  Mulai dari mencium aroma buku baru, membalikkan halaman, memegangnya saat kita meraih cangkir kopi menghasilkan sejumlah rasa sehingga kita merasa kaya karena memilikinya karena semua indra terlibat. 

Di situlah moment of truth buku adalah produk spesial dan memberikan arti lebih bagi pemiliknya.  

Masih mengutip hasil studi yang dilakukan oleh peneliti Swedia tahun 2005; buku digital dan fisik adalah kedua produk yang berbeda. E-book lebih seperti pengalaman layanan (User Experience). "Secara keseluruhan, ebook lebih menawarkan pengalaman yang lebih efisien dan fungsional.”




Meskipun aslinya saya bukan termasuk yang suka "menodai" buku [baca mencoret buku, melipat ujung halaman sepagai penanda bacaan apalagi melipat buku], untuk buku tertentu saya -biasanya buku untuk non fiksi- akan memberikan marking pada bagian yang saya anggap penting.  Biasanya saya menggunakan stabilo markert atau menggarisbawahi kalimat tertentu.

Yang mana agak sulit dilakukan dengan ebook.  Kalau toh bisa, tidak semua ebook menyediakan fitur ini.

Jadi ada hubungan antara gerak fisik dan kognisi.   Memberi tanda atau mencoret buku.  sepertinya membantu kita untuk mengerti dan mengingat suatu bacaan dengan lebih baik.


Books is artsy and photogenic

Dari sisi kepraktiskan, penggunaan e-book ini memang menjawab kebutuhan tersebut.  Ebook tidak makan tempat karena cukup berada di satu gawai selama kapasitasnya memadai.  Dibanding buku yang membutuhkan tempat khusus.    

Di rumahpun, dengan jumlah buku yang kami [saya & anak-suami] miliki satu rak saja rasanya masih kurang.  Bicara soal rak dan buku, tak jarang kombinasi keduanya menghasilkan karya yang unik dan mempunyai nilai estetika tersendiri bagi pelaku desain interior.

There's nothing can change the beauties of bookshelves with plenty of hardcopy sitting on rack.  Eventually, baik bentuk-ukurannya, susunannya maupun warna-warni sampulnya bisa menjadi elemen ruang yang tak biasa, lho. 

Jejeran beragam buku dalam rak sudah sukses jadi mood booster buat saya.  Pernah merasakan excitement yang berbeda bergitu berada dalam toko buku?  Saya sering!  Dan hanya bookwarm sejati yang memahaminya heheheh.

Cukup hanya hanya strolling around dalam toko buku, tanpa membeli satupun, it is already mood booster for me!

I do not own this picture

Yet, I think e-books do not substitute paper books, in fact they complement each other.

Actually I read both tough.  Ada beberapa buku yang ingin saya baca, sulit mendapatkan versi cetaknya, somehow saya mendapatkan versi digitalnya.  Biasanya ini buku terbitan lama yang sudah tidak beredar di toko buku.  Jadi saya juga punya sejumlah bacaan dalam ebook.  Walau demikian rasanya tetap tidak sama.  The sense still different.  

Begitulah kalau sudah kadung jatuh cinta pada buku.  Sulit rasanya beralih ke ebook!

Namun jika reader adalah pencinta ebook, so be it.  Biarkan kita dengan pilihan masing-masing, ya!  😁

Selamat membaca!

Share
Tweet
Pin
Share
2 comments
Newer Posts
Older Posts

Follow Me

Email Facebook LinkedIn Pinterest

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2025 (4)
    • ▼  October 2025 (1)
      • Personal Branding Konsultan Project Management: 3 ...
    • ►  August 2025 (1)
    • ►  July 2025 (1)
    • ►  June 2025 (1)
  • ►  2022 (2)
    • ►  June 2022 (2)
  • ►  2021 (12)
    • ►  August 2021 (1)
    • ►  July 2021 (3)
    • ►  June 2021 (2)
    • ►  May 2021 (1)
    • ►  February 2021 (1)
    • ►  January 2021 (4)
  • ►  2020 (7)
    • ►  December 2020 (2)
    • ►  October 2020 (1)
    • ►  April 2020 (2)
    • ►  March 2020 (1)
    • ►  January 2020 (1)
  • ►  2019 (17)
    • ►  November 2019 (1)
    • ►  October 2019 (2)
    • ►  September 2019 (1)
    • ►  July 2019 (1)
    • ►  May 2019 (2)
    • ►  March 2019 (5)
    • ►  February 2019 (1)
    • ►  January 2019 (4)
  • ►  2018 (25)
    • ►  December 2018 (4)
    • ►  November 2018 (4)
    • ►  October 2018 (3)
    • ►  August 2018 (2)
    • ►  July 2018 (5)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  March 2018 (1)
    • ►  February 2018 (2)
    • ►  January 2018 (3)
  • ►  2017 (18)
    • ►  December 2017 (5)
    • ►  November 2017 (3)
    • ►  October 2017 (1)
    • ►  September 2017 (2)
    • ►  August 2017 (3)
    • ►  June 2017 (1)
    • ►  April 2017 (1)
    • ►  February 2017 (1)
    • ►  January 2017 (1)
  • ►  2016 (37)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (1)
    • ►  July 2016 (3)
    • ►  June 2016 (4)
    • ►  May 2016 (2)
    • ►  April 2016 (9)
    • ►  March 2016 (8)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (6)
  • ►  2015 (75)
    • ►  December 2015 (2)
    • ►  November 2015 (7)
    • ►  October 2015 (3)
    • ►  September 2015 (6)
    • ►  August 2015 (5)
    • ►  July 2015 (19)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (3)
    • ►  April 2015 (7)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (9)
    • ►  January 2015 (5)
  • ►  2014 (39)
    • ►  December 2014 (2)
    • ►  November 2014 (1)
    • ►  October 2014 (2)
    • ►  September 2014 (4)
    • ►  August 2014 (5)
    • ►  July 2014 (2)
    • ►  June 2014 (3)
    • ►  May 2014 (4)
    • ►  April 2014 (2)
    • ►  March 2014 (2)
    • ►  February 2014 (5)
    • ►  January 2014 (7)
  • ►  2013 (36)
    • ►  December 2013 (5)
    • ►  November 2013 (5)
    • ►  October 2013 (2)
    • ►  September 2013 (5)
    • ►  August 2013 (1)
    • ►  June 2013 (1)
    • ►  May 2013 (4)
    • ►  April 2013 (6)
    • ►  March 2013 (3)
    • ►  February 2013 (2)
    • ►  January 2013 (2)
  • ►  2012 (28)
    • ►  December 2012 (2)
    • ►  November 2012 (3)
    • ►  October 2012 (3)
    • ►  September 2012 (4)
    • ►  August 2012 (4)
    • ►  July 2012 (5)
    • ►  May 2012 (1)
    • ►  April 2012 (1)
    • ►  March 2012 (1)
    • ►  February 2012 (1)
    • ►  January 2012 (3)
  • ►  2011 (28)
    • ►  December 2011 (2)
    • ►  November 2011 (3)
    • ►  October 2011 (1)
    • ►  September 2011 (1)
    • ►  August 2011 (4)
    • ►  July 2011 (2)
    • ►  June 2011 (4)
    • ►  May 2011 (1)
    • ►  April 2011 (4)
    • ►  March 2011 (3)
    • ►  January 2011 (3)
  • ►  2010 (2)
    • ►  December 2010 (1)
    • ►  June 2010 (1)

Created with by BeautyTemplates